Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 34


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Malam hari, Caca terbangun dari tidurnya, ia terbangun karena habis bermimpi buruk yang membuatnya susah untuk tidur kembali.


Disampingnya terlihat Bagas yang tertidur nyenyak, entah mimpi apa yang sedang dinikmati oleh suaminya itu, bakal terdengar bahwa suaminya seperti sedang menyeruput sesuatu di dalam mimpi.


"Mimpi makan bakso atau makan mie kuah ini, Bagas. " ucap Caca.


Caca mencubit pipi Bagas, Bagas bereaksi dan mengalihkan posisinya yang membelakangi Caca sekarang sehadapan dengan Caca, Caca tertawa kecil.


"Kamu tidur aja ganteng, Gas, dasar sekarang suka ngomel aja yang bikin kamu tambah jelek. " ucap Caca sambil mengelus rambut suaminya.


Caca mengelus perutnya yang sekarang buncit, ia mengidam sesuatu, Caca teringat akan ejekan mimpi Bagas barusan, antara Bagas bermimpi sedang makan bakso atau makan mie kuah.


"Duh, jadi selera makan mie kuah malem malem gini... "


Caca beranjak dari tempat tidur, memastikan Bagas tidak terbangun karena ia yang beranjak dari kasur, ia mulai berjalan keluar dari kamar.


Caca baru ingat, bahwa kemarin Bagas membeli beberapa mie instan dari minimarket, menjadi kesempatan Caca untuk mengambil mie tersebut untuk dimakan.


Caca mulai mencari keberadaan mienya di dalam lemari, tak lama mencarinya saja ia sudah menemukannya, tertumpuk rapi semua mie instan tersebut, Caca mulai mengambil nya satu.


Satu persatu bahan yang diperlukan untuk menambah kenikmatan mie Caca dimasukkan kedalam panci, namanya makanan instan hanya dimasak sebentar saja selesai, Caca menjadi chef untuk tengah malam, dengan hiasan topping di mie nya.


"Duh nikmatnya. " ucap Caca.


Caca menikmati mie kuah yang ia buat, sesekali ia memuji masakannya sendiri, itu merupakan makanan yang ingin ia nikmati saat ia dilarang oleh Bagas, baginya sekarang Bagas adalah musuh terberatnya karena melarangnya memakan mie terlalu banyak.


"Masak apa kamu tengah malam? "


Caca terkejut, dari luar dapur ia melihat Bagas yang berdiri, dengan mata merah dan melipat kedua tangannya ia menatap ke arah Caca.


"Ng—nggak, ini aku... "


"Masak mie kan? Siapa suruh makan mi? " cecar Bagas.


Caca mulai cemberut, ia kemudian memajukan mangkuk mie nya dan menundukkan kepalanya di depan Bagas.


"Aku tuh selera makan mie, Gas, sama kamu nggak boleh terus! " ketus Caca.


"Itu demi kebaikan kamu, Caca. Sini, aku ambil. "


Bagas langsung mengambil mangkuk mie milik Caca, Caca menatap sinis ke arah Bagas yang tengah memakan mie nya.


"Mau? " tawar Bagas.


"Ya maulah, kan aku yang buat. " balas Caca.


Bagas memberikan mangkuk mie tersebut, kemudian Caca ingin mengambil nya, tentu saja Bagas punya trik, yaitu menarik kembali mangkuk mie milik Caca.


"Eeh, tentu saja ada persyaratannya, Binoarca. "


Caca berdecak kesal, karena Bagas yang mengerjai nya, perutnya masih terasa lapar tetapi Bagas datang untuk mengganggu nya.


"Buatin dulu punya aku, harus sama persis, oke? "


Caca berteriak kesal, daripada ia tidak mendapat jatahnya, terpaksa Caca harus berdiri untuk membuatkan mie untuk suaminya itu.


"Nak, kalau kamu udah gede, tingkahnya jangan kayak papa kamu, nyebelin! " sindir Caca.


Caca memasak mie milik Bagas, suara makanan yang diseruput terdengar di telinga Caca, Caca berbalik dan melihat bahwa mie nya tengah dimakan oleh Bagas.

__ADS_1


"Gas! Itu mie punya aku! " teriak Caca.


"Masaknya lama, aku mau makan yang ini aja. "


Caca berdecak kesal, ia menghentakkan kakinya sambil memasak mie untuk suaminya itu.


"Nih, sesuai kayak punya aku! "


Caca memberikan semangkuk mie yang sudah ia buat, Bagas mengambil mie miliknya dan mengembalikan mie milik Caca, Caca duduk dan melihat mangkuk mie nya, tinggal setengah saja tersisa untuk ia makan sekarang.


Caca menjadi kesal, tak lama Bagas memberikan setengah mie miliknya ke mangkuk Caca, Caca menatap mangkuknya yang terisi sesuai dengan porsi awalnya tadi.


"Nih, dimakan mie nya, aku tau kamu benar-benar ngidam sama mie, tapi selalu aku larang. " ucap Bagas.


Caca menatap bahagia ke mangkuk mie nya, ia memakan mie nya dengan perasaan bahagia.


"Fuhh, kenyangnya... "


Bagas mengambil mangkuk mangkuk di atas meja, Caca melihat suaminya, tak lama Bagas mendekatinya dan mencium keningnya.


"Terimakasih ya udah buatin mie buat aku, rasanya enak banget. "


Caca menatap Bagas dengan berkedip berkali-kali, Bagas mengajak Caca untuk kembali ke kamar untuk tidur.


"Udah, kalau udah makan, kita balik ke kamar ya, tidur lagi. "


"Tapi aku nggak boleh habis makan terus tidur, duduk dulu. " ucap Caca.


"Oke, duduk di ruang keluarga aja ya. " ajak Bagas.


......................


Pagi hari telah tiba, Bagas dan Caca terbangun karena kepala mereka yang beradu, bukannya merasa lega saat bangun tidur, malah keduanya harus merasa sakit karena beradu kepala.


"Loh, kamu itu yang kepalanya kayak batu! Kok malah aku yang dimarahin! " bantah Caca.


Bagas dan Caca memalingkan wajah, mereka kemudian berdiri dan memasuki kamar masing-masing.


"Caca, kamar kamu disini...! " teriak Bagas dari dalam kamarnya.


Caca menyiapkan sarapan dan membereskan rumah, sedangkan Bagas berkemas untuk segera pergi ke tempat proyek, karena hari ini Bagas harus memantau proyek dan itu ditugaskan oleh atasannya.


"Proyek ini barengan sama siapa aja, Gas? " tanya Caca.


"Emmm, ada Jenni nya juga yang ikut terlibat dalam proyek ini Ca, nggak papa kan? " tanya Bagas ragu.


Caca mengerutkan keningnya. "Kenapa nggak boleh? Selagi pekerjaan doang mah nggak papa, kecuali selingkuh, coba aja kalau mau asetnya aku jadiin pajangan! " ancam Caca.


"Wuih ganasnya, nggak lah, kan ada kamu yang udah jadi pasangan sah dunia dan akhirat ku, Ca. "


"Halah, gombal! Gayanya sok romantis, padahal lihat cewek mulus di luar rumah atau di sosmed matanya jelalatan! " ledek Caca.


"Masih mending itu, berarti daya tarik ku masih sama perempuan, daripada aku jelalatan sama cowok cowok, mau kamu aku jadi jeruk makan jeruk? " tanya Bagas.


"Selama aku nggak jadi istri kamu, ya nggak papa sih itu, lumayan nggak baca komik jenis begituan lagi, langsung ketemu figuran aslinya. "


"Heh, mulutnya! " tegur Bagas.


Setelah sarapan, Bagas pamit pada Caca, ia mencuri kesempatan, dengan singkat mencium bibir dan kening Caca secara cepat.


......................


Di tempat proyek, berbagai alat berat beserta bahan bahan yang dibutuhkan untuk direncanakan membangun rumah makan, semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing.

__ADS_1


Bagas melihat secara langsung kinerja lapangan proyek yang sedang berlangsung, tak lama juga Jenni ikut andil memantau kondisi dan situasi di tempat proyek tersebut.


"Jen." sapa Bagas.


Wanita yang di sapa Bagas menatap sekilas, kemudian memalingkan wajahnya lagi, sepertinya Jenni benar-benar benci melihat Bagas.


Tetapi seperti di awal, terserah bagaimana kondisi Jenni, toh dia bukan siapa-siapa Bagas dan itupun Bagas sudah minta maaf lewat chat, walaupun akhirnya nomornya di blok oleh Jenni sendiri.


Bagas semenjak di proyek, ia mencoba fokus untuk mengarahkan pikirannya kepada Caca, bahkan menyibukkan dirinya sesekali bertanya di chat dengan Caca, apakah Caca sudah makan dan minum vitamin.


......................


Malam harinya, Bagas pulang dari tempat proyek nya, ia kemudian membawa makanan berupa kue bolu untuk Caca, karena ia tau, Caca menanti jajanan yang dibelikan olehnya, yang pastinya bukan sembarang jajanan yang ia beli untuk sekarang.


"Assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam, wah, kue bolu! " ucap Caca riang.


Tak lupa juga Caca mencium Bagas, sudah menjadi kebiasaan Caca selama dua bulan menyambut Bagas dengan mencium pipi suaminya itu, Bagas pun begitu, ia juga sudah terbiasa untuk mencium perut istrinya, mencium dan pamit kepada calon anaknya.


"Duh, capeknya... " keluh Bagas.


"Nyam, bolu nya enak banget, Gas. Makasih ya, papa.... " ucap Caca.


"Ya, sama sama. "


Bagas merenung, tak biasa bagi Caca hingga Caca menegur Bagas yang tengah diam merenung seperti itu.


"Gas, ada apa? " tanya Caca.


Bagas tersadar, ia menatap Caca dengan tatapan yang terkesan sedang ada masalah.


"Boleh cerita? " tanya Bagas.


"Boleh. " jawab Caca.


"Jenni sekarang nggak mau seteguran sama aku, nggak tau juga alasannya apa dia kek gitu. " jelas Bagas.


"Apa karena aku hamil ya? Duh, udah dua bulan yang lalu kejadian nya, masih aja diingat. " ucap Caca sambil mengelus perut buncit nya.


Bagas ikut membelai perut Caca, ia menjadi sandaran Caca untuk kali ini.


"Biarin aja, bukan salah kamu juga kok, Ca, namanya anak kita timbul mendadak, nggak bisa dihalangi lagi. " ucap Bagas.


"Lagipula, dengan cara begini, aku masih bisa bersatu sama kamu, Ca. " sambung Bagas.


Caca menatap suaminya, dengan sedikit mengerutkan keningnya.


"Bersatu? Bersatu kayak gituan, kayak malam pertama itu? " tanya Caca.


"Ck, bukanlah... " decak Bagas.


"Ya, terus apa dong? "


Bagas mendekat, ia berbisik di telinga Caca. "Karena aku cinta kamu, Ca. " bisik Bagas.


Caca menjauh, ia mengusap telinganya, ia merasa geli ketika seseorang mengatakan cinta kepadanya.


"Sudah, masalah Jenni nggak usah di pikirkan bangetlah, emang tuh cewek rada rada, lihat aja dulu pas aku baru beberapa bulan nikah sama kamu, masih aja ganjen terus dia. " ucap Bagas sambil memakan kue bolu.


"Apa? Masih saat beberapa bulan kita nikah, Jenni masih suka deketan sama kamu? " tanya Caca.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2