
...Selamat membaca 🍊...
......................
Hari hari seperti biasanya, Bagas selalu akan tidur di kamar Caca.
Kadang Caca jadi kesal sendiri, karena Bagas yang selalu tidur di kamarnya, karena ia sudah terbiasa tidur sendirian di kamarnya selama setahun, jadi saat Bagas selalu menumpang di kamarnya, ia akan merasa risih, padahal keduanya saat itu sudah menjadi suami istri.
"Ca, kejam banget kamu, kamu lagi lagi suruh aku tidur di bawah. " keluh Bagas.
"Biarin, lagipula kamar sendiri ada, kasur aku kan muat buat satu orang, kalau dipaksa ada kamu, yang ada aku harus tahan nafas buat tidur di kasur ini. " protes Caca.
Bagas langsung melompat ke kasur Caca, ia memeluk Caca dan mencoba membujuk Caca.
"Ca, ganti kasur yuk. " ajak Bagas.
"Buat apaan beli kasur lagi? Kamar ini kan nggak lebar kayak kamarnya kamu. "
"Iya, kita beli kasur lebar, bisa buat kita berdua, kamar ini diganti jadi kamar tamu aja. " ucap Bagas.
Caca merasa belum rela meninggalkan kamar yang ia tempati, bagaimanapun itu kamar pertamanya setelah setahun tinggal bersama dengan Bagas, bahkan kejadian malam itupun di kamarnya, kamarnya terlalu berkesan dan meninggalkan kenangan di setiap waktunya.
"Aku belum rela ninggalin kamar ini, Gas. " lirih Caca.
Bagas bangkit dari tempat tidur milik Caca, ia melihat Caca dengan tatapan aneh.
"Nggak rela ninggalin kamar, makanya nggak mau sama aku, Ca? " tanya Bagas.
Bagas langsung memeluk Caca dan menggelitik Caca hingga Caca tertawa terbahak-bahak dan meminta ampun.
"Ampun Gas! Udah, jangan kayak gitu, nanti anak kita kaget! " mohon Caca tertawa.
......................
Akhirnya kedua pasangan tersebut pergi ke toko mebel, hanya saja untuk membeli kasur yang ukurannya 160x200, pastinya kasur tersebut bisa leluasa mereka tempati saat tidur.
"Ini yang cocok untuk kasur versi leluasa. "
Bagas bergumam, ia menatap ke arah kasur lainnya, sembari memikirkan hal yang lainnya juga.
"Saya cari yang nyaman saja, pak, yang kalau bersandar rasanya empuk dan nyaman, soalnya istri saya lagi hamil juga. " ucap Bagas.
Pemilik toko tersebut memuji keinginan Bagas yang terkesan romantis, Bagas dan Caca dialihkan ke kasur yang berwarna biru, motifnya tidak sesuai dengan yang diinginkan, tetapi saat dicoba cukup nyaman dan membuat keduanya lega.
"Pesen yang ini aja kalau begitu. "
"Nggak jadi yang motif emas tadi, kak? " tanya pemilik toko tersebut.
"Yang nyaman, itu yang dipilih. " ucap Bagas.
"Baik, ditunggu sebentar. "
__ADS_1
Bagas dan Caca menunggu, sambil menunggu sesekali mereka berjalan jalan disekitar toko tersebut dan melihat ranjang bayi, Caca mendekat dan melihat ranjang bayi tersebut, baginya terlalu lucu.
"Gas, nanti kalau anak kita lahir, kita pesen yang ini aja, ya? " bujuk Caca.
Bagas melihat ranjang bayi tersebut, dimatanya terlalu biasa, tidak ada imut imutnya sama sekali.
"Warna tosca beginian mana cocok kalau anak kita cewek, Ca, cocoknya warnanya itu pink atau peach. "
Caca menatap Bagas tidak senang, sepertinya telepati antar janin dan bapak itu kuat, buktinya saja yang terlalu sensitif dan banyak aturan sekarang adalah Bagas, padahal sebelumnya Bagas adalah laki-laki yang cuek dan monoton.
"Aku mau anak cowok, Gas. "
"Apa itu? Kamu sama aja selingkuh dari aku, tau! " bantah Bagas.
"Dih, bagusnya gitu, anak pertama tuh cowok, yang kedua cewek, kan pas gitu. "
"Nggak, cewek dulu baru cowok. "
Kedua pasangan tersebut berdebat, syukur saja suasana di dekat mereka sedang sepi, menjadikan ruangan leluasa untuk mereka bisa berdebat.
"Nggak, cewek dulu! " bantah Bagas.
"Sekarang aku nanya, siapa yang lagi hamil? "
Bagas terdiam, ia kalah dengan perdebatan nya, kini Caca merasa senang dan menjadi unggulan, karena bisa memenangkan perdebatan dengan Bagas.
"Mama...! Mau alon...! "
"Sudah nak, bunda mau beli kasur buat adek dulu, balonnya nanti. "
Bukannya menuruti ucapan ibunya, anak kecil tersebut menangis, meraung-raung sambil berguling, kemudian berteriak dengan suara yang kencang.
Teriakan anak tersebut membuat Caca terkejut, apalagi anak kecil itu ingin memukul perutnya, tetapi dengan sigap Bagas menghadang tangan anak tersebut.
"Jangan, dik, kakaknya ini di perutnya lagi ada adiknya, jangan dipukul ya... " ucap Bagas sambil mengelus perut Caca.
Anak kecil tersebut diam, kemudian menunjuk ke arah ibunya sendiri.
"Kalau kakaknya ada adek di perut, kenapa perut kakak nggak gede kayak perut bunda aku? " tanya anak kecil tersebut.
Rasanya tidak sabar, benak hati Bagas rasanya tidak sabar untuk menjelaskan semuanya, tetapi Caca menahannya dan meminta Bagas tidak menjelaskan secara detail, karena ukuran anak tersebut masih nyerocos sesuka hati.
"Bunda, ngapain lari kesini? Mana kakak? "
Kedua orangtua tersebut membawa anak kecil itu pergi, ibu dari anak tersebut meminta maaf, kemudian pergi meninggalkan Bagas dan Caca.
"Duh, lihat anak kecil rewel, gimana anak kita nanti ya, Gas? " tanya Caca sambil mengelus perutnya.
"Namanya anak anak, Ca, kita juga pernah kayak gitu kok, anak kecil kalau ekspresikan dirinya kan bebas. " ucap Bagas.
Caca menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi cukup kesel ya, soalnya anaknya nyerocos mulu. "
"Hahaha, sabar sabar aja, Gas, nanti anak kita juga kayak gitu. Kita latih kesabaran kita hari ini, biar nggak kaget besok. " ucap Caca.
"Permisi, kasurnya sudah diangkat ke mobil, tinggal ikut kakak kakak sekalian ke rumah saja, ya. " ucap pemilik toko tersebut.
"Wah, terimakasih ya, mbak. "
Bagas membayar biaya kasur tersebut, kemudian mengajak Caca untuk pulang.
......................
Sesampainya di rumah, para pelayan toko mebel tersebut memasukkan perlahan kasur yang dipesan oleh Bagas, Bagas membantunya dan membawanya ke dalam kamar untuk langsung dipasangkan.
"Yap, makasih ya mas. "
Kasur pesanan Bagas akhirnya sampai, dengan semangat Bagas langsung lompat ke kasur tersebut, kasurnya terasa lebih empuk dari kasur yang sebelumnya.
"Tapi kamar ini bau banget, kamu nggak pernah buka jendela apa? " tanya Caca.
"Iya, aku bukain, nanti aku beresin. "
Bagas tidak mempersilahkan Caca untuk sibuk membantunya berberes beres, karena ia bisa dengan caranya sendiri, yaitu membuang barang barang yang dirasa membuat kamar itu menjadi bau.
"Ambil vacuum cleaner, debunya banyak banget nih. " ucap Caca.
Caca ikut membantu, ia tau, tangan laki-laki yang tak terbiasa dalam membersihkan ruangan tidak sebersih tangan perempuan, ia dengan dibantu oleh Bagas untuk membersihkan kamar tersebut.
......................
Setelah selesai, kedua pasangan tersebut berbaring bersama di kasur yang baru dipesan, keduanya bertatapan secara bersamaan, walaupun Caca masih kaku untuk bersikap romantis kepada Bagas.
Bagas tersenyum, ia memeluk Caca, dan melayangkan satu ciuman bibir ke arah Caca, wajah Caca memerah akibat ulah Bagas.
"Biasakan aja sekarang, Ca, kamu nggak usah kaku sama jaga jarak gitu. Nanti kalau anak kita udah lahir, gimana dia lihat mama sama papanya nggak deketan? "
Caca mengerti, ia kemudian memeluk Bagas secara perlahan dan mencium dagu Bagas.
"Iya Bagas, love you, sayang. " ucap Caca.
Bagas melotot, ia tidak percaya, akhirnya Caca menyebutnya dengan sebutan sayang, karena sebelumnya Caca sangat geli dan gengsi dengan panggilan tersebut, ditambah lagi dagunya yang dicium oleh Caca.
Bagas gemas, ia langsung memeluk Caca dengan erat, Caca sesak dan meminta Bagas untuk menjauh sedikit darinya.
"Hah, sesak Gas...! " ucap Caca ngos-ngosan.
Bagas mengajak Caca untuk tidur, ia memeluk Caca dan tidur bersama.
"Kalau dokter memperbolehkan ngulang kayak malam yang pertama itu, udah aku ajak kamu, Ca. " goda Bagas.
"Hah?! "
__ADS_1
...****************...