Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 23


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Sorot sinar matahari tembus ke dalam kamar, terlihat bahwa kedua pasangan yang tengah tidur berbeda jarak dengan satu kasur.


Bagas dan Caca terlihat kusut, sepertinya permainan mereka berdua malam tadi cukup membuat mereka kelelahan. Bagas menatap Caca yang tertidur pulas, ia menyibakkan rambut Caca dan meletakkannya di belakang telinga.


Caca terbangun, mereka saling bertatap tatapan, tetapi Caca langsung menatap Bagas dengan tatapan kecewa dan kesal.


"Ca, kenapa? " tanya Bagas.


"Sudah puas? Sudah puas bisa dapatin mahkota aku, Gas? " tanya Caca dengan nada kecewa.


Bagas langsung bangkit dari tempat tidur, sementara Caca memalingkan wajahnya dan memegang selimut hingga ke lehernya.


"Ca, maaf... "


Tak lama setelah itu Caca menangis, tangisan tersedu-sedu yang membuat Bagas khawatir dan terus terusan bertanya kepada Caca.


"Ca, maaf, maaf kalau aku mainnya kasar, maaf kalau aku nggak bisa ngertiin sakitnya kamu semalam, maaf... "


"Kita udah termasuk zina nggak sih? Kamu udah jatuhin talak buat aku, Gas, kamu udah melanggar perjanjian kita sebelumnya Gas. Tapi kenapa, kenapa kamu bisa ajak aku untuk seperti ini? " tanya Caca dengan tersedu-sedu.


Bagas tambah bersalah, ia mencoba membujuk Caca, tetapi Caca sudah terlanjur kecewa karena dirinya yang mengajak Caca untuk menikmati permainan n*fsunya.


"Mungkin udah dosa juga, kita udah bohongin orang tua kita dengan pernikahan akal akalan kita ini, Gas. Aku nyesel banget, nyesel banget udah kayak gini... "


"Ca, jangan kayak gitu, Ca, aku tambah bersalah karena—"


"Kalau bersalah, kenapa kamu nikmatin diri aku semalam, Gas?! " bentak Caca.


Bagas hanya terdiam, tak bisa menjawab apa apa lagi selain meminta maaf kepada Caca.


"Aku mau bicara jujur saja dengan orangtuaku dan orangtua kamu, Gas, kalau kita sebenarnya tidak menganggap pernikahan itu hal yang sakral. " ucap Caca. Bagas menghela nafas, ia menganggukkan kepalanya.


"Baik, aku juga akan jelaskan bersama kamu, Ca. " ucap Bagas.


Caca tidak menatap Bagas sama sekali, ia membelakangi Bagas dan hanya menjawab terserah, badannya juga masih terasa sakit dan nyeri karena itu adalah pertama kali baginya.


Hari itu Bagas dan Caca tidak saling berteguran, awal dari semua nya karena Caca tidak ingin menatap Bagas sama sekali, entah ia benci atau merasa kesal kepada Bagas.

__ADS_1


Mereka juga pergi ke kantor secara terpisah, karena Caca tidak ingin mengobrol maupun menatap Bagas sama sekali.


"Ca, jalannya kenapa? " tanya Hani.


"Emmm, kaki aku lagi sakit, kemarin sempat terkilir gara-gara latihan aerobik sendiri kemarin sore, jadinya begini. "


Caca berbohong, tak akan mungkin ia mengatakan bahwa ia baru pertama kali melakukannya bersama dengan Bagas, yang ada malah ia akan diolok-olok oleh teman teman kantornya.


"Ca, jalan kamu kenapa? " tanya Indah.


"Ada pokoknya, bakalan panjang kalau dijelaskan. " jawab Caca.


Caca duduk, wajahnya berubah seketika, karena ia selalu mengingat wajah Bagas semalam yang menikmati nya, ditambah lagi bisikan cinta di telinganya, membuat Caca membenci hal tersebut.


Saat makan siang, Caca memilih untuk makan di bawah meja, dengan meminta bantuan kepada Indah untuk menjelaskan bahwa ia sedang tidak ada di ruangan.


"Tolong ya, Ndah, plisss. " mohon Caca.


Indah menganggukkan kepalanya, ia juga tak tau ingin berbicara apa lagi, dengan menuruti keinginan sahabatnya itu akan membuatnya tidak selalu diteror.


Caca duduk di bawah meja, ia memakan makanan nya dengan lahap, tak lama salah satu rekan kerjanya menyapa Bagas, sudah pertanda bahwa Bagas menyusul ke ruangannya.


"Indah, di mana Caca? " tanya Bagas.


"Begitu ya? Ya sudah, makasih ya, Ndah... "


Suara langkah yang menjauh, Caca mengintip dari bawah meja, Bagas keluar dari ruang kerjanya.


"Ca, Bagas nya udah keluar tuh. " ucap Indah.


"Makasih ya, Ndah. " ucap Caca.


Caca melanjutkan makannya, ia menikmati makanannya dengan melamunkan sesuatu.


......................


Sepanjang pekerjaan, Caca tak lepas dengan pikirannya yang mengarah dengan kejadian tadi malam, wajah Bagas yang menatapnya dan membisikkan kata kata cinta di telinganya, rasanya ia ingin cabut saja semua yang sudah disentuh oleh Bagas semalam, sampai membereskan barang barang miliknya juga ia masih terpikir akan hal tersebut.


Caca keluar dari ruangan, tiba-tiba lengannya ditarik, ia terkejut dan melihat ke samping, Bagas yang menariknya.


Raut wajah Bagas tak jauh dari kata bersalah, ia saja menatap Caca dengan perasaan bersalah, karena n*fsunya telah membuat Caca seakan jijik dan benci kepadanya, padahal mereka berdua masih berstatus suami istri kala itu.

__ADS_1


"Ca, pulang sama aku ya? " tanya Bagas.


Caca menatap kesal, ia menghempaskan lengannya.


"Kenapa harus? " tanya Caca.


"Karena kamu masih jadi istriku. " jawab Bagas.


Caca mendengus, Bagas tetap berusaha membujuk Caca, walaupun akhirnya Caca menurutinya dan meminta untuk duduk di belakang.


Di perjalanan menuju ke rumah, kedua pasangan itu tidak berbicara sama sekali, mereka tidak berniat untuk mengobrol sama sekali.


"Ca, maaf ya... "


Caca tidak menjawab sama sekali, Bagas diam dan fokus menyetir mobilnya.


......................


Setelah sampai di depan rumah, Bagas melihat seseorang yang duduk di teras rumahnya, saat kaca mobil dibuka, terlihat jelas bahwa itu adalah Bimo, ayah Caca.


Bagas keluar dari mobil, ia ingin bersalaman dengan Bimo, tetapi Bimo langsung menepis tangan Bagas dari tangannya.


"Waktu kalian sudah habis. Caca, bereskan barang barang kamu, ayah nggak mau lagi kamu satu rumah sama laki-laki yang udah ngerendahin kamu di depan ayah sama ibu! " perintah Bimo.


Bagas menatap terkejut, ia menatap ke arah Caca yang menuruti ucapan Bimo, ia tidak rela dan mencoba meminta maaf kepada Bimo.


"Om, jangan seperti ini om, Bagas beneran minta maaf. Kemarin tuh cuma Bagas tersulut emosi aja, nggak ada niatan pengen ngomong kayak gitu sampe sampe bikin Caca sakit hati... " mohon Bagas.


"Kenapa dari kemarin tidak seperti itu, hah?! Giliran kamu aku yang pisahin, baru kamu mohon mohon begini, kenapa tidak kamu jaga ucapanmu itu sendiri?! " tanya Bimo.


Caca keluar dengan membawa koper, Bagas menatap tidak percaya, ia berusaha menahan Caca agar Caca tidak pergi dari rumah.


"Ca, please, kamu serius mau ninggalin aku, Ca? "


"Aku harus penuhin keinginan kamu dulu, Gas, biarkan aku pulang sama ayah. " ucap Caca.


Bimo mengajak Caca untuk segera pulang, sedangkan Bagas berusaha agar Caca tidak pergi bersama dengan Bimo, akan pulang ke rumah orangtua nya.


"Sudah! Jangan paksa anakku untuk bersama kamu lagi, Bagas! Ingat, kamu sudah menceraikan anakku karena mesin game mu itu! "


Bimo berusaha untuk menjauhkan Bagas dari Caca, sedangkan Caca melihat kedua laki laki di luar mobil, ia tidak ingin digubris sama sekali dan ia dibawa pergi oleh ayahnya.

__ADS_1


Caca menatap Bagas dari kaca spion di dalam mobil, mobil nya menjauh dan menampakkan Bagas yang menatap mobil ayahnya yang menjauh, hatinya terasa iba dan hanya bisa meneteskan air matanya, Caca butuh waktu untuk sekarang.


...****************...


__ADS_2