
...Selamat membaca 🍊...
......................
Sebulan berlalu, keluarga Caca dan Bagas sesekali sering main ke rumah kedua pasangan muda tersebut, mereka sekedar melihat keadaan Caca dan sesekali untuk bertanya soal kandungan Caca.
Soal foto kandungan, Bagas dan Caca ambil dari website, mereka mengambil salah satu foto hasil USG dan mengedit nya agar terlihat asli, dan itu dapat meyakinkan keluarganya.
"Sehat sehat ya, cucuku, nggak sabar kami semua lihat kamu lahir, mau digendong gendong. " ucap Nanno.
"Iya, ditunggu ya, bu. " ucap Caca dengan senyumnya.
"Yaudah, kami pamit pulang ya, jaga kesehatan kamu, biar debaynya juga ikutan sehat. " ucap Bima.
"Iya, hati hati di jalan. " Caca mengantarkan kedua orangtuanya sampai ke depan teras, kemudian melihat keduanya pergi dari rumah.
Caca segera bersiap siap, karena ia ingin berangkat ke kantor, ia tidak betah jika di rumah dan itu membuatnya bosan, di rumah hanya jika ada kedua orangtuanya dan Bagas datang ke rumah, maka ia akan menggunakan daster dan berakting sedang di rumah sambil mengelus perutnya yang kosong itu.
Semalam adalah hal yang memalukan untuk Caca sekaligus momen yang lucu baginya, karena Bagas yang panik melihat celana Caca bagian belakang yang menunjukkan noda darah, itu karena Caca yang bulanannya sudah tiba.
Perutnya juga mengeluh sakit, karena ia juga kini sering merasakan sengugut saat haid, padahal sebelumnya belum sama sekali merasakan haid yang sesakit itu.
"Perlu beli kompres tempel kayaknya, sakit banget nih perut. " keluh Caca.
Caca menutup pintu rumah nya dan segera menguncinya, ia langsung berangkat dengan taksi yang telah ia pesan.
......................
"Makasih ya pak. "
Caca keluar dari taksi, perutnya masih terasa sakit, dan juga haid nya terasa lebih lancar bahkan ia takut jika bocor, tetapi ia berpikir untuk segera masuk ke dalam kantor dan memberikan bekal untuk Bagas.
"Ini Gas, bekal buat kamu. "
"Makasih ya Ca, aku balik kerja dulu. "
Bagas menerima bekal yang diberikan oleh Caca, kemudian Caca berjalan ke arah ruangan tempat ia bekerja dengan mengeluh perutnya yang masih sakit.
"Binoarca, akhirnya datang juga, kok kamu terlambat? " tanya salah satu teman kerja Caca.
__ADS_1
"Ada orangtua aku yang mampir ke rumah, makanya aku datang nya lebih lambat dari Bagas. " ucap Caca.
Caca duduk di kursi nya, ia melanjutkan pekerjaan sementara menahan rasa sakit di perutnya.
Tak lama berselang, Caca tidak bisa menahan rasa sakitnya, ia terjatuh dari kursi nya, semua rekan kerjanya langsung berlari ke arah meja Caca.
"Ca, kamu kenapa?! "
"Sakit, perut aku tuh sakit... " keluh Caca.
"Panggil Bagas! Cepat! "
Sebagian membantu Caca untuk duduk, tetapi Caca tidak kuat dan ia terbaring di lantai.
"Gas, itu Caca nya. " Bagas berlari ke arah Caca, ia kemudian mengangkat Caca dengan perlahan, kemudian membawanya ke rumah sakit.
......................
"Pendarahan saat haid ini bisa beberapa faktor, bisa karena gaya hidup tidak sehat, dan kebiasaan tidur terlalu larut malam. Bisa juga anda kena Menorrhagia. Intinya, anda ini kelelahan bisa saja gejala awal kista, diharapkan pola hidupnya diterapkan dan bisa tidurnya dipercepat untuk menstabilkan kondisi tubuh terlebih dahulu. "
Caca diberikan obat pereda nyeri, ia juga disarankan untuk minum air yang cukup dan kontrol waktu tidur.
"Jadiin aja bulanan kamu ini buat alasan, kalau kamu habis keguguran. "
Caca menepuk pipi Bagas, ia tak suka dengan ucapan Bagas barusan. "Heh, enak aja! Ini bulanan, bukan keguguran! " ketus Caca.
"Ya mau gimana lagi, Ca, bulan kemarin kita udah ngaku, kalau kita bakalan jadi orangtua yang baru. Itupun alasannya karena kamu nggak datang bulan untuk bulan kemarin, ditambah lagi soal kamu muntah, menambah meyakinkan mereka kalau kamu lagi hamil. "
Caca mengingatnya, ia juga ikut mengakuinya bersama dengan Bagas, itu karena persetujuan masing-masing yang ingin lepas dari pantauan kakak ipar mereka.
"Yaudah, terpaksa kita datang ke rumah orangtua aku, Gas, aku mau kasih tau ayah sama ibu dulu, baru kita kasih kabar sama orangtua kamu. " ucap Caca.
Bagas menyetujuinya, ia bersama dengan Caca pulang ke rumah orangtua Caca terlebih dahulu.
Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya Caca telah sampai di rumah kedua orangtuanya, ia melihat rumah ibu dan ayahnya yang terbuka lebar, seperti sedang menyiapkan acara.
"Loh, ibu sama ayah ada acara apaan ya ini? " tanya Caca.
"Nggak tau, ayo masuk dulu kita. " ucap Bagas.
__ADS_1
Bagas dan Caca masuk ke dalam, mereka melihat karpet yang sudah di bentang, sementara kursi kursi sudah dipinggirkan di dinding.
"Loh, Caca, Bagas, kok kalian sudah mampir ke sini duluan? " tanya Nanno.
"Iya, padahal baru aja mau di kasih tau dulu, tapi udah datang aja mereka berdua. " ucap Ayu.
Bagas sudah memberikan komando, ia meminta bahwa ia yang akan menjelaskan semuanya kepada kedua orangtua Caca.
Setelah menjelaskan panjang lebar, raut wajah Nanno, Bima, Ayu dan Bayu berubah, wajah kecewa dan kesedihan terlihat dari keriput mereka.
"Baru aja pengen syukuran bareng anak anak panti buat do'a lancarkan dan sehatkan kandungan kamu, denger kabar begini bikin ibu sedih. "
Caca menatap sedih ke arah ibunya, karena ia dan Bagas yang berbohong, membuat kedua orang tua Bagas dan dirinya menjadi kecewa. Caca merasa bersalah, walaupun Bagas lah dalang dari pemikiran bahwa ia hamil sebulan yang lalu.
"Maaf ya bu, Caca kurang perhatiin kandungan Caca kemarin, Caca terlalu memaksa buat bisa kerja. "
"Iya nak, bukan salah kamu juga kok, kamu berjuang buat kebutuhan kamu sehari-hari sama Bagas. Masalah anak, mungkin dia belum ditakdirkan untuk bisa tinggal di perut kamu, Ca. Ibu cuma bisa bilang sama kamu, yang sabar ya nak. "
Caca terbawa suasana, ia akhirnya meneteskan air matanya, kali ini benar-benar di benak hatinya bahwa kebohongan yang Bagas dan ia buat bisa menyakiti perasaan orangtua mereka.
Acara do'a untuk kandungan Caca diubah menjadi syukuran untuk kelancaran pekerjaan Bagas dan Caca, acara do'a bersama tersebut berjalan dengan lancar, walaupun raut wajah kedua orangtua Bagas dan Caca menunjukkan wajah yang berusaha tegar dan kuat menerima kenyataan.
......................
Di dalam mobil, Caca merenung, sementara Bagas fokus dengan jalanan, Bagas merasa ada yang aneh ketika Caca tidak ikut mengobrol dengannya.
"Ca, are you okay? " tanya Bagas.
"Gas, aku merasa berdosa banget udah bohongin mereka semua, padahal udah ada harapan dari mereka karena kebohongan kita, Gas. " ucap Caca.
"Ya terus mau gimana lagi, Ca? Kita udah bikin kesepakatan sebelumnya, kalau kita nggak juga harus sepenuhnya bisa menjadi suami istri, lagipula membuat anak kan butuh dengan cinta yang tulus, bukan asal buat aja. "
Caca tidak mengerti pola pikir Bagas, baginya Bagas sudah terhanyut dalam drama kehidupan yang telah dirancang dan dibuat. Tapi apalah daya Caca, ia juga tidak tahu menahu untuk bisa berumahtangga, lagipula benar kata Bagas, bahwa mereka menikah tidak ada unsur rasa cinta.
Caca hanya bisa diam, ingin menangis tapi tidak tau alasannya apa.
"Maaf Ca, tapi aku minta, sabarlah untuk 5 bulan ke depan ya? Bentar lagi kok, aku bakal tepatin itu semua. " ucap Bagas sambil memegang tangan kanan Caca.
"Terserah kamu, Gas, aku ngikut aja. " ucap Caca.
__ADS_1
...****************...