
...Selamat membaca 🍊...
......................
Keesokan hari, Caca dan Bagas bangun, kali ini Bagas kembali tidur di lantai, sedangkan Caca tidur di kasur.
Caca meminta Bagas menemaninya, namun tidak tidur bersama, ia ingin menguasai wilayah kasur itu sendiri tanpa dipersempit oleh Bagas.
"Ca, pinggang aku sakit, mana kerasa masuk angin juga. " keluh Bagas.
"Kan aku nyuruh kamu nemenin aku, bukan berarti aku suruh kamu tidur sama aku, gimana sih? Jangan manja, ayo bangun, aku buatin air panas buat mandi, biar anginnya keluar. "
Caca bangun, ia membantu Bagas untuk bangun, tetapi Bagas langsung merebahkan diri di kasur bersama Caca, ia memeluk pinggang Caca.
"Gas! Jangan ambil kesempatan kamu! " teriak Caca.
Bagas beralih ke perut Caca, ia mencium perut Caca dan mengelusnya secara perlahan.
"Selamat pagi, sayang, sehat sehat ya kamu diperut mama kamu. " bisik Bagas di perut Caca.
Caca terkesima, ternyata Bagas mengucapkan selamat pagi kepada calon anak mereka, padahal masih kecil dan belum sempurna sama sekali sudah diajak ngobrol oleh Bagas.
Caca mengelus rambut Bagas, ia dipeluk oleh Bagas dan mereka saling berbalas pelukan.
"Kalau kayak gini, jadi malas mau ke kantor, Ca, pengennya di rumah sama kamu dan calon anak kita aja. "
Caca langsung mencubit lengan Bagas, sifatnya tidak berubah, suka bermain kasar dengan Bagas.
"Duh, sakit Ca...! " ringis Bagas.
"Bangun, nggak ada alasan buat libur kerja. Hari cerah gini, kecuali hujan lebat. " protes Caca.
Bagas menganggukan kepalanya, ia langsung bangkit dari kasur, diikuti oleh Caca dari belakang untuk memasak sarapan pagi.
"Ca, udah nggak mual? " tanya Bagas.
"Nggak lagi nih, awal awal aja, terus sekarang nggak lagi. " jawab Caca.
Masing-masing mereka sibuk dengan urusan sendiri, Caca memasak sarapan, sedangkan Bagas bersiap siap untuk berangkat ke kantor.
"Dimakan dulu, Gas. " ucap Caca.
Bagas memakan makanan yang dibuat oleh Caca, ia memujinya seperti biasa, karena memang masakan Caca benar-benar enak dan ia juga merindukan masakan istrinya tersebut.
"Gas, gimana kamu mau jelasin ini secepatnya dengan Jenni? "
Pertanyaan dari Caca membuat Bagas terhenti, Bagas menaruh sendoknya kembali ke piring.
"Masalah itu, hari ini akan aku jelaskan sama dia, soalnya nggak mungkin aku terusin hubungan aku sama dia. "
"Ya jelaslah, sama aja dengan selingkuh kamu kalau masih pacaran sama dia, sementara aku masih jadi pasangan kamu, kita udah mau punya anak juga. " ucap Caca.
"Kamu nggak cemburu? " tanya Bagas.
"Soal apa? " tanya Caca balik.
__ADS_1
"Ya, kirain kamu tuh bakalan cemburu, karena aku terang-terangan jelasin Jenni di depan kamu, mana juga kami belum mutusin hubungan kami di depan kamu. Kamu nggak cemburu? " tanya Bagas penasaran.
Caca tersenyum, ia mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa cemburu? Kamu kan menjelaskan yang sebenarnya, nggak salah juga kok kamu sampaikan pesan sama aku kayak gini, kan bisa juga aku kasih saran buat kamu. " ucap Caca.
Bagas merasa lega, setidaknya Caca mengerti dengan penjelasannya, dan juga tidak salah paham kepada dirinya.
"Yaudah, aku pergi dulu ya, jaga diri baik baik di rumah. "
"Gas, aku ikutan kerja ya? " mohon Caca.
Bagas menggeleng kepalanya, ia tidak memberi izin Caca untuk bekerja.
"Kamu nggak usah kerja, di rumah aja, kamu kerja kalau ada apa apa nanti, bisa disikat habis aku sama ayah kamu, Ca. " ucap Bagas.
"Tapi bosen, Gas, aku nggak ada kerjaan di rumah selain di kantor. " keluh Caca.
"Nggak, nggak boleh, ingat, kandungan kamu masih lemah dan kamu butuh istirahat. Mainin aja game di PsP aku, kalau mau mesen apa apa, pesen aja, biar aku bayar nanti lewat transfer. " bantah Bagas.
Caca akhirnya nurut, ia bersalaman dengan Bagas, Bagas ingin mencium kening Caca, tetapi Caca memundurkan kepalanya untuk tidak dicium oleh Bagas.
"Loh, kenapa ngehindar? "
"Aku belum terbiasa dicium sama kamu, Gas, soalnya dulu kita kalau mau pamit kerja cuma biasa biasa aja, ngucap salam udah cukup. " jawab Caca.
Tampaknya Caca belum terbiasa, tetapi Bagas tersenyum, ia mengerti maksud dari Caca, karena tidak terbiasa saja bagi istrinya itu sendiri seperti asing dan geli.
"Biasakan dari sekarang, yuk. " ajak Bagas.
Bagas menarik tangan Caca, ia merangkul Caca dan mencium kening istrinya.
"Biasakan kayak gini tiap pagi, aku udah jadi suamimu seutuhnya. Love you, Ca. "
Bagas pamit untuk segera pergi, meninggalkan Caca yang salah tingkah dengan perlakuannya tadi, Caca tidak pernah diperlakukan romantis seperti bersama Bagas, tetapi hatinya sedikit merasa senang dengan perlakuan dan ucapan cinta dari Bagas.
Bagas membunyikan klakson kemudian langsung pergi, Caca melambaikan tangannya dan memegang wajahnya.
Rasanya panas, ia memegang wajahnya yang memerah, karena ia salah tingkah akibat suaminya sendiri.
"Duh, salting berat kali ini, aduh... "
Caca mengelus perutnya. "Do'ain papa lancar cari rezeki nya ya, nak, biar mama bisa bahagia sama perlakuan papa sama kita berdua. " ucap Caca dengan mengelus perutnya.
......................
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Bagas akhirnya sampai di kantor, ia memarkirkan mobilnya di parkiran.
Niatnya untuk segera bertemu dengan Jenni, tetapi saat memasuki ruang kerja, ia tidak menemukan Jenni sama sekali.
"Jenni belum datang? " tanya Bagas kepada rekan kerjanya.
"Belum Gas, mungkin dia lembur semalam, makanya dia belum datang sama sekali di kantor. " jelas salah satu rekan kerja Bagas.
Bagas menganggukan kepalanya, ia kemudian duduk dan melanjutkan pekerjaannya, mungkin via telepon ia akan menjelaskannya kepada Jenni jika Jenni tidak masuk kerja.
__ADS_1
Pekerjaan Bagas lancar, walaupun cukup terganggu dengan Caca yang terus terusan menelepon nya, bertanya tentang hal yang tidak jelas, karena Caca yang bertanya bolehkah memainkan PsP nya dan Caca yang tidak mengerti sama sekali bermain game.
Bagas hanya bisa bersabar, karena ia harus dilatih sabar dengan Caca yang sekarang sedang hamil, yang pastinya keinginan dari istrinya akan aneh aneh.
Dari belakang, tiba-tiba Bagas dipeluk oleh seseorang, Bagas terkejut dan membalikkan badannya ke arah belakang, Jenni yang memeluknya dari belakang.
"Siang, Gas. " ucap Jenni.
Bagas tersenyum, ia menyambut Jenni yang menghampiri nya, kemudian ia mempunyai ide.
"Jen, udah makan siang? " tanya Bagas.
"Belum, yuk ke tempat makan kemarin, belum puas rasanya aku makan seafood di sana. " ucap Jenni.
Keduanya pergi bersama, hati Bagas terasa bimbang ketika bersama dengan Jenni, di sisi lain ia harus mengatakan yang sebenarnya, di sisi yang lain juga ia merasa kasihan dengan Jenni.
Sepanjang perjalanan menuju ke tempat makan kemarin, Jenni terus terusan mengobrol dengan semangat, karena ia menikmati waktu bersama Bagas selama seminggu berpacaran, sekali kali Jenni memberikan kode kode kepada Bagas, kapan Bagas bisa serius dalam hubungan nya dengan Jenni.
"Silahkan dinikmati. "
Jenni bertepuk tangan, ia merasa senang dengan makanan yang ada di depannya, kemudian memotret nya bersamaan dengan Bagas yang ada di depannya.
"Selamat makan. " ucap Jenni.
Kedua orang tersebut menikmati makanannya, dan sesekali Jenni memberikan kode kode kembali dengan Bagas.
"Gas, kapan ya bisa sewa pelaminan? " tanya Jenni.
"Hmm, kapan kapan ya, Jen... " jawab Bagas tersenyum.
Bagas merasa ragu, ia kemudian memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Jen, kita putus ya. "
Orang yang dimaksud oleh Bagas kemudian menghentikan makannya, Jenni terkejut dengan ucapan Bagas barusan, ia tidak percaya dan melotot ke arah Bagas.
"A—apa? Putus? " tanya Jenni.
"Ya, kita putus ya, Jen. Maaf, terimakasih untuk waktunya selama ini. " ucap Bagas.
"Tapi kenapa, Gas? Apa aku nggak cantik? Apa aku nggak—"
"Caca hamil, Jen. "
Jenni terdiam, ia menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya. "Berapa lama kamu sembunyikan ini semua? " tanya Jenni.
"Tidak, kemarin aku baru tau. Usia kandungannya 3 minggu sekarang. " jawab Bagas.
"Gas, kamu yakin itu anak kamu? 3 minggu? Kamu aja 2 minggu yang lalu talak dia, Gas. Kamu yakin itu anak kamu? " tanya Jenni tidak terima.
"Jen, itu anakku, aku yang membuatnya ada di dunia ini. Jadi, maaf, kita akhiri sampai disini saja ya, aku masih punya tanggungjawab sama Caca dan kandungannya, aku sudah menjadi seorang ayah untuk janin yang ada di perutnya Caca. " jelas Bagas.
Jenni menghentakkan meja, makanan yang baru beberapa suap ia makan akhirnya ia tinggalkan, ia tidak terima dengan keputusan Bagas dan pergi meninggalkan Bagas di tempat makan itu sendiri.
...****************...
__ADS_1