Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 46: Semoga kan jadi akhir bahagia [End]


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Seminggu berlalu, setelah kejadian tersebut Caca menjadi paranoid dengan siapa yang datang ke rumahnya, bahkan Bagas hampir ia pukuli dengan gagang sapu, syukur saja Bagas bisa menahannya.


"Abang! " teriak Caca.


Pintu yang terbuka sedikit dan dibiarkan terbuka saja Caca langsung panik, Caca langsung menutupnya dan mengunci pintu rumahnya, kemudian Caca memeluk anaknya.


Bagas merasa tidak nyaman dan pastinya merasa kasihan dengan istrinya, karena kejadian itu membuat Caca trauma dan paranoid ketika menerima orang masuk ke rumah.


"Ca."


Caca yang sedang memeluk Hafizh kemudian menanggapi respon Bagas, ia menatap suaminya dengan tatapan kosong, tak biasanya Caca seperti itu.


"Maaf, aku takut... "


Bagas menganggukkan kepalanya, kemudian memeluk Caca yang sedang menggendong Hafizh.


"Kita pindah saja, aku masih merasa belum aman kalau tinggal di rumah kontrakan ini, bang. " ucap Caca.


Bagas menyetujuinya, ia tahu bahwa Caca benar-benar trauma dengan kejadian beberapa hari yang lalu, ia juga memikirkan keamanan anaknya yang hampir dibuat mati oleh Jenni.


"Baik, nanti kita cari rumah perumnas buat kita tinggalin, ini demi kenyamanan kamu sama Hafizh. " ucap Bagas.


......................


Setelah beberapa hari mencari rumah untuk tempat tinggal, akhirnya Bagas menemukan rumah perumnas yang cukup bagus di tempati, ia yakin bahwa Caca pasti akan menyukainya jika tempat itu akan menjadi rumah mereka.


Bagas juga menerima brosur daftar harga perumahan, biayanya lumayan mahal bersama dengan bunganya, tetapi ia tetap optimis akan rumah baru demi kenyamanan istri dan anaknya.


"Angsuran bunganya segini, bang, mau aku bantu? " tanya Caca.


Caca dan Bagas saling berdiskusi, sebelum menempati rumah itu mereka nantinya.


"Tidak perlu, sudah tugasku untuk bisa bahagiakan kamu dan Hafizh, masalah angsuran bunga, akan aku cari jalannya. Optimis saja, demi kenyamanan kamu dan keamanan anak kita juga. "


Bagas merangkul bahu Caca, kemudian mereka berencana untuk segera tidur, karena mereka merasa kelelahan.


Hari yang ditunggu telah tiba, hari itu adalah hari Caca dan Bagas serta Hafizh akan pindah rumah, bersama keluarga dari Caca dan Bagas, mereka dibantu pindahan oleh keluarga mereka masing-masing.


Saat mengunci pintu rumah kontrakan lamanya, Caca menatap seluruh ruangan yang sudah kosong, di benaknya banyak sekali kenangan di rumah ini, mulai dari ia yang sedih karena pernikahan yang cuma setahun karena perjanjian, ternyata ia dan Bagas bisa membina keluarga kecil bersama.


Caca mengunci pintu rumah kontrakan tersebut dan memberikannya pada pemilik kontrakan tersebut.


"Ayo Ca, kita sudah mau berangkat ini. " panggil Bimo.


"Iya yah, ini pak, makasih ya pak udah percayakan kontrakan ini sama kami selama setahun lebih, sekali lagi terimakasih. " ucap Caca.


"Iya, sama sama mbak, selamat menempati rumah barunya, jangan lupa sering mampir lihat lihat rumah ini lagi. " ucap pemilik kontrakan tersebut.


Caca berjalan menghampiri mobil, ia duduk di dekat jendela, sambil merangkul Hafizh ia menatap rumah kontrakan tersebut sampai mobil berjalan menjauh dari kontrakan tersebut.


Caca menatap dari kaca spion, semakin jauh mobil mereka meninggalkan rumah kontrakan tersebut, Caca meneteskan air matanya.


"Bakalan kangen sama rumah itu, semua perjuangan kita ada di sana soalnya, dari awal kita nikah, terus rencana buruk, aku lagi hamil, kita punya Hafizh, sampai kita mau pindah, rumah itu yang jadi saksi perjalanan hidup kita. " ucap Caca.


Bagas memegang tangan Caca, ia mengelusnya.


"Iya, nanti sekali sekali kita mampir ke sana buat lihat lihat rumah kontrakan itu. Nanti kita kenalin juga sama Hafizh, di sana dia awalnya dibuat dan ada di sini. "


"Ih, omongannya. " tegur Caca.


......................


30 menit berlalu, akhirnya mereka beserta mobil pindahan sampai di perumahan, salah satu rumah yang akan ditempati oleh Caca dan Bagas sudah terlihat dari depan, mereka kagum dengan rumah baru mereka, mungkin beberapa bagian rumah akan mereka tambahkan seperti pagar ataupun hiasan lainnya.


"Semoga rumah ini menjadi tempat tinggal yang aman buat kalian ya, anak anak. " ucap Nanno.


"Iya bu, terimakasih buat kalian semua, karena udah bantu kami buat pindahan. " ucap Caca.


Selesai membereskan sebagian isi rumah, Bagas dan Caca memutuskan untuk beristirahat, mereka melihat Hafizh yang asyik memainkan bola di dalam playground.

__ADS_1


"Hafizh kayaknya asyik banget ya? "


Bagas dan Caca mendekati anak mereka, terlihat bahwa Hafizh sudah mulai bisa duduk, mereka menyadari perkembangan anaknya sudah semakin bertambah sekarang.


"Hafizh sudah bisa duduk! " ucap Caca heboh.


"Wah, Hafizh keren, Hafizh udah bisa duduk sekarang, cepat sekali besar anak papa ini. " puji Bagas.


Keduanya kemudian menemani Hafizh bermain, hingga waktu makan siang tiba, mereka baru berhenti bermain dan Hafizh sudah tertidur karena kecapekan bermain.


......................


"Ayo nak, kemari... "


Semakin berjalannya waktu, perkembangan Hafizh terlihat semakin banyak, Hafizh mulai bisa untuk telungkup, dan sekarang ia belajar merangkak.


"Kereta, naik kereta yuk... "


Bagas dan Caca melihat anaknya yang menaiki kereta bayi sangat senang, ditambah lagi Hafizh yang selalu gembira bisa bermain terus bersama dengan kedua orang tuanya.


"Kalau dilihat lihat lucu juga Hafizh ini ya, bang. "


"Iyalah, anak aku. " ucap Bagas dengan bangga.


"Giliran Hafizh lagi anteng aja nganggep anak, giliran rewel pasti 'Ca, anakmu nangis nih', standar ganda amat jadi bapak. " sindir Caca.


Bagas langsung memeluk Caca, ia malu jika mengakuinya, sambil tertawa ia bergelut dengan Caca di depan anak mereka.


"Udah, kita berangkat yuk. " ajak Bagas.


Caca menggendong Hafizh, Hafizh dengan menggigit mainan karetnya kemudian menatap ke arah Bagas.


"Kenapa nak? Denger suara papa tadi ya? " tanya Bagas.


Hafizh tertawa, kemudian kedua pasangan tersebut tertawa melihat anak mereka, Caca dan Bagas segera berangkat, rencananya akan mampir terlebih dahulu ke rumah orangtua Caca, karena semalam sudah janji untuk mampir terlebih dahulu sebelum ke kantor.


"Hafizh cucuku, ulululu, gantengnya cucuku ini... "


Nanno dan Bimo sibuk dengan cucu mereka, sedangkan Bagas dan Caca tidak dipedulikan sama sekali, mereka terlantar untuk kali ini.


Nanno baru ingat, ia menyambut Caca dan Bagas, menawarkan minum dan mengajak mereka untuk mengobrol sambil bermain dengan Hafizh.


Setelah asyik mengobrol dan bermain, Caca melihat jam, ternyata mereka hampir terlambat untuk pergi ke kantor.


"Bang, yuk berangkat. " ajak Caca.


"Kalian mau ke kantor? Caca udah masuk kerja? " tanya Nanno.


"Iya bu, tapi Hafizh... "


Caca merasa bimbang, apakah ia akan membawa Hafizh ke kantor atau ditinggal di rumah kedua orangtuanya.


"Sudah sih, titip aja disini Hafizh nya. " tawar Nanno.


Caca masih kurang yakin, ia terpengaruh dengan video di sosial media, karena orangtua yang masih menggunakan standar pola asuh anak dengan cara jaman dahulu.


"Nggak, nanti ibu mulai kayak nenek nenek lainnya, anak Caca ibu apa apain lagi. "


Dari belakang, Bimo menjitak kening Caca, Caca meringis sakit dan melihat ayahnya.


"Duh, sakit yah! " teriak Caca.


"Kamu kira kami kayak gitu, Ca? " tanya Bimo.


"Ya, mungkin aja. "


Bimo langsung mengambil Hafizh dari gendongan Caca, dan langsung menggendong cucunya.


"Nggak bakal, Ca. Kami tahu kamu khawatir, kami tidak akan menerapkan pola asuh seperti yang kamu khawatirkan. Kami akan belajar menjadi kakek dan nenek untuk zaman sekarang, kita sama sama belajar saja, ya? "


Caca terharu dengan ucapan ayahnya, ia memeluk kedua orang tuanya dan mengucapkan terimakasih kepada keduanya, akhirnya ia bisa melepas anaknya agar bisa di asuh dengan kedua orang tuanya ketika ia kembali bekerja lagi di kantor.


"Dadah, Hafizh... "

__ADS_1


Caca dan Bagas berangkat, mereka mulai merasa aman ketika ingin bekerja.


......................


Sesampainya di kantor, Caca berjalan menuju ke ruangannya, ia kemudian di sambut oleh teman teman kantornya.


"Welcome back to kantor, Caca! "


Caca tersenyum, ia dipeluk oleh teman teman perempuan di kantornya, karena mereka rindu dengan Caca setelah beberapa lama tidak bekerja.


"Kangen tau, udah 8 bulan kamu nggak kerja dan fokus ngurus anak, kita semua kangen sama kamu. " ucap Indah.


"Makasih ya udah nyambut aku, terimakasih. "


Mereka bersama kembali ke meja tempat bekerja, Caca bekerja dengan baik, karena masa itu sangat ia rindukan setelah beberapa lama tidak bekerja.


Sore hari telah tiba, Caca merasa aneh, biasanya Bagas akan menunggu nya di depan ruangan, tetapi sekarang tidak ada sama sekali.


"Bagas kemana ya? " tanya Caca.


"Dor! "


Caca terkejut, hampir semua barang barangnya jatuh, ia melihat ke samping luar ruangan dan itu ternyata adalah Bagas.


"Bang! Ngagetin aja! " pekik Caca.


Bagas tertawa, ia kemudian merangkul Caca untuk pulang.


......................


Di dalam mobil, Bagas dan Caca menikmati lagu yang sedang diputar di dalam mobil, mereka kadang bersenandung dan kadang ikut bernyanyi bersama.


"Kita cheat time yuk, Ca. " ajak Bagas.


"Cheat time? Maksudnya quality time, kita cari waktu untuk berdua aja? " tanya Caca.


"Yap, kita jalan jalan berdua yuk, titip dulu Hafizh sama nenek dan kakeknya. Udah lama kita nggak jalan jalan, Ca. " ucap Bagas.


Caca menganggukan kepalanya, itu merupakan ide yang bagus, karena sudah lama mereka tidak merasakan jalan bersama setelah mempunyai anak.


Tujuan quality time mereka adalah Swaspeta, tempat makan yang dahulu menjadi tempat makan bersejarah dan penuh drama mereka, tetapi kali ini mereka dapat bersatu dan kembali mampir untuk makan di sana.


"Lobster masuk, buka mulutnya... "


Caca disuap lobster oleh Bagas, dengan mengunyah nya ia dapat merasakan sari sari lobster tersebut di mulutnya, Caca sangat menikmati makanannya.


"Enak? " tanya Bagas.


"Enak, apalagi disuapin nya kayak lagi nyuapin Hafizh, mantap banget rasanya. " jawab Caca.


Selesai makan, mereka lanjut berjalan kembali, kali ini mereka akan ke wisata tempat nongkrong malam, suasananya sangat ramai dan dikunjungi oleh pasangan maupun keluarga kecil yang sedang berkumpul, entah itu melihat pemandangan ataupun piknik malam disana.


Caca dan Bagas mendapatkan tempat duduk, dengan makanan ringan dan minuman kemasan mereka menikmati pemandangan bukit malam hari.


"Jarang jarang kayak gini, sekalinya begini jadi nostalgia. " ucap Bagas.


"Nostalgia sama si Bella kan? "


Telinga Caca dijewer oleh Bagas, dengan senyuman dan cengir kuda, Caca bisa mengejek suaminya itu.


"Mantan dilupakan, masa depan di perjuangkan. Aku nggak mau mikirin cewek lain, cuma kamu sama Hafizh udah cukup bagi aku, Ca. " ucap Bagas.


Caca merasa tersipu, ia memeluk pinggang Bagas dan Bagas mencium keningnya.


"Kasih adek nggak buat Hafizh? " tanya Bagas.


"Eh, jangan dulu, anak kita di jarak dulu, biarin Hafizh puasin buat ngerasain kasih sayang kita berdua dulu, kalau Hafizh nya yang minta, baru di kasih. " jelas Caca.


"Okelah, siap ditunggu aja nih. "


Kedua pasangan tersebut menikmati malam bersama, memandang bukit, bersamaan dengan angin malam tak lama diguyur hujan.


'Tak pernah kusangka, bahwa kesalahpahaman dulu bisa berbuah manis seperti sekarang, dan aku sangat mensyukuri segala nya. Yang awalnya aku dan Bagas hanyalah sepupu jauh, sekarang kami menjadi pasangan dan sudah menjadi kedua orangtua untuk anak kami. Kalau bisa dipikir, nggak nyangka aja bisa seperti ini, bisa menata masa depan bersama dan hidup bersama dengan mempunyai anak. Semoga dengan perjalanan hidup kami berdua, ini akan menjadi akhirnya yang bahagia tuk keluarga kecil kami. Semoga kan jadi akhir bahagia. ' ucap Caca dalam hati.

__ADS_1


...****************...


~Tamat


__ADS_2