
...Selamat membaca 🍊...
......................
Caca terbangun karena suara dari depan kamarnya, ayahnya yang membangunkannya untuk subuh terlebih dahulu, ia bangkit dari kasur kemudian berjalan kearah kamar mandi di bawah.
Selesainya shalat subuh, Caca berjalan ke luar rumah, sekedar ingin menghirup udara pagi yang segar, ditambah ia ingin menenangkan diri di luar rumah.
"Ca, mau kemana pagi begini? " tanya Bimo.
"Keluar rumah, Caca mau jalan jalan di sekitar rumah tetangga sekitar sini aja. " jawab Caca.
"Begitu ya? Sebelumnya, pakai jaket, cuaca subuh seperti ini bikin perut kembung, bisa masuk angin. Segera ambil sana jaketnya. " perintah Bimo.
"Baik, ayah. "
Caca berlari ke kamarnya di atas, ia mengambil jaket miliknya, dari kaca jendela ia melihat sosok laki-laki yang berdiri menatap ke arah jendela kamarnya, Caca terkejut dan menjauh dari jendela kamarnya.
"Ca."
Caca kali ini terkejut, bahkan kata kata mutiara nya keluar, tak lama mulutnya ditepuk oleh seseorang dari belakang.
"Heh! Ngomong kotor! " tegur Nanno.
"Caca nggak tau kalau itu ibu. " ucap Caca.
Caca mengayunkan tangannya, ia memanggil ibunya untuk mendekat, Nanno mendekat kepada anaknya dan bertanya kenapa ia dipanggil.
"Ada apa, Ca? " tanya Nanno.
"Bu, itu siapa yang berdiri di depan rumah kita? Caca takut itu orang jahat. " ucap Caca.
Nanno memperhatikan orang tersebut dari kaca jendela, ia bersorak oh dan menatap ke arah anaknya.
"Ohh, itu Yuda, Ca. " jawab Nanno.
"Apa? Yuda? " tanya Caca.
"Sejak kapan dia sering kesini? " sambung Caca bertanya kembali.
"Sejak kamu pergi kuliah untuk ambil jurusan arsitektur di luar kota, dia sering datang ke sini, sering bertanya tentang keadaan kamu, dan pulang ketika mendengar kamu baik baik saja di luar kota, Ca. " jelas Nanno.
Yuda, laki-laki yang dulu terus terusan mendekatinya, bahkan dengan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Caca.
Sayangnya, setelah bertahun-tahun ia menyimpan rasa, tepatnya ketika Caca berumur 24 tahun, Caca dinikahkan oleh Bagas, sayang sekali cuma setahun lamanya pernikahan mereka bertahan dan akan bercerai secepat itu.
"Samperin aja, dia cuma mau bertanya kabar aja, apalagi kalau udah ketemu kamu beneran, pastinya dia senang. "
"Iya juga, bu. Udah lama nggak lihat dia soalnya. " ucap Caca.
Caca keluar dari kamarnya, ia turun dan menghampiri ayahnya yang tengah menatap gawai nya, kemudian keluar rumah untuk menghampiri Yuda.
Saat keluar, cuaca mulai terang, semua orang sibuk dengan aktivitas nya masing-masing.
"Yuda? "
Laki-laki yang dipanggil Caca membalikkan badannya, dengan wajah yang bahagia, Yuda menghampiri Caca.
"Caca, gimana kabar kamu? " tanya Yuda dengan semangat.
"Baik, Yud. Omong omong, kamu kok ke sini pagi pagi begini? " tanya Caca.
Yuda menatap Caca dengan dalam, ia langsung memeluk Caca dengan erat.
"Kangen sama kamu soalnya, udah hampir 6 tahun kita nggak ketemu, Ca. " ucap Yuda.
Caca melepaskan pelukannya. "Aku cinta kamu, Ca. Aku masih setia nungguin kamu. " ucap Yuda.
Seperti dejavu, Caca kembali mengingat ucapan Yuda seperti ucapan Bagas malam itu, ia menggeleng gelengkan kepalanya.
"Yuda, aku ini udah nikah, sekarang aku udah mau pisah dan akan jadi janda di umur yang terbilang muda, kenapa kamu nungguin aku? " tanya Caca.
"Bagaimana lagi, kamu itu yang aku tunggu dari dulu, sayang sekali kemarin kamu sudah menikah. " ucap Yuda.
Caca bimbang, ia memilih diam.
"Ca, kesempatan bagus untuk aku bisa berhubungan kembali sama kamu, apalagi kamu bilang bahwa kamu mau cerai sama suami kamu. Kamu mau jadi pacar aku? " tanya Yuda.
Tangan Caca digenggam oleh Yuda, dengan keyakinan bahwa Yuda akan diterima oleh Caca, tetapi Caca memilih untuk mempertimbangkan nya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Maaf, Yud, aku mikir dulu ya? " tanya Caca.
Yuda menganggukkan kepalanya, ia tersenyum dan mencubit hidung Caca.
"Siap, aku tunggu. Kalau begitu, aku pulang dulu ya. "
"Nggak mampir dulu ke rumah, Yud? " tawar Caca.
"Nggak, langsung pulang aja, datang ke sini cuma mau lihat kamu aja, Ca, udah cukup puas buat aku bisa lihat kamu dari dekat. " ucap Yuda.
Yuda dan Caca saling melambaikan tangan, mereka terpisah dan pergi ke tempat masing-masing.
Sudah tiga hari tak bekerja, Caca berniat untuk bekerja kembali, ia merasa bosan tidak keluar rumah dan tidak melakukan apa apa di rumah.
Ingin membantu ibunya, ibunya malah menyuruhnya untuk bersantai saja, sedangkan ingin membantu ayahnya berkebun, Caca hanya disuruh menemani saja oleh ayahnya tanpa melakukan apapun, ia seperti diistimewakan setelah 24 tahun hidup di rumah orang tuanya.
"Caca pengen kerja hari ini. "
"Loh, kok... "
"Bosen dirumah, bu, Caca pengen kerja aja. Caca yakin, pasti kerjaan Caca di kantor udah numpuk, proyek kali ini lagi naik daun soalnya. " ucap Caca.
"Yasudah, sekarang bersiaplah, nanti biar ayah yang anterin kamu ke kantor. "
Caca bersiap siap, selain tujuannya ingin bekerja, ia juga ingin mengatakan sesuatu dengan Bagas.
"Caca kemana? " tanya Bimo.
"Siap siap ke kantor, kamu anterin dia ya? "
"Kenapa ke kantor? Uang jajannya kurang apa? Biar aku tambahkan..! "
Bimo tampak tidak senang jika anak perempuannya pergi ke kantor, dipikirannya bisa saja Bagas mengambil kesempatan untuk membuat anaknya dipaksa pulang bersamanya, padahal proses perceraian anaknya tengah diproses dan beberapa hari lagi akan diangkat.
"Rasanya tidak, biarkan saja, lagipula dia bilang proyeknya pasti banyak yang belum dia selesaikan. Masalah Bagas, pasti Caca bisa menghindari laki-laki itu, toh dia sendiri yang menceraikan anak kita. " ucap Nanno.
"Baiklah, aku akan antar dia ke kantor. " ucap Bimo.
Setelah bersiap siap dan sarapan, Bimo mengantarkan Caca dengan mobilnya, kebetulan hari tengah hujan dan tidak memungkinkan menggunakan motor, Bimo membantu anaknya masuk ke dalam mobil.
"Caca."
"Kalau bertemu laki-laki itu lagi, dia memaksa kamu untuk pulang sama dia, pukul saja pertengahan kakinya. Kamu harus lawan laki-laki seperti dia, walaupun kamu lebih kecil dari dia. " ucap Bimo.
"Baik yah, akan Caca lakukan. " ucap Caca.
......................
Sesampainya di kantor, Bimo memberikan payungnya, ia menyuruh Caca untuk memakainya dan akan ia jemput ketika sebelum magrib tiba.
"Binoarca! Kami merindukanmu...! "
Semua rekan kerja di ruangan Caca menyambut kedatangan Caca yang beberapa hari tidak bekerja di kantor, yang paling tersorot ketika Indah yang memeluk Caca dengan erat, ia merindukan sahabatnya untuk datang ke kantor.
"Ca, kirain kamu pindah ke kantor lain... Kok kamu nggak masuk kerja tiga hari sih? Kamu sakit? " tanya Indah khawatir.
"Nanti aku ceritain, sekarang kita duduk ya. "
Caca membawa buket bunga dan berbagai makanan pemberian teman temannya, ia duduk di samping Indah dan menceritakan semuanya yang terjadi.
"Apa? Cerai? " tanya Indah dengan bisik bisik.
"Iya, kami mau cerai, Ndah. Sekarang, status aku bakalan berubah... " ucap Caca.
"Ta—tapi kenapa Ca? Kenapa? " tanya Indah dengan penasaran.
Caca menjelaskan semuanya, Indah menggeleng kepalanya, ia merasa kasihan dengan Caca sekarang.
"Yang sabar ya, bestie, jodoh kamu cuma sebatas ini... " ucap Indah.
"Ya, makasih ya, Ndah, setidaknya ngobrol sama kamu bikin aku lega. "
"Yes, sama sama, ma friend... " ucap Indah.
Saat makan siang, Caca melihat di sekeliling lorong, secara tiba-tiba lengannya digenggam oleh seseorang, ia terkejut dan melayangkan bekalnya hingga mengenai seseorang.
"Duh, sakit Ca... "
Caca melihat di baliknya, itu adalah Bagas, ia memegang kening Bagas yang habis terkena kotak bekalnya yang kebetulan hampir seperti rantang ke kepala Bagas.
__ADS_1
"Maaf, Gas... "
"Duh, nggak papa, maaf ngagetin kamu... " ucap Bagas sambil meringis.
Keduanya saling diam, kemudian Caca berdeham.
"Kita makan siang bersama saja, aku bawa bekalnya cukup banyak porsinya. " tawar Caca.
Bagas menganggukkan kepalanya, ia mengikuti Caca ke kantin.
......................
Caca menatap Bagas yang memakan bekalnya, Bagas terlihat lahap, terlihat seperti orang yang tidak makan sama sekali.
"Gas, kamu kelaparan? " tanya Caca.
"Seperti itulah, aku tidak mau makan di rumah mamak. " jawab Bagas.
Caca jadi tidak tega untuk mengucapkan yang sebenarnya, tetapi rasanya tidak lega kalau tidak langsung mengungkapkan nya.
"Kita udah mau pisah, Gas, sebaiknya kita cari pasangan masing-masing ya? "
Makan Bagas terhenti, ia menatap ke arah Caca dengan tidak percaya. "Loh, kamu udah mau pindahin hati kamu ke orang lain, Ca? "
"Kamu juga aku bebaskan, Gas, kamu bebas memilih wanita yang kamu cintai. "
Bagas terdiam, hanya Caca yang bisa mengerti arti dari diam tersebut.
"Kita berhak menemukan cinta sejati kita, Gas, ingat kata kata kamu kemarin? "
"Yang mana? " tanya Bagas.
"Kita nggak terkait cinta dalam pernikahan. Cinta tuh nggak boleh dipaksain. " ucap Caca.
Bagas kalah, ia mengingat perkataannya dan menganggukkan kepalanya. "Kamu udah ada yang baru, Ca? "
Caca diam, pertanyaan Bagas akhirnya mengarah pada ia yang mempunyai pasangan baru secepat ini.
"Jawablah Ca, masa kamu nggak mau jawab pertanyaan aku sih? "
Bagas memaksa Caca untuk berbicara, Caca menatap Bagas.
"Kalau aku ada yang baru, kamu juga harus mencari yang baru. Aku nggak mau kamu hanya sendirian seperti ini, lihat saja diri kamu, sehabis nikah sama aku kamu terlihat terurus, beda saat kita dipisahkan, jangankan urus penampilan, bahkan kamu makan saja kata kamu jarang. Aku mau kamu ada yang urus, Gas. "
Bagas terlihat tidak rela, apalagi saat Caca melepaskan cincin pernikahan, membuat hati Bagas benar-benar hancur.
Caca meraih tangan Bagas, ia membuka telapak tangan Bagas dan menyerahkan cincin perak, yang sebelumnya menjadi bukti bahwa mereka adalah sepasang suami-istri.
"Jaga diri baik baik, Gas. "
Caca meninggalkan Bagas yang sendirian di meja kantin.
Bagas menatapi bekal yang diberi oleh Caca, ia mengeluarkan air matanya dan mengusap matanya dengan lengannya, ia menangis seperti anak kecil.
......................
Sore harinya, Bagas menghampiri meja Jenni, rekan yang sebelumnya ia marahi dan ia tegaskan tidak usah mendekati nya.
Awal ekspresi Jenni terkejut, ia takut ketika melihat Bagas yang menghampirinya.
"Jadian yuk, Jen. Kamu naksir kan sama aku? "
Jenni terkejut ketika Bagas yang mengajaknya untuk berpacaran. "Gas, tapi kan— "
"Caca sama aku mau cerai, Jen. "
Jenni terdiam, ia memikirkan sesuatu hingga membuatnya bergumam seperti berbisik.
"Duh, jadi kasihan, yang sabar ya, Gas. "
"Iya Jen. "
Bagas memegang kembali tangan Jenni, dengan tatapan yang memikat Jenni, Bagas menawarkan kembali ajakannya kepada Jenni.
"Kamu mau kan, Jen? " tanya Bagas.
Jenni tanpa berpikir panjang, ia menyetujui ajakan Bagas, akhirnya mereka berhubungan sebagai pacar untuk hari itu.
...****************...
__ADS_1