
...Selamat membaca 🍊...
......................
Dua bulan berlalu, masa masa panjang mereka lewati bersama, walaupun harus ada keributan yang sepele yang membuat mereka kadang-kadang seperti anak kecil.
Berkelahi sudah menjadi bahan lengkap rumah tangga mereka, ditambah lagi ribut kemudian mogok ngobrol, itu sudah menjadi kebiasaan mereka berdua.
"Ca, jangan lupa, kotak makan ibu kamu dibalikin. Kamu tau kan itu kotak makan itu aset berharga emak emak. "
"Cuma kotak makan doang, iya, nanti aku balikin. " ucap Caca.
"Bekal jangan lupa dibawa, kamu ngerokok ya? "
Bagas terkejut, ia dituduh merokok oleh Caca. "Nggak, nih kalau mau cium. Hah! "
Bagas menguap di hidung Caca, pipinya ditepuk oleh Caca, bau hawa nafas yang bau bagi Caca, membuat Caca menutup hidungnya.
"Bau! " teriak Caca.
"Biar percaya aja, cuma hawa naga, nggak ada campur tangan bau rokok di mulut aku. " jelas Bagas.
Rutinitas mereka hanyalah bekerja, kegiatan membosankan itulah yang membuat mereka mendapatkan uang, tanpa pekerjaan itu bagaimana mereka bisa makan dan tinggal di kontrakan yang mereka tempati?
"Dibawa, Ca...! "
"Iya, ini, nih, sekalian sarungnya juga, nih aku bawa! " geram Caca.
Akhirnya mereka berdua pergi bersama, dengan bawaan berupa kotak makan milik Nanno, sebelumnya mereka akan pergi ke rumah orangtua Caca dan langsung segera pergi ke kantor.
......................
Hari ini mereka sedang sial, karena kemacetan yang tak pernah mereka alami akhirnya terjadi hari ini juga, banyak sekali mobil atau motor yang bertumpuk menunggu sesuatu di depan yang akhirnya membuat kemacetan. "Duh, kok macet ya? "
"Kalau nggak lampu merah, biasanya ada kejadian deh, Gas, kamu tutup dikit aja jendela mobil nya. "
Bagas menganggukan kepalanya, ia menutup jendela mobil nya, tetapi saat ada salah satu orang yang lewat dari depan, Bagas mengurungkan niatnya untuk menutup kaca mobil di bagiannya. "Gas."
"Pak, ada apa ya di depan itu? " tanya Bagas kepada bapak bapak yang baru berjalan melintasi mobilnya.
"Truk pengangkut susu kotak jatuh, mas, makanya macet. " jelas bapak bapak tersebut.
"Innalillahi... " ucap Caca.
"Begitu ya pak? Makasih ya pak informasi nya. "
"Ya mas, sama sama. "
Bagas menutup kaca mobilnya, perlahan mobil lainnya yang berada di depan berjalan, Bagas menjalankan mobilnya lagi mengikuti mobil yang lainnya.
Dari sudut depan, terlihat kotak kotak susu yang jatuh ke jalan dan juga bocor, terlihat juga beberapa orang yang keluar dengan membawa plastik untuk mengambil susu susu kotak yang jatuh, di dekat mobil polisi juga ada salah satu laki-laki yang menangis ketika ditanya.
Bagas menggeleng kepalanya, ia mengerti keadaan yang ada di luar mobil.
"Orang-orang kok bisa pada jahat ya? Mereka nggak mikir apa ya sama bapaknya? " tanya Caca sambil melihat kondisi di luar mobil.
"Ya, begitulah Ca, mengambil kesempatan dalam kesempitan, mereka nggak mikir berapa kerugian yang ditanggung sama bapak itu, yang mikirnya cuma isi perut masing-masing aja. " jawab Bagas.
__ADS_1
"Jangan sampai anak anak kita diajarin buat ngambil yang bukan haknya ya, Ca. "
Ucapan Bagas membuat Caca langsung melotot, yang tadi sedang fokus memantau keadaan di luar menjadi teralihkan dengan ucapan Bagas.
"Apa? Anak anak kita? Ada rencana kamu buat beranak sama aku, Gas? " tanya Caca tidak percaya.
"Nggak, nggak, aku salah ngomong tadi... Maksudnya tuh anak anak dari pasangan kita nanti itu, kita ajarkan mereka kalau nggak boleh ngambil hak orang yang bisa ngerugiin orang lain juga, gitu maksudnya. " jelas Bagas.
Caca mencerna baik baik perkataan Bagas, dan dengan cepat ia bisa menanggapi dengan baik.
"Iya, aku ngerti. " ucap Caca.
Bagas menghela nafas lega, kali ini wajahnya benar-benar memerah karena ucapannya, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
'Kok bisa bisanya aku salah tingkah sama ucapanku sendiri sih? Syukur aja Caca bisa respon itu dengan baik. ' ucap Bagas dalam hati.
......................
Sesampainya di rumah orang tua Caca, Caca bertemu dengan ibunya dan memberikan kotak makan yang ia pinjam sebelumnya.
"Nih kotak makannya, bu, makasih udah pinjamin Caca ya, bu. " Nanno menatap bingung, ia menenteng totebag berisi kotak makan itu dengan perasaan bingung.
"Ca, kenapa kamu balikin sama ibu lagi? Kan ini kotak makannya buat kamu. "
Caca terkejut, ia dengan gagap menunjuk ke arah Bagas.
"Ta—tapi kata Bagas, ibu nyuruh aku buat balikin kotak makannya? Terus, ini...? "
"Dikerjain kamu sama Bagas, nak, lihat tuh dia ketawain kamu dari belakang. "
Caca berbalik arah, ia melihat Bagas tertawa cekikikan ketika melihat Caca yang kebingungan, pranknya berhasil. "Bagas! Mau cari mati kamu sama aku, ya?! " teriak Caca.
"Marahin aja, bu, dia memang suka kasar sama Bagas. "
Bagas menambah api pada kompor, ia ingin sesekali Caca diinterogasi sepertinya saat di rumah, tetapi kali ini dengan ibu mertuanya sendiri.
"Bagas itu loh, bu, sering banget buat Caca kesal, coba aja kalau sakit, sama siapa dia dirawat coba kalau bukan Caca yang rawat. " ucap Caca dengan nada kesal.
"O oohh, sekarang berani ngungkit ngungkit kebaikan ya? " Bagas mengejar Caca, Nanno hanya menggeleng kepalanya ketika melihat kedua anaknya yang bergelut tak karuan di halaman rumahnya.
"Udah, nanti kalian terlambat buat pergi kerja, sebentar, ibu mau sendok kan masakan buatan ibu ke kotak makan kamu ini, Ca. "
"Eh, nggak usah bu. " tolak Caca.
"Dapat kau! " Bagas memeluk Caca dari belakang, sesekali ia berakting dengan mencekik Caca, sementara Caca benar-benar bermain kasar dengan sesekali mencubit Bagas dengan keras.
"Duh, aduh! Jangan main kasar, Ca...! " ringis Bagas.
"Rasain! Udah tau orang lagi mau nyusul ibu sendiri, malah diajak main main...! " ucap Caca.
"KDRT ini, nanti bakal aku bawa visum ini di kantor polisi. "
"Bawa aja, yang ada polisi malah percaya kamu digigit tokek ketimbang dicubit sama aku. " remeh Caca.
"Udah udah, nih, udah ibu masukkan sebagian masakan buatan ibu di dalam kotak makanan kamu. Berangkat sana, nanti terlambat pergi ke kantor kalian berdua. " ucap Nanno dengan menyodorkan totebag berisi kotak makan yang sudah diisi makanan.
"Bu, ini ibu ngusir kami berdua ya? " tanya Bagas.
__ADS_1
"Ibu ngusir? Oke bu, sebatas ini aja, oke, sebatas kami bergelut aja ya makanya diusir, oke bu, oke... " ucap Caca.
"Ish, siapa yang ngusir? Ibu cuma ngasih tau aja, nanti terlambat buat pergi yang ada kalian sendiri yang rugi. " ucap Nanno tak terima.
Caca mengambil totebag tersebut, ia mengajak Bagas untuk pergi, sebelumnya ia bersalaman dengan ibunya dan segera berangkat ke kantor.
"Ca."
Ditengah perjalanan, Bagas memulai obrolan, Caca menanggapi panggilan Bagas.
"Ada apa, Gas? " tanya Caca.
"Sesekali liburan lagi yuk kayak dua bulan yang lalu, bosan rutinitas kita cuma ini ini aja, kerja, tidur, makan, itu aja nggak ada yang lain, bosen rasanya. " ucap Bagas.
"Iya Gas, nanti kita tentuin tanggal kita berangkat ya, aku juga butuh healing dari kesibukan sehari-hari. Monoton banget cuma kerja, pulang, makan sama tidur, selebihnya cuma main game atau nonton film. "
"Oke, nanti kita tentuin. "
......................
Senja telah menunjukkan wujudnya di ujung ufuk, sudah waktunya Bagas dan Caca kembali ke rumah, mereka merasa lelah sekujur tubuh, begitu juga dengan berpeluh keringat yang ikut membuat mereka terlihat lelah bekerja.
"Gas, mandi dulu baru tiduran, nanti sprei kasur kamu bau apek. " ucap Caca.
"Iya, iya, aku mandi kalo gitu. "
Bagas mengambil handuknya, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya. Saat membuka keran air, tidak ada air yang mengalir keluar, bahkan setetes pun tidak keluar sama sekali dari kerannya.
"Ca, air di rumah kita mati ya? " tanya Bagas di kamar mandi.
Bersamaan dengan air yang mati, secara tiba-tiba listrik di rumah Bagas dan Caca mati, mereka kepanikan di tengah gelapnya petang hari itu. "Bagas, mati lampu...! " teriak Caca dari dalam kamar.
"Waduh, lupa bayar pulsa listrik sama air, pantes aja mati, duh kena denda nih pasti. "
Suara azan magrib terdengar, Caca melarang Bagas untuk keluar sebelum azan magrib selesai.
"Kalau gitu, kita magriban dulu yuk. " ajak Caca.
"Binoacra Julaekha Putri, gimana mau ambil wudhu kalau airnya habis? Aku mandi aja belum. " ucap Bagas.
"Oh iya ya, eh, terus gimana dong kita? " tanya Caca.
"Duduk dulu diam disini, kata kamu abis magrib baru boleh keluar. "
Caca dan Bagas duduk bersamaan, Caca mencium bau yang begitu menyengat, membuatnya menutup hidungnya dengan erat. "Bau banget sih badan kamu, Gas! " protes Caca.
Bagas tidak terima dengan ucapan Caca, ia juga mendengus badan Caca, kemudian memperagakan Caca.
"Kamu juga bau kok, kenapa nyalahin aku doang? " ucap Bagas.
"Gimana mau ke kantor PLN kalau bau badan kamu kayak gini? " tanya Caca.
"Ada parfum, tinggal semprot aja. " jawab Bagas dengan santai.
"Udah, siap siap sana, nanti kita numpang mandi di rumah ibu aku. "
Bagas dan Caca bersiap siap, dengan mengganti baju dan menggunakan parfum, mereka berdua berangkat ke rumah kedua orangtua Caca untuk menumpang mandi dan mengambil air wudhu.
__ADS_1
...****************...