
...Selamat membaca 🍊...
......................
Keesokan harinya Caca bangun lebih awal, ia melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu, kemudian baru membangunkan suaminya.
"Gas, bangun, subuh dulu yuk. " ajak Caca.
Bagas bangun, ia kemudian duduk dan menguap, mengikuti Caca keluar kamar dan mengambil air wudhu untuk shalat subuh.
"Aku jama'ah di masjid ya, kamu di rumah aja. " ucap Bagas.
"Sanggup? Masih ngantuk begitu kamu soalnya. " tanya Caca meyakinkan.
"Ya, kalau ketiduran, kan tidurnya di masjid. " jawab Bagas.
Bagas bergegas untuk ke masjid, sementara Caca shalat di rumah.
......................
Pagi hari telah tiba, Caca selesai menyiapkan sarapan yang akan dimakan olehnya dan Bagas, kali ini ia sangat bersemangat, bagaimana tidak, ia diizinkan untuk bekerja kembali ke kantor oleh suaminya.
"Semangat banget kayaknya kamu sekarang, Ca. " ucap Bagas.
"Iyalah, aku tuh udah nungguin momen kayak ginian, aku mau balik kerja lagi ke kantor soalnya. " ucap Caca.
"Tapi ingat, kamu harus penuhi syarat yang kemarin, ngerti? "
"Iya, ngerti. " jawab Caca.
Selesai sarapan, Bagas dan Caca bersamaan untuk keluar rumah, Caca dengan semangat mengambil barangnya dan menaruhnya ke dalam mobil, kemudian naik dan berangkat ke kantor bersama suaminya.
Sepanjang jalan, Caca hanya mendengar ocehan Bagas saja, Bagas begitu cerewet dengan dirinya, Caca tidak boleh beginilah, tidak boleh begitulah, Caca saja sampai menutup telinganya sendiri, dia sudah muak dengan omelan suaminya itu.
"Pokoknya jam makan siang, nggak ada cerita kamu lanjut kerja, pulang dan bawa —"
"Bawa berkas kerjaku, terus dikerjain sama kamu, kamu jangan banyak bekerja, nanti berpengaruh. Begitu kan, Bagas Dwipangga, suami ku yang kusayangi? " sambung Caca.
Bagas menatap Caca, ia menarik hidung Caca dengan kuat, kemudian cabut kejut hidung Caca hingga hidungnya memerah, Caca meringis akibat cubitan hidung Bagas.
"Sakit...! " ringis Caca.
"Aku ngasih tau itu demi kebaikan kamu, kamu malah ngejek aku kayak gitu, gimana aku nggak marah? " tanya Bagas.
Caca akhirnya badmood, ia sinis ketika menatap Bagas, Bagas kembali menjadi musuhnya.
......................
Sesampainya di kantor, Bagas membawakan barang barang milik Caca.
Caca berusaha untuk mandiri, tetapi Bagas tidak mengizinkannya, bahkan memakai baju dan sepatu sekarang sudah diatur dengan suaminya.
"Caca, lepas heels kamu! "
Bagas memberikan sendal gunung milik nya untuk Caca pakai, Caca menatap kesal ke arah sendal tersebut, kemudian Bagas membantu Caca melepas heels miliknya.
"Gas, bisa nggak kamu nggak usah nyebelin kayak gini? " keluh Caca.
Bagas menatap Caca dengan tatapan tidak senang, ia berdiri dan memasukkan heels milik Caca ke dalam mobil.
"Kalau mau kerja, kamu harus nurut kata kata aku. "
Bagas mengangkat barang milik Caca dan meninggalkan Caca di parkiran, sedangkan di belakangnya Caca menghentak hentakan kakinya, tanda ia sangat kesal dengan perilaku Bagas di hari pertama ia kembali bekerja.
Di dalam ruangan tempat Caca bekerja, Bagas menaruh barang milik Caca, Caca mengikuti Bagas dari belakang dan Bagas menyiapkan tempat duduk untuk Caca.
"Di kantor nggak ada kursi yang nggak ada rodanya apa ya? " tanya Bagas.
Caca berdecak, ia mengusir Bagas untuk suaminya cepat beralih ke ruangannya.
"Udah, nggak usah, kamu masuk ke ruangan kamu sana, nggak usah hiraukan aku. " usir Caca.
Bagas membelai rambut Caca dengan kasar, hingga rambut Caca acak acakan, kemudian Bagas pergi meninggalkan Caca yang geram dengan perilakunya.
"Huh! Bikin kesal! " geram Caca.
Indah sebagai rekan kerjanya kemudian mendekatinya, ia tersenyum dengan tingkah laku temannya yang terlalu diperhatikan oleh Bagas, sesekali Indah menggoda Caca yang sedang kesal itu.
"Perhatian banget ya Bagas sekarang, apalagi saat kamu udah hamil begini, jadi iri... " ejek Indah.
Caca menatap sinis ke arah temannya.
"Ya, bagi kamu aja dia perhatian, dia tuh cerewet sekarang, entah angin mana yang bisikin dia buat lebih cerewet daripada aku! " hardik Caca.
__ADS_1
"Duh Caca, itu bukan karena dia cerewet, dia tuh sayang dan perhatian sama kamu, cuma di bikin cerewet aja semenjak kamu hamil. Bisa jadi juga bawaan janin, tau. " jelas Indah.
"Bawaan janin? Kayak gimana? " tanya Caca penasaran.
"Ya, bawaan, yang harusnya ibunya yang ngerasain tapi ini bapaknya yang ngerasain. Contohnya aja kakak ipar aku, dia awal hamil suka sakit gigi, setelahnya abang aku yang sering sakit gigi semenjak kakak iparku hamil. Itu baru bawaan janin, Ca. " jelas Indah.
"Begitu ya? Eh, berarti... "
"Ya, berarti kamu dulu sering cerewet, pas kamu hamil malah Bagas yang suka cerewet sama marah marah, Bagas kena bawaan janin. Hahahaha. " jelas Indah sambil tertawa.
Caca berdecak, ia langsung mengalihkan perhatiannya ke arah komputer, ia kesal, pagi pagi harus bertemu dua orang yang mampu membuat darahnya mendidih karena kesal.
......................
Waktu makan siang telah tiba, Caca langsung merasa ketar ketir, karena ia akan disuruh pulang oleh suaminya di saat ia sedang bekerja.
Belum sempat ia ingin bernafas, secara tiba-tiba saja Bagas sudah timbul di depan pintu ruangan nya, Bagas menghampiri nya dan mengajak Caca untuk pulang.
"Ca, ingat perjanjian sebelumnya. " ucap Bagas.
Caca berdecak, ia kemudian membereskan barang barangnya, dari samping meja tempat Caca bekerja, Indah menikmati pemandangan kedua pasangan tersebut, ia kagum dengan Bagas yang begitu perhatian dengan sahabatnya, Caca.
"Gas, nggak bisa kasih waktu apa? " tanya Caca.
"Kalau begitu, besok nggak usah kerja. " singkat Bagas.
Caca terkejut, ia kemudian langsung menuruti ucapan Bagas, dengan membantu membereskan barang barangnya kemudian memutuskan untuk pulang.
"Ya sudah, Caca duluan ya, Ndah. " ucap Bagas.
"Iya Gas. "
Bagas mengajak Caca untuk pulang, sebelumnya ia akan mengajak Caca makan siang terlebih dahulu.
"Kalau begitu, kita makan siang dulu di luar, aku yakin kalau siang seperti ini kamu malas masak di rumah. "
"Gas, kamu ngerendahin aku ya? " ketus Caca.
"Nggak, ngomong sesuai fakta aja. "
Tidak tahan dengan perlakuan Bagas dari tadi, Caca memukul punggung Bagas dari belakang, pukulannya sangat kuat sehingga Bagas terkejut dan membungkukkan badannya.
"Ca, kamu kasar banget... " rintih Bagas.
Bagas tertatih berjalan menuju ke mobil, sementara Caca puas sudah bisa meluapkan kemarahannya dengan langsung memukuli Bagas yang daritadi membuatnya kesal.
"Makan di mana? " tanya Bagas.
"Tempat awal kita ketemu kerja aja, udah lama nggak makan di sana. " jawab Caca.
Bagas menghidupkan mobil, ia mulai mengendarai mobilnya menuju ke rumah makan tempatnya bertemu dengan Caca.
......................
Sesampainya di rumah makan, Caca lagi lagi harus kerepotan dengan sendal gunung yang ia gunakan, bagaimana tidak, sendal yang melebihi ukuran kakinya itu adalah sendal milik Bagas.
"Gas, aku pengen ganti sendal. "
"Nggak, kamu mau pakai heels kamu lagi kan? Nggak boleh, pakai aja sendal aku. " bantah Bagas.
Caca berdecak kesal, baru saja ia balas, Bagas belum kapok juga, ingin sekali ia memukuli kepala Bagas menggunakan sendal milik suaminya itu sendiri.
"Pesanan nya. "
Menunggu sekitar 20 menit lamanya, akhirnya makan siang Bagas dan Caca sampai, mereka berdo'a dan menikmati makanannya bersama sama.
"Gas, dulu saat kita mau pisah, kamu sama Jenni kan pacaran... "
"Hmm, terus? " tanya Bagas.
"Selama pacaran, kamu nggak ngapa ngapain dia kan? " tanya Caca penasaran.
Bagas mengerutkan keningnya, ia tengah menikmati makanannya sambil menjawab pertanyaan dari istrinya tersebut.
"Ngapa ngapain gimana maksudnya? " tanya Bagas sambil minum air.
"Ya, kamu gituin dia kayak pertama kalinya sama aku dulu itu maksud—"
Belum selesai Caca menjelaskan, Bagas terkejut dan menyemburkan air minum yang ingin ia teguk tadi, semburan nya hampir mengenai Caca.
"Gas, jorok! " teriak Caca.
Bagas menatap tidak percaya kepada Caca.
__ADS_1
"Astaghfirullah Ca, nggak pernah sama sekali aku kayak gitu sama orang lain selain kamu kemarin...! Kalau terpancing saat dekat Jenni dulu, aku cari jalan alternatif sendiri kok, nggak mau aku sentuh anak orang selain aku halalkan dia...! " ucap Bagas tidak terima.
"Begitu kah? Eh, jalan alternatif? " tanya Caca.
"Ya, aku selesaikan sendiri dengan caraku. " jawab Bagas.
"Gimana? " tanya Caca penasaran.
Bagas menunjukkan tangan kanannya, kemudian ia lambai lambaikan ke arah Caca, Caca melihat tangan Bagas, kemudian ia terkejut ketika mengetahui maksudnya.
"Iyuuhh! Kok bisa?! "
"Bisalah, bentuk dia lonjong ke depan, kenapa juga nggak bisa? Daripada ngerusak anak orang juga. " jawab Bagas dengan santai.
Ucapan Bagas membuatnya menjadi kepikiran, kemudian ia memperagakan bentuk tangan Bagas dan mulai berkhayal dengan peragaan tangan tersebut, Bagas yang melihat itu berdeham dan melarang Caca untuk memperagakan nya.
"Nggak usah kamu peragakan bentuk tangan aku, itu digunakan sekali kali saat butuh saja. " ucap Bagas.
"Iya deh. " jawab Caca dengan wajah memerah.
"Sudah, dimakan sampai habis makanannya, setelah habis kita langsung pulang. " ucap Bagas.
......................
Selesai makan, Bagas dan Caca memutuskan untuk langsung pulang.
Bagas terburu-buru, karena setelah makan siang ia harus mengunjungi proyek gedung yang sudah berjalan sebulan lebih dan masih berjalan sampai sekarang, ia perlu mengantarkan Caca terlebih dahulu untuk pulang.
Saat ingin memasuki halaman rumah mereka, mereka dikejutkan oleh motor milik seseorang.
"Eh, itu kan motornya... "
Di depan rumah, terlihat Nanno dan Bianca yang sedang membawa kresek, Caca panik, ibu dan kakak iparnya mengunjunginya dan mengira bahwa ia tengah berada di rumah.
Caca langsung keluar dari mobil, ia takut berjalan menemui ibunya dengan baju kerja yang tengah ia kenakan.
"Ibu? "
Nanno menatap Caca dengan tatapan tidak senang, Caca menyadarinya, bahwa ibunya sudah melihatnya memakai baju kerja, yang padahal sebelumnya ibunya sendiri melarang Caca untuk bekerja di saat ia sedang hamil.
"Kamu kerja, Ca? " tanya Nanno.
"I—iya bu. " jawab Caca.
Nanno menggelengkan kepalanya, sedangkan Bagas di belakang Caca hanya melipat kedua tangannya, kali ini Caca tidak mendapat dukungan atau bantuan.
"Lagipula Caca yang pengen kerja di kantor lagi, bu, Bagas sudah larang tapi dianya bandel. " jelas Bagas.
Kali ini Bagas benar, ia tidak sedang mengompori Caca, Nanno menggelengkan kepalanya.
"Nak, umur kandungan kamu 4 bulan lebih, belum berarti kamu benar-benar kuat, nak. " nasehat Nanno.
Caca menundukkan kepalanya seraya meminta maaf, ia tidak mendengarkan kata ibunya dan suaminya sendiri, tetapi dengan keyakinannya sendiri yang ia dengar.
"Maaf bu, Caca egois... " lirih Caca.
"Yasudahlah, ibu nggak bisa bilang apa lagi, yang ibu tahu kamu bisa menjaga kesehatan kamu dan kandungan kamu, Ca. Ingat, tenaga ibu hamil itu terbagi jadi dua, kamu harus bisa imbangi itu semua. "
"Baik bu, Caca salah... "
Nanno memberikan kresek berisi buah dan sayuran untuk Caca, kemudian Bianca memberikan masakan yang dibuat oleh Ayu, Caca menerimanya dengan baik.
Nanno dan Bianca pamit pulang, sementara Caca terdiam sambil memegang kresek tersebut, ia menundukkan kepalanya.
"Yasudah Gas, kamu kan mau ke proyek, pergilah. "
Bagas menyadari, bahwa istrinya sedang moodswing, dan sekarang Caca moodnya sedang sedih karena keinginan istrinya itu sendiri di tentang oleh ibu mertua nya.
Bagas memeluk Caca, ia mengelus rambut Caca.
"Jangan dibawa ke hati, kamu masih boleh kerja kok, tapi kita atur timingnya ya? "
Mendengar saran Bagas, itu seperti jalan keluar bagi Caca, Caca langsung menatap Bagas dengan tatapan kagum.
"Beneran, Gas? " tanya Caca meyakinkan.
Bagas menganggukkan kepalanya, Caca menjadi bahagia dan memeluk Bagas, walaupun perutnya mengganjal pelukan tersebut.
"Kamu kadang nyebelin, kadang suka bikin aku nyaman, seneng sama ngangenin. Makasih ya, Gas. " ucap Caca.
Bagas mencium kening Caca, sementara Caca langsung nyosor ke bibir Bagas, mereka berciuman di depan teras rumah mereka, ciuman mesra kedua pasangan tersebut.
...****************...
__ADS_1