Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 21


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Minggu yang ditunggu akhirnya telah tiba, minggu tersebut adalah peringatan setahun pernikahan Bagas dan Caca, hari itu juga merupakan janji mereka untuk berpisah.


Sebelumnya, mereka sudah saling bermaaf-maafan sebelum berpisah.


Pagi ini Bagas dan Caca terbangun bersama, Bagas menumpang untuk tidur di kamar Caca, ia memeluk Caca dari belakang dan ikut terbangun ketika Caca melepaskan lengannya dari pinggang Caca.


"Gas, bangun... "


Caca membangunkan Bagas, Bagas membuka matanya dan bangkit dari kasur.


"Udah pagi ya? "


"Iya, ayo bangun. "


Caca membantu Bagas untuk bangun, mereka kemudian keluar dari kamar menuju ke ruang depan.


Caca memasak, ia bersenandung seperti biasa, bahkan wajahnya tampak cerah, karena ia dilepaskan untuk hari ini oleh Bagas karena pernikahannya sudah setahun dengan Bagas. Lain hal nya dengan Bagas, Bagas tidak bersemangat, tetapi ia berusaha untuk tidak terlihat putus asa di depan Caca.


"Nih Gas, dimakan ya. " ucap Caca dengan senyumnya.


Mereka makan bersama, Bagas menatap ke arah Caca, wanita itu makan dengan lahap sambil menonton televisi yang ada di ruang keluarga, ia mendengus.


"Piringnya taruh aja di sana, Gas, nanti sehabis pulang bakalan aku cuci. " ucap Caca yang berjalan ke kamar mandi.


"Iya Ca. "


Bagas menaruh piringnya, ia kemudian berjalan ke kamar untuk mengambil handuknya, sambil menunggu Caca, ia menonton televisi yang kebetulan siaran yang diputar adalah cerita Roman Picisan, Bagas menonton nya dengan serius, ia iri ketika melihat scene kedua pasangan yang romantis.


Saat Caca keluar dari kamar mandi, Bagas memindahkan siaran televisi nya, ia kemudian menonton siaran bola. "Gas, nonton apaan? "


"Nonton bola, Ca, nanti malam bakalan final. " jawab Bagas.


"Yaudah, mandi sana, kita berangkat ke kantor hari ini. " ucap Caca.


Bagas bangkit, ia kemudian berjalan ke arah kamar mandi, sedangkan Caca mematikan televisi dan berjalan ke kamar nya.


Setelah bersiap siap, Bagas menghidupkan mobilnya, sedangkan Caca menutup pintu rumahnya.


"Sudah dikunci, Ca? " tanya Bagas.


"Udah, yok berangkat. " ucap Caca.

__ADS_1


......................


Di perjalanan, Bagas dan Caca mengobrol seperti biasanya, hanya saja Caca yang bersemangat, sedangkan Bagas hatinya sedang sayu.


"Gas, kontrakan kita habis untuk tiga hari kemudian kan? Nggak bayar lagi kan kamu? " tanya Caca.


"Iya Ca, cuma untuk setahun aja, pas banget sama hari kita tinggal di sana, setelah habis bakal diangkut ke rumah masing-masing. " ucap Bagas.


Caca duduk semula, ia menatap pemandangan di luar, tak lama berselang gawai milik Bagas berdering.


"Halo mak, ada apa? " tanya Bagas.


'Nanti mampir ke sana ya, kan sesuai janji kemarin, mau bakar bakaran di rumah kalian. '


Bagas menatap ke arah Caca, Caca menganggukkan kepala, dengan semangat mengizinkan keluarga mereka bakar bakaran di rumah mereka.


Bagas mematikan gawai nya, ia menatap ke arah Caca. "Serius Ca, kamu mau adain acaranya di rumah kita? "


"Gas, kesempatan baik buat kita, bikin aja keributan atau semacamnya kayak rencana awal kamu dulu, nanti bisa lah di dramain dikit. " jawab Caca dengan semangat.


Bagas menatap Caca dengan sayu, ia merasa sedih ketika Caca masih ingat dengan perjanjian mereka dulu, sekarang adalah waktu Bagas yang menyesal dengan ucapannya dan rencananya.


Hati Bagas sudah dijawab oleh pencarian di website, kenapa dirinya tidak bisa melepaskan Caca adalah karena ia sudah terlanjur cinta dengan Caca, sehingga berat baginya bisa melepas Caca secepat itu.


Tetapi sayang, hatinya masih bimbang, terasa dilema itu pasti, sulit untuk menentukan pilihan hatinya ke arah mana, Bagas labil saat itu.


......................


Suasana rumah Bagas dan Caca ramai, keluarga Bagas yang terlebih dahulu datang ke rumah Bagas dan Caca, sedangkan Bimo dan Nanno akan datang setelah jam 5 nanti.


"Gas, gimana? Ada rencana mau punya anak lagi? " tanya Bintang.


"Belum bang, Caca belum siap, jadi sabar sabar aja. " jawab Bagas.


Melihat keluarga nya tengah sibuk, Bagas masuk ke dalam rumah, ia menghampiri Caca yang sedang menunggu nya di ruang televisi.


"Gas, nggak papa aku banting? " tanya Caca sambil menunjuk ke PsP.


"Kamu pokoknya lempar aja PsPnya, jangan sampai salah posisi lempar nya. " ucap Bagas.


Caca menganggukkan kepala nya, ia kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil ayam yang habis diungkep oleh kakak iparnya.


Secara tiba-tiba Brama masuk, ia berjalan menuju ke PsP yang terletak di dekat televisi.


"Bang, pinjam PsP nya ya. "

__ADS_1


Menunggu lama tak ada jawaban, Brama memilih salah satu PsP tersebut, ia dapat mengenali mana yang asli dan dummy (palsu).


Brama mengambil PsP tersebut, ia kemudian membawanya pergi untuk memainkan nya bersama teman-teman nya. Beberapa saat kemudian, Bagas dan Caca mulai melancarkan aksinya.


Mungkin karena lupa, Caca lupa mana PsP yang harus ia lempar, ia menunjuk ke sebuah PsP yang sebelumnya bukan ditunjuk oleh Bagas dan mulai mengomel dan berakting sedang marah marah.


"Main PsP kan?! Sini, aku banting PsP nya! "


Caca membanting PsP milik Bagas, suara bantingan tersebut membuat keluarga Bagas berlari ke dalam rumah, begitupun dengan Bagas.


Bukan sebuah akting, Bagas melotot, ia terkejut ketika melihat PsP yang ditunjuk sebelumnya bukan yang Caca lempar, melainkan PsP yang menjadi PsP kesayangannya yang baru.


"Gas, kamu—"


Belum sempat Caca berakting marah, Bagas berteriak ke arah Caca, teriakan keras yang belum pernah ia dengar.


"PsP ku! " teriak Bagas histeris.


Caca mulai berakting marah, tetapi ia langsung dibentak oleh Bagas dengan kasar.


"Kamu! Kamu kira seenaknya bisa lempar barangku?! Kamu kira aku belinya pakai apa? Pakai uang! "


Caca terdiam, scene rencana mereka tak berjalan lancar, Caca baru ingat, tipe PsP yang ia lempar bukan PsP yang disuruh oleh Bagas sebelumnya. Caca juga merasa salah, ia salah melemparkan PsP milik Bagas.


"Ma—maaf, Gas, aku nggak tau... " ucap Caca gemetaran.


"Bagas! Kenapa kamu bentak bentak Caca di depan mamak? "


Bagas menatap kesal ke arah Ayu, kemudian ia melemparkan vas bunga yang ada di dekat televisi, pecahannya membuat Bianca dan Caca menutup matanya.


"Belain aja terus, belain! Aku nggak tau siapa anak di rumah ini! Barangku hancur berkeping-keping, dan ini merupakan PsP ku yang termasuk mahal! Mudah sekali untuk membanting nya sesuka hati?! "


Bagas melemparkan kepingan PsP itu ke dinding, ia tak berdrama, melainkan memang benar-benar marah.


"Semenjak aku menikah denganmu, aku tidak mendapat apa apa, bahkan hal buruk saja yang selalu terjadi padaku! Aku menyesal bisa menikah denganmu, aku sangat menyesal! Kalau saja tragedi mobil itu tidak terjadi, aku tidak akan bertemu terus dengan wajahmu ini! Dasar wanita tak berguna! " bentak Bagas.


Air mata Caca menetes, Bimo dan Nanno yang baru sampai terkejut dengan bentakan menantunya kepada anaknya di depan matanya.


"Jangankan berharap ingin beranak dengan kamu, aku tidak sudi memberikan benihku untuk kamu! "


"Hei Bagas, apa maksud kamu pada anak kami, hah?! Kamu berani sekarang menghina Caca di depan kami berdua!? "


"Terserah, kamu Binoarca, aku talak kamu hari ini juga! Kita cerai! "


Ucapan Bagas mengenai perasaan Caca, Bagas pergi dengan langkah kakinya yang marah, sedangkan Caca menangis ketika Bagas yang menalaknya untuk diceraikan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2