Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 09


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Sudah memasuki bulan pertama pernikahan mereka, Bagas dan Caca tidak sadar bahwa sudah sebulan mereka menikah.


Mereka menjadi lupa, karena sibuk akan urusan masing-masing, dan seperti orang biasa dalam satu atap dengan status yang mereka ubah sendiri, sebagai suami istri menjadi tinggal bersama saja.


Kesibukan mereka juga menjadi alasan dan juga cara, agar satu rumah tidak memiliki perasaan dan hanya sebatas tinggal bersama saja hingga menunggu waktu kesepakatan telah tiba.


Kalau ditanya, apa mereka satu atap juga satu kamar? Tentu saja tidak, contohnya saja saat di hotel sebulan yang lalu, mereka rela untuk memesan satu kamar lagi agar terpisah, begitu juga saat mereka satu rumah.


Hanya kerepotan jika keluarga mereka mampir ke rumah, dan paling parahnya menginap, yang ada Bagas terpaksa mengalah dengan Caca dan memilih tidur di lantai, sementara Caca di kasurnya karena mereka berakting seolah suami dan istri yang satu kamar.


"Masa, harga cabe udah naik aja sih?! Nggak mikir apa ya kalau makan nggak pakai cabe itu rasanya kurang nikmat?! "


Bagas keluar dari ruang kerja, ia baru saja mendengar omelan yang ada di dapur, tak lain dan tak bukan pastinya itu Caca. "Apa sih Ca? Malem malem gini masih aja ngomel-ngomel terus? " tanya Bagas.


"Gimana nggak? Cabe naik, daging naik, semuanya udah naik, huh! " jawab Caca dengan nada kesal.


Bagas menggeleng kepalanya, ia tidak mengerti akan isi dapur, dan berdecak remeh ketika mendengar Caca yang mengeluh kesal akibat kenaikan harga bahan pokok.


"Baru segitu, Ca, beli dikit dikit aja sih nggak masalah, daripada nggak kebeli sama sekali kan? " ucap Bagas dengan santai.


"Iya, dikit aja, dikit nggak makan kamu! " "Ya, yaudah sih, kan bisa order makanan dari aplikasi, gitu aja kok susah banget sih? " tanya Bagas kebingungan.


Caca menggeram, Bagas tak bisa membantu bahkan menenangkannya, ia meninggalkan Bagas yang diam menatapnya.


Bagas menggaruk kepalanya, dan juga menggeleng kepalanya, ia benar-benar tidak tahu isi dapur atau macam macam keluhan soal bahan pokok, hanya bisa berkata ringan dari mulutnya saja.


"Gimana bisa tau? Kan itu tugasnya emak emak, aku cuma tau update-an game terbaru sama beli kuota buat ngegame online aja. "


Kedua pasangan itu beralih ke ruangannya masing masing.


......................


Menunjukkan pukul 10 malam, bunyi genteng terdengar dari luar rumah, ditambah oleh hujan angin yang mendukung bunyi genteng tersebut semakin riuh.


Bagas yang tertidur lelap terganggu oleh suara genteng rumah nya yang tertiup oleh angin, rasanya sebentar lagi ingin terlepas dari kerangka atap rumah kontrakannya. "Dah tidur nyenyak, kebangun gegara genteng, besok bakal kuganti tuh genteng. "


Bagas mengambil gawai nya, kemudian ia membuka sosial media, karena matanya yang samar samar mengantuk yang membuatnya tidak ingin bermain game.


Scroll sosial medianya terhenti di salah satu postingan, artikel mengenai horor dan misteri yang membuat bulu kuduk nya seketika berdiri.


Bagas terkenal tidak penakut, tapi jangan kira ia akan berani jika malam sepi telah tiba, maka nyalinya akan menciut, ditambah jika ia mengingat cerita dan postingan mistis yang ia temukan, menambah nyalinya yang ciut menjadi benar-benar ketakutan.


Bagas mematikan gawai nya, ia tak berani melihat sudut lemarinya, mengingat cerita yang ia baca di sosial medianya yang membuatnya tambah ketakutan.


"Duh, kok pakai acara kebelet segala... " keluh Bagas.


Bagas berdiri, ia memberanikan dirinya untuk bisa keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi. Sebelumnya ia pastinya akan melewati ruang tamu dan dapur yang sudah gelap, karena setiap jam tidur Caca akan mematikan lampu seluruh ruangan, kecuali kamar mandi dan kamar keduanya.


Bagas memang ketakutan saat itu, tetapi ia memilih berani ketimbang harus ngompol di kasur, bisa saja Caca akan iseng dengannya dan menjadikannya bahan lawakan.


Perlahan Bagas berjalan ke arah pintu, dengan perlahan juga ia membuka pintu kamarnya.


Gelap ruangan serta sunyi suara dan hanya menyisihkan suara riuh hujan, menambah kesan mencekam bagi Bagas, kali ini ia benar-benar menjadi penakut untuk menyelesaikan urusannya sendiri, yaitu menyelesaikan buang air kecilnya.


Kakinya perlahan keluar dari kamar, dengan memantau keadaan di ruangan yang gelap menuju ke kamar mandi.


Setelahnya, Bagas merasa lega, ia keluar dari kamar mandi, suara genteng yang tertiup angin membuat Bagas kaget.

__ADS_1


Tik!


Seketika lampu mati, Bagas bertambah takut, karena disaat hujan angin dan mati lampu, membuat suasananya menjadi mencekam.


Dengan kemampuan meraba dinding, Bagas ingin berjalan ke arah kamar Caca.


Mengarah ke arah kamar Caca, Bagas mengetuk pintu kamar Caca, tiba-tiba pintu kamar Caca terbuka dengan wajah yang berbentuk topeng.


"Caca! " teriak Bagas.


Caca menatap kaget ke arah Bagas, ia sedang menikmati maskernya dan terganggu dengan suara ketukan pintu kamarnya. "Kenapa? Kamu ngapain ngetuk pintu kamar aku? Ganggu aja orang lagi maskeran. " ketus Caca.


"Ya, soalnya kamu itu pakai masker gitu, bikin takut aja, mana lagi mati lampu juga. " jawab Bagas gemetar.


"Hah, mati lampu ya? Pantesan aja lampu hias dikamar aku mati, kirain udah rusak. "


"Emmm, Ca... "


"Ya, kenapa Gas? " tanya Caca.


"Gini Ca, boleh nggak aku tidur di kamar kamu? Tidur barengan gitu... Boleh nggak? "


Caca menatap heran ke arah Bagas, alisnya naik hingga membuat maskernya menjadi retak. "Emang kenapa sama kamar kamu? Kok numpang ke kamar aku? " tanya Caca.


"Mati lampu, Ca, aku— "


"Bilang aja takut, iya nggak? " ejek Caca dengan menunjuk ke arah Bagas.


Bagas berdecak, ia menggeleng kepalanya, gengsi ingin mengakui bahwa ia sekarang jadi penakut. "Nggak, siapa bilang? "


"Yaudah, balik sana ke kamar kalau nggak takut, ngapain numpang ke kamar aku? "


Bagas menahan Caca, ia akhirnya mengaku. "Iya, iya, aku takut, aku mau numpang karena aku takut! "


Saat ingin mendarat ke kasur, baju Bagas di tarik ke belakang, Caca menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah karpet, betul, ia menyuruh Bagas untuk tidur di bawah.


"Siapa bilang tidur di kasur sama aku? Kamu tidur di bawah sana, kan kamu numpang doang di kamar aku. " tunjuk Caca ke arah lantai.


"Ca, masuk angin aku nanti, nggak terbiasa tidur di lantai, di kamar aja aku kan tidurnya di ranjang. Ditambah lagi hujan gini, dingin banget tau... " keluh Bagas.


"Yaudah, balik aja ke kamar kamu sana, udah dikasih tumpangan kok nggak tau diri. "


Bagas berdecak, ia kemudian mengambil bantal milik Caca, tetapi Caca merebutnya dan memilih bantal tipis kemudian diberikan kepada Bagas. "Nih, ayo tidur sana, ini kain buat selimut kamu, soalnya nggak ada selimut cadangan. "


Bagas mengambil bantal dan kain yang diberikan oleh Caca, ia menaruhnya ke lantai dan berbaring di atas lantai, sementara Caca naik ke atas ranjang dan segera tidur dengan masih memakai masker wajah.


......................


Sekitar pukul 2 malam akhirnya listrik hidup kembali, hujan telah berhenti, tetapi hawa dingin setelah hujan masih tetap awet.


Caca terbangun dari tidurnya, ia terbangun karena sorot cahaya lampu kamarnya yang hidup, ia melihat jam yang menunjukkan pukul 2 malam.


"Akhirnya hidup juga nih lampu. "


Suara berisik terdengar di bawah, Caca melihat badan seseorang di lantai, ia mendekat dan melihat Bagas yang menggigil di bawah.


Merasa kasihan, Caca pun berinisiatif membangunkan Bagas, dan menyuruhnya untuk naik ke atas tidur bersamanya. "Gas, Bagas. "


"Hmmm, ada apa? "


"Naik ke atas aja yuk, kamu kedinginan, tidur di samping aku sini. " ajak Caca dengan menepuk-nepuk kasurnya.

__ADS_1


Bagas bangkit, ia beralih tidur ke atas kasur bersama dengan Caca, Caca menyelimuti Bagas dan juga memeluk Bagas, ia tidur berpelukan dengan Bagas.


Pagi hari telah tiba, Caca terbangun karena nafasnya terasa sesak, ia melihat lengan besar yang melintang ke lehernya, perlahan ia mencoba untuk mencubit lengan Bagas yang terasa mencekik lehernya.


"A—Auhh! "


Bagas meringis kesakitan, ia mengelus lengannya yang dicubit dengan Caca. "Ca, kok kejam banget sih? Belum balik nyawa aku, langsung aja main nyubit, bikin aku kaget aja. " ringis Bagas.


"Lengan kamu tuh gede, leher aku tercekik tau! "


Mereka terbangun bersama, Caca berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang masih memakai masker.


Bagas merenggangkan tubuhnya, ia kembali berbaring dan menguap, masih terasa mengantuk sekali matanya dan ingin tidur.


"Sempat demam nggak? "


Dari luar pintu, Caca bertanya kepada Bagas, Bagas duduk dan menatap ke arah Caca. "Emm, nggak nih, aku baik baik aja. " jawab Bagas sambil memegang keningnya.


"Syukurlah, kirain badan gede dingin aja nggak tahan. "


Bagas bangkit, ia kemudian ingin keluar dari kamar, sebelumnya ia menoyor kepala Caca dan membuat Caca meringis kesakitan.


"Bagas! " teriak Caca. Bagas hanya tertawa dengan berlari ke dalam kamarnya.


......................


Menunjukkan pukul 8 pagi, selesai berberes maupun bersiap siap, Bagas dan Caca bergegas pergi bersama ke kantor, dengan seabrek bawaan Caca berupa make-up yang membuatnya kerepotan untuk membawanya ke dalam mobil.


"Coba bawa yang simpel aja make-up nya, Ca, udah kayak salon aja. "


"Dih, ini dikit kok, lagipula masih ada ruang di tas jinjing ini. Kamu nggak tau repotnya jadi cewek. " bantah Caca.


Keduanya menaiki mobil, kemudian berangkat ke kantor.


Suasana membosankan di kantor, satu kantor tetapi berbeda ruangan, Bagas dan Caca fokus dengan pekerjaan nya.


"Gas, nih berkas ku, tinggal kamu set aja denah nya. "


Bagas didatangi oleh salah satu rekan kerja perempuan nya, ia mengangguk paham dan mengambil berkas yang diberikan. Jenni, itulah rekan kerjanya, tak lama setelah memberikan berkas, Jenni mengajak Bagas mengobrol.


Terlalu asyik dengan obrolan mereka berdua, tak sengaja Jenni dengan gemas mencubit kedua pipi Bagas, hingga membuat rekan kerja lainnya mengejek keduanya dan sesekali menjodohkan keduanya.


"Cieee, cocok banget dua duanya, nggak salah lagi kalau dinikahin. "


"Nggak! Nggak ah! " tolak Bagas.


Di tengah-tengah ejekan dari rekan kerja lainnya, terlihat Jenni tersenyum, ia sudah menyukai Bagas semenjak 3 tahun yang lalu berada di tempat kerjanya.


Di sisi lain, Bagas menjadi kesal, ia menghentak mejanya hingga suara pukulan tersebut bergema di ruangan. "Aku udah nikah! Binoarca adalah istri aku! "


Seketika ruangan tempat Bagas bekerja hening, teman teman kantor Bagas mendadak diam dan menatap tidak percaya ke arah Bagas.


"Loh, kan Caca tuh sepupu kamu, Gas. "


"Agh, nggak tau lagi aku, kami tuh dijodohin. Jadi, jangan comblangin aku lagi sama si Jenni! Aku udah jadi suami orang! " tegas Bagas tanpa basa basi.


Jenni yang dimaksud oleh Bagas seketika terdiam, wajahnya yang memerah karena teman kerjanya menjadi wajah yang terdiam kaku menahan air matanya, tetapi ia berusaha untuk tidak menangis.


"Dan kamu Jenni, semoga kamu tau ini dan berhenti kecentilan padaku, camkan itu baik baik! "


Jenni akhirnya menangis, ia berlari keluar ruangan, di depan ruangan ia berpapasan dengan Caca yang sedang membawa beberapa map.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2