Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 13


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Hari minggu adalah hari yang Bagas dan Caca tunggu, itu adalah hari dimana Ayu mengajak Caca dan Bagas untuk membuat rujak bersama.


Caca bangun pagi pagi sekali untuk menyiapkan bumbu kuah rujak, sementara buah buahan akan ia ambil di rumah ibunya.


"Ca. "


Caca merespon panggilan Bagas, dari kamar terlihat Bagas yang baru bangun tidur.


"Kamu lagi ngapain, Ca? " tanya Bagas.


"Nyiapin bahan bahan buat kuah rujak, mamak ngajak ngerujak kemarin di rumah ibu, mau ikutan nggak kamu, Gas? " tawar Caca pada Bagas.


"Siapa yang nolak coba? Aku mau ikutan lah. " ucap Bagas.


Bagas masuk kembali ke dalam kamarnya, ia memakai jaketnya dan berlari ke dapur.


"Aku udah siap! " ucap Bagas.


"Euh, kamu mau pergi sama bau badan kamu yang bau banget itu?! Mandi sana, kamu tuh bau! " protes Caca.


Bagas berdecak, sambil melihat Caca ia berjalan perlahan, dengan cepat ia langsung memeluk Caca dengan erat hingga Caca berteriak. "Gas! Kamu bau! "


"Rasain, biar kamu juga bau! Biar kita adil, dan biar kamu juga tau bau suami kamu dari dekat! " ucap Bagas dengan semangat.


Setelahnya, Bagas langsung melepaskan pelukannya, Caca bernafas lebih dalam dan mencium bajunya, bau badan Bagas akhirnya menular kepadanya.


"Ih, badanku bau gara gara kamu, Gas! " teriak Caca.


"Biar adil, biar kamu bisa ngerasakan bau suami kamu sendiri itu kayak gimana. Bau suami juga baunya istri. " ucap Bagas dengan santai.


"Udah ah, kita pergi sekarang, nanti ditunggu sama mereka semua di sana. "


Bagas mengangkut alat yang sudah disusun oleh Caca, kemudian mereka masuk kedalam mobil dengan Caca yang mengeluh bau badan yang tidak enak di dalam mobil.


"Gas, bau banget! "


"Iya bawel, nanti aku mandi di sana, nggak usah protes kayak gitu. " jawab Bagas.


Bagas membuka kedua kaca jendelanya, agar bau badannya bisa diatasi dengan angin yang masuk ke dalam mobil.


"Udah, nggak bau lagi. " ucap Bagas.


Caca berdecak, ia memutar matanya dengan malas, dan memerintahkan Bagas untuk segera pergi.


......................


Setelah beberapa menit perjalanan menuju ke kediaman keluarga Caca, akhirnya Bagas dan Caca sudah sampai, dengan mobil milik Bintang yang terparkir di depan halaman rumah orangtua Caca.


Terlihat di depan teras, para bapak bapak yang mengobrol dengan kopi dan rokok ditangan masing-masing, duduk santai di kursi yang ada.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, duh, akhirnya anggota keluarga kita satu lagi udah datang, masuk dulu. " ucap Bimo.


"Eh, Bagas diajak ngobrol sama kita aja dulu, biar Caca ke dalam bareng ibu ibu. " ucap Bayu.


Bagas menatap ke arah Caca, akhirnya Caca mengizinkannya untuk bergabung dengan bapak bapak.


"Iya, Caca titip Bagas nya buat diajak ngobrol, tapi jangan ajak dia ngerokok, Caca larang dia buat ngerokok. "


Bintang mengejek Caca yang melarang adiknya untuk merokok, Caca dengan kesal menepuk bahu kakak iparnya, dan Bintang hanya tertawa dengan Caca yang kesal padanya.


"Artinya Caca sayang sama Bagas, Bin, makanya dia ngelarang Bagas buat ngerokok. " ucap Bimo.


"Aku nggak sayang sama dia, cuma ngasih tau aja! " ucap Caca dengan kesal.

__ADS_1


"Sudahlah, kalau kamu marah artinya sayang, udah, bantu ibu sama mamak kamu ngerujak di dalam, Ca. " perintah Bayu.


Caca masuk ke dalam rumah, ia bertemu dengan ibu dan mamak Bagas, Nanno dan Ayu, yang tengah mengupas buah buahan dan menyusunnya di atas tampah yang sudah dialasi oleh plastik.


"Eh, mantuku sudah sampai, sini nak duduk, yang disuruh tadi kami bawa kan? " tanya Ayu.


"Udah mak, ini yang mamak pesan tadi. " ucap


Caca sambil mengeluarkan berbagai barang yang ia bawa. "Mana kak Bian, mak? "


"Dibelakang dia sama Brama, katanya mau bikin ayam panggang buat makan siang, ya mamak suruh aja, dia udah selera banget bikin ayam panggang dari malam tadi. " ucap Ayu.


Caca menganggukan kepalanya, ia kemudian membantu kedua ibunya itu untuk menyiapkan bahan untuk rujak.


"Ada yang kurang ini kayaknya... " Nanno menatap ke arah Caca yang sedang memainkan gawai.


"Ca, kamu sama Bagas nganggur nggak? " tanya Nanno.


Caca menanggapi pertanyaan ibunya. "Kayaknya iya, Caca panggil dulu dia. "


Caca bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah depan. Sebelumnya, Caca melihat kondisi, dan ia melihat Bagas yang sedang bermain game ditengah obrolan bapak bapak.


"Gas." panggil Caca.


"Iya Ca, ada apa? " tanya Bagas.


"Gas, kamu dipanggil sama ibu aku. "


Bagas berdiri, ia mengikuti Caca menuju ke dalam rumah untuk menghampiri Nanno.


"Kenapa bu? " tanya Bagas.


"Ibu minta tolong sama kamu dan Caca, Gas, ambilin jambu air yang ada di belakang rumah, hampir lupa petik tadi. " ucap Nanno.


Bagas dan Caca menganggukan kepalanya, mereka pergi ke belakang, sebelumnya Caca mengambil keranjang untuk menaruh jambu yang sudah dipetik.


"Itu Gas, tapi hati hati ya, soalnya licin. " ingat Caca.


Bagas menaiki pohon jambu air tersebut, ia dengan perlahan melangkah sambil mencari dahan yang pas untuk ia injak. "Pelan pelan, Gas, langsung lempar aja ke keranjang jambu airnya. "


Saat di atas pohon, awal awal Bagas masih serius untuk memetik buahnya, mungkin karena ada penunggu di pohon jambu air tersebut, ia ingin berbuat iseng kepada Caca.


Dari atas ia melihat Caca yang sedang fokus untuk menjadi wadah memegang keranjang jambu air, ia sesekali melempar satu buah jambu tersebut hingga mengenai wajah Caca.


"Duh, Bagas! "


"Kenapa Ca? Ada apa di bawah? " tanya Bagas seolah tidak terjadi sesuatu.


"Buahnya kena muka aku, aku kurang perhatiin dari atas ya buahnya pengen jatuh? " tanya Caca kebingungan.


Kebingungan Caca membuat Bagas menjadi senang, ternyata Caca sedang polos, ia akhirnya kecanduan untuk mengerjai istrinya itu lagi dari atas.


Keluhan terdengar dari bawah, sedangkan Bagas tersenyum puas dan sesekali cekikikan dengan rencananya.


Setiap niat jahat pasti akan ada balasannya, kaki Bagas tergelincir dahan pohon yang licin, ia terpeleset dan terjatuh ke bawah tak jauh dari Caca berdiri.


"Aduh duh duh duh duh! "


Caca terkejut, ia menaruh keranjang berisi jambu air di tanah dan berlari membantu Bagas yang terjatuh dari pohon. "Gas, kamu kenapa bisa jatuh begini?! " tanya Caca dengan panik.


Dari kejauhan, Bintang, Bianca dan Brama berlari ke arah pohon jambu air, mereka mendekat karena mendengar suara yang jatuh.


"Ada apa ini?! Tadi nggak salah kami dengar suara jatuh, siapa yang jatuh?! " tanya Bagus sambil berlari.


"Bang, Bagas jatuh dari pohon...! " ucap Caca dengan panik.


"Ca, sakit! " teriak Bagas.


Bintang dan Brama membantu Bagas untuk berdiri, dengan kaki yang pincang, Bintang dan Brama berjalan tergopoh gopoh ke dalam.

__ADS_1


"Mak, telpon tukang urut. " perintah Bianca.


"Kenapa? Astaghfirullah, Bagas kenapa? " tanya Ayu dengan cemas.


"Bagas jatuh dari pohon jambu, tolong telpon kan tukang urut. " jawab Caca.


Semua orang menjadi panik, hingga bapak bapak yang ada di depan teralihkan perhatiannya dengan suara ribut di dalam, mereka akhirnya memanggil tukang urut yang tak jauh dari rumah keluarga Caca.


Tak lama kemudian tukang urut yang dipanggil akhirnya datang, dengan minyak dan segala macam ia bawa ke rumah. "Mana yang sakit? " tanya tukang urut tersebut.


"Suami saya, dia habis jatuh dari pohon, kaki sama tangannya kayaknya terkilir, pak. " jawab Caca yang berada di samping Bagas.


Nanno mengambil bantal untuk menjadi sandaran Bagas, walaupun begitu, Bagas memilih paha Caca untuk menjadi sandaran nya.


"Saya mulai ya. "


Perlahan tukang urut tersebut mengoleskan minyak urut ke pergelangan kaki Bagas, dengan perlahan tukang urut tersebut memijat kaki Bagas, teriakan terdengar di telinga orang-orang di rumah.


"Ca, sakit Ca...! " teriak Bagas.


Bagas memeluk pinggang Caca dan sesekali menyembunyikan wajahnya di pelukan Caca, kakinya yang terkilir diurut oleh tukang pijat, membuatnya berteriak kesakitan.


Caca yang cemas dengan keadaan Bagas hanya bisa mengelus punggung Bagas, meminta Bagas untuk bisa menahan rasa sakit tersebut.


"Sabar Gas, namanya musibah begini, kamu tahan dulu bentar. " ucap Caca dengan cemas.


Caca memeluk Bagas, sedangkan ia sedih melihat Bagas berteriak kesakitan dengan kaki dan tangan yang terkilir, seakan batin mereka saling terikat dan bisa merasakan.


......................


Sejam lamanya diurut, akhirnya Bagas selesai di urut, dengan peluh air mata di pipinya akhirnya selesai.


Bagas terbaring lemas di pangkuan Caca, sedangkan Caca mengipas-ngipasi Bagas agar Bagas bisa lega. "Terimakasih ya pak, ini dari saya. "


"Iya, sama sama pak, kalau begitu saya permisi. " pamit tukang urut tersebut.


Semua orang di rumah melihat Bagas, sesekali mereka bertanya kondisi Bagas sekarang.


"Gas, udah, yok berdiri sekarang. " ajak Caca.


"Nggak, aku lagi nyaman di pangkuan kamu, Ca. " tolak Bagas.


Nanno mengambil sepiring buah yang sudah ia tambah dengan kuah rujak, ia menyuruh Caca untuk menyuapkannya kepada Bagas.


"Ini Ca, suruh suami kamu makan dulu, biar dia tenang. Yang lain boleh di makan buahnya. " ucap Nanno.


Semua orang bergerombol melihat Bagas yang habis diurut terbaring lemas di pangkuan Caca, sambil memakan rujak mereka melihat Bagas layaknya sebuah atraksi wisata.


"Buka mulut nya, Gas, kamu kan mau cicip rujak buatan ibu sama mamak. " ucap Caca.


Bagas memakan buah yang sudah diolesi bumbu rujak, dengan santai memakannya dan mengunyah nya, kemudian meminta disuapkan lagi.


"Maaf ya Ca, gara-gara aku iseng tadi, makanya aku dapat karma instan. " ucap Bagas.


"Loh, maksudnya? " tanya Bayu.


"Bagas tadi iseng, jadinya kualat sama Caca. " ucap Bagas.


"Tuh kan, kualat kamu, kamu dimarahin sama penunggu pohon jambu air di rumah ini, soalnya pohon jambu itu kesayangannya Caca dan selalu Caca rawat setiap hari libur. Kamu iseng sama Caca, sama aja kamu bikin penunggu nya marah. " ucap Bimo.


"Jadi iseng ya? Nih, makan sendiri, aku mau gabung sama yang lain. " ucap Caca.


Caca meninggalkan Bagas yang terbaring, ia memilih bergabung dengan yang lainnya, dan membiarkan Bagas terbaring lemas di atas karpet.


"Ca, Caca, aku minta maaf.... Aku mau disuapin sama kamu lagi, Ca... " rengek Bagas.


Semua orang di rumah tertawa melihat Bagas yang merengek, sedangkan Caca hanya melihat Bagas sambil memakan buah yang sudah diolesi bumbu rujak.


"Rasain, emang enak? " ejek Caca.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2