Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
22: Malam berkesan


__ADS_3

Peringatan⚠


eps ini mengandung unsur dewasa, yang membuat tidak nyaman pada para pembaca, diharapkan bijak dalam membacanya!


...Selamat membaca 🍊...


......................


"Caca, nak, kamu nggak papa? " tanya Bimo.


"Caca, Caca barusan tadi di ceraikan... Caca diceraikan sama Bagas, yah... "


Caca menangis histeris, kedua orangtua Bagas mendekat untuk menenangkan Caca, tetapi Bimo menghalangi Bayu dan Ayu.


"Berhenti disana! Tidak usah sentuh anakku, kalau anak kalian berani menyakiti perasaan anakku! " tegas Bimo.


Suasana yang tadinya menyenangkan sekarang berubah menjadi tegang, Bayu dan Ayu hanya bisa menahan malu di depan besannya, sedangkan Bintang dan Bianca hanya bisa menatap terdiam saja melihat kedua keluarga yang sedang bersitegang.


"Kalian kasih tau saja dengan anak kalian, uruslah surat gugatan perceraian mereka, jangan kalian yang kewalahan mengurusnya! " tegas Bimo.


"Bim, bisakah kamu kasih kesempatan untuk anak kami? Kami tau, Bagas tadi kalang kabut untuk ngomong kayak gitu. Kami yakin, Bagas pasti nggak sengaja ngomong kayak gitu, Bim. " ucap Ayu.


"Agh! Yu, kamu dengar ya, ucapan laki laki itu ibarat harta karun, ucapannya sangat berharga, jika dia sudah memutuskan sesuatu, maka itu berarti sudah mutlak! " tegas Bimo kepada Ayu.


Ayu tidak punya harapan lagi, ia dan Bayu memutuskan untuk pulang, diikuti oleh kedua anaknya dan menantunya pulang bersama, sedangkan Bimo dan Nanno menenangkan anaknya yang tengah menangis.


"Ca... "


"Nggak papa bu, kalian pulang saja, Caca nggak papa di rumah sendirian, Caca mau nenangin diri dulu buat sekarang. " ucap Caca.


"Nggak papa kami tinggalin? " tanya Nanno.


Caca menganggukkan kepalanya, ia kemudian salam kepada kedua orangtuanya dan mengantarkannya hingga ke depan pintu rumahnya.


Setelahnya, Caca mengambil kepingan PsP yang berhamburan di dekat dinding rumah. Bagas mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga akhirnya ia berhenti, karena mobil polisi yang mengejarnya dari belakang dan menghentikan mobil Bagas dengan menghadangnya dari depan.


Bagas berdecak kesal, kemudian polantas mengetuk kaca pintu mobilnya, Bagas keluar dari mobil dan menghampiri polisi yang memanggilnya.


"Selamat sore, pak, kami polantas menghentikan tindakan anda dalam mengendarai mobil dalam kecepatan penuh. Anda tau macam macam resikonya kan? " tanya polisi.


"Ya, saya tahu, pak, maafkan saya. " jawab Bagas.


"Ada surat suratnya? " tanya polisi tersebut.


Bagas merogoh kantong celananya, ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan semua surat kendaraan yang ia punya, Bagas lolos, ia tidak dibawa oleh polisi dan hanya diberikan surat tilang.


"Lainkali jangan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, tindakan anda bisa mencelakai diri anda dan orang lain. "

__ADS_1


"Baik Pak, saya tidak akan mengulangi nya lagi. " ucap Bagas.


Hari yang sial untuk Bagas, niat untuk bercerai tetapi barang kesayangannya rusak, ditambah lagi ia yang mendapat surat tilang, membuat hati dan pikirannya tambah kacau.


Gawai nya berdering, Bagas mengambil gawai nya dan mengangkat telpon dari Brama.


'Bang, makasih banyak buat PsP nya ya, Brama juga sambil mau minta abang jemput Brama dong, bang. '


Bagas mengerutkan keningnya. "PsP? PsP apa? " tanya Bagas.


'PsP abang, cepat lah bang, bentar lagi mau magrib. Jemput Brama di rumah Toni, bang. '


Mendengar PsP, Bagas langsung naik ke mobilnya, ia terkejut ketika adiknya yang mengatakan bahwa meminjam PsP miliknya.


......................


"Nih bang, makasih PsP nya, akhirnya kita bisa ngerasain main di PsP seri baru. "


Bagas hanya diam, ia tidak percaya yang sedang ia pegang sekarang adalah PsP kesayangan miliknya.


"Berarti kamu bawa yang asli?! Berarti Caca ngelempar yang dummy gitu?! " tanya Bagas tak percaya.


"Iyalah bang, yang abang katakan yang dilempar itu PsP Dummy, soalnya yang asli kami pinjam, ini Brama barusan bawa dari rumah Toni. " jelas Brama.


"Apa? Berarti Caca... "


Brama melihat ekspresi Bagas yang cemas dan ketakutan, kemudian ia menanyakan Bagas. "Lu apain mbak Caca, bang? "


"Sakit bang! "


"Lainkali kalau mau minjam tuh ngomong! Gara-gara kamu, jadinya abang marahin si Caca! Anak sialan! " teriak Bagas.


Bagas membawa PsP nya, sedangkan Brama bersama temannya mengumpat Bagas yang datang datang dengan emosi.


Bagas masuk ke mobil, tanpa memberi klakson kepada kedua orang muda tersebut, bahkan Bagas melupakan Brama yang ingin pulang bersama dirinya.


"Ca, maafkan aku, ternyata aku salah, aku khilaf udah marahin kamu...! "


Sepanjang jalan, Bagas menyalahkan dirinya sendiri, ia terhenti dengan suara azan magrib.


Bagas dipanggil untuk menunaikan ibadah nya, ia memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil, mengambil wudhu dan mulai melaksanakan shalat maghrib.


Hatinya terasa damai, kepalanya juga menjadi dingin, Bagas memutuskan untuk segera pulang, ia ingin segera bertemu dengan Caca sesegera mungkin dan meminta maaf kepada istrinya tersebut.


......................


Sesampainya di rumah, keadaan luar halaman rumahnya terlihat belum disusun sama sekali, masih berantakan dengan kursi dan tempat panggangan di dekat pagar rumahnya.

__ADS_1


Bagas segera masuk, ia mencari keberadaan Caca di dalam rumahnya, di kamar Caca terdengar suara video, ia menyusul ke dalam ruang tersebut dan membuka pintu ruang kerjanya.


Dari dalam ruangan, terlihat Caca yang sibuk memperbaiki PsP yang sempat ia lempar hingga rusak, dengan usaha melihat tutorial memperbaiki PsP di sosial media.


"Ca... "


Caca dengan matanya yang sembab menatap ke arah Bagas, ia melanjutkan memperbaiki PsP milik Bagas yang ia hancurkan tadi.


"Ca, udah... "


"Nggak, aku bakalan perbaiki PsP nya, aku bakal perbaiki kok... "


Bagas berusaha untuk menghentikan Caca, tetapi Caca bersikeras dengan Bagas yang menyuruhnya berhenti.


"Lepasin, Gas...! Aku bisa perbaikin ini, aku bisa... "


Bagas mencoba melepaskan kepingan PsP tersebut dari tangan Caca, tetapi Caca memberontak dan ia menangis dengan meletakkan kepingan tersebut di lantai.


Bagas mendekat ke arah Caca, ia menatap Caca dan meminta maaf kepada Caca.


Semua usaha Bagas lakukan, ia memeluk Caca hingga Caca mengeluarkan wajahnya dari lipatan kedua lengannya.


"Ca, i'm sorry... " ucap Bagas dengan pelan.


Caca sesenggukan, ia menatap Bagas dengan tatapan bersalah, Bagas menaikkan dagu Caca dan mencium bibirnya dengan singkat.


Caca terkejut dengan Bagas, tetapi Bagas melanjutkannya lebih dalam lagi, Caca seakan terhipnotis dan ikut dalam alur keinginan Bagas.


Bagas mengangkat Caca, ia kemudian melakukan nya lebih dan lebih, hingga keduanya saling terhipnotis dengan permainan mereka sendiri.


"Ca, i love u... " bisik Bagas di telinga Caca.


Bagas terpancing, ia menatap Caca yang sudah ikut terpancing, perlahan ia mencoba tuk pertama kalinya bersama Caca, istrinya itu sendiri.


"A—ah! " teriak Caca.


"Kenapa Ca?! " tanya Bagas dengan panik.


Ini baru pertama kali bagi mereka, Bagas melihat Caca yang menangis, dengan wajah Caca yang memerah dan air mata yang menetes.


"Sakit, Gas, aku nggak tau kalau sakit banget kayak gini... " keluh Caca sambil menangis.


"Aku pelan pelan ya? " tanya Bagas dengan mengelus wajah Caca.


Caca menuruti Bagas, ia menganggukkan kepalanya, terserah dengan Bagas bagaimana ia akan melakukannya bersama dengan dirinya.


"Gas, sakit...! " rintih Caca.

__ADS_1


Bagas tetap bersabar, dengan kelembutan yang akhirnya bisa membuat Caca nyaman, mereka melanjutkan nya dengan penuh penghayatan bersama, dengan Bagas yang selalu berbisik di telinga Caca bahwa ia mencintai Caca.


...****************...


__ADS_2