Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 43: Berkah untuk kami, keluarga Bagas


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Setelah semuanya selesai, Caca dipindahkan di ruangan lainnya tempat ia akan beristirahat, sedangkan Hafizh, bayinya berada di ruang bayi.


Bagas menemani Caca di ruangan nomor 2, sembari ia akan menunggu keluarganya datang kembali ke rumah sakit untuk menghampiri Caca yang baru saja melahirkan.


"Duh, Gas... "


Bagas yang sedang menonton film kemudian mengarahkan pandangan nya ke arah Caca, dengan tetesan air mata di samping pipinya membuat Caca yang baru bangun langsung melotot.


"Gas, kamu kenapa nangis? Mana anak kita? " tanya Caca panik.


Bagas menghapus air matanya dengan tisu yang ada di samping meja, sedangkan Caca panik melihat suaminya yang menangis, ia khawatir dengan keadaan anaknya.


"Cowoknya kok kejam ya, Ca? Aku nggak pernah kayak gini sama kamu kan, Ca? "


Caca yang panik kemudian menatap kesal ke arah Bagas, ia sempat mengira anaknya sedang dalam masalah, ternyata suaminya menangis karena film yang sedang di tonton.


"Gas, kamu nangis gitu bikin aku panik tau...! " lirih Caca kesal.


Tak lama setelah itu, keluarga Bagas dan Caca datang, mereka ingin melihat bayi yang baru saja lahir.


"Mana bayinya? " tanya Ayu.


"Heh, kenapa kamu nangis? Bayinya ada masalah?! " tanya Bianca panik.


Sekarang yang panik adalah kedua belah pihak keluarga, sebab Bagas matanya memerah dan terlihat habis menangis.


"Tidak, bayinya nggak papa kok, Bagas ini nangis karena film yang Caca tonton. Anak kami selamat kok. " jelas Bagas.


"Selamat? Alhamdulillah, sekarang dia di mana? " tanya Nanno.


"Di ruang bayi, ayo sama sama kita lihat bayinya, anak anak kak Bianca di mana? " tanya Bagas.


"Dia kakak titipin di tempat penitipan anak, biar nggak bikin berisik di rumah sakit. " jawab Bianca.


Bagas mengajak kedua keluarganya ke ruang bayi, sebelumnya ia membantu Caca untuk duduk di kursi roda, mereka berjalan menuju ke ruang bayi.


"Atas nama siapa, pak? "


"Muhammad Hafizh Al-Fatih Dwipangga, nama ibunya Binoarca Julaekha Putri. " jawab Bagas.


Sekeluarga diiringi ke ranjang bayi, terlihat bayi kecil yang sedang tertidur, entah apa yang sedang di mimpikan oleh bayi kecil itu sampai pulas tidurnya.


"Jangan terlalu berisik ya, bapak ibu sekalian, takut nanti bayi lainnya ikut terganggu. " himbau suster yang sedang menggendong bayi.


Mereka semua menganggukan kepalanya, kemudian berfokus kembali melihat bayi yang berada di ranjang.


Satu suster lainnya mengambil Hafizh yang berada di kasur bayi tersebut, Caca menimang anaknya yang baru lahir, kemudian sibuk diiringi oleh nenek kakek nya Hafizh.


"Ulululu, cucuku, tampan sekali kamu, nak... " puji Ayu.

__ADS_1


"Cucu pertama kami, duh tampannya anak ini... " ucap Bimo.


Setelah puas melihat Hafizh, kemudian semua keluarga keluar, tersisa hanya Bagas dan Caca yang ada di ruangan, mereka ingin Hafizh bisa dipindahkan di ruangan tempat ibunya juga dirawat.


......................


"Jadi, bagaimana kita memutuskan untuk aqiqahan? "


Pembahasan ini layak untuk Bagas dan Caca lewati, karena mereka yakin, akan ada perdebatan dari kedua orangtua mereka dan pastinya mereka akan kewalahan melerai keduanya.


"Ca, yakin nggak bakal ribut ini? " bisik Bagas.


"Yakin banget, bang, nggak usah ditanya lagi. " jawab Caca berbisik.


"Masa di rumah kamu, Yu? Ini kan momen pertama kami, kamu kan ada dua cucu, pastinya pernah dulu, giliran kami lagi dong. " protes Bimo.


"Loh, ini pertama kalinya kami dapat cucu laki-laki, boleh dong kita aqiqah nya di rumah aku, kemarin tujuh bulanan di rumah kamu. " bantah Ayu.


Tebakan Caca dan Bagas memang benar, tetapi daripada melihat berdebatan, maka bagi ia lebih baik melihat anak mereka yang sedang tidur di ranjang bayi.


"Bapak, mamak, ibu, ayah. " panggil Caca.


Semuanya mengarah kepada Caca, Caca sedang menggendong Hafizh dan menatap ke arah mereka.


"Bagaimana kalau aqiqahan nya di rumah kami saja, kan sudah lama nggak ada acara di rumah kami, lagipula syukuran beginian kan bagusnya di rumah kedua orangtua nya bayi."


Setelah Caca angkat bicara, akhirnya kedua orangtua mereka diam, mungkin memendam kesal karena tidak mendapatkan jatah untuk merayakan aqiqahan cucu mereka di rumah mereka.


......................


Semua perlengkapan bayi sudah tersedia di rumah, bahkan anak mereka mendapatkan bingkisan dari saudara, kerabat, maupun teman teman kantor mereka.


"Namanya siapa, Ca? "


Indah mengunjungi Caca, karena ia mendapat kabar dari Deni dan teman kantor lainnya, bahwa Caca sudah melahirkan.


"Namanya Muhammad Hafizh Al-Fatih Dwipangga, semoga sifat dan rezekinya seberkah namanya. " jawab Caca.


"Amin, boleh gendong nggak, Ca? "


Caca memberikan perlahan kepada Indah, dengan senang hati Indah dapat menggendong Hafizh, wajah bayi laki-laki itu baginya tak jauh mirip seperti Bagas.


"Wajahnya kok wajah Bagas ya, Ca? Wajah kamu sebelah mana ini? " tanya Indah.


"Bervariasi sih itu, soalnya ada yang ngatain Hafizh itu mirip aku, kadang juga mirip papanya. Jadi, itu rasanya adil. " jawab Caca.


"Nih minumnya, suka kopi kan? " tanya Bagas.


"Aku nggak minum kopi, Gas. " jawab Indah.


Bagas memberikan nampan yang berisi teh, kemudian ia memberikannya pada Indah, Indah ia kerjai untuk sekarang.


Indah menatap Bagas dengan tatapan datar, percaya saja ia dengan perkataan laki-laki iseng tersebut.

__ADS_1


"Iseng banget kamu, Gas, hahaha...! " ejek Caca sambil tertawa.


"Semoga Hafizh nggak se-iseng kamu deh, Gas. "


Caca dan Bagas tertawa, mereka berdua memang suka iseng kepada orang, tak heran teman mereka ingin sekali membalasnya, tetapi tidak mempan sama sekali.


......................


Beberapa hari berlalu, hari aqiqahan untuk Hafizh akhirnya dilaksanakan, Ayu menyumbangkan seekor kambing untuk disembelih, sedangkan Bimo dan Nanno menyumbangkan keperluan bumbu masakan lainnya.


Rata rata sebagian orang masih penasaran dengan wajah Hafizh, karena mereka baru mendapatkan kabar keesoka harinya, bertepatan dengan hari aqiqahan tersebut.


"Adek bayinya ganteng banget, mama, kasih juga adek bayi kayak gini. " mohon Cantika.


"Adek Clara kan ada, Can, kamu jangan suruh mama punya adek lagi, adek Clara kamu kan masih umur setahun. " ucap Bianca.


Caca yang sedang menggendong Hafizh kemudian tersenyum, keponakannya sangat lucu, apalagi saat berdebat dengan kakak iparnya yang meminta adik lagi.


Acara aqiqahan akhirnya dimulai, semua tetangga yang di undang menghadiri acara aqiqahan tersebut, mereka ikut melihat bayi yang akan didoakan terlebih dahulu sebelum rambutnya dipotong satu persatu.


Saat sesi pemotongan rambut, tiba-tiba Hafizh menangis, Caca berusaha menenangkan anaknya yang menangis tersebut.


"Cup cup, jangan nangis ya, Hafizh. "


Caca menimang anaknya yang ingin dipotong rambutnya, aqiqah anaknya yang dihadiri oleh keluarga dan tetangga sekitar karena merayakan kelahiran Hafizh dan meminta keberkahan sekeluarga beserta do'a yang baik untuk Hafizh sesuai perkembangan Hafizh kedepannya.


Acara berjalan dengan lancar, kemudian mereka memotong kambing, dengan menyebutkan nama sang bayi sesaat memotong kambing tersebut.


"Semoga, dengan nama Muhammad Hafizh Al-Fatih Dwipangga ini menjadi nama yang berkah untuk anak dari Bagas Dwipangga dan Binoarca Julaekha Putri kedepannya. Amin amin ya rabbal alamiin... "


Selesai dengan semuanya, akhirnya acara terakhir setelah makan yaitu membagikan bendera dengan uang pecahan yang ditempelkan di bendera tersebut, anak anak pastinya sangat menyukai bendera dengan uang yang ditempel.


"Aku mau bendera! Benderanya ada uangnya! "


Anak anak kecil tampaknya mencoba untuk merebut masing-masing bendera yang tersedia, sedangkan pemilik acara hanya tersenyum melihat anak anak tersebut berebut bendera.


"Kayaknya Hafizh bakalan begitu juga pas ada acara aqiqahan anak Brama nanti deh, bang. " ucap Caca.


"Namanya anak anak, jangankan anak anak, aku aja suka uang yang ditempel kayak gitu. " ucap Bagas.


"Inner child banget kamu ya, Gas. "


"Efek banyak saudara sih, apalagi saudaranya laki-laki. " jawab Bagas.


Tak lama setelah mengobrol, salah satu saudara jauh Caca menghampiri kedua pasangan tersebut, ia mengucapkan selamat pada Caca dan melihat wajah Hafizh.


"Ganteng nya anak kalian, pastinya berkah banget kelahiran anak kalian ini, selamat ya. "


Caca dan Bagas tersenyum bersama, mereka menatap Hafizh secara bersamaan.


"Berkah kami sekeluarga karena lahirnya Hafizh, karena dia, kami berlimpah keberkahan, entah itu dalam bentuk rezeki maupun kelancaran rencana kami masing-masing. " ucap Bagas.


Bagas mengelus kepala anaknya, kemudian meminta Caca untuk menyerahkannya kepadanya untuk ia timang.

__ADS_1


"Hafizh anak papa dan mama yang bawa keberuntungan. Selalu berkah buat kamu ya, nak. " ucap Bagas.


...****************...


__ADS_2