
...Selamat membaca 🍊...
......................
Pagi hari telah tiba, suara desiran ombak pantai terdengar dari luar hotel, diiringi suara dering gawai dari kamar milik Caca.
Caca meraba-raba kasurnya, ia mencari keberadaan gawainya yang tertimpa bantal.
"Halo, kenapa Gas? "
'Bangun lagi Ca, ayo kita cari sarapan di luar. '
Caca berdecak malas, ia merenggangkan tubuhnya dan menarik selimutnya lebih tinggi lagi hingga wajahnya hampir tertutup.
'Ih, bangunlah, masa udah pagi gini masih tidur aja, aku susul ke kamar kamu ya? '
"Nggak usahlah, aku mau tidur lagi, lagipula nanti juga ada pelayan yang masuk ngasih sarapan pagi buat kita. " ucap Caca dengan malas.
'Ca, kamu— '
Caca mematikan panggilan telepon nya, ia kemudian meletakkan gawai nya di sampingnya, melanjutkan tidurnya yang terpotong karena Bagas yang menelepon nya.
"Ah, di rumah aja rajin, di tempat lain males banget nih cewek! "
Bagas keluar dari kamarnya, ia ingin menyusul ke kamar Caca, tampak ia belum puas ketika Caca segera bangun ketika Bagas telah menelepon nya. "Tapi, aku nggak tau ruangan Caca ada di mana, ya udahlah, aku sarapan sendiri aja di luar. "
Bagas membatalkan niatnya untuk menyusul ke kamar Caca, ia lebih memilih mengurus perutnya sendiri ketimbang harus mencari kamar Caca yang berbeda lantai.
Tak lama berselang, gawai Caca berdering, lagi lagi tidurnya terganggu karena seseorang menelepon nya. Caca berdecak kesal, ia langsung mengambil gawainya dan mengangkat telpon.
"Halo, siapa....?! " tanya Caca dengan nada sedikit kesal.
'Caca, kamu lagi di hotel kan? '
Caca mengenal suara tersebut, suara itu dari kakak iparnya, Bintang. "I-iya bang, Caca lagi di hotel, kenapa bang? " tanya Caca balik.
'Ca, bilang dimana hotel tempat kamu dan Bagas nginep ya, abang sama kakak Bian mau mampir ke sana ya, mayan lagi liburan gini mampir ketemu sama kalian. '
Caca terkejut, kedua kakak iparnya ingin bertemu dan mengunjunginya dan Bagas.
Kenapa Caca bisa panik? Pertama, kamarnya terpisah dari Bagas, alhasil akan menimbulkan kecurigaan yang utama dari kakak iparnya.
Kedua, bisa saja Bintang mengadu kepada Ayu kalau Bagas dan Caca pisah kamar, mengakibatkan rencana keduanya akan terbongkar dan menimbulkan masalah.
Ketiga, bisa saja akan disewa seorang mata mata, dengan selalu dipantau setiap hari dan setiap jam pergerakan mereka berdua.
'Ca, halo~ '
Caca mematikan teleponnya, ia mulai menelepon Bagas, mencari nomor Bagas kemudian menelpon nya. "Duh, diangkatnya lebih cepat dikit kek! "
Bagas yang fokus dengan makanannya, belum sesuap makanan masuk ke mulutnya, ia terganggu dengan nada dering telponnya.
"Kan, pasti aja nelpon. " Bagas mengangkat telpon tersebut.
__ADS_1
"Halo, kenapa Ca? "
'Gas! Kondisi gawat darurat! Kamu dimana sih?! '
Suara teriakan dan panik terdengar dari telpon, Bagas mengusap daun telinganya dan tetap menyambungkan teleponnya. "Ada apa sih Ca? Nggak usah pake teriak teriak kan bisa? " tanya Bagas sambil menyeruput minumnya.
'Nggak, ini emergency! Abang kamu sama kakak Bian mau mampir ke hotel buat ketemuan sama kita! '
Bagas menyemburkan minumannya, hingga mengenai pelayan yang lewat di sampingnya, ditambah dengan para tamu resto yang langsung terarahkan ke arah Bagas.
"Apa? Bang Bintang sama kak Bian mau kesana?! Gawat! " ucap Bagas dengan panik.
'Makanya dari itu, kasih tau kamar kamu dimana, biar aku bisa cepat berkemas dan pindah ke kamar kamu, Gas! ' tegas Caca dari telepon.
"Oke, kamarku di atas, nomor 250 nggak jauh di dekat lift. Kalau masih bingung, tanya sama resepsionis hotelnya sambil minta kunci kamar cadangannya. " arah Bagas dari telepon.
Panggilan tersebut langsung dimatikan oleh Caca ketika ia sudah mengerti arahan dari Bagas, sedangkan Bagas tak ingin melewatkan sarapan paginya dengan sibuk membantu Caca untuk berkemas dan pindah ke kamarnya.
......................
"Cepat cepat, ke telepon hotel...! "
Caca bergegas mendekati telepon hotel yang ada di meja, sesegera mungkin ia mulai menghubungi resepsionis dengan nomor yang tertera di atas meja tak jauh dari telepon tersebut berada.
'Disini dengan resepsionis penginapan Mutiara Garden, ada yang bisa dibantu? '
Caca merasa lega, telponnya segera diangkat oleh resepsionis hotel. "Oh iya, ada tamu yang bernama Bagas Dwipangga? Saya Binoarca, saya minta dimana ruangan Bagas. "
Suara gumaman untuk mempertimbangkan permintaan Caca terdengar di telepon.
"Saya keluarganya, segera beritahu pada saya dimana ruangannya, dan saya ingin minta kunci kamar cadangannya! " tegas Caca.
'Oh, sebentar, saya akan hubungi sebentar, jangan dimatikan dahulu ya, pak Bino. '
Mendengar panggilan namanya menjadi laki-laki, Caca sedikit tersinggung, tetapi ia memilih bersabar terlebih dahulu daripada langsung marah marah tidak jelas.
"Cepat sedikit, mbak....! " gemas Caca menunggu respon dari resepsionis.
'Baik, mas Bino, ruangan tuan Bagas Dwipangga berada di sebelah lift lantai nomor 4. Kunci akan segera diantarkan oleh pelayan kepada masnya, mohon di tunggu. '
Mendengar ocehan dan arahan dari resepsionis, ditambah panggilannya menjadi panggilan laki-laki, membuat Caca geram dan ingin sekali tuk marah. "Mbak kalau sekali lagi nyebut saya bapak atau mas, saya nggak bakal mau bayar sewa hotel! "
Caca langsung mengakhiri telepon tersebut dengan menghentakkan telepon hotel tersebut ke tempatnya, sesegera mungkin ia mengangkat kopernya menuju ke luar kamar.
"Nih telepon hotel kurang ajar ternyata ya, sengaja amat suaraku dibuat kayak suara bapak bapak, nggak heran aku di sebut bapak atau mas tadi...! "
......................
Tak lama berselang, dari lantai yang sama, Caca berpapasan dengan Bintang dan Bianca beserta anak anak, ia sial kali ini.
"Caca, kamu ternyata sama sama liburan ke sini, duhh tau gini kita barengan aja nggak usah misah... " ucap Bianca sambil memeluk Caca.
"Hehehe, iya kak, nggak tau juga kalau kakak sama bang Bintang juga liburan ke sini, hehe.... " ucap Caca dengan senyumnya.
__ADS_1
Mata Bintang tersorot ke arah koper milik Caca, ia merasa tertarik bahkan penasaran akan iparnya itu. "Ca, kamu kok bawa bawa koper? Kamu mau ke mana? "
Jantung Caca rasanya ingin copot, celahnya terlihat oleh kakak iparnya, ditambah lagi ocehan bocah 5 tahun yang menunjuk ke arah pakaian Caca.
"Ca, mana Bagas? Kok nggak sama kamu? " tanya Bianca.
"Ba—Bagas tadi pergi sarapan ke luar, kak, sedangkan aku masih tidur pas dia bangunin aku buat sarapan... " jawab Caca dengan gugup.
Jawabannya belum relevan tampaknya, Bintang dan Bianca masih mencari kejanggalan maupun celah dari adik iparnya tersebut. "Jangan bilang sama kakak kamu pisah kamar sama Bagas, Ca. "
Skakmat!
Ucapan Bintang membuat Caca ingin mati kaku di depannya, Caca benar-benar kaku, ia tidak bisa mengelak lagi, ditambah tak ada yang bisa membantu nya. "Kami masih satu kamar kok, bang. "
Dari belakang bahu Caca disentuh oleh seseorang, ia menatap ke belakang, itu adalah Bagas.
"Bagas? "
"Gimana kamu nih, Gas? Bini kamu belum sarapan, kamu lakinya malah sarapan sendiri? " tanya Bintang menginterogasi Bagas.
"Maaf bang, Bagas egois, Bagas nggak mikirin Caca tadi karena perut Bagas udah keroncongan... " jawab Bagas dengan nada rendah.
Melihat Bagas yang mengalah, Caca juga tak ingin Bagas terpojok, ia membela Bagas disaat kakak iparnya menginterogasi Bagas.
"Nggak, Bagas nggak egois, bang, memang dasar Caca aja yang mageran tadi. Bagas udah tawarin Caca buat sarapan di luar, tapi karena capek jadinya Caca suruh Bagas sarapan duluan. " jelas Caca.
Tangannya merangkul lengan Bagas, ingin meyakinkan kedua kakaknya percaya dengan penjelasannya.
Setelah lama ditanya, akhirnya Caca menawarkan kamar kosong yang sudah di sewanya, alias kamar yang ia tempati untuk dipakai oleh Bintang dan Bianca, tetapi Bintang menolaknya dan cuma ingin berjumpa dengan kedua adik nya di hotel.
"Yaudah, Ca, Gas, kami mau pulang dulu ya, nanti mampir ke villa tempat kami nginap ya, main sama Clara dan Charles di sana. " tawar Bianca.
"Iya kak, kami bakal mampir ke sana. " Bintang dan Bianca pamit undur diri, mereka pergi dari hotel tempat Caca dan Bagas menginap dengan membawa kedua anaknya.
Caca dan Bagas menarik nafas lega, mereka lega karena akting mereka berjalan dengan lancar.
"Syukurlah bang Bintang sama kak Bian percaya... " ucap Bagas.
Caca menatap ke arah Bagas. "Bukannya kamu tadi sarapan, Gas? Kok masih sempat buat nyusul aku ke sini? " tanya Caca.
Bagas mengelus rambut Caca, tatapannya seolah mendalam ke arah Caca.
"Ya, masa aku mau kamu bingung sendiri saat ketemu kakak kakakku, tapi aku enak enak nikmatin sarapan tanpa mikirin kamu yang kebingungan? Yang ada aku malah muntahin makanan kalau liat kamu mikir sendirian, Ca. "
Ucapan Bagas membuat Caca tersipu, baru kali ini kata kata Bagas indah mengarah padanya, tidak seperti biasanya yang terkesan cuek dan tidak peduli. "Iya Gas, makasih juga buat kamu... " ucap Caca dengan senyum tersipu nya.
"Yok cari sarapan di luar, aku yakin kamu belum sarapan. " ajak Bagas.
"Boleh, aku balik dulu ke kamar ya, mau naruh kopernya. " ucap Caca.
"Boleh, aku temenin ke kamar kamu ya, biar kita perginya sama sama. "
Caca menganggukkan kepalanya, ia bersama dengan Bagas berjalan bersama menuju ke kamar hotel milik Caca tadi.
__ADS_1
...****************...