Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 45: Jenni yang kembali lagi


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Tiga bulan telah berlalu, Hafizh terlihat semakin banyak perkembangannya, bahkan ia sudah bisa mengenal suara Caca dan Bagas, dan juga ia sudah bisa sering mengoceh.


Tubuh Hafizh yang sebelumnya kecil sekarang sudah berisi, bahkan terasa pipinya hampir jatuh, tetapi Bagas dan Caca bersyukur ketika anak mereka bisa ceria dan sehat.


"Diminum susunya ya nak, sampai habis. "


Bagas menggendong Hafizh sambil menyusui anaknya, sedangkan Caca memasak dan berberes, mereka membagi tugasnya masing-masing sebelum bersantai.


"Bang, sini Hafizh nya, abang lanjut buat makan sana. " ucap Caca.


Bagas memberikan Hafizh pada Caca, kemudian ia pergi ke dapur untuk sarapan pagi, Bagas akan pergi pagi, karena ia akan melihat proyek kerja yang hampir selesai.


"Hafizh nggak di kasih bubur? " tanya Bagas.


"Mana ada seumuran gini udah dikasih bubur? Tau kok pengen Hafizh cepet gede, tapi pencernaan nya kan belum sekuat pas dia mau MPASI umur 6 bulan, sabar sabar aja dong. " jawab Caca.


Bagas menganggukan kepalanya, selesai ia makan, Bagas pamit pada istri dan anaknya, terutama Hafizh yang akan ia cium sebelum ia pergi ke kantor.


"Hafizh jangan nakal ya, nak, selalu sering ngoceh sama mama, biar mama cepat paham sama bahasa kamu. "


Hafizh akhirnya mengoceh, ocehannya membuat Bagas gemas dengan anaknya, ia kemudian mencium Hafizh terlebih dahulu dan pergi ke kantor.


"Nah, Hafizh kan udah minum susu, sekarang mandi sama mama ya, soalnya bau asem. "


Caca membawa Hafizh ke kamar mandi, ia ingin memandikan anaknya bersama dengan dirinya, Caca menikmati waktunya bersama dengan anaknya hanya di rumah, karena Bagas belum mengizinkannya untuk bekerja kembali.


......................


"Dah harum, nggak asem lagi. "


Hafizh lagi lagi mengoceh, ia kembali mengobrol dengan Caca sembari dibaluri oleh minyak telon serta bedak tabur.


Selesai berkemas, Caca mengajak Hafizh untuk bermain bersama, sebelum siang hari ia berencana untuk main ke rumah orang tuanya Bagas, karena Ayu merindukan Hafizh untuk main ke rumahnya.


"Kalau Hafizh gede nanti, mau nggak bantuin mama beres beres rumah? Mau ya? " tanya Caca.


Hafizh kembali mengoceh dengan ucapan ibunya, Caca merasa gemas pada anaknya dan mencium anaknya sambil memeluknya dengan penuh kasih sayang.


Tak lama berselang, pintu rumah diketuk, Caca yang sedang menggendong anaknya kemudian meletakkan Hafizh di dalam playground bayi yang berisi bola bola mainan.


Caca segera membuka pintu rumahnya, ia kemudian membukanya dan terkejut ketika melihat di depannya, adalah perempuan yang pernah berhubungan dengan suaminya.


"Jenni, kamu tumben mampir? " tanya Caca.


Caca terkejut pastinya, darimana Jenni bisa tahu lokasi tempat tinggalnya bersama Bagas, sedangkan Bagas saja menjelaskan dulu saat pernah berhubungan dengan Jenni, Bagas tidak pernah sama sekali mengajak


Jenni mampir di kediaman mereka sekarang. Jenni kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah pisau golok yang biasa digunakan untuk memotong daging dan tulang, sekarang disodorkan ke arah Caca.


Caca terkejut, ia mundur, sementara Jenni masuk perlahan-lahan dan melihat anak Caca, yaitu Hafizh yang sedang bermain.


"Sudah beranak kamu sekarang? " tanya Jenni.


"Jen, jangan sampai aku—"


"Kenapa? Mau teriak? Silahkan, asalkan kamu nggak sayang lagi sama anak kamu. "

__ADS_1


Caca terkejut, sebuah ancaman dari orang yang ia kenal, dan sekarang berencana ingin menyakiti anaknya.


Pintu perlahan ditutup oleh Jenni, sementara Caca mengangkat tangannya, ia tidak berani dengan orang seperti Jenni saat ini.


"Jen, tujuan kamu kesini kenapa? Kenapa kamu bawa golok segala? " tanya Caca.


"Tentu saja, aku mau ngambil anak kamu sama Bagas, aku ingin mereka berdua aku yang punya, Ca. " jawab Jenni dengan penegasan.


"Jen, kamu kok kayak gini sekarang? Kamu nggak mikir, kamu itu masih gadis, Jen, untuk apa kamu ganggu rumahtangga aku? " tanya Caca.


Tak lama Jenni melemparkan golok tersebut di lantai, hingga golok tersebut melantun hampir mengenai playground bayi yang sedang ada Hafizh di dalamnya.


"Untuk balas dendam! "


Jenni langsung berlari ke arah playground, ia segera menggendong Hafizh, Hafizh pastinya terkejut dan ekspresinya terlihat kaget setelah digendong secara kilat.


"Jen, kamu—"


"Aku ingin gendong anakku, tidak usah kau halangi aku, Binoarca! " tegas Jenni.


......................


Seharian Caca disekap di dalam rumah, bersamaan dengan Jenni yang memasuki rumahnya dan mengancamnya dengan pisau golok, Caca tidak berani berkutik, sedangkan ia cemas dengan keadaan anaknya yang sedang ditimang oleh Jenni.


"Anakmu ganteng juga ternyata, nggak salah masuk benih apa Bagas itu? " tanya Jenni.


"Maksud kamu dia bukan anak Bagas, Jen? " tanya Caca.


"Dia anaknya, tapi sayang, kenapa harus kamu yang jadi ibunya. " jawab Jenni.


Caca berusaha untuk tenang, walaupun hatinya benar-benar cemas dan panik ketika rumahnya dimasuki oleh orang lain, tepatnya orang gila.


"Coba tanya Bagas saja, kenapa dia memilih aku yang tampung benihnya, Jen. " ucap Caca berusaha untuk tetap tenang.


"Jenni! " teriak Caca.


"Ada nyamuk, aku tidak bermaksud ingin menyakiti anakku sendiri. " jawab Jenni.


Caca rasanya ingin menangis, rasa cemas pasti ada di dalam hatinya, anaknya secara di pukul sangat kuat oleh orang gila seperti Jenni.


Caca hanya bisa diam, sesekali melihat bagaimana anaknya diperlakukan seterusnya oleh Jenni, ingin berkutik yang ada ia dan anaknya akan disakiti oleh golok yang dibawa.


"Mau tau aku begini? "


Caca menggeleng kepalanya, Jenni yang ia kenal sebagai wanita karier yang cerdas dan pandai saat dikantor bisa menjadi gila seperti saat ini.


"Aku gagal nikah. "


Caca terkejut mendengar nya, ternyata penyebab semua adalah karena gagal nikah, tetapi kenapa harus rumahtangga nya yang diusik oleh wanita seperti itu.


"Terus, kenapa kamu ganggu rumahtangga aku kalau kamu gagal nikah? Bukannya itu peluang kamu bisa menemukan pria lain, Jenni? " tanya Caca.


Tampaknya pertanyaan itu membuat Jenni kesal, bahkan Jenni ingin mengambil golok tersebut, tetapi Hafizh kembali menangis, itu membuat Jenni yang terhenti dan menggendong Hafizh untuk kembali tenang.


Caca tidak tahan, ia mencoba meminta bantuan Bagas, syukur saja status chat suaminya menunjukkan bahwa Bagas sedang online, Caca mulai mengadu untuk meminta bantuan, karena menyangkut keselamatan anaknya.


Caca mengetik pesan, bahwa ia minta pada Bagas untuk membalas lewat pesan saja, jangan sampai Bagas membalasnya dengan menelponnya ataupun memberikan pesan suara padanya, itu bisa berdampak pada keselamatan anaknya.


Di proyek, Bagas menjadi tidak tenang, ia tetap berfokus pada chat dari Caca, yang menjelaskan bahwa orang gila masuk ke rumahnya dan membawa golok untuk mengancam menyakiti Caca dan anaknya.

__ADS_1


"Gus, kamu anterin aku ke kantor polisi. "


"Loh, memang kamu ada masalah apa di kantor polisi, Gas? " tanya Agus.


"Rumahku kemasukan orang gila, Gus, sekarang dia di dalam rumah dan sekap anak istriku, aku butuh bantuan polisi sekarang. "


Agus mendengar hal tersebut pastinya kaget, ia segera membantu Bagas untuk segera ke kantor polisi, tak butuh waktu lama mereka sampai di kantor polisi.


......................


Di dalam rumah, Caca tetap meminta bantuan kepada suami, keluarga maupun teman temannya, semuanya ikut membantu Caca untuk bisa terbebas dari orang gila yang masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu nyoba buat ngadu ya?! " teriak Jenni.


Caca gelagapan, ia langsung mengalihkan aplikasi chat HP nya dan beralih ke sosial media, Jenni mendekat dan melihat Caca yang sedang mengetik komentar di sebuah postingan sosial media.


"Ternyata masih sayang anak. " ucap Jenni.


Caca kembali panik, sedangkan pesan chatnya terlalu banyak untuk sekarang, Caca satu persatu menjawab pesan yang timbul di aplikasi chat.


"Lokasinya disini. "


Bagas beserta para kepolisian mulai berjalan menuju ke kediamannya, Bagas masih merasa khawatir jika ada orang gila masuk ke rumahnya, ditambah lagi mengancam anak dan istrinya.


Strategi polisi untuk masuk ke rumah dipersiapkan dengan matang, melihat pintu rumah yang tidak terkunci sempurna itu merupakan suatu kesempatan, mereka mulai mendobrak pintu utama rumah Bagas.


Di dalamnya, Caca dan Jenni yang terkejut melihat ada polisi yang akhirnya masuk ke rumahnya.


"Bagas...! "


Caca terselamatkan, karena ia dapat menyelamatkan dirinya beserta anaknya, sebelumnya Caca berencana untuk menggendong anaknya yang berada di playground bayi, itupun dengan cara ia mengendap-endap menggendong Hafizh agar ia dapat mengambil anaknya.


Sayang sekali Jenni tidak lengah, Jenni langsung meraih pisau golok dan mengacukannya ke arah Hafizh.


"Hafizh! "


"Coba saja mendekat, kalau mau anakmu aku cincang habis, Bagas! " ancam Jenni.


Para kepolisian berhenti, tampak taktik selanjutnya akan mereka lakukan, walaupun akan lama bisa melewati ancaman orang gila seperti Jenni.


Naluri ibu dan anak tidak pernah salah, Hafizh dapat merasakan apa yang ibunya rasakan, yaitu Caca yang ingin menangis karena panik, dan itu terlampiaskan pada Hafizh yang akhirnya menangis.


"Nak, kenapa kamu nangis?! "


Merupakan kesempatan yang bagus, Caca menendang pisau golok tersebut hingga terjatuh jauh dari Jenni, para polisi kemudian mengamankan Jenni, sementara Caca berlari ke playground bayi dan segera menggendong anaknya.


"Cup cup, sudah ya, nak. " ucap Caca gemetaran.


"Lepaskan aku! Tidak! Anakku! "


Jenni diamankan, walaupun sulit dapat mengamankan nya, tetapi polisi dapat mengatasinya, dengan senjata yang dibawa oleh Jenni, akhirnya Jenni dibawa ke kantor polisi.


Para tetangga yang penasaran akan kejadian tersebut penasaran dengan keadaan di dalam, sebagian mengintip hingga RT dan RW meminta agar tetangga yang mengintip dan penasaran akan kejadian tersebut untuk bisa bubar.


"Gas, anak kita, Hafizh selamat... "


Caca menangis, karena ia masih cemas dan panik dengan apa yang terjadi, Bagas segera memeluk Caca untuk menenangkan istrinya yang trauma tersebut.


"Iya Ca, makasih udah berusaha selamatin Hafizh, kamu ibu yang hebat. " ucap Bagas.

__ADS_1


Caca menangis sekuat-kuatnya, karena ia ingin melampiaskan ketakutan yang ia tahan daritadi, sambil memeluk anaknya yang menangis sedaritadi.


...****************...


__ADS_2