Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 38


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Beberapa bulan berlalu, umur kandungan Caca sudah 6 bulan, dan perutnya mulai membesar, bahkan ia sudah bisa merasakan tendangan dari dalam perutnya, bahkan Bagas saja menjadi tambah senang dengan perkembangan janin di perut Caca yang semakin hari semakin bagus.


Jangan sangka Bagas bisa melepaskan Caca dengan bebas seperti itu, bertambah umur kandungan, maka akan bertambah juga omelan nya dengan Caca.


"Ca, sayurnya dimakan dong, sayang, jangan ayamnya doang... "


Caca menjadi tidak berselera untuk makan, ia menghentakkan sendok makannya di meja, tetapi Bagas dapat mendengarnya dengan jeli.


"Aku tau kamu mau ngomong aku dari belakang. " ucap Bagas.


Bagas menghampiri Caca, kemudian menyendokkan sayur ke piring Caca, Caca meminta berhenti, tetapi Bagas menyendokkan nya terlalu banyak.


"Ibu hamil harus sehat, jangan nggak mau makan sayuran, demi anak. " ucap Bagas.


"Itu aku udah tau, jangan kayak gitu terus lah...! " ucap Caca.


Sesekali kalau dapat memakan makanan yang menurutnya enak, Caca akan memakannya dengan lahap, tetapi itupun makanan yang sudah diatur oleh Bagas.


Caca tetap boleh untuk jajan, tetapi ia masih akan memilih makanan yang ingin ia makan, ia memang diberikan kebebasan oleh Bagas, tetapi tetap akan dibatasi.


Caca dihimbau untuk banyak gerak oleh dokter kandungan nya, karena umur kandungan nya sudah termasuk kuat, dan ia dianjurkan untuk banyak bergerak.


"Duh, udah mulai sulit aja nih gerak. " keluh Caca.


Caca baru ingat, bahwa ia harus mengurangi keluhannya, karena itu sebuah nikmat yang akan berakhir 3 bulan lagi.


"Yuk nak, kita sama sama kuat ya nak, mama disuruh banyak gerak sama dokter kamu soalnya, sama sama semangat bareng mama ya, nak. " ucap Caca sambil mengelus perutnya.


Tak lama tendangan dari perut Caca terasa, Caca dengan senang mengelus perutnya, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


......................


Di kantor, Caca dengan semangat bekerja, walaupun hanya setengah hari ia bekerja baginya tak mengapa, yang terpenting ia banyak bergerak dan bisa melakukan aktivitas apapun di luar rumah.


"Fuhh, akhirnya selesai. "


Caca bersender di kursinya, ia mengelus perutnya dan menatap ke arah temannya.


"Ndah, aku pulang duluan ya, udah mau makan siang. "


"Oh ya, hati hati ya, Ca. " jawab Indah.


Caca berjalan membawa barang barangnya, sekarang ia mulai terbiasa mandiri, karena Bagas untuk bulan sekarang sudah mulai sibuk kembali mengerjakan pekerjaan dan sesekali melihat proyek, itu menjadi alasan Caca bisa mandiri.


......................


Malam harinya, Caca dan Bagas akan bersantai untuk sejenak, karena Bagas akan melanjutkan pekerjaan nya tengah malam, maka dari itu ia akan memanfaatkan tidur lebih awal.


"Gas, tolong pijitin kaki aku. " mohon Caca.


Bagas yang berbaring segera memijat kaki Caca, Caca menikmatinya dengan santai.


Kadang Caca sering iseng, ia melihat perutnya, lebih besar dari sebelumnya dan merasakan hal yang lain berada di perutnya.


Caca melihat garis di perutnya, ia merasa senang, tanda cinta kasih dari calon anaknya terbentuk di perutnya, mungkin seperti itu juga yang dirasakan oleh ibunya dulu saat mengandungnya.


"Segede ini sekarang perutku, tiga kali lipat perut sebelumnya. " ucap Caca.


Bagas dengan telunjuknya menunjuk ke arah garis stretch mark di perut nya, sesekali memainkan telunjuknya menunjuk ke garis tersebut.

__ADS_1


"Garisnya unik ya, Ca. " ejek Bagas.


"Heh, ini tanda cinta kasih anak kita. Ini anak kita ya, garis bawahi, anak kita. " balas Caca.


"Itu nggak usah dikasih tau juga aku udah tau kok, Ca, kan partisipan pertama itu aku. " ucap Bagas.


"Iya deh. " jawab Caca.


Bagas mengelus perut Caca, sesekali mencium perut Caca, Caca kemudian berpikir dan memiliki ide yang ia pendam.


"Sesekali refreshing yuk, Gas, sebelum baby H lahir, kita nikmatin berdua buat barengan, nanti kalau baby H udah lahir, udah bertiga kita. " ajak Caca.


Bagas berpikir, ia kemudian menganggukan kepalanya, ia menyetujui keinginan Caca.


"Jalan jalannya tuh mau ke tempat yang sejuk gitu dong, Gas, aku tuh pengen banget soalnya jalan jalan ke tempat begituan. " ucap Caca.


Bagas memikirkan tempat yang diinginkan oleh istrinya, kemudian ia ingat sesuatu, sebelumnya ia akan menanyakan kepada ibu mertuanya.


"Halo bu, lagi sibuk nggak? " tanya Bagas dari telepon.


'Nggak, barusan aja ibu balik dari kantor, ada apa, Gas? ' tanya Nanno dari telepon.


Caca langsung mengambil HP milik Bagas, Bagas memberikannya kepada Caca.


"Oh iya bu, ibu tau nggak tempat spot yang cocok untuk santai gitu? Tempat adem dan sejuk gitu loh, bu, ada nggak? " tanya Caca.


'Oh begini aja Ca, main aja ke sawah tempat mamaknya Bagas, Ca, disana cocok tuh buat kamu refreshing di sana, sekalian liat sawah orangtuanya Bagas sekarang kayak gimana. ' saran Nanno.


Terdengar itu ide yang bagus, maka Caca langsung menatap Bagas, dan meminta ibunya untuk menginfokan dan bertanya apakah ia boleh bersama dengan Bagas untuk main ke sawah.


Setelah mematikan telepon dari Nanno, beberapa menit berlalu, tak lama HP milik Caca berdering, itu panggilan dari Ayu.


"Halo mak, ada apa? " tanya Caca.


'Ca, kamu ada ngidam mau main ke sawah ya? Yo wes, main aja, nggak papa kok, bebas, kok nunggu mamak yang suruh baru mau main ke sana. ' ucap Ayu.


'Ya mesti dong, punya mamak waktu, hari libur besok aja ya kita perginya. ' jawab Ayu.


"Kalau gitu makasih ya mak, Caca matiin teleponnya. " ucap Caca.


Selesai menelpon antar dia pihak keluarga, Caca dan Bagas memutuskan untuk tidur, karena hari sudah malam dan mereka harus segera tidur.


......................


Beberapa hari berlalu, tepatnya hari mereka ingin berlibur, spot tempat liburan yang sudah di pilih adalah sawah milik Ayu.


"Muantap ini, hari cerah begini, kita bisa mancing di kolam ikan kayak gini. " ucap Bayu.


"Udah berkembang aja kebun sawah kamu, Yu, jadi bagus kalau kayak gini terus. " ucap Bimo pada Ayu.


"Alhamdulillah, ternyata dirawat nya bagus juga dari petani kita semua. "


"Pokoknya aku di sini! "


Suara teriakan terdengar dari pinggir sawah, para orang tua hanya bisa menggelengkan kepala mereka, melihat semua anak anak mereka berebut tempat duduk yang ada di pinggir kolam.


"Heh, sama cewek harus ngalah! " lawan Bianca dan Caca.


"Dikiranya kami mau karena kalian cewek? Nggak, sebagai laki-laki, kami harus jaga jati diri kami! " bantah Bagas dan Bintang.


Brama dan Bagus hanya menggelengkan kepalanya, mereka melihat pertengkaran kedua kakak mereka yang terkesan sangat kekanak-kanakan.


"Udahlah bang, lagipula tempat duduk juga, ngalah dikit sama cewek lah. " ucap Brama.

__ADS_1


"Heh diam kamu Brama! " bentak Bagas dan Bintang bersamaan.


"Ini kami lakukan demi harga diri kita sebagai laki-laki tau! Jangan mau ngalah sama perempuan! " jelas Bagas.


"Gas, sekali lagi naik pohon jambu air ku, kudoakan penunggu pohon jambuku iseng lagi sama kamu! "


"Kenapa bahasannya ke jambu air?! " tanya Bagas heran.


"Hei, jangan ribut! Hanya bangku saja kalian ingin baku hantam? Keterlaluan semua kalian! " omel Ayu.


Akhirnya dari semua anak anak mereka terdiam, Bintang dan Bagas akhirnya mengalah, karena berdebat dengan istri mereka masing-masing tidak akan menyelesaikan masalah, mereka mempersilahkan istri istri mereka untuk duduk di kursi tersebut, biar mereka yang duduk di bawah.


"Nah, kayak gini kan bagus nggak ada ribut. Iya kan, Gus? " tanya Ayu pada Bagus.


"Iya mak. " jawab Bagus.


Setelah membereskan barang barang mereka semua, mereka memancing bersama, dengan tenang para perempuan di sana masing-masing menemani suaminya atau ikut memancing juga.


"Mancingnya yang ikhlas dong, Gas. " protes Caca.


"Ini kan susah, Ca, sabar dulu lah. "


Sepanjang memancing, hanya Caca dan Bagas lah yang rusuh dan paling ribut daritadi, sedangkan para pasangan senior hanya kebingungan melihat keduanya.


"Wah, ikan besar, ikan besar! " teriak Bagas.


Tarikan pancing Bagas untuk menaklukkan ikan tersebut cukup memakan tenaga, dengan bantuan brama ia mencoba menarik ikan tersebut, tak lama ikan yang cukup besar keluar dari air.


"Wih, keren kamu, Gas! " puji Bayu.


Semua orang memuji Bagas, hanya Caca saja yang menganggap hal tersebut biasa, bahkan ia mencoba memancing seperti Bagas barusan.


"Aku juga bisa dapat ikan kayak gitu, lihat aja ya! " ucap Caca.


"Ohoho, yakin Ca? " remeh Bagas.


"Ihhh! Lihat aja pokoknya! " tegas Caca.


......................


Selesai memancing, rencananya ikan hasil tangkapan akan dipanggang, tentu saja hal tersebut membuat Bagas bangga, karena ikan tangkapannya dapat membungkam mulut istrinya yang sedaritadi mengejeknya.


"Bakar bakar hasil pancingan tadi ya, bagian Bagas dibedain sama ikan tangkapannya Caca ya, pak. " ucap Bagas.


Bagas menyerahkan pancingan ikannya yang cukup besar pada Bayu, Caca melihat embernya, hanya berisi ikan mas kecil di dalam embernya, ia iri dengan suaminya yang bisa mendapatkan ikan sebesar itu.


Selesai ikan ikan mereka dibakar, mereka sudah menyiapkan nasi liwetan, kemudian ikan tersebut ditaruh di atas nasi hangat beserta lauk lainnya, membuat liwetan tersebut terkesan ramai untuk bisa dinikmati.


"Itu yang Caca ya, hahahaha! " ejek Bagas.


Caca berdecak kesal, kemudian semuanya berdo'a bersama dan memakan ikan hasil tangkapan mereka masing-masing.


Bagas menatap Caca, ikan sekecil itu mana mungkin dapat memuaskan lidah, Bagas mengais ikan miliknya dan ingin menyuapkannya ke mulut istrinya.


"Aku nggak mau biarin kamu ngidam sendirian, Ca, sengaja aku mancing ikan segede ini demi baby H kita kok, nggak usah cemberut gitu... " ucap Bagas.


Bagas menyuapkan ikan panggang nya ke mulut istrinya, Caca memakannya dan bergumam puas akan rasa ikan tersebut, ikan yang sangat segar dan nikmat terasa di mulutnya.


"Enak Gas! " puji Caca.


Bagas tersenyum, ia kemudian membersihkan pinggir bibir Caca yang blepotan, tetapi ia lupa, ia membersihkannya menggunakan tangan kanannya yang menjadi tangan untuk makan.


"Duh, ini bukan bersih, tambah blepotan! " ucap Caca sambil membersihkan pipinya.

__ADS_1


Semuanya tertawa melihat kedua pasangan tersebut, Bagas dan Caca menjadi objek hiburan mereka saat di sawah.


...****************...


__ADS_2