
...Selamat membaca 🍊...
......................
"Aku cinta sama kamu, Ca... "
Caca menghentikan mengerik punggung Bagas, ia sedikit menjauh dan menatap tidak percaya dengan Bagas.
"A—apa...? " tanya Caca tidak percaya.
"Aku cinta kamu, aku Bagas, cinta sama kamu, Caca. " ucap Bagas.
Wajah Caca memerah, tak lama Bagas memakai bajunya dan langsung mencium pipi Caca, mengucapkan terimakasih dan pergi ke kamarnya.
Caca memegang pipinya, ia kemudian mengusap kasar pipinya dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Malam ini Caca mengunci pintu kamarnya, ia tidak ingin jika Bagas masuk ke kamarnya dan Caca tidak bisa tidur.
Semalaman Caca tidak bisa tidur, ia mengalihkan perhatian nya dengan menonton film semalaman dan juga mendengar suara Bagas yang memainkan game di luar kamar, membuat Caca semakin gelisah dengan Bagas yang belum tidur sama sekali.
Caca merasa perutnya lapar, ia memegang perutnya dan mulai mengidamkan makanan yang ada di film, ia beralih ke aplikasi pesan makanan online dan memesan makanan yang ia inginkan.
Caca kembali bersemangat, langkahnya seketika terhenti, ia kemudian mengingat Bagas yang ada di luar, kalau saja ia keluar, bisa saja nanti ia berpapasan dengan Bagas dan akan melihat suaminya itu berlaku aneh lagi padanya.
'Duh, kenapa juga Bagas masih melek sih? Kan udah malem gini juga, main game nya kencang banget. ' ucap Caca dalam hati.
Caca duduk di tepi ranjang, ia memeriksa pesanan makanannya yang sudah diantar atau belum sama sekali, karena ia ingin segera membuka pintu dan pesanannya sudah sampai.
Caca tertidur dengan posisi duduk, samar samar ia mendengar Bagas yang tengah berbicara dengan seseorang, ia baru ingat bahwa pesanannya sudah sampai. "Pesanan ku! " teriak Caca.
Caca keluar dari kamar, ia melihat Bagas yang tengah membayar makanan pesanan miliknya, dan juga ada tambahan dari makanannya.
"Pesanan kamu, Ca? " tanya Bagas.
Caca segera mengambil pesanannya, ia kemudian menatap sinis dengan Bagas yang memegang juga pesanan. "Kamu nguping barusan ya? "
"Nggak kok, Caca, aku kebetulan juga lapar. Ayo, makan sama sama. " ajak Bagas.
Caca menatap Bagas dengan tatapan curiga, ia kemudian mengikuti Bagas. Mereka makan bersama, tetapi Caca merasa tidak nyaman dengan Bagas yang selalu menatapnya terus menerus, tersenyum seperti orang aneh, membuatnya bahkan tidak bisa mengunyah maupun menelan makanan nya.
"Gas, jangan liat aku kayak gitu. "
"Hmmm, kenapa? " tanya Bagas dengan santai.
Caca tidak berkata-kata lagi, ia benar-benar tidak nyaman, akhirnya ia membawa makanannya ke kamarnya agar ia dapat fokus memakan makanannya tanpa melihat Bagas yang berperilaku aneh.
......................
Setiap melihat Bagas yang tersenyum, Caca memalingkan wajahnya, ia tidak ingin terlalu menatap Bagas yang bersikap aneh padanya.
Bagas juga mulai berubah, ia sangat perhatian dengan Caca, tak jauh seperti orang yang sedang jatuh cinta, hal tersebut membuat Caca geli dan ingin menjauh dari Bagas.
Saat di mobil, Caca memilih untuk duduk di belakang untuk menghindari Bagas yang menatapnya, itu membuatnya risih dan tidak nyaman.
"Ca, pulang nanti makan malam yuk di luar, udah jarang keluar malam buat makan malam. " ucap Bagas.
Caca yang sedang fokus memainkan gawai nya kemudian menatap ke Bagas, ia mengangkat kedua bahunya dan mengatakan terserah, kemudian mereka berdua diam hingga sampai ke kantor.
Sesampainya di parkiran, Bagas keluar terlebih dahulu, ia membuka pintu untuk Caca.
__ADS_1
"Silahkan."
Caca yang melihat Bagas yang tambah menjadi jadi kemudian merasa kesal, ia keluar dengan membawa barang barangnya dan tidak mempedulikan Bagas yang masih ada di parkiran.
Di dalam ruangan, Caca menaruh barangnya dengan keras ke mejanya, sehingga teman yang berada di sampingnya terkejut.
"Ca, kamu kenapa pagi pagi begini marah marah? " tanya Indah.
"Bagas, kemarin dari aku pulang sama dari habis pulang dari lomba, kelakuan dia aneh aneh banget, sok ngegombalin banget, bilang cinta cinta sama aku, dih! " jelas Caca dengan kesal.
Indah yang melihat Caca kemudian menatap Caca dengan sorot mata mengejek. "Salting berat kamu tuh, Ca, nggak papa, awal yang bagus buat kamu sendiri kok. " ucap sahabat Caca, Indah.
"Tapi kan kami udah ada kesepakatan, Ndah, aku juga nggak percaya sama Bagas. Ya taulah gimana itu cowok, orangnya usil, tau aku yang baper, dianya bilang itu prank, kan nggak lucu. " ucap Caca dengan gemas.
Indah berdecak, ia menggeleng kepalanya. "Ayo Ca, come on, seiring waktu berjalan hati orang tuh pasti berubah, dulu aja mungkin dia nggak mau nganggep kamu istrinya dan pengen status kamu sama dia cuma tinggal seatap. Tapi kalau dia udah ngungkapin secara langsung, percayalah, itu fakta. " ucap Indah.
Caca berpikiran, ia menatap tidak percaya, bahkan selesai diskusi saja ia masih ragu dengan ucapan sahabatnya itu.
"Apa iya ya? " gumam Caca, ia bertanya pada dirinya sendiri.
......................
Saat makan siang, Caca memilih untuk makan di tangga belakang tak jauh dari taman kantor, ia menikmati makanannya dengan suasana yang tenang, walaupun pikirannya kacau balau.
"Kenapa makan disini? "
Caca berbalik, ia kemudian berdecak, yang bertanya adalah sesosok yang ia tidak ingin lihat dari kemarin, yaitu Bagas.
Bagas membawa bekalnya, kemudian duduk di samping Caca, membukanya dan memakannya bersama dengan Caca. "Kenapa makan disini? Biasanya makan di kantin sama temen-temen lainnya. " tanya Bagas.
"Nggak, mau makan disini aja sih, lebih tenang aja suasananya. " jawab Caca.
"Gas, yang kamu kan ada! " teriak Caca tidak terima.
"Iya, tapi enakan makan punya kamu, Ca, apalagi kamu yang makan, jadinya tambah nikmat buat aku makan. " ucap Bagas.
Caca menghela nafasnya, ia tetap memakan makanannya dengan lahap, hingga habis ia makan.
"Ca, barusan tadi bang Bintang kasih tau aku buat suruh sampaikan sama kamu, kalau mamak sama kak Bian masak bakso, kita mampir ke sana aja buat makan malam. " ucap Bagas.
"Dih, makan malamnya kok di rumah mamak? " tanya Caca.
"Ya nggak papa, mamak juga nyuruh kamu main ke sana, jadi nggak papa lah, sayang. "
Saat Bagas menyebutnya sayang, Caca bergidik ngeri, ia mendorong wajah Bagas menjauh darinya.
"Gas, udahlah! " ucap Caca dengan geram.
"Loh, kenapa memangnya kalau kamu aku panggil sayang? Nggak boleh apa? Kan kamu istri aku, Ca. " tanya Bagas.
"Geli, aku geli, aku belum terbiasa. " jawab Caca.
Bagas tersenyum, ia kemudian mencubit pipi Caca dengan gemas hingga Caca meringis kesakitan.
"Gas, sakit! " kesal Caca.
"Nurut aja udah, yuk masuk, udah habis jam makan siangnya. "
"Ya, tapi aku selera pentol, Gas, ayo ke kantin dulu. " ucap Caca.
__ADS_1
"Ya, nanti aku pesenin suruh anter ke ruangan kamu. "
Bagas merangkul bahu Caca, sesekali mengambil kesempatan untuk mencium kepala Caca, hingga membuat Caca tambah kesal kepadanya.
......................
Sore hari telah tiba, Caca merenggangkan tubuhnya, ia kemudian membereskan barang barangnya dan memutuskan untuk langsung pulang.
"Akhirnya, anak mantuku mampir, ayo duduk, dicobain bakso buatan kak Bian kalian. "
Ayu mengambil mangkuk berisi mie bihun untuk Caca dan Bagas, mereka melihat kuali yang berisi bakso, masih panas dan baru saja mendidih.
"Makan yang banyak ya, Ca, biar berisi. " ucap Bayu.
"Apalah bapak ini, mbak Caca tuh udah canti tanpa berisi badannya, gimana sih. " ucap Brama yang tengah mengunyah bakso.
"Heh, jangan goda goda mbak kamu, dia istri abang, kamu cari sendiri sana. " ucap Bagas.
"Dih, cemburuan, kirain masih setia sama istri anime nya. " ejek Brama.
"Udah, jangan ribut, nih, dimakan ayo, nanti tambah lagi. "
Bagas mengambil mangkuk milik Caca, ia menyendokkan beberapa bakso dan bertanya seberapa banyak takaran kuah yang diinginkan Caca.
"Segini Ca? "
"Iya, makasih. " ucap Caca.
Caca menikmati baksonya, begitupun dengan Bagas, mereka sekeluarga menikmati makanan mereka masing-masing.
Kumpul keluarga pada malam minggu sudah menjadi kebiasaan keluarga Bayu, mereka berkumpul bersama, entah itu memesan makanan bersama dan dimakan sama sama, ataupun mengobrol bersama.
Caca berniat untuk menginap di rumah mertuanya, ia merasa mengantuk dan beranjak pergi ke kamar Bagas untuk tidur.
Saat sedang tidur, bulu kuduk Caca berdiri, ia terbangun dan melihat Bagas yang sedang menatap dirinya seraya menadahkan tangannya di kasur melingkar pada pinggang Caca.
"Gas! " teriak Caca.
Caca menendang perut Bagas, Bagas terjatuh ke kasur dan memegang perutnya, ia meringis kesakitan karena tendangan Caca.
"Ca, sakit banget tendangan kamu... " ringis Bagas.
"Kamu sih, ngapain juga ngagetin aku kayak gitu, cabul! " teriak Caca dengan menepuk wajah Bagas.
Caca duduk, begitupun dengan Bagas yang memegang perutnya. "Beneran nggak cinta kan? " tanya Caca meyakinkan.
Bagas menatap Caca, ia duduk dengan tegap dan memegang dagunya.
"Nggak tau juga ya, mau jujur atau nggak ya? " ucap Bagas dengan nada main main.
"Ughh! Gas, nggak usah bertele-tele! " tegas Caca.
"Ya, aku cuma nguji kamu aja, Ca, syukur kamu nggak ambil serius. Makasih ya, aku suka saat kamu nggak balas ucapan cinta aku sama kamu. "
Caca menatap Bagas dengan sinis, ia menghela nafasnya. "Baguslah, udah mau 4 bulan lagi nikahan kita ini, tanggung juga sih kalau ngambil serius, kita juga udah punya perjanjian sebelumnya, jadi, mohon bantuan dan kerjasama nya ya. "
Setelah bercakap-cakap dengan Caca, Caca pergi untuk keluar ke ruang keluarga, sedangkan Bagas duduk dan menghembuskan nafasnya, seperti ada yang mengganjal di hatinya ketika mendengar penolakan.
...****************...
__ADS_1