
...Selamat membaca 🍊...
......................
Mungkin peranku tidak penting disini, tapi aku ingin mengungkapkan rasa hatiku, author, berikan aku kesempatan untuk bercerita ya.
Hai, aku Jenni, mungkin di setiap episodenya aku kadang-kadang sering timbul, ya, itu untuk bertemu dengan Bagas saja.
Aku berumur 23 tahun, 1 tahun lebih muda dari Caca, istrinya Bagas.
Akan kuceritakan dari awal, agar kalian bisa tau siapa aku dan bagaimana jalan hidupku.
Aku anak yatim piatu, aku di besarkan oleh orangtua adopsi ku, bersama dengan kakak kakak angkat ku, aku bersyukur, mereka tidak memperlakukan ku seperti orang asing, karena aku adalah putri diantara para pangeran.
"Jenni, kami kuliahkan kamu dibagian arsitektur saja, ya? "
Mendengar bahwa aku ingin dimasukkan di jurusan arsitektur, itu merupakan impianku, selain aku bisa matematika dan fisika, namun aku bisa menggambar sebuah proyeksi bangunan, membuat kedua orang tuaku yakin akan keahlianku di bidang arsitektur.
Karena dukungan dan bantuan kedua orang tuaku dan kakak kakakku, aku bisa melewati nya, aku lulus di jurusan arsitektur dengan nilai IPK yang termasuk tinggi di bidang arsitektur dengan gelar Cumlaude.
Aku juga cepat mendapatkan pekerjaan, karena skill ku sangat dibutuhkan di perusahaan, ditengah para senior, aku paling suka dengan salah satu senior ku, dia laki-laki yang terlihat humoris, walaupun gayanya acak acakan dan memakai outfit saja tidak cocok dengan yang ia pakai.
"Hebat Jen, kamu debest pokoknya. "
Pujian pertama untuk ku, dia adalah laki laki yang selalu ceria dan ramah, Bagas Dwipangga namanya.
Tepuk tangan diberikan untukku, dengan senyumannya yang terukir, aku menjadi senang mendapatkan penghargaan dari mereka semua.
Lama ku bekerja di perusahaan arsitektur ini, aku lama lama juga terkesima dengan Bagas, dimataku tambah lama tambah ganteng dirinya, ya walaupun orang-orang kantor sering mencibir nya dengan sebutan tuan tidur.
Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, setiap bersamanya, hatiku tak karuan dan jantungku berdegup kencang.
......................
Tetapi, suatu hari, kulihat jari manis Bagas, yang sebelumnya tak terisi apapun sekarang cincin perak yang melingkar di jari manisnya.
Rasanya deg degan, apakah itu tandanya Bagas sudah menikah? Tapi dengan siapa dia menikah? Bahkan orang-orang kantor tidak tahu bahwa ia sudah menikah.
Apa mungkin Bagas sedang suka memakai cincin, makanya ia memakai cincin di jari manisnya, toh cincin di jari manis bukan pertanda bahwa seseorang sudah menikah saja sih.
Performa kerjaku dipuji baik oleh orang kantor, dan perasaan cintaku makin menggebu gebu, ditambah lagi Bagas yang selalu baik dengan diriku, membuatku susah untuk melupakan nya dan sesekali berpikiran ingin menjalin hubungan dengannya.
"Gas, nih berkas ku, tinggal kamu set aja denah nya. "
Aku mendatangi meja Bagas dan menyerahkan hasil kerjaku yang sudah ku kerjakan, ia mengangguk paham dan mengambil berkas yang diberikan.
Bagas, laki-laki yang ku hampiri, setiap bertemu dan berdekatan dengannya pasti jantungku selalu berdetak kencang dan hatiku mengungkapkan perasaan yang tak karuan, tak lama setelah memberikan berkas, aku mengajak Bagas mengobrol.
Terlalu asyik dengan obrolan kami, tak sengaja aku merasa gemas dan mencubit kedua pipi Bagas, hingga membuat rekan kerja lainnya mengejek ku dan Bagas, dan sesekali menjodohkan kami berdua.
"Cieee, cocok banget dua duanya, nggak salah lagi kalau dinikahin. "
"Nggak! Nggak ah! " tolak Bagas.
Di tengah-tengah ejekan dari rekan kerja lainnya, aku tersenyum, aku memang sudah menyukai Bagas semenjak 3 tahun yang lalu tepat di tempat kerja ini.
Yang tidak kusadari, Bagas menjadi kesal, ia menghentak mejanya hingga suara pukulan tersebut bergema di ruangan, aku yang di dekatnya saja terkejut dengan responnya yang terlihat tidak senang.
__ADS_1
"Aku udah nikah! Binoarca adalah istri aku! "
Seketika terasa palu besar menghantam hatiku, aku tidak percaya bahwa Bagas menikah dengan sepupunya sendiri.
Ruangan tempat kami bekerja hening, teman teman kantor kami mendadak diam dan menatap tidak percaya ke arah Bagas.
"Loh, kan Caca tuh sepupu kamu, Gas. "
"Agh, nggak tau lagi aku, kami tuh dijodohin. Jadi, jangan comblangin aku lagi sama si Jenni! Aku udah jadi suami orang! "
Aku hanya terdiam tak percaya, aku terdiam kaku menahan air mataku agar tak keluar, aku berusaha untuk tidak menangis.
"Dan kamu Jenni, semoga kamu tau ini dan berhenti kecentilan padaku, camkan itu baik baik! "
Aku tak tahan, hatiku hancur, perasaanku hancur, bahkan laki-laki yang kusukai mengeluarkan kata kata kasar padaku, aku tak tahan menahan tangisanku, aku lari dari ruanganku.
Tepat di depan ruangan, aku berpapasan dengan Caca yang sedang membawa beberapa map, wanita itu tak lain adalah istrinya Bagas.
Aku tak menyangka, bahwa laki-laki itu menikahi sepupunya sendiri, hatiku sakit menerima kenyataan ini, aku lari menjauh dari kantor dengan perasaan yang hancur ini.
......................
"Nak, kamu kenapa? "
"Tidak, Jenni hanya sedih aja, Jenni gagal terus dalam hal percintaan. "
Keluarga angkat ku orang yang baik, mereka selalu ingin membuatku bahagia, apapun itu caranya.
Penyembuhan luka hatiku termasuk lama, karena mengobati rasa sakit pada perasaan yang tak terbalas ini membuatku lama untuk bisa bangkit setelah sakit hati, tetapi kakak kakakku berusaha untuk menghibur ku agar aku selalu tersenyum, aku beruntung hidup di keluarga angkat ku.
Setahun setelah kejadian tersebut, Bagas tiba-tiba mendatangi ku, setiap melihat nya saja aku merasa takut, bahkan ingin lari tetapi ia menahanku.
Secara tiba tiba, ia datang untuk mengajakku menjalin hubungan, siapa yang tidak terkejut ketika suami orang main ajak berpacaran.
"Gas, tapi kan— "
"Caca sama aku mau cerai, Jen. "
Aku terdiam, aku memikirkan sesuatu hingga membuatku bergumam karena kasihan dengan rumahtangga Bagas dan Caca yang bertahan hanya setahun.
"Duh, jadi kasihan, yang sabar ya, Gas. "
"Iya Jen. "
Hari itu menjadi hari yang baik untukku, akhirnya penantian ini berbuah baik, karena aku dan Bagas bisa menjalin sebuah hubungan sebagai pacar.
Aku dan Bagas terasa cocok, kami juga mengenalkan diri masing-masing kepada keluarga kami, walaupun kedua orangtua Bagas agak kaget ketika aku sudah langsung menjadi pacarnya Bagas.
Aku rela menemani nya untuk melewati persidangan, dari saat ia dipanggil hingga ia di proses perceraian nya.
Entah mengapa, setelah seminggu lamanya, Bagas seperti menyembunyikan sesuatu padaku, ia seperti tidak terbuka kembali kepadaku.
Karena itu, aku menjadi khawatir dan cemas, karena ditelpon saja ia susah, apalagi membalas pesanku.
Aku sering mengurung diriku di kosan, dan sesekali terpikir setiap malam dengan keadaannya.
Setelah dua minggu berlalu, akhirnya Bagas menjelaskan bahwa ia ada masalah dengan keluarganya, sehingga ia menyembunyikan ini semua, aku tetap memberinya semangat ketika perceraian hampir memasuki final.
__ADS_1
"Jenni, kamu berpacaran dengan seorang yang mau duda, ya? "
Baru kali itu mama bertanya padaku, aku dengan semangat menganggukan kepalaku.
"Ya, Bagas sebentar lagi sudah mau menjadi seorang duda, mah, makanya Jenni bisa berpacaran dengannya. " jelas ku.
Namun tidak seperti biasanya, mama tidak senang dengan jawaban ku.
"Putuskan saja Bagas itu, Jen. "
Aku terkejut, bagaimana bisa, mama yang sebelumnya mendukungku sekarang malah menyuruhku untuk memutuskan hubungan dengan Bagas, kalau begitu, sama saja perjuangan ku sia sia saja.
Namun, seperti di awal, Bagas lagi lagi menyembunyikan sesuatu, aku menjadi kesal dengan dirinya yang menutup dirinya, tetapi tak lama ia berbaikan lagi dan kami melanjutkan hubungan kami.
Sepanjang perjalanan menuju ke tempat makan kemarin, aku terus terusan mengobrol dengan semangat, karena aku sangat menikmati waktu bersama dengan Bagas selama dua minggu berpacaran, sekali kali aku memberikan kode kode kepada Bagas, kapan dia bisa serius dalam hubungan nya ini dengan ku.
"Silahkan dinikmati. "
"Selamat makan. " ucap ku.
Aku dan Bagas menikmati makanan yang telah tersaji di depan kami, dan sesekali aku memberikan kode kode kembali dengan Bagas.
"Gas, kapan ya bisa sewa pelaminan? " tanya ku.
"Hmm, kapan kapan ya, Jen... " jawab Bagas tersenyum.
Aih, senyumnya, lagi lagi aku luluh dengan senyumannya yang tampan itu.
"Jen, kita putus ya. "
Aku terkejut dengan ucapan Bagas barusan, aku tidak percaya dan melotot ke arah Bagas.
"A—apa? Putus? " tanya ku.
"Ya, kita putus ya, Jen. Maaf, terimakasih untuk waktunya selama ini. " ucap nya.
"Tapi kenapa, Gas? Apa aku nggak cantik? Apa aku nggak—"
"Caca hamil, Jen. "
Aku terdiam, Bagas menundukkan kepalanya di depanku sambil menggelengkan kepalanya.
"Berapa lama kamu sembunyikan ini semua? " tanya ku.
"Tidak, kemarin aku baru tau. Usia kandungannya 3 minggu sekarang. " jawab Bagas denganku.
Aku menggeleng kepalaku, aku tidak percaya dengan ucapannya yang mengatakan bahwa umur kandungan Caca sudah 3 minggu, padahal dia mengajukan perceraian saja saat 2 minggu yang lalu.
"Gas, kamu yakin itu anak kamu? 3 minggu? Kamu aja 2 minggu yang lalu talak dia, Gas. Kamu yakin itu anak kamu? " tanya ku tidak terima.
"Jen, itu anakku, aku yang membuatnya ada di dunia ini. Jadi, maaf, kita akhiri sampai disini saja ya, aku masih punya tanggungjawab sama Caca dan kandungannya, aku sudah menjadi seorang ayah untuk janin yang ada di perutnya Caca. " jelas Bagas.
Aku tidak terima, kuhentakkan meja, makanan yang baru beberapa suap ku makan akhirnya ku tinggalkan, aku tidak terima dengan keputusan Bagas dan pergi meninggalkan Bagas di tempat makan itu sendiri.
Disaat hubungan kami sedang lancar, secara tiba-tiba Bagas memutuskan hubungan nya denganku, karena ia memberitahukan ku bahwa Caca hamil, hatiku benar-benar hancur, sehancur hancurnya.
Karena hubungan ini sudah selalu menghancurkan hati ku, aku memutuskan untuk menerima perjodohan dari kedua orang tuaku dengan seorang pemilik restoran Swaspeta.
__ADS_1
Semoga dengan ini, aku bisa mengakhiri rasa sakit ini dan berusaha menyembuhkan nya dengan pasangan baruku.
...****************...