Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 26


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Seminggu berlalu, persidangan akhirnya telah dimulai, pihak keluarga Bagas dan Caca berkumpul, serta Bagas dan Caca berpisah tempat duduknya, di depan hakim mereka mengungkapkan semuanya dan menjawab pertanyaan dari hakim.


Untuk sementara, alasan Bagas dan Caca untuk bercerai disimpan terlebih dahulu, karena kriteria alasan mereka bercerai masih kurang detail dan butuh penjelasan.


Disaat anak yang menentukan hubungan nya, disitulah kedua orangtua mereka renggang, antara mereka saja saling tak sudi bertatapan, mereka fokus akan pilihan anak anak mereka sendiri.


"Yang kuat ya, Gas... "


Jenni ikut serta dalam mendukung Bagas, ia senantiasa menemani Bagas dalam sidang perceraian.


Dari kejauhan, Caca hanya bisa terdiam, perasaannya tergores ketika Bagas memang menemukan pengganti dirinya, sepenuhnya diganti oleh Jenni yang terus terusan mendampingi Bagas.


"Tidak usah dilihat, fokus saja sama keputusan ini, Ca. " ucap Bimo.


Caca menganggukkan kepalanya, Caca memang sendiri untuk sekarang, tetapi ia memiliki dukungan dari kedua orang tuanya.


......................


"Ca, kamu mau makan dimana? " tanya Nanno.


"Di Swaspeta dong, bu, di sanakan tempat makannya baru loh, bu. " jawab Caca bersemangat.


"Oke, kita kesana dulu kalau gitu ya. "


Keluarga Caca memutuskan untuk pergi ke tempat makan yang dituju, Nanno sengaja mengajak Caca untuk makan agar Caca bisa merasa sedikit tenang selepas persidangan tadi, Nanno tau hampir seminggu lebih ini anaknya dilanda stress karena memikirkan perceraiannya.


Bimo dan Nanno berusaha menghibur anaknya yang tengah diambang patah hati dan tak punya tujuan, karena mereka tahu sekarang yang dibutuhkan oleh Caca adalah mereka berdua.


Caca tertawa lepas, hari ini ia bisa menikmati waktu bersama kedua orangtuanya di tempat makan keluarga yang termasuk mewah itu.


"Fotoin Caca disini dong, yah. " ucap Caca kepada Bimo.


"Boleh, sini, ayah fotoin. "


Bimo mengambil gawai milik Caca, Caca bergaya di dekat patung yang terkesan unik, tak bisa ia lewatkan dan ia perlu foto di dekat patung tersebut.


"Ini gimana? " tanya Bimo.


Caca melihat hasil jepretan ayahnya, ia kagum dan memuji hasil jepretan ayahnya kemudian mengucapkan terimakasih.


"Caca mau ke wc dulu, udah kebelet. " ucap Caca.


Bimo dan Nanno menunggu di dekat patung tersebut, Caca berlari ke arah wc yang tak jauh dari lokasi tempat makan tersebut.


"Uhh, leganya. "


Saat ia keluar dari kamar mandi, tak sengaja ia bertemu dengan wanita yang tidak asing baginya, wanita tersebut sedang mencuci tangannya di wastafel, itu adalah Jenni.


"Loh... "


"Ada apa, Ca? " tanya Jenni.


"Kamu kesini, berarti... "


"Aku sama Bagas makan disini, Ca, kebetulan tempat baru. Lagipula tadi Bagas yang ajak makan, Ca. " jelas Jenni.


Caca menganggukan kepalanya, ia tersenyum dan mendahului Jenni yang sedang mencuci tangannya.


Saat berjalan menuju ke patung tempat orangtuanya menunggu, Caca merenung, hingga hampir bersenggolan dengan pegawai yang tengah mengantarkan makanan.


"Hati-hati jalannya, mbak. " tegur pegawai tersebut.


"Maaf mas. " ucap Caca.


Caca menghampiri kedua orangtuanya, ia dengan raut wajah kecewa mendekati kedua orangtuanya yang sedang mengobrol.


"Ca, kenapa? " tanya Bimo.


"Kita pulang aja yuk, ayah, ibu. " ajak Caca.


"Loh, kok mau pulang, kan kamu—"


"Bagas sama pacarnya ada di sini, Caca mau pulang...! " ucap Caca.


Bimo dan Nanno ikut terkejut mendengar nya, mereka menganggukkan kepalanya dan mengajak Caca untuk pulang.


"Ya sudah, ayo kita pulang, ayah nggak mau kamu ketemuan lagi sama Bagas. " ucap Bimo.


Keluarga Caca memutuskan untuk pulang, mereka langsung menaiki mobil yang ada di parkiran dan meninggalkan tempat makan tersebut.


Di lain sisi, makanan yang telah dipesan oleh Bagas dan Jenni sampai, Bagas menunggu kedatangan Jenni yang sedang mencuci tangan.


"Hmm, enak banget nih, Jen. "


"Aku lama ya? " tanya Jenni.

__ADS_1


"Ah, nggak, biasa aja sih, hehe. " jawab Bagas.


Keduanya makan bersama, tetapi raut wajah Jenni seperti panik, Bagas menyadarinya dan bertanya dengan Jenni.


"Jen, are you okay? " tanya Bagas.


"Ah, iya Gas, aku lagi nikmatin makanannya, makasih udah ajak aku ke sini ya. " ucap Jenni.


Bagas tersenyum, ia mengelus tangan Jenni. "Sama sama, Ca. "


"Hah, siapa?! " tanya Jenni terkejut.


Bagas keceplosan, ia hampir menyebut nama mantan istrinya di depan pacarnya sendiri. "Salah ngomong, maaf ya. "


"Hm, yaudah, aku maafin. " ucap Jenni agak kesal.


Kedua pasangan tersebut makan dengan lahap, walaupun Jenni masih merasa kesal ketika Bagas menyebut Caca di depannya.


......................


'Caca, mau magrib, jangan tidur. '


Caca terbangun dari tidurnya, ia merasa badannya tidak enak, ditambah lagi kepalanya yang pusing, membuatnya ingin muntah.


"Duh, kok rasanya gini ya? Apa karena makan seafood di Swaspeta tadi ya? "


Lambungnya terasa naik, Caca benar-benar ingin muntah, sesegera mungkin ia berlari ke bawah menuju ke kamar mandi.


"Hoekk! "


Mulutnya terasa pahit, Caca duduk di kloset, ia memijat kepalanya yang terasa pusing, kemudian bersandar di dinding.


"Duh, seafood ku terbuang sia sia, sedih... "


Caca mengambil air wudhu, karena ia ingin menjalankan shalat maghrib nya, kemudian memutuskan untuk tidur karena merasa badannya kurang enak.


"Jen, pulang yuk, udah malem nih. " ucap Bagas.


Jenni memeluk lengan Bagas, ia menganggukkan kepalanya dan menyetujui ajakan Bagas, mereka memutuskan untuk langsung pulang, sebelumnya Bagas akan mengantarkan Jenni ke kosannya.


Di sepanjang jalan, Jenni berusaha mencairkan suasana, Bagas menghargai obrolannya bersama Jenni walaupun di pikirannya tetap mengarah kepada Caca.


Dua hari sebelumnya, Bagas bermimpi Caca yang menggendong seorang bayi dalam keadaan menangis, membuatnya tambah terpikir dengan keadaan Caca, apalagi mereka yang akan berpisah setelah keputusan diterima dan dipertimbangkan terlebih dahulu.


Bagas terpikir, akankah mimpinya itu akan jadi nyata, atau ia hanya bermimpi dan melanjutkan hubungan nya dengan Jenni.


"Gas, Bagas...! " panggil Jenni.


"Hampir aja kamu mau nerobos lampu merah, Gas. Kamu ngelamun ya? " tanya Jenni.


"Nggak, cuma ngerasa ngantuk aja sih, makanya kelihatan kalau aku melamun. " ucap Bagas.


"Begitu, yaudah, nanti nggak usah masuk ke gang tempat kosan aku ya, biar turun aja depan gang. "


Bagas menganggukkan kepalanya, segera ia mengantarkan Jenni menuju ke kosannya.


......................


Caca terbangun dari tidurnya, kali ini tidak ada suara ayah maupun ibunya yang membangunkannya, Caca merasa bahwa itu aneh, ia perlu memeriksanya sendiri.


Tak lama setelah itu, Caca merasakan mual, sekujur tubuhnya merasakan lelah dan lemas, ia langsung berlari ke bawah menuju kamar mandi.


Belum sempat sarapan atau apapun, ia telah memuntahkan isi dalam lambungnya.


"Perasaan malam tadi juga muntah muntah, duh, capeknya kalau gini terus... Ini pasti asam lambung ku kumat lagi. "


Caca keluar dari kamar mandi, ia kemudian melihat catatan yang ada di kulkas, catatan dari ibunya, memberitahu bahwa kedua orangtuanya pergi ke rumah neneknya untuk membantu acara do'a, mungkin nanti malam akan pulang ke rumah.


"Sudah kesiangan, baiknya langsung aja ke kantor kalo gitu. "


Caca bersiap siap, ia tidak sarapan terlebih dahulu, karena ia ingin segera pergi ke kantor dengan perut yang kosong. Dengan menggunakan kendaraan taksi, Caca masuk ke dalam kantor.


Saat melintasi lorong, di ruangan tempat Bagas bekerja, Caca tak sengaja melihat Bagas dan Jenni duduk memakan makanannya bersama, mereka terlihat romantis dengan makanan mereka.


Caca memalingkan wajahnya, hatinya tergores kembali, ia tidak sanggup melihat mantan suaminya sedang bermesraan tak jauh darinya.


Caca merasakan sesuatu, ia menutup mulutnya, terasa bahwa ia ingin muntah, segera Caca berlari ke kamar mandi di lorong belakang kantin.


Caca memuntahkan semuanya, perutnya terasa dikuras habis.


"Ughh, gila, muntah terus... " keluh Caca.


Caca memasuki ruangan, Indah menyambut Caca yang baru sampai di kantor.


"Halo Ca. " sapa Indah.


"Iya, Ndah, halo... " balas Caca dengan pelan.


"Ngapain Ca? Setoran? "

__ADS_1


Caca menatap lemas ke arah temannya, ia menggelengkan kepalanya. "Aku muntah, mual banget rasanya nih perut. " keluh Caca.


"Hamil kali, si Bagas heboh kek nya, sekali atraksi bisa langsung jadi. "


Caca melemparkan kertas gulung yang ada di atas meja ke arah temannya. "Kamu ndah, nggak usah nakutin aku kayak gitu lah, kan kamu udah tau sendiri aku sama Bagas bentar lagi mau pisah. " ucap Caca dengan nada khawatir.


Indah menatap datar ke Caca. "Coba iseng buat belinya, Ca, kamu harus tau terlebih dahulu, aku juga yakin, nggak mungkin selama kalian nikah belum sama sekali kayak gituan. Bagas tuh laki-laki dewasa, Ca. " jelas Indah.


Caca awalnya ragu, tetapi untuk membuktikannya, ia akan membelinya ketika pulang nanti.


......................


Seharian Caca harus tahan banting dengan pemandangan yang selalu ia lihat, bahwa Bagas dan Jenni berseliweran lewat di lorong kantor, Caca saja tidak fokus untuk mengerjakan proyeknya.


Sebelumnya, Caca berpikir untuk membeli alat yang ditunjuk oleh Indah tadi, prakiraan Indah membuatnya penasaran sekaligus gemetaran dengan hasilnya.


Apotik tidak jauh dari kantornya, hanya berjalan saja sudah dekat.


"Selamat datang, ada yang dicari? " tanya apoteker tersebut.


"Mbak, ada alat ini, nggak? "


Caca menunjukkan foto berupa alat testpack, apoteker tersebut menganggukkan kepalanya dan mengambil beberapa macam testpack, mulai dari yang biasa dan yang bagus untuk digunakan.


Caca tanpa pikir panjang memilih alat testpack yang sedikit mahal, karena ia ingin segera mengetahui keadaan dirinya saat ini tanpa berkali-kali mengeceknya.


"Terimakasih." ucap Caca.


Sesampainya di rumah, Caca membuka pintu rumah nya, saat masuk ia memantau keadaan rumah, masih gelap dan lampunya belum sama sekali dinyalakan, pertanda bahwa orangtuanya belum pulang sama sekali.


Dengan segera Caca ke kamar mandi, kemudian Caca membaca panduan yang ada di kotak testpack tersebut.


Caca membeli alat tes urine, untuk memastikan yang sebenarnya. Menunggu beberapa saat, ia mengambilnya dan menatap nya, ekspresi tertegun terpancar di wajahnya.


"Hah?! Aku... "


......................


"Gas, ini, kripik khas dari daerahku, semoga kamu suka, ya. "


Jenni memberikan plastik yang berisi kripik, Bagas dengan senang menerimanya dan menaruhnya di kursi samping mobilnya.


"Yaudah, aku pulang ya, Jen. Makasih oleh-oleh nya. "


"Ya, sama sama, hati hati dijalan ya. " ucap Jenni.


Bagas bergegas untuk pulang. Bagas memperpanjang kontrakan rumahnya, karena ia tidak betah berada di rumah orangtuanya, secara Bayu dan Ayu menatapnya dengan wajah tak senang, mungkin karena perceraiannya yang membuat kedua orangtuanya kecewa.


Caca mondar-mandir tidak jelas, air matanya berlinang, ia kemudian duduk di tepi ranjang dan melipat kedua tangannya.


Caca khawatir dengan dirinya kedepannya, karena hasil menunjukkan bahwa ia tengah hamil, dan sekarang juga ia tengah mengurusi perceraiannya dengan Bagas.


Sebuah bencana bagi Caca, saat ingin berpisah, secara mengejutkan ia sedang hamil, Caca tidak bisa terima dengan secepat itu.


Caca mencari nomor Bagas di gawainya, tangannya gemetaran saat ingin menelepon Bagas, ia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


Tak lama, panggilan tersebut diangkat, Caca harap harap cemas menjelaskan semuanya dengan Bagas.


"Halo Gas... "


'Halo, ada apa? " tanya Bagas.


Caca menghirup nafasnya, dengan keberanian nya ia menjelaskan yang terjadi padanya sekarang.


'Hamil?! '


Caca menangis, ia menutup mulutnya dan menangis histeris.


"Gas, gimana ini? " tanya Caca dengan sesenggukan.


Bagas yang berada di seberang terkejut dengan ucapan Caca, rasa campur aduk sekarang menyatu.


"Ca, kamu serius kan ini? " tanya Bagas meyakinkan.


'Gas, kamu nggak mau tanggungjawab? '


"Bu—bukan seperti itu maksudnya, Ca... Duh, bagaimana ya cara menjelaskan nya? " ucap Bagas kebingungan.


Suara tangis terdengar dari gawai, sedangkan Bagas hanya memikirkan ucapan Caca, yang kini mengaku sedang hamil.


'Gas, kamu nggak mau tanggungjawab karena sudah ada Jenni kan, Gas? '


"Ng—nggak, Ca... "


'Nggak papa, Gas, maaf kalau aku kasih kabar begini saat kita udah mau cerai. Kamu nggak papa kok pergi, masalah bayinya nanti aku aja yang urus kalau kamu nggak—'


Bagas tidak senang, ia secara spontan menolak ucapan Caca.


"Nggak, aku bakalan tanggungjawab. "

__ADS_1


...****************...


__ADS_2