
...Selamat membaca 🍊...
......................
Umur kandungan Caca sudah berjalan umur ke 7 bulan, merupakan hari yang sibuk untuk kedua keluarga, karena Ayu mengusulkan untuk mengadakan acara tujuh bulanan untuk Caca.
Ayu mengusulkan rencana tersebut, karena ia ingin Caca dan calon bayinya bisa di do'akan bersama, agar untuk bulan bulan selanjutnya, perjalanan kehamilan Caca tetap lancar hingga tanggal lahiran tiba.
Sepanjang pekerjaan, Bagas terus terusan mendapatkan telepon dari Ayu, pekerjaannya menjadi terganggu dikarenakan ia tidak fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Mak, nanti sore aja Bagas mampir ke sana, sekarang tuh Bagas lagi kerja, jangan ditelpon telpon terus....! " tegas Bagas.
Bagas mematikan teleponnya, kemudian ia memijit keningnya, teman disebelahnya, Agus, menatap penasaran dengan Bagas yang terus terusan mendapatkan telepon.
"Siapa yang nelpon, Gas? " tanya Agus.
"Mamak ku, dia sibuk buat nyuruh aku kumpulin itu ini buat acara 7 bulanannya Caca, udah tau aku sibuk beginian. Tinggal bagi bagiin nasi kotak ke panti asuhan nggak bisa apa ya? " tanya Bagas kesal.
"Duh, nggak salah kok keinginan mamak kamu, Gas, mungkin dia bikin acara 7 bulanan kan untuk istri kamu sama calon anak kamu. Lagipula acara itu bukan sekedar acara acara biasa, tapi juga di iringi do'a di setiap acaranya. Kamu mau lah istri sama anak kamu dido'ain biar pas lahiran lancar, kan? " tanya Agus.
"Ya maulah, siapa yang nggak mau anak kita lahir, istri kita bisa lihat wajah anak kita, yang bener aja aku nggak mau kayak gitu. " ketus Bagas.
"Yaudahlah, kelihatan mood kamu udah buruk, mukamu tambah jelek kalau tambah cemberut kayak gitu! " ejek Agus.
Bagas berdecak, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya, kemudian nanti sore akan mengikuti keinginan ibunya itu sendiri, ia akan mampir ke rumah Ayu saat sore hari untuk berdiskusi dan menyiapkan berbagai barang barang yang diperlukan.
"Ada Bagas nggak? "
Dari luar ruangan tempat Bagas bekerja, Caca bertanya keberadaan Bagas di dalam ruangan.
"Ada kok, bentar, dipanggil dulu. "
Caca menunggu di luar ruangan, sedangkan teman kerja Bagas memanggil Bagas terlebih dahulu.
Tak lama menunggu, Caca menatap ke arah pintu, suaminya baru saja keluar dari dalam ruangan dan menghampirinya.
"Ada apa, Ca? " tanya Bagas.
"Gas, kamu ditelpon tadi nggak sama mamak? "
Bagas berdecak, ia memutar mata malasnya dan menganggukkan kepalanya. "Ya, memang tadi mamak nelpon aku, tapi aku minta dia buat jangan hubungi aku sekarang. " ucap Bagas.
"Jangan kayak gitu lah, Gas, mamak kan ngelakuin ini semua buat aku sama baby H kita, masa kamu kayak gitu responnya sama mamak. Itu kan sama aja kita nggak terimakasih sama semua usahanya. " tegur Caca.
Bagas berdecak, ia paling malas untuk membahas hal ini untuk hari ini.
"Udahlah Ca, aku lagi males mikirin acara itu, males buat ribut sama kamu, dan aku males kalau aku disibukkan sama hal lain selain kerjaan untuk sekarang. Udah, aku mau balik ke meja, makasih informasi nya. "
Bagas meninggalkan Caca yang berdiri terkejut melihatnya, Caca melihat Bagas yang tidak peduli sama sekali dengan dirinya, membuatnya kesal dan memilih untuk langsung masuk ke dalam ruangannya.
......................
Karena perdebatan tadi pagi, akhirnya Caca dan Bagas tidak saling berteguran, bahkan mereka saja makan di ruangan masing-masing dengan bekal yang sudah dibawa.
"Ca, tumben makan siang kayak gini nggak barengan sama Bagas? Biasanya salah satu dari kalian yang masing-masing sering nyusul ke ruangan kalau salah satunya terlambat makan siang? " tanya Indah.
"Siapa juga yang mau makan bareng laki-laki egois kayak dia?! " ketus Caca.
__ADS_1
Mendengar penjelasan langsung dari sumbernya, akhirnya Indah dapat mengambil kesimpulan, bahwa sahabatnya sedang berselisih dengan suaminya sendiri.
Tampaknya mereka belum sama sekali ada yang ingin mengalah, entah karena gengsi, atau malah mereka sedang tidak stabil pada hormon nya.
Pada saat pulang saja, mereka tidak saling berteguran, malah mereka asyik dengan diri sendiri.
Di dalam mobil, keadaan hening, hanya musik dari radio saja yang menimbulkan bunyi di dalam mobil, mereka fokus dengan apa yang dilihat dan apa yang dituju.
......................
Sesampainya di depan rumah orangtua Bagas, Bagas memarkirkan mobilnya, sementara Caca sudah keluar duluan untuk bertemu dengan Ayu.
"Nggak usah pasang tampang cemberut kamu, Bagas, berbicara dengan baik di depan mamak sama bapak. " tegur Caca.
"Ya, aku tau. " ucap Bagas.
Keduanya memasuki ke dalam rumah, dengan wajah yang sudah disetting dari awal, mereka juga berusaha tersenyum walaupun hati mereka sedang kacau.
"Akhirnya Bagas sama Caca datang, ayo nak kemari, makan sate yang udah dibelikan sama Bintang barusan. " ajak Ayu.
Bagas dan Caca duduk, mereka memakan sate yang sudah disajikan oleh Ayu, kemudian mereka makan bersama sambil berdiskusi untuk merencanakan acara 7 bulanan nanti.
"Ini Gas, ini yang harus kamu cari untuk perlengkapan mitoni ini. " ucap Ayu.
Bagas melihat daftar yang sudah ditulis oleh Ayu, ia terkejut, semua persyaratan dari acara mitoni tersebut.
"Adakah harus beginian acaranya dan perlengkapan nya? " tanya Bagas kebingungan.
"Ck, ikutin aja, namanya tradisi! " tegas Ayu.
Bagas menghela nafasnya, ia harus mencari berbagai keperluan berupa air, bunga dan makanan yang memiliki 7 rupa yang berbeda untuk memenuhi keperluan 7 bulanan Caca.
Bagas menganggukan kepalanya, cukup mudah jika semuanya bisa dibantu oleh keluarganya saat mencari barang barang yang diperlukan.
Undangan 7 bulanan Caca disebarkan oleh tetangga sekitar, tak lupa juga teman teman kantor Bagas dan Caca di berikan, umur 7 bulan ini merupakan masa tersibuk untuk Bagas dan Caca, sehingga kadang mereka pulang langsung memilih untuk tidur.
"Acaranya di rumahku aja ya, Yu, ini kan momen pertama kalinya kami ngadain acara untuk calon cucu kami. Kapan lagi bisa begini? " saran Bimo.
"Iya Bim, acaranya di rumah kamu aja, kan ini pertama kalinya kamu ngadain acara kayak begini. " ucap Ayu.
Semua kebutuhan tujuh bulanan Caca sudah disiapkan di kediaman keluarga Caca, mereka sibuk menyiapkannya sebelum acara dimulai.
"Caca di mana, Bim? " tanya Bayu.
"Ketiduran di kamar dia bareng Bagas, kayaknya beberapa hari mereka cari keperluan 7 bulanan ini yang buat mereka pulang selalu kecapekan. " jawab Bimo.
......................
Beberapa hari berlalu, akhirnya acara tujuh bulanan Caca telah tiba, semua orang yang telah di undang datang menghadiri acara tujuh bulanan Caca.
"Memang bajunya kayak gini ya, mak? " tanya Caca pada Ayu.
"Iya, nanti kamu bakal disuruh ganti baju sesudah siraman. "
Bagas dan Caca bersiap siap, mereka di iring ke tempat kedua orangtua mereka duduk, mereka akan melewati prosesi sungkeman terlebih dahulu untuk meminta restu, agar perjalanan kehamilan Caca beserta bayinya lancar dan sehat walafiat.
"Mampus kamu, Ca, diguyur air buat mandi kamu... " ejek Bagas.
__ADS_1
Caca didudukkan di kursi, sebelahnya adalah kendi air yang berisi 7 macam jenis air.
Gayung dari kelapa itu menyiramkan air ke kepala Caca sampai ke seluruh badannya, ia menikmati air tersebut, karena air yang disiramkan itu terasa sejuk di kepala dan badannya.
Kemudian Caca dan Bagas di iringi kembali ke tempat duduk mereka, Ayu memberikan telur ayam kampung pada Bagas.
"Tempelkan di dahi Caca, terus di perutnya, nanti kalau udah semua, kamu bakalan disuruh injek telurnya. "
Bagas mengambil telur tersebut, ia menempelkan telur tersebut ke kening Caca, ia iseng dan menempelkan nya dengan keras hingga kening Caca memerah.
"Gas...! " geram Caca.
Bagas hanya tersenyum, kemudian ia menempelkan nya ke perut Caca dengan pelan.
Krak! Bagas memecahkan telur tersebut dengan spontan, punggungnya ditepuk oleh Ayu dari belakang, sedangkan Caca menatap telur yang dipecahkan secara spontan oleh suaminya.
Perut Caca dililitkan kain berwarna kuning, kemudian Bagas menggunting kain tersebut.
"Duh haus... "
Bagas merasa haus, ia memanggil Ayu untuk meminta air minum, tetapi Ayu tampak sibuk dengan rombongan sosialita nya hingga tidak menghiraukan anaknya sendiri.
Dari meja, terlihat kelapa yang sudah dikumpulkan, Bagas mencari parang untuk membelah kelapa tersebut.
"Gas, itu kelapanya jangan di makan...! " teriak Ayu.
Bagas langsung menaruh kelapa yang ingin ia buka, karena Ayu melarangnya dan menyuruh Bagas menaruhnya di bawah kembali.
"Haus, daritadi minta minum nggak di hiraukan sama mamak! " ketus Bagas.
Setelah drama itu selesai, dengan posisi siap Bagas ingin membelah kelapa tersebut, tak lama kepala itu akhirnya terbelah.
"Boleh diminum nggak? " tanya Bagas.
"Nanti ada yang boleh diminum, Gas, nih air minum. "
Caca diarahkan untuk mengganti bajunya, kemudian ia dipasangkan kain 7 rupa, kemudian di iringi Bagas untuk mengikuti alur acara selanjutnya, untuk berjualan rujak dengan Bagas yang memegang payung untuk Caca.
Acara terakhir yaitu memotong tumpeng, Bagas dan Caca memakan tumpeng yang sudah dipotong tersebut, tetapi mulut Bagas merasa tidak menikmati tumpeng tersebut.
"Ayamnya keras banget, Ca, bisa sakit gigi makannya. " bisik Bagas.
"Dimakan semampunya aja, Gas, jangan terlalu dipaksakan. " ucap Caca.
Semua acara telah dilakukan, dan mereka bersyukur acara tersebut berjalan dengan lancar, Caca kemudian di do'akan dengan 7 surah, yaitu surat Yusuf, Maryam, Luqman, Sajadah, al-Waqi'ah, al-Rahman, dan Muhammad.
......................
"Caca sama Bagas di mana? " tanya Nanno.
"Nggak tau, coba susul ke dalam kamar. "
Ayu menyusul ke atas, mereka kemudian membuka pintu kamar keduanya, terlihat Caca dan Bagas yang sedang tertidur pulas, mereka tampak kelelahan hingga tertidur pulas.
"Kayaknya kecapekan banget, nanti pas magrib aja dibangunin. "
Ayu menutup kembali pintu kamar Caca, ia membiarkan kedua anaknya itu tidur, karena ia tahu beberapa hari ini mereka sangat sibuk.
__ADS_1
...****************...