Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 28


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Setelah perginya Bagas dari rumah, hanya menyisakan sedikit orang yang sekarang berada di ruang tamu.


Caca duduk, sementara ayahnya, Bimo, sibuk menghubungi pengacara keluarganya, mungkin saja Bimo bingung karena secara tiba tiba anaknya sedang mengandung disaat proses perceraian sedang berjalan.


"Ya, besok akan saya hubungi besan saya, agar bisa ditarik kembali. "


Bimo mematikan teleponnya, ia menatap Caca yang sedang duduk diam menatapnya. "Sudah, sekarang kamu tidur, kamu lagi hamil nggak boleh kecapean. " ucap Bimo.


"Caca belum bisa tidur, yah, Caca masih mikirin proses perceraian ini gimana...?" tanya Caca dengan nada khawatir.


"Sudah nak, tidak usah terlalu dipikirkan, ayah sudah suruh Bagas datang ke sini sama orangtuanya. Sudah, tidur sana. "


Caca bangkit dari kursi, ia berjalan ke atas dan memasuki kamarnya, ia berbaring dan memutuskan untuk tidur.


'Gas, aku kirim pesan, kenapa nggak kamu balas? Biasanya kamu cepat kalau soal begini? '


"Maaf Jen, tadi HP ku mati, baru sekarang diaktifkan. " ucap Bagas.


'Kenapa keterangannya 57 menit yang lalu? Alesan ya kamu? Pergi kemana kamu? ' tanya Jenni.


Bagas menepuk keningnya, Jenni benar-benar sedetail itu sekarang, ia kemudian memilih cara untuk langsung mengakhiri panggilan.


"Jen, halo, nggak denger, putus putus soalnya, Jen, halo. " panggil Bagas.


'Gas, nggak usah kamu—'


Bagas langsung mematikan teleponnya, ia mengusap keningnya, ditelpon oleh Jenni sama saja seperti sedang berdebat.


"Semakin lama Jenni kelihatan aslinya, ganas dan cerewet, duh... "


Bagas melempar gawainya di samping joknya, ia fokus mengendarai mobilnya.


Menuju ke rumah orangtuanya, ia membawa kabar yang mungkin akan mengejutkan untuk kedua orangtuanya, entah senang atau bingung dapat ia rasakan, apalagi saat ingin menjelaskan yang terjadi.


Bagas sampai di rumah orangtuanya, masih ada Bintang yang sedang menikmati kopi di malam hari, mungkin keluarganya sudah tidur saat ia datang.


"Gas, tumben mampir, mamak sama bapak lagi main sama Clara di dalam, samperin gih. " ucap Bintang.


"Iya bang, Bagas masuk dulu. "


Bagas mengucapkan salam, ia kemudian masuk ke dalam rumah dan menghampiri kedua orangtuanya di dalam, terlihat Ayu dan Bayu sedang bermain dengan keponakannya, Clara.


"Mak." panggil Bagas.


Ayu merespon panggilan Bagas, ia menyuruh Bagas untuk duduk bersama dengan nya.

__ADS_1


"Kenapa malam malam begini mampir? " tanya Ayu.


"Nggak boleh? " tanya Bagas balik.


"Nanya aja, karena tumben jam segini mampir ke sini, biasanya ada yang mau diobrolin. "


"Ya, Bagas mau ngasih tau, Caca hamil. "


Tanpa basa basi, Bagas langsung mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orangtuanya, hampir saja jantung kedua orangtuanya terasa copot, mereka tidak percaya dengan ucapan Bagas barusan.


"Apa? Caca hamil?! "


"Ya, maka dari itu, Bagas mampir ke sini untuk ngasih tau itu semua. " ucap Bagas.


"Tapi, apa mungkin Gas? " tanya Ayu meyakinkan.


"Ya, barusan aja Bagas nganterin Caca ke rumah sakit buat periksa kandungan, dan ya, dia hamil. " jawab Bagas.


Ayu menatap Bagas, dimata Ayu, Bagas adalah anaknya yang paling aneh pemikirannya, yang awalnya bersikeras untuk bercerai, tetapi sekarang malah membawa kabar yang mengejutkan dengan wajah yang bahagia.


"Gas, baiknya kamu pilih keputusan kamu sekarang, mamak lihat kamu ini orangnya plin plan, kemarin mau ini besoknya mau itu, jadinya mamak bingung sama kamu. Sekarang, pilih, lanjutkan atau putuskan sampai sini? "


"Ya, Bagas putuskan sampai sini, Bagas sekarang bakalan jadi seorang bapak. " ucap Bagas penuh keyakinan.


Ayu menatap Bayu, bersamaan kedua pasangan tua itu hanya bisa terheran-heran, dengan keputusan anak mereka yang terkesan plin plan tak karuan.


"Terserahlah, kami akan datang ke rumah orang tua Caca besok, jangan malu maluin kamu! " tegas Ayu.


"Cepat banget, belum dibikinin minuman udah mau pergi aja. " ucap Ayu.


"Nggak betah disini, yang ada kena omel terus. " ucap Bagas dengan santai.


Bagas berencana untuk langsung pulang, ia ingin langsung beristirahat di rumah, sebenarnya ada tujuan lain juga ia ingin segera pulang, hanya rahasia semata dari itu semua.


......................


Keesokan harinya, semua keluarga berkumpul, namun suasananya lebih mencekam daripada biasanya, karena suasana yang masih berseteru, ditambah lagi Caca sekarang tengah hamil dan perlu di proses kembali perceraiannya.


"Jadi, nona Caca sedang mengandung? " tanya pengacara.


"Ya, saya tengah hamil, ini diluar dugaan. " jawab Caca.


Satu persatu Bagas dan Caca ditanyakan, kemudian pengacara keluarga mereka melihat berbagai keterangan dan penjelasan dari kedua pasangan tersebut.


"Biasanya kalau udah gini, pengadilan bakal narik keputusan cerai buat mereka, soalnya karena alasan nona Caca yang sedang hamil. " jelas pengacara Hanif.


"Berapa minggu? " tanya Ayu.


Ayu sekarang sudah menjadi penasaran, ia diam setelah lama pengacara keluarga mereka menjelaskan berbagai pertanyaan dari Caca dan Bagas.

__ADS_1


"Sudah mau masuk 3 minggu, tapi percayalah, Caca benar-benar sedang hamil, hamilnya sama Bagas. " jelas Caca sambil bersumpah.


"Ya ya ya, itu kami sudah tau, Bagas yang udah buatnya barengan sama kamu, nggak usah dijelasin lagi. " ucap Ayu mempersingkat.


"Sekarang kita putuskan dan urus semuanya ke pengadilan, biar bisa di tarik keputusannya, karena nggak mungkin nona Caca bisa hamil sendiri tanpa tuan Bagas yang nemenin nona Caca dalam kehamilannya. " jelas pengacara tersebut.


"Jadi, apa kami bisa rujuk kembali? " tanya Bagas penuh harap.


"Tentu saja, tuan Bagas, karena jika salah satu klien dalam keadaan hamil, maka tidak bisa diproses lebih lanjut, kecuali ada alasan dari pihak wanita yang memungkinkan untuk terus dilanjutkan perceraiannya ini. " ucap Hanif.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Tuhan, sudah buat istriku hamil... " ucap Bagas dengan ucapan puji syukur.


Setelah selesai berdiskusi, Bagas dan Caca akhirnya bisa kembali bersama, Bagas juga memeluk Caca dengan erat, karena ia sangat merindukan Caca yang berada di sampingnya, ditambah lagi ia mendapat bonus yaitu calon bayi yang mengubah statusnya menjadi seorang ayah.


"Ini sudah dijelasin, kami minta pada kalian berdua, berhenti membuat drama lagi, hiduplah berumahtangga secara baik baik. Ingat, kalian sudah menjadi calon orangtua, jangan sampai membuat ulah lagi. Kami berikan kepercayaan untuk kalian lagi. Untuk Caca, jaga kandungan kamu, tidak usah bekerja ketika hamil muda begini, tinggal di rumah saja. " jelas Bayu kepada kedua pasangan muda tersebut.


"Baik Pak, akan Bagas jaga Caca sampai cucu kalian lahir ke dunia. " ucap Bagas dengan penuh semangat.


Caca berberes beres barang yang ia bawa, ia juga dibantu oleh Bagas, kemudian membereskan kamarnya dan bergegas pergi meninggalkan kamarnya itu.


Caca dan Bagas pamit dengan kedua orangtua mereka, mereka juga meminta masing-masing kedua orangtua mereka tidak berseteru lagi, karena mereka akan menghadiahkan mereka dengan seorang cucu jika mereka tidak berseteru kembali.


"Jaga kandungan kamu, Ca, ibu nggak mau kamu kerja terlalu berat. Kalau butuh bantuan Bagas, bilang sama dia. " nasehat Nanno.


"Iya bu, Bagas akan selalu bantu Caca, demi calon anak kami berdua. " ucap Bagas.


"Awas nggak kamu jaga ucapanmu itu, Gas, akan kuingat terus ucapan kamu itu. " ancam Bimo.


"Iya yah, kalau begitu, Caca sama Bagas permisi. "


Bagas merangkul bahu Caca, ia mengajak Caca ke dalam mobil, kemudian pergi dari rumah kedua orangtua Caca untuk kembali ke rumah mereka.


"Gas." panggil Caca.


"Iya, kenapa Ca? Kamu mual? Kamu ada ngidam sesuatu? " tanya Bagas.


"Nggak Gas, aku lagi nggak mau semua itu. " jawab Caca.


"Terus? "


"Aku mau tanya seputar Jenni. Gimana sama Jenni, Gas? Kalian kan udah resmi berhubungan dua minggu yang lalu? " tanya Caca dengan khawatir.


Bagas memegang kedua tangan Caca. "Jangan mikirin dia, masalah Jenni, aku bisa jelasin sama dia nanti. Aku nggak bisa ninggalin kamu sekarang, Ca. " ucap Bagas.


Caca tersipu, tak lama Bagas memegang perutnya dan mengelusnya dengan pelan.


"Ca, anak kita sudah ada di sini, sudah jadi kewajiban aku buat bersama dengan kamu, dan kita sama sama urus anak kita. Masalah Jenni, biar aku yang jelaskan besok, yang terpenting aku sama kamu bisa bersama lagi. " ucap Bagas.


Caca menganggukkan kepalanya, ia tidak lagi merasa resah ketika Bagas sudah menjelaskan jalan keluarnya, hanya saja Caca akan menghadapi Jenni kedepannya seperti apa jika mereka saling bertemu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2