Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 06


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


"Tolong nih berkas nya. "


"Nggak salah hitung nih kan? "


Caca dan Bagas sedang fokus bekerja, mereka bekerjasama mengerjakan pekerjaan mereka. "Nggak lah, Ca. Nih, aku udah hitung di kertas. "


Caca mengambil kertas yang menjadi hitungan dari berkas yang dikerjakan Bagas, ia merasa pusing dan bingung dengan hitungan Bagas, sudah seperti coret coretan.


"Gas, coba kalau bikin hitungan itu nggak usah kayak grafiti, kayak gini kamu suruh aku periksa ulang, mana bisa aku. " omel Caca.


"Dih, manja betul. "


"Bukan masalah manja, aku ngasih tau! " kesal Caca.


Bagas menatap Caca, dengan senyum mengejek dan tawa mengolok.


"Keliatan banget kalau lapar, kamu lapar ya, Ca? "


"Dih, apa hubungannya sama lapar? " ketus Caca.


"Biasanya kan Caca ini ngomel kalau nggak berantakan rumah, pastinya lapar, iya nggak? "


Caca berdecak. "Ya, nggak usah pesen makanan, ngabisin uang aja. Kita ke pasar aja hari ini. " ucap Caca.


"Ke pasar? Kamu aja kalo gitu, aku lagi nggak mood mau pergi ke mana mana, lagi sibuk. "


Bagas kembali memutar badannya ke arah laptop nya, Caca tidak bisa menerima penolakan, ia langsung menarik telinga Bagas untuk mengikuti nya.


"Aduh duh! Ca, sakit! " ringis Bagas.


"Biarin, banyak alasan sama aku, aku bisa main kasar. " ucap Caca dengan cuek.


Suasana pagi yang sejuk, ditambah ramainya kaum manusia, menambah lengkap suasana pasar pagi hari itu.


"Rame banget, Ca, yakin kamu bisa nemuin sayuran yang kamu mau disini? "


"Ngikut aja kenapa sih, rewel banget mulutnya! " kesal Caca.


Bagas berdecak, ia tidak bisa kabur, lengannya sepenuhnya telah digandeng oleh Caca layaknya suami istri yang tengah berjalan bersama mencari sayuran di pagi hari.


Jalanan yang cukup becek, ramai pembeli, ditambah lagi mulut Bagas yang tak berhenti bersuara dan mengomel, membuat kepala Caca pusing tujuh keliling.

__ADS_1


Menurutnya, lebih baik tadi tidak usah mengajak Bagas, akan mudah mengingat bahan bahan makanan yang akan ia beli. Tetapi sekali lagi ia berpikir, jika saja kalau tak mengajak Bagas, siapa lagi babunya untuk diperintah, diarahkan dan tukang suruh angkat barang selain Bagas sendiri.


"Tuh Ca, bahan yang kamu cari kan? " tunjuk Bagas ke arah ikan tongkol yang terjejer.


"Eh, iya. " Caca menarik tangan Bagas, ia berjalan menuju stan jualan ikan laut segar.


Membeli ikan saat pagi hari itu sangat menguntungkan, selain segar, dan juga baunya tidak akan seamis saat siang atau sore hari, dan juga tidak akan merontokkan punggung jompo Bagas dan Caca.


"Sekilo aja. " ucap Caca pada pedagang ikan.


Bagas menatap ke arah ikan yang dipotong kemudian ditimbang, seperti anak kecil yang baru melihat ikan yang dipotong untuk dijual.


"Mau masak apa kamu hari ini, Ca? "


"Rencananya sih sambel ikan sama tumis kangkung, hitung hitung kegiatan awal pengantin baru kayak kita. " jawab Caca.


"Begitu, kalau sekarang baiknya kita cari cabe lagi. "


Caca menjentikkan tangannya sembari tersenyum. "Ide bagus, sekarang pegang ikan ini. "


Caca menyerahkan sekantong plastik yang berisi ikan tongkol, ia berjalan mendahului Bagas, kemudian langkahnya disusul oleh Bagas.


......................


Memakan waktu sejam lebih di area pasar, Bagas dan Caca memutuskan untuk pulang, sebelum pulang ada yang menarik di mata mereka, yaitu penjual kue dan gorengan yang identik dengan kue sarapan pagi.


"Itu mah bolu kukus, Gas, kalau selera ambil aja. "


Tanpa ancang-ancang, tangan Bagas meraih ke kue, Caca tak tinggal lengah dan langsung memukul tangan Bagas menggunakan capitan kue.


"Duh, kenapa sih? " ringis Bagas.


"Jorok! Nih, capit nya ada, kenapa masih mau ngambil pake tangan?! " tegur Caca.


Bagas mendengus kesal, ia mengambil capit tersebut kemudian memilih kue dan bermacam gorengan yang ia inginkan. "Sudah semua kan? "


"Siapa bilang udah? Tuh, angkat lagi plastik tadi, masa aku yang disuruh angkat itu semua? " perintah Caca pada Bagas.


Decak kesal dilontarkan oleh Bagas, wajah tidak ikhlasnya sambil mengangkut plastik berisi sayuran yang dibeli tadi, ia juga mengikuti Caca yang berjalan santai ke arah mobil.


......................


"Hahaha, akhirnya sampai juga ke rumah. "


Caca tertawa bahagia, sedangkan Bagas yang menggeram keberatan mengangkat barang barang yang dibeli, termasuk ia juga membawa peralatan dapur baru yang dipesan oleh Caca.

__ADS_1


Enak sekali Caca, tanpa repot memikirkan mengangkat barang, ia juga tidak perlu mengeluh ucap Bagas di dalam pikiran nya.


"Udah, ini susun sendiri ya, aku mau lanjut kerja. "


Kerah baju Bagas ditarik dari belakang, siapa lagi kalau bukan pelakunya adalah Caca.


"Mau kabur kemana bos? Bantu masak dulu, mau enaknya doang ya aku juga mau. "


"Dih, itu kan... "


"Apa? Tugasku karena aku cewek? Hei, kesepakatan bersama kemarin kamu buang kemana? " tanya Caca dengan nada mengintimidasi.


Bagas mengalah, ia memilih mengikuti kehendak Caca, walaupun hatinya tidak ikhlas ketika berada dibawah naungan perintah istrinya itu.


"Cabenya dipisahin dari tangkainya, aku bakal cuci ikannya, nanti aku bantu kupas bawangnya. " tunjuk Caca mengarahkan Bagas.


Kedua pasangan tersebut sibuk di dapur, mereka tampak kompak walaupun Caca sesekali mengomentari Bagas yang dinilai tidak ikhlas membantunya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya masakan mereka sudah jadi, ditambah dengan perut Bagas yang sudah mengeluarkan bunyi yang ribut, akhirnya mereka memutuskan untuk makan bersama.


"Nih, sesuai request kamu tadi, maunya ada sayur bayam. "


Caca mendorong mangkuk berisi sayur bayam bening yang telah dibuatnya, dengan senang hati Bagas menyendokkan sayur bayam tersebut ke piringnya, diikuti dengan sambal ikan.


"Kacau! Kacau banget! " teriak Bagas.


"Kenapa? Apanya yang kacau? " tanya Caca.


Bagas menyodorkan kedua jempol tangannya, ia memberikan apresiasi atas kenikmatan masakan yang telah dibuat oleh Caca.


"Makanannya enak, ternyata kamu pinter masak ya, Ca. " puji Bagas.


Caca tersenyum malu, ia mendapatkan pujian dari sepupunya alias suaminya untuk pertama kalinya. "Biasa aja, Gas, sama sama. "


Kedua pasangan tersebut menikmati makanan, bercerita hanya seputar keluarga dan pekerjaan, tak lupa juga dibarengi oleh tawa keduanya.


Selesai makan, Caca dan Bagas merasa lega, mereka bisa makan hingga habis dan merasa puas dengan makanan yang sudah dimakan. Caca menyusun satu persatu piring bekas makanan, ia menaruhnya di wastafel dengan merenggangkan tubuhnya dan mengecak kedua tangannya di pinggang.


"Nah, kalau begini, sekarang sesi mencuci piring nih. Kamu, Ga—" Caca berbalik arah, namun sosok Bagas langsung menghilang dari kursi sebelumnya, Bagas kabur sebelum diperintah.


Hal tersebut membuat Caca berdecak kesal, sesekali ia menghentakkan kedua kakinya dan mengumpat Bagas sebagai lelaki pemalas.


"Huh! Giliran ada maunya pasti mujiin orang, giliran diperintah sedikit langsung kabur! Mana tadi pujiannya?! " kesal Caca.


Akhirnya Caca yang mendapat tugas membersihkan dapurnya sendiri, sedangkan Bagas kabur menuju ke ruang kerja untuk bermain game.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2