
...Selamat membaca 🍊...
......................
Seminggu telah berlalu, kehidupan suami istri, alias Bagas dan Caca berjalan seperti biasa saja, walaupun pasti ada bumbu bumbu drama di antara mereka berdua.
"Ngepel rumah dulu, baru mandi buat siap siap ke kantor. "
"Ca, halaman depan udah aku sapu tuh, yang mana lagi nih? "
Bagas membawa sapu lidi ke dalam rumah, Caca menatap kaget dan langsung memukul bahu Bagas dengan kencang. "Aduh, sakit Ca! " teriak Bagas di sela sela rintih sakitnya.
"Mikir dikit dong, kamu pikir nyapu rumah nggak capek apa?! " teriak Caca.
Bagas tak ingin mengalah, ia semakin menjadi jadi, bukan hanya sapu lidi nya saja yang mengotori rumah, tetapi kakinya juga ikut mengotori rumah nya.
Dengan sengaja, kaki kotor Bagas menapaki lantai yang sudah disapu, ia juga menghentakkan kedua kakinya layaknya seperti anak kecil. "Nih, rasain nih! "
"Bagas! Kamu mau nyari mati ya sama aku?! " teriak Caca menggenggam sapunya.
Bagas sudah mengukur derajat sapunya melayang, dengan sigap ia menahan sapu milik Caca dan menjulur lidahnya sebagai tanda ejekan.
"Wleee, emang bisa mukul aku lagi? " ejek Bagas ke arah Caca.
Tak lama setelah nya, pintu rumah Bagas dan Caca di ketuk dari luar, mereka berdua berjalan bersama menuju ke pintu depan. "Eh, mamak? "
Ternyata tamu yang datang adalah Ayu, Bagas dan Caca menyambut baik Ayu yang baru saja sampai ke rumah mereka.
"Masuk dulu, mak. " tawar Caca.
Ayu memasuki rumah milik Bagas dan Caca, tak lupa juga memuji kedua pasangan muda tersebut.
"Assalamu'alaikum, duh keduanya ternyata lagi bersih bersih ya? Rajinnya anak dan mantu ku. " puji Ayu.
"Biasa mak, aktivitas sehari-hari sebelum pergi ke kantor, kebetulan juga mamak mau datang rumahnya udah bersih. " ucap Caca dengan senyuman.
"Iya mak, tumben mak mampir ke rumah Bagas sama Caca, ada apa mak? " tanya Bagas.
"Tiket pesawat buat liburan?! " Ayu tersenyum ketika Bagas dan Caca menyebutkan tiket yang ia berikan.
"Buat apaan sih mak ngasih beginian? Kami kan bisa pesan tiket pesawat sendiri buat liburan, kok repot repot ngasih beginian sama kita? " tanya Bagas kebingungan.
"Loh, biarin, lagipula belinya aja pake uang mamak sendiri kok, nggak minta sama orang. Itu tuh buat kalian berdua bulan madu, masa abis nikah nggak liburan sih? Kapan bisa kasih cucunya buat mamak? "
Bagas dan Caca tertegun, tampaknya Ayu mengambil serius atas pernikahan mereka hingga menginginkan keturunan pada mereka dengan cara berbulan madu.
"Mamak, bisa nggak sih jangan nuntut beginian dulu sama Bagas? Masalah anak tuh kan rezeki masing-masing, kalo gini terus yang ada malu calon anak kami nanti, lambat jadinya. " keluh Bagas.
"Halah alasanmu, yo ndak tau yo, pokoknya pakai tiket itu buat liburan, ndak tau aku, pokoknya pulang ke sini udah kasih berita bagus. Udah, mamak mau pulang dulu ya, baju belum dijemur soalnya. " pamit Ayu.
"Lah, terus ngapain kesini mak kalau baju belum dijemur? "
Tanpa memberi jawaban Ayu sudah beranjak pergi, ia baru menanggapi pertanyaan Bagas, itupun memakan waktu yang lama.
"Informasi penting harus dijalani, walaupun dalam keadaan genting. " jawab Ayu.
Ayu menaiki motornya kemudian pergi dari rumah Bagas, Bagas menggaruk kepalanya, seperti biasa Ayu akan membuatnya kebingungan dengan kelakuan ibunya sendiri.
"Niat banget sih mamak kamu Gas, kita sampai-sampai dibeliin tiket pesawat buat liburan. "
__ADS_1
"Mamak memang kayak gitu kadang-kadang, terus ini tiket buat jalan jalan kemana ya? "
Bagas dan Caca berpikir bersama, tak lama setelahnya mereka menatap bersamaan dengan menjentikkan tangannya. "Nah, aku tau! "
......................
'Pesawat penerbangan menuju ke Bali akan segera terbang, diharapkan untuk para penumpang memeriksa kembali barang bawaan maupun anggota keluarga masing-masing. '
Caca dan Bagas berjalan dengan santai menggunakan topi pantai serta kacamata hitam mereka, tampaknya mereka menjadi sorotan para penumpang lain.
Kalau urat malu sudah hampir putus, mungkin sangat dicocokkan oleh kedua pasangan tersebut.
"Wih, dah keren belum? "
"Kamu lupa Gas, kita kan selalu keren, pakai kaos oblong aja kita udah keliatan keren di depan rekan kerja. " ucap Caca membanggakan diri.
Kedua pasangan tersebut tertawa, mereka berjalan menuju ke pesawat, kemudian mencari tempat duduk sesuai bangku yang akan ditempati. "Udah lama nggak naik pesawat, sekalinya naik pesawat cuma urusan kerjaan di luar kota. "
"Ya, ini juga mau ke luar kota kok. Jangan kebas ya kakinya, nggak ada tukang urut di dalam pesawat. " ejek Bagas.
Caca memutar mata malas, ia menyenderkan tubuhnya di bangku pesawat dan memandang kaca jendela pesawat.
Selama menempuh perjalanan hingga 2 jam, keluhan dari Caca terdengar di telinga Bagas, mulai dari kebelet ingin buang air kecil, perutnya yang lapar, hingga kaki yang kebas, tak jauh dari pendengaran Bagas.
Bagas merasa terusik, tetapi hanya dalam hati saja ia ingin mengeluh dan merasa bising. Kalau saja berani mengeluh akibat kebisingan di depan Caca, sama saja Bagas sedang mempermainkan nyawanya.
......................
Perjalanan jauh mereka akhirnya membuahkan hasil, mereka telah sampai di bandara untuk menuju ke Bali.
"Taksi! "
Taksi yang dipanggil Bagas akhirnya datang, satu persatu koper berisi barang barang milik Bagas dan Caca dimasukkan dalam bagasi, setelah selesai akhirnya mereka berangkat pergi menuju ke hotel.
Bagas berdecak, sambil bermain gawai ia masih sempat merespon gumaman Caca.
"Ck, baru sampai aja udah mikirin oleh-oleh buat orang rumah. Nanti aja, kita santai aja dulu buat nikmatin liburan kita, sesekali lepas tuh nggak papa kali. " ucap Bagas.
"Iya juga ya, hehe. "
Sesampainya di hotel, pelayan hotel segera menyambut kedatangan kedua pasangan tersebut, membawakan barang barang mereka di troli dan berjalan menuju ke resepsionis hotel untuk memesan sebuah kamar.
"Kesepakatan, kamar pesan 2, pisah kamar. " ucap Caca.
Bagas menganggukan kepalanya, ia kemudian memesan 2 kamar single bed untuk masing-masing menjadi kamar mereka.
"Kamar nomor 239 dan 250, selamat beristirahat. "
Mereka mendapatkan kunci kamar masing-masing, kemudian pergi ke arah lift bersamaan, diiringi oleh pelayan hotel yang membawa koper dan barang barang mereka. "Ngapain naik liftnya samaan? Kan kita beda lantai. "
"Nggak papa juga kali, beda satu lantai aja protes. " jawab Caca.
Caca mendahului Bagas, ia telah sampai di lantai tempat kamarnya tempati. "Ca, abis naruh barang langsung ke bawah ya, kita langsung ke pantai. "
Caca berbalik arah ke lift, ia mengacungkan jempol dan berbalik arah sambil menyeret kopernya ke kamar.
......................
Setelahnya, mereka berdua berjalan bersama menuju ke pantai, suasana menenangkan, ditambah lagi cuaca sore yang diiringi angin sepoi-sepoi, membuat suasana dan mood kedua pasangan tersebut menjadi bagus.
__ADS_1
"Bagusnya kalau di pantai beginian, bikin istana pasir yang besar nih, duh lupa juga bawa ember mainannya si Bagus harusnya. "
"Kayak anak kecil aja kamu, Gas, masih mau mainan pasir. " remeh Caca.
"Wah, nggak salah denger tadi nih? Anak kecil? "
Bagas merubah ekspresi nya menjadi di imut imut kan, dengan suara manja khas anak kecil ia lontarkan pada Caca. "Makacih ya, kakak, acu jadi ceneng dehh... " ucap Bagas.
Caca mengambil pasir, Bagas berhenti bersuara seperti anak kecil dan meminta Caca untuk tidak melemparkan pasir ke arahnya. "Eeh, jangan Ca! "
"Sekali lagi kayak gitu, nih pasir aku masukin ke mulut kamu. Jijik tau nggak! " ucap Caca dengan tegas.
Bagas tertawa, ia kemudian mengikuti Caca yang ingin berjalan ke arah ombak, desiran ombak membuat Caca ingin sekali bermain dengan air dan sesekali menendang ombak air yang datang untuk mendapatkan percikan air asin itu.
"Wah, rasanya pengen mandi deh disini. "
"Pengen mandi? "
Dari belakang, Bagas mendorong Caca yang ingin membalikkan badan ke arahnya, Caca terdorong hingga terjatuh.
Merasa itu keterlaluan, Bagas segera menghampiri Caca dan melihat keadaan Caca yang sudah basah kuyup, ia tahan tawanya dengan membantu Caca berdiri.
"Ca, nggak papa kan? "
Satu pukulan mendarat di bahu Bagas, Caca membalas Bagas dengan pukulan nya, berharap Bagas merasa kesakitan. Tapi, bukan ringis sakit, malah tertawa, Bagas merasa senang dan bahagia bisa mengerjai istrinya itu di hari pertama berlibur.
"Sini, aku bales kamu! "
Bagas berlari, di belakangnya, Caca mengejar laki-laki itu dengan sendal jepit miliknya, tawa keduanya mengiringi suasana indah saat di pantai bersama.
"Nih, rasain nih! "
Caca menepuk-nepuk sendal jepit nya ke arah badan Bagas, Bagas memohon ampun dengan tawanya, dan meminta damai pada Caca.
"Udah Ca, kita damai, kita damai. "
Caca menghentikan pukulannya, ia mendengus kesal dan memakai sendalnya lagi.
"Ca. "
"Apa lagi? "
Bagas mengambil ranting kayu, kemudian menulis sesuatu di atas pasir tersebut.
"Bagas Dwipangga & Binoarca Julaekha Putri, best friend forever. " ucap Bagas sambil menulis di atas pasir pantai.
"Ada yang kurang lagi, Gas. "
"Apa tuh? " tanya Bagas.
Caca mengambil ranting pohon yang ada di pantai tersebut, ia menulis namanya dan nama Bagas di atas pasir tersebut. "Bagas dan Caca, best couple only a year. "
Bagas membaca tulisan tersebut, cukup menyinggung baginya, ia tersenyum miring dan menoyor kepala Caca. "Spoiler banget, kayak trailer film. "
Kedua pasangan tersebut tertawa bersama, mereka duduk di atas pasir bersama, menatap matahari yang tenggelam, terasa romantis. Caca ingin mengabadikan momen tersebut, baru saja mengeluarkan gawai, Bagas berdiri dan berjalan, membuat Caca menatap kebingungan.
"Loh Gas, kamu mau kemana? " tanya Caca.
"Udah magrib, ayo masuk lagi ke hotel, magriban dulu kita, aku yang imamin. "
__ADS_1
Momen indah tersebut menjadi absurd, tetapi karena hal tersebut mengingat akan harusnya melaksanakan ibadah, Caca menyetujuinya dan mengikuti suaminya untuk shalat maghrib berjama'ah.
...****************...