
...Selamat membaca 🍊...
......................
"Gas, kayaknya udah deket waktunya deh... "
'Apa? Deket apaan maksudnya? ' tanya Bagas.
Caca menggeram, ia gemetaran sambil menahan rasa sakitnya.
"Deket waktu lahirannya, rasanya udah mau lahiran sekarang, Gas... " jelas Caca.
'Ca, kamu nggak lagi bercanda kan, Ca? '
"Mau aku fotoin lantai dapur kita yang berceceran darahnya, Gas? " tanya Caca gemetaran.
'Jangan! Baik, aku bakalan pulang, tunggu aku. '
Caca mematikan teleponnya, sebelumnya ia mulai mengangkut barang-barang milik anaknya, itupun hanya tas yang berisi baju dan kain untuk bayi, Caca menahan sakitnya sambil menunggu ibunya untuk datang.
"Sabar ya, nak, nunggu papa atau nenekmu sampai, kita tunggu ya... "
Caca mengatur nafasnya secara perlahan, ia tidak boleh panik untuk sekarang, karena di dalam buku panduan ia harus bisa tenang sambil mengolah nafasnya.
Tak lama suara mobil terdengar dari luar, Caca membuka pintu rumahnya dan melihat Nanno yang memesan taksi online.
"Ayo nak, sini masuk. " ucap Nanno.
Nanno membantu Caca untuk berjalan ke dalam mobil, sebelumnya Caca mengunci pintunya sambil membawa tas berisi pakaian dan kain bayi.
"Masih tahan kan? " tanya Nanno.
Caca menganggukan kepalanya, seraya ia mengolah nafasnya, ia membaca surah surah yang ia hafal untuk membuatnya tenang bersama calon anaknya.
"Jalanan nggak macet kan, pak? "
"Nggak bu, tenang saja, ini bakalan cepat untuk ke rumah sakitnya. " jawab pengemudi taksi tersebut.
"Deni, pinjem motor kamu dong, ini darurat. "
"Ini Gas kuncinya, memangnya ada apa? " tanya Deni.
"Caca mau melahirkan, Den! "
Bagas berlari dan mengatakannya sambil berlari ke arah motor yang terparkir, bahwa ia ingin cepat cepat ke rumah sakit, karena Caca yang mengatakan bahwa istrinya terasa ingin melahirkan.
"Hati hati, Gas! "
Dengan kecepatan penuh, Bagas menempuh tempat proyek tersebut menuju ke rumah sakit, karena situasi sekarang tidak sesuai yang diinginkan, dan terkesan sangat mendadak.
......................
Sesampainya di rumah sakit, Nanno memanggil suster untuk membawa Caca, satu suster lainnya membawa kursi roda kemudian mendorongnya ke ruangan.
__ADS_1
Sampai di ruangan, Caca dibantu untuk berbaring di kasur rumah sakit, para suster memeriksa pembukaan Caca, pembukaannya cukup cepat hingga diprediksi nanti sore akan melahirkan.
"Ca, Bagas udah kamu telpon? " tanya Nanno.
"Udah bu, katanya dia bakal nyusul, uhhh... " jawab Caca mengeluh sakit.
Nanno duduk di samping Caca, di sebelah tirai juga terlihat beberapa ibu ibu yang ingin melahirkan tengah mengeluh kesakitan, sebagiannya lagi berusaha santai walaupun kontraksi kadang timbul.
Tak lama suara film terdengar, Nanno melihat Caca yang sedang memegang HP, Caca dengan wajah memerah menonton film yang ada di HPnya.
"Ada kelanjutan film yang Caca tonton, bu, lumayan sambil nunggu baby H buat lahir, hehehe... " ucap Caca sambil tersenyum meringis.
Nanno menggelengkan kepalanya, masih sempat sempat nya anaknya yang ingin melahirkan, sementara anaknya menonton film.
Tak lama setelahnya, Bagas datang ke rumah sakit, ia langsung menghampiri ruangan tempat Caca berada, tak lama ia menemukan Caca yang berada di dalam ruangan.
"Ca, kamu—"
"Cowoknya gimana tuh, Ca? "
Nanno akhirnya ikut ikutan menonton, sementara Bagas menatap datar ke arah dua perempuan tersebut.
"Ini mau lahiran atau sekedar nongkrong Wi-Fi rumah sakit sih, Ca? "
Caca melihat ke arah depan, ternyata Bagas sudah sampai, ia menaruh HPnya di samping meja, tak lama perutnya kembali merasakan sakit.
"Duh, gelombang cinta baby H kita, Gas. " ucap Caca.
"Gimana kata dokter? " tanya Bagas.
"Dokter bilang bukaan nya termasuk cepat, diprediksi nanti sore bakalan lahir. " jawab Nanno.
"Ibu, makasih ya udah anterin Caca ke rumah sakit, kalau bukan ibu yang bantu dia ke rumah sakit, mungkin dia lama nungguin Bagas sampai ke rumah sakit. " ucap Bagas bersalaman dengan Nanno.
Bagas menatap ke arah Caca, yang tadinya menangis dan tertawa melihat film, sekarang didepannya seolah-olah merasakan sakit, mungkin film adalah obat baginya.
"Biasanya orang mau lahiran panik, ini kok nggak panik sama sekali? " tanya Bagas.
"Disuruh buat tenang, timbul sakit memang biasa menjelang lahiran, tapi jangan sampai panik, yang ada dokternya kewalahan ngurusin kita, Gas. " ucap Caca dengan tenang.
Bagas menganggukan kepalanya, kemudian Caca kembali mengambil HP miliknya kembali, tak lama HPnya diambil oleh Bagas.
"Gas, ih, mau nyambung nonton lagi loh. " protes Caca.
"Nggak, kamu sebaiknya jalan keliling ruangan, katanya dengan jalan, pembukaan terus menerus bertambah. Ayo, aku bantu kamu berdiri. "
Bagas membantu Caca untuk berdiri, sedangkan Nanno mengambil HP milik anaknya, ia ingin kembali menonton film yang diputar oleh Caca, walaupun usianya tak lagi muda tetapi jika ada film yang membuatnya menangis haru, itu wajib untuk ia tonton.
......................
Sebelumnya, Caca disuruh makan terlebih dahulu, kemudian setelah siang hari ia tidak lagi dianjurkan untuk makan kembali, karena prediksi ia akan lahiran yaitu sore hari.
Semua keluarga berkumpul untuk melihat kondisi Caca, Caca masih sempat sempat nya mengumbar kan senyuman di kala gelombang cinta terasa di perutnya.
__ADS_1
Saat semua keluarga keluar untuk pulang sementara, hanya tersisa Bagas dan Caca saja, Bagas dan Caca saling bertatapan, dengan Bagas yang mengelus perut istrinya.
"Gas, gimana kalau aku nggak sadar? " tanya Caca.
Bagas menepuk pipi Caca, ia menggeleng kepalanya.
"Jangan ngomong yang sembarangan ah, yakinkan aja, kalau lahirannya lancar. " ucap Bagas.
Dokter kembali masuk ke ruangan, ia memeriksa pembukaan Caca, sudah di tahap akhir Caca akhirnya bisa melahirkan sore itu juga.
"Sudah pembukaan, kita pindahkan di ruang bersalin dahulu. " ucap dokter.
"Saya ingin temani istri saya, dokter. "
Bagas mengikuti dokter yang membawa Caca menggunakan kasur dorong, menuju ke ruang bersalin, suasana di dalamnya sungguh berbeda.
"Jangan ngeden dulu ya, bu, buang nafasnya di tiup saja ya. "
"Masa di tiup? Bisa apa? " tanya Bagas.
"Gas... " lirih Caca.
"Ya, kenapa Ca? " tanya Bagas.
"Nggak usah protes, yang penting anak kita lahirnya sehat sehat aja, kamu diem... " jawab Caca.
"Di tiup, di tiup terus, fuhhh.... "
Caca mengikuti arahan dari dokter, sementara Bagas menggenggam tangan Caca.
Karena tidak tega melihat Caca yang merasa tegang, akhirnya Bagas mengingat sesuatu, yaitu film yang ditonton oleh istrinya tadi siang.
"Ca, biar nggak terlalu tegang, kita sambil nonton film aja ya? " tawar Bagas.
"Film? Yang tadi siang ya, aku belum selesai nonton... " lirih Caca.
Bagas memutarkan film yang ditonton oleh Caca tadi siang, dengan mengikuti arahan dari dokter, Caca tetap saja fokus dengan persalinan nya.
"Kejamnya... "
Caca menangis saat adegan sedih, tak lama anaknya keluar, suara tangisan bayi bergema di ruangan tersebut, Caca kemudian menutup matanya dan bernafas lega kemudian pingsan.
Dokter dan suster memberikan kain pada bayi yang baru lahir itu, kemudian memberikannya pada Bagas.
Bagas menggendong anaknya, dilihatnya bayi laki-laki tersebut yang baru lahir, kemudian mencium kening anaknya.
Bagas mengazankan anaknya, dengan berada di sebelah Caca ia mengazankan anaknya, di bisikkan di telinga anaknya.
Selesai mengazankan anaknya, Bagas mencium kening anaknya, dan melihat wajah anaknya kembali, wajah Caca tercetak di wajah anaknya.
"Nama kamu Muhammad Hafizh Al-Fatih Dwipangga ya, nak. "
...****************...
__ADS_1