
...Selamat membaca 🍊...
......................
"Ayo Ca, geraknya diperbanyak. "
Pagi hari yang cukup cerah, Caca dan Bagas olahraga pagi, hanya sekedar berjalan pagi untuk memenuhi kegiatan pagi sebelum pergi bekerja.
Caca menatap Bagas dengan tatapan memusuhi, Bagas hanya bisa rewel, tanpa tau apa yang sedang dirasakan oleh dirinya sekarang.
"Sabar Gas, jalanku tuh nggak selancar kayak kemarin, ini aja bengek terus... " keluh Caca.
Bagas memutar kedua matanya, ia kemudian menyuruh Caca untuk duduk, sementara ia membelikan air minum untuk Caca.
Caca mengelus perutnya, kemudian tendangan dari perutnya terasa, Caca mengelus perutnya dengan senang.
"Senang ya bisa mama aja kamu jalan jalan begini? " tanya Caca.
"Nih Ca, minum kamu. "
Bagas menyerahkan air minum untuk Caca, Caca meminumnya dengan lega dan meluruskan kakinya.
"Lihat nih, kakiku bengkak banget sekarang, bakalan jadi ibu ibu beneran aku. " ucap Caca.
"Kaki mudah capek gitu, makanya nggak heran tiap hari sukanya dipijitin. "
"Ya namanya lagi pegang beban berat bagian perut, Gas, nanti kalau baby H nya keluar, bakalan plong lagi aku. " ucap Caca.
"Yaudah, yuk kita pulang, bentar lagi kita mau berangkat kerja. " ajak Bagas.
"Gas, bantu aku. "
Bagas membantu Caca untuk berdiri, kemudian Caca merasa bengek lagi, ia menghela nafasnya dan mengikuti suaminya untuk menuju ke rumah.
......................
Seharian penuh Caca tidak bisa untuk leluasa bergerak, karena selalu saat ia selesai mengerjakan sesuatu, akhirnya ia akan merasakan bengek dan perlu mengambil nafas yang panjang.
"Makan kamu kok sedikit, Ca? Kamu di suruh diet ya sama dokternya? " tanya Indah.
"Nggak kok, Ndah, memang sengaja makan sedikit, biar nanti lahiran nya mudah, biar dia gede di luar perut aja. " jawab Caca.
"Begitu ya? Jangan sampai nggak makan ya, Ca, karena demi badan kamu mudah buat kurus, makanya milih kayak gitu. "
"Nggak lah, aku kan sayang sama calon anakku, Ndah, makan aku rutin kok walaupun porsinya ku atur sendiri. " jelas Caca.
......................
Sepulangnya dari kantor, Caca berusaha berjalan ke mobil, Bagas seperti biasa akan mengangkut barang-barang milik Caca, karena ia tau, istrinya berjalan saja mudah ngos-ngosan.
Bagaimana jika Caca sekaligus mengangkat barang barang itu? Yang ada Caca akan sesekali duduk dan berdiri untuk bisa mencapai ke mobil.
"Gas, selera makan itu... " mohon Caca.
"Belinya berapa? " tanya Bagas.
"Satu porsi aja, kita bagi dua. "
Bagas mengerutkan keningnya, suatu hal yang aneh terdengar di telinganya.
"Tumben, biasanya porsi kamu lebih, Ca? " tanya Bagas.
__ADS_1
"Sengaja buat diet Gas, biar—"
"Heh, mana boleh hamil pakai diet! Nggak, aku beliin dua porsi, kalau nggak habis, biar aku habisin, yang penting kamu bisa kenyang! " bantah Bagas.
"Loh, kok begitu? Kan aku sengaja, biar baby H kita pas dilahirkan itu mudah. Kalau kebablasan porsi aku makannya, yang ada malah aku disuruh diet karbohidrat. " protes Caca.
Bagas menuruti keinginan Caca, ia keluar dan memesan makanan yang diinginkan Caca.
Sesampainya di rumah, Caca langsung duduk di kursi ruang tamu, ia merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah dan nafasnya yang terkadang membuatnya ngos-ngosan.
"Duh, tambah bulan tambah bikin ngos-ngosan aja... "
Bagas menatap remeh ke arah Caca. "Segitu aja Ca, anggap aja kamu lagi gendut, kan cuma sebulan lagi... "
Saat Bagas mengatakan hal tersebut, perkataan Bagas cukup mengenai perasaan Caca, suaminya dengan enteng mengatakan hal tersebut padanya yang sedang mengatur nafas.
"Kayak gendut, ya? " tanya Caca menggeram.
Caca segera mengambil hpnya, ia memesan sesuatu di hpnya dan wajahnya terlihat sangat senang ketika ingin membalaskan perkataan suaminya tadi.
......................
Malam harinya pintu rumah diketuk dari luar, Caca segera berjalan menuju ke pintu luar, sedangkan Bagas yang bermain game teralihkan ketika melihat Caca yang berlari ke arah pintu luar.
"Terimakasih ya pak, ini tip buat bapak. " ucap Caca.
Bagas menyusul, ia melihat Caca yang memegang plastik berisi semangka.
"Kenapa beli semangka? Ngidam kah? " tanya Bagas.
"Buat ditempelin di perut kamu! Nih, pegang, biar aku tempelin nih semangka ke perut kamu! "
Caca menonjokkan semangka itu ke perut Bagas, kemudian menyuruh Bagas untuk memegangnya, sementara Caca memasang plastik wrap ke perut Bagas hingga terasa bahwa semangka tersebut terasa menyatu di perut Bagas dan semangka tersebut tidak menunjukkan tanda jatuh.
"Ini namanya simulasi, bukan main main. " ucap Caca.
Semalaman Bagas tidur dengan semangka yang menempel pada perutnya, ia merasa bahwa perutnya dalam semalam langsung membesar.
"Duh, ganjel amat nih perut, mau nafas aja sesak... " keluh Bagas.
"Baru 5 bulan, Gas, yang sabar dong, 4 bulan lagi. " ejek Caca sambil memainkan gawainya.
"Minggir dikit kakinya, gitu aja kok ngeluh? "
Caca bersantai, sementara Bagas mengeluh, tidurnya menjadi tidak nyaman dengan perutnya yang terasa mengganjal.
Saat malam hari saja, Bagas sering bolak-balik kamar mandi, karena perutnya terasa tertekan dengan semangka yang terus terusan menempel di perutnya.
......................
Semalaman hingga pagi hari tiba, semangka tersebut masih menempel di perutnya, Bagas ingin bergerak saja rasanya susah, bahkan ia malu untuk keluar rumah, akhir pekan hanya dihabiskan di dalam rumah saja.
"Dari semalam semangka nya nggak kamu lepasin kan, Gas? " tanya Caca.
"Duh, nggak kok, kan kata kamu kemarin, kalau aku lepasin sama dengan aku cowok berdaster. Enak aja kamu sebut aku begitu! " jawab Bagas.
"Baguslah, kalau begitu, nikmati ya, suamiku tersayang. " ejek Caca.
Seharian Bagas merasakan sesak nafas, ingin bernafas saja rasanya tipis sekali, ia merasa bahwa ia benar-benar sedang hamil.
Selesai menolong Caca berberes beres, saatnya waktu kedua pasangan tersebut bersantai.
__ADS_1
Bagas terkejut melihat Caca, istrinya bisa bersantai di kursi dengan perut yang lebih besar dari semangka yang menempel di perutnya, Bagas mencoba untuk duduk di samping Caca untuk bermain game.
"Ca, tolong, bantu aku duduk... "
"Tangan dibelakang, jadiin senderan, terus perlahan duduk. "
Bagas merasa tersiksa, tetapi ia gengsi untuk menunjukkan wajah menyerahnya, ia berusaha untuk terlihat kuat di mata Caca.
Saat ingin memotong kuku adalah awal dari Bagas ingin menyerah, perutnya terasa tertohok begitu dalam, Bagas hampir muntah dengan semangka yang menekan perutnya.
Caca melihat raut wajah Bagas mulai berubah, Bagas menunjukkan kata menyerah.
"Gimana pakmil? Enak? " tanya Caca mengejek.
"Ampun Ca, ampun, ternyata punya perut besar kayak gini bikin ngos-ngosan, maaf udah ngeremehin kamu kemarin.... " mohon Bagas dengan nafas tersengal sengal.
Caca tersenyum, ia kemudian mengambil gunting dan memotong plastik wrap yang menahan semangka di perut suaminya, Bagas bernafas lega dan wajahnya sudah kembali seperti di awal, tak lama Bagas memeluk Caca.
"Maaf ya, Ca, ternyata perjuangan kamu sampai kandungan kamu mau umur 9 bulan kamu bisa tahan ini semua. Memang, wanita itu diciptakan sesuai kodratnya dan tanggungan nya. Kamu memang hebat, istriku... " puji Bagas.
Caca tersenyum, ia membelai wajah Bagas dengan halus, kemudian mencium pipi suaminya.
"Pakmil boleh ngidam nggak, bumil? " tanya Bagas.
"Ngidam? Ngidam apaan? " tanya Caca penasaran.
"Ya, kamu tau nggak Ca, selama kamu hamil tuh aku suka pakai jalan alternatif, lama-lama bosan cuma bisa main sendiri. Di buku panduan, boleh nggak sekiranya? Kan udah gede juga umur kandungan kamu. "
Permohonan dari Bagas sangat halus dan lembut tutur katanya, itu membuat Caca menjadi lebih nyaman untuk merespon keinginan dari Bagas, Caca mengambil buku panduan miliknya di dalam laci.
Bagas melihat Caca yang membaca buku panduan tersebut, jantungnya berdebar untuk menunggu kepastian dari buku panduan tersebut, tak lama setelahnya raut wajah Caca berubah dengan senyuman.
"Boleh ternyata. "
Bagas langsung semangat, dengan tenaganya, ia bisa mengangkat Caca hingga ke kamar, kemudian melakukan hal seterusnya dengan Caca.
Hanya bisa dihitung beberapa menit, Caca melihat wajah Caca, seketika raut wajah Caca berubah menjadi ilfeel.
"Ihh! Kok jijik ya lihat wajah kamu, Gas?! "
Caca menyingkirkan Bagas yang sedang asyik, Bagas terdorong dan melihat Caca yang segera menghentikan permainannya.
"Ca, astaga nanggung nya... " keluh Bagas.
Bagas berusaha membujuk Caca, sedangkan Caca tidak meladeni nya sama sekali.
......................
Keesokan harinya, mood Bagas menjadi tidak bagus, sedangkan Caca masih kepikiran soal kemarin malam, karena jijik melihat wajah suaminya, akhirnya mood suaminya menjadi buruk.
"Maaf deh, Gas... " ucap Caca.
"Iya deh, kalau begitu, nanti aku perawatan wajah, biar kamu nggak jijik pas lihat muka aku. " ucap Bagas.
Caca memeluk Bagas dari belakang, ia berusaha membujuk suaminya agar mood suaminya tidak buruk.
"Maaf ya, bawaan soalnya. Nanti malam kita coba lagi yok? " bujuk Caca.
"Baik, tapi jangan diulangi lagi, cukup tersinggung soalnya. " ucap Bagas.
"Iya, jangan cemberut lagi ya? "
__ADS_1
Bagas mencium kening Caca, kemudian mereka keluar dari rumah, mereka berangkat kerja menuju ke kantor.
...****************...