
...Selamat membaca 🍊...
......................
Bagas pulang dengan membawa makanan dari tempat makan tersebut, sisanya ia bawa, karena sebagian makanannya ada yang belum tersentuh dan ia membeli tambahan makanan untuk dibawa pulang.
Bagas terpikir akan reaksi Jenni tadi, bagaimana jika Jenni akan berbuat nekat karena dirinya yang memutuskan hubungan dengan dirinya, seperti bisa saja Jenni b*nuh diri karena diputus cinta.
Bagas juga merasa dirinya jahat, karena sudah memberikan harapan kepada orang, tetapi ia masih memiliki hubungan kepada orang yang masih terkait dengannya.
Tapi, Bagas tidak ada pilihan lain, ia juga mengutamakan kepentingan utamanya, yaitu bertanggungjawab kepada Caca.
Sesampainya di rumah, Bagas berjalan ke arah pintu rumah, ia mengetuk pintu rumahnya, sayang tidak ada respon sama sekali.
Bagas memutar gagang pintunya, terbuka, tak lama itu membuat Bagas menjadi khawatir, jarang sekali Caca tidak mengunci pintu rumah kecuali saat ia pergi ke warung.
"Ca, Caca... "
Bagas mencari keberadaan istrinya, ia menemukan Caca yang sedang tertidur di lantai, Bagas panik dan mendekati Caca, ia takut jika Caca tiba-tiba pingsan saat dirinya tidak ada di rumah.
"Ca, bangun... "
Bagas menepuk-nepuk pipi Caca, tak lama Caca terbangun dan langsung memeluk Bagas.
"Gas, kok pulangnya lama? " tanya Caca.
"Maaf, soalnya tadi mampir ke tempat makan di Swaspeta tadi. " ucap Bagas.
Caca menganggukan kepalanya, ia kemudian berdiri dan merenggangkan diri untuk berpindah ke atas kasur.
Bagas melihat PsPnya yang masih menyala, satu persatu Bagas memeriksa game yang dimainkan oleh istrinya.
"Stage final ku, tidak.....! " teriak Bagas.
Bagas merasa rugi, stage terakhir permainannya harus kembali lagi ke stage awal, perjuangannya sia sia saja baginya ketika karakter game-nya dibuat mati oleh Caca.
"Hei, siapa suruh main di stage ini?! " bentak Bagas.
Caca terkejut dengan suara Bagas yang terkesan membentak, ia kemudian diam dan menangis, karena ia sangat sensitif untuk kali ini.
"Game aja, kamu tega marahin aku, Gas? " tanya Caca gemetaran.
Bagas baru ingat, ia harus belajar sabar, karena ia harus menghadapi ibu hamil yang suka sensitif dengan semua hal.
"Nggak, aku nggak marah, tadi ngomong nya nggak sengaja kasar. Maaf ya. " ucap Bagas.
Caca dipeluk oleh Bagas, Bagas terus menciuminya hingga ia merasa geli dengan perlakuan Bagas itu sendiri.
"Udah, nggak usah nangis lagi, aku bawain makanan buat kamu. "
__ADS_1
"Serius? Apa itu? " tanya Caca penasaran.
"Ke dapur, aku beliin makanan seafood buat kamu, dari Swaspeta. "
Caca langsung menatap curiga, jarang jarang sekali Bagas pergi ke tempat makan, keseharian Bagas hanya memesan makanan online saja, jarang ingin pergi ke tempat makan yang hits.
"Pergi sama siapa ke sana? " tanya Caca.
"Sama Jenni, tapi tenang aja, itu aku buat ngobrol baik baik sama dia. Ya, walaupun dia nggak terima, tapi itu demi kebaikan dia, soalnya kasihan aja, aku balik lagi sama kamu, dia dijadikan cadangan. Aku kan bukan Bagas masa muda lagi, Ca. " jelas Bagas.
"Bagas masa muda? Yang sering ternak cewek itu, kan? " tanya Caca.
Bagas menganggukan kepalanya, ia hanya bisa menuruti ucapan Caca, karena mood Caca sering turun naik, makanya obrolan tidak sering nyambung.
Langsung saja Caca mer*mas wajahnya, Bagas berteriak kesakitan, karena Caca yang terkesan ganas kepadanya.
"Sudah ah, ayo kita makan aja. "
Bagas langsung mengangkat Caca, Caca berteriak, karena ia takut jika Bagas tiba-tiba menjatuhkan dirinya.
"Gas, aku takut jatuh! " teriak Caca.
Keributan tengah malam terdengar di rumah kedua pasangan muda tersebut, mereka berteriak tidak jelas, mungkin saja tetangga akan mengira mereka ribut.
......................
"Tugas kamu nyuci ya, Gas, tapi sebelumnya beliin pewangi sama deterjen nya dulu. " ucap Caca.
"Iya Ca, aku ke warung dulu. "
Bagas segera pergi ke warung untuk membeli berbagai macam keperluannya untuk cuci baju.
Sebagian tetangganya baru mengenal kedua pasangan tersebut dan sebagiannya tidak kenal dengan dirinya begitu juga dengan pemilik warung, karena Bagas seperti orang baru di daerah tersebut, padahal ia dan Caca sudah termasuk setahun tinggal di sana, mungkin karena kesibukan mereka yang membuat para tetangga baru mengenal nya.
"Ca."
Bagas masuk ke rumahnya, Caca langsung berlari menyambut Bagas yang baru pulang dari warung.
"Bawa cemilan, nggak? " tanya Caca.
"Iya, tapi dikit aja kamu makan ini, nggak boleh kamu makan sembarangan kalau lagi hamil begini. " jawab Bagas.
"Iya iya, aku yang hamil, kok kamu yang cerewet sih, Gas. " bantah Caca.
"Perlu, soalnya kamu kalau makan sering sembarangan, nanti makan siang, jangan lupa minum vitamin yang di kasih sama dokter kemarin. "
Caca menutup telinganya, ia mengejek Bagas yang cerewet, dan juga ia langsung meninggalkan Bagas.
Bagas langsung ke belakang, ia segera mencuci baju baju dan memisahkannya satu persatu.
__ADS_1
Saat memisahkan baju, Bagas menyentuh sesuatu, ia langsung mengambil nya dan melihat, ****** ***** berwarna pink dengan renda tipis, ia yakin itu milik Caca.
Bagas tersenyum, ia membentangkan nya dan melihat bentuk ****** ***** itu yang terkesan unik di matanya, karena baru kali itu ia mencuci baju, selama setahun hanya Caca saja yang mencuci bajunya.
Caca melintas di kamar mandi, ia melihat Bagas yang tersenyum senyum sendiri, membuatnya curiga dan langsung menghampiri Bagas yang terkesan aneh di matanya.
"Gas, kamu kenapa—"
Caca terkejut, ternyata Bagas melihat ****** ***** miliknya, ia berteriak dan langsung menghampiri suaminya itu.
"****** ***** ku! " teriak Caca.
Caca mengambil ****** ********, ia menyembunyikan nya dan langsung menaruhnya di tumpukan pakaian dalam.
"Cabul amat sih pengelihatan nya! " teriak Caca.
"Ya, nggak papa sih, kan kamu istri aku, Ca. Jangankan ****** *****, isinya aja aku juga udah tau, makanya si adek bayi sampai ada. " ucap Bagas dengan santai.
Caca memukuli Bagas, baru kali itu ia melihat Bagas yang terang terangan mengatakan hal yang cabul di depannya.
"Udah, jangan aneh aneh, cuci, terus langsung jemur. " perintah Caca.
"Siap bos! "
Siang harinya, Bagas bersiap siap untuk ke kantor, sementara Caca asyik menonton film baru di televisi, ia juga mengingatkan kalau Caca harus minum vitamin tanpa diingatkan beberapa kali olehnya.
"Habis makan siang, minum vitamin, jangan capek capek di rumah. "
"Iya, hati hati dijalan. "
Caca bersalaman dengan Bagas, ia mengantarkan Bagas ke depan pintu hingga menaiki mobilnya, kemudian menjauh dari rumah.
......................
Sesampainya di kantor, Bagas langsung turun, ia kemudian berjalan ke arah kantor dan kemudian memberikan map dan proyeksi yang sudah ia kerjakan.
"Nih, udah semua. "
"Oke, terimakasih. "
Bagas melihat di sekitarnya, ia merasa ada yang janggal, ia sadar bahwa satu rekan kerjanya tidak datang dan bekerja seperti biasanya.
"Heh Gus, si Jenni nggak masuk kerja ya? "
"Jenni dari kemarin nggak ngehubungin pihak kantor, nih, proyek dia numpuk gara-gara dari kemarin nggak dia kerjakan. Apa mungkin dia sakit, ya? "
Bagas terkejut, bisa saja Jenni tidak masuk kerja karena persoalan kemarin. Tetapi bisa buat apa, selain mengatakan yang sebenarnya pada Jenni.
...****************...
__ADS_1