Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 41


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Sembilan bulan telah berlalu, sekarang saatnya Bagas dan Caca menunggu beberapa minggu lagi, mereka juga mulai satu persatu mempersiapkan barang barang yang diperlukan untuk pergi ke rumah sakit.


"Pesanan ranjang bayinya belum sampai sama sekali, nunggunya lama banget. " ucap Caca.


"Ada apa sih, sayang? " tanya Bagas.


"Gas, udah dong, jangan ngomong pake sebutan itu, panggil nama aku aja...! " ucap Caca.


"Ya, kenapa? Kan nggak papa, lagipula sebentar lagi kita bakalan punya anak. Kamu mau baby H kita ikut ikutan manggil nama kita aja? " tanya Bagas.


"Iya juga sih, terus aku manggil kamu siapa? " tanya Caca.


Bagas ikut berpikir, kemudian ia mengingat sesuatu.


"Gimana kalau kamu panggil aku abang aja, Ca? " tanya Bagas.


Caca menutup mulutnya, ia ingin tertawa dengan nama panggilan tersebut, tak tertahankan hingga ia akhirnya tertawa.


"Kenapa? Apanya yang lucu? " tanya Bagas.


"Mau ketawa aja, dari awal manggil nama aja, sekarang udah ada panggilan, mana panggilan kamu abang lagi, hahaha. " ejek Caca.


"Biarin, yang penting kita bisa memanggil nama pakai panggilan nama yang baru. " ucap Bagas.


Caca melanjutkan berberes barang barang keperluan untuk melahirkan, sebelumnya Caca akan kembali memeriksakan kandungan nya, Caca berharap bahwa ia bisa diberikan rujukan melahirkan secara normal.


"Gas, periksa kandungan yuk, udah masuk bulannya tuh sering banget dibuat deg degan gitu, takut tiba-tiba langsung keluar. " ajak Caca.


"Siap sayang, kita pergi ke tempat periksa kandungan. "


Sebelum pergi ke kantor, Bagas dan Caca menyempatkan diri untuk mampir ke rumah sakit, mereka ingin memeriksakan untuk kandungan Caca, bagaimana kedepannya hingga tanggal lahiran tiba.


......................


Setibanya di rumah sakit, Caca dan Bagas menunggu antrian, karena hari ini cukup banyak dan bergantian dengan pasien sebelumnya.


"Hei baby H, kamu sebentar lagi mau lahir nih, puas puasin dulu diri kamu di dalam perut mama kamu, nanti habis kamu lahir, bakal papa sama mama unyel unyel kamu. " ucap Bagas.


Bagas mengelus perut Caca, hingga akhirnya nomor antrian Caca di panggil.


"Ibu Binoarca. " panggil suster di depan pintu ruangan.


Bagas dan Caca memasuki ruangan tersebut, mereka melihat dokter yang baru saja membereskan peralatan sebelumnya untuk ia periksa pasien lainnya.


"Hai bumil, kayaknya mau periksa kandungan ini. Silahkan untuk duduk dahulu. " ucap dokter tersebut.


Buku panduan Caca diperiksa satu persatu, bahkan catatan panduan tersebut terlihat berbaris rapi dan rata rata laporannya menunjukkan bahwa kandungan Caca sangat baik.


"Catatannya bagus untuk bulan bulan sebelumnya. Mari, kita mulai periksa. " ajak dokter tersebut.


Caca diarahkan di tempat tidur rumah sakit, sementara dokter mengambil alat USG untuk memeriksa kandungan Caca saat ini, dan juga untuk prediksi lahirannya untuk minggu selanjutnya.


"Bayinya sudah berubah posisi, tinggal menunggu tanggal lahirnya, diprediksi seminggu lagi sepertinya ini. " ucap dokter tersebut.


Bagas melihat USG tersebut, baginya tidak ada perubahan, ia hanya melihat wajah anaknya saja, bukan pergerakan anaknya di dalam perut istrinya.


"Kok sama saja itu. "


"Apanya yang sama, pak? " tanya dokter.


Bagas mendekat, kemudian ia menunjuk ke arah layar USG, Bagas hanya menyoroti wajah anaknya.


"Tidak pak, sudah terlihat pergerakannya berbeda, sudah ingin mendekati waktunya. " jelas dokter sambil tertawa.


Caca menepuk tangan suaminya, baginya Bagas membuat malu saja, karena tidak tahu menjadi tertawaan.


Bagas membantu Caca untuk berdiri, kemudian mereka duduk di kursi, sementara dokter menulis buku panduan milik Caca untuk menulis perubahan yang terjadi pada Caca.


"Pergerakan bayinya sudah menuju ke jalan lahir, diminta untuk ibunya, tidak diperbolehkan pergi ke luar kota dengan menggunakan pesawat, karena turbulensi pesawat dapat merangsang jalan lahir. " ucap dokter pada Caca.


"Baik dok. "

__ADS_1


"Karena sudah mendekati lahiran, maka bapaknya boleh terus untuk ikut partisipasi untuk memperlancar jalan lahir ya, pak. "


Mendengar ucapan tersebut, Bagas sangat bersemangat, tetapi bagi Caca itu adalah ancamannya kembali, karena ia akan kembali ke wisata masa lalunya, saat awal bersama dengan Bagas pada malam itu.


"Ini buku panduannya, jika ada yang ingin ditanyakan, bisa hubungi saya. "


"Baik dokter, kalau begitu kami permisi. " pamit Bagas.


Bagas berjalan merangkul bahu Caca, dengan wajah sumringah ia masih mengingat himbauan dokter barusan, bahwa ia boleh berpartisipasi untuk membantu memperlancar jalan lahir.


"Seneng banget kayaknya kamu ini, Gas. "


"Heh, abang, jangan Bagas Bagas lagi manggil aku. " tegur Bagas.


"Maaf, kelupaan. " ucap Caca.


"Tentu saja aku senang, dengan begitu kamu otomatis nggak bisa nolak dong, dokternya aja menghimbau agar pergerakan diiringi dengan partisipasi bapaknya. Boleh dong jenguk baby H lagi, ahahaha. " tawa Bagas.


"Udah, itu nanti aja, sekarang kita ke kantor. "


"Siapa suruh kamu buat kerja di umur kandungan yang udah 9 bulan ini? Kamu di rumah aja, biar aku yang sibuk kerja. " ingat Bagas.


Caca cemberut, ia menatap Bagas dengan tatapan kesal. "Segitunya."


......................


Entah angin apa yang barusan menyambar Bagas, setiap Caca berkeinginan sesuatu, Bagas dengan cepat menurutinya, bahkan ranjang yang ada di mebel, Bagas siap untuk memesannya untuk Caca.


Keduanya saling memberi keuntungan berupa kesempatan, Caca berkeinginan sesuatu maka Bagas akan menurutinya, sedangkan Bagas berkeinginan berpartisipasi maka Caca akan mempersiapkannya untuk malam hari.


"Besok kata pemilik mebel buat nganterin ranjang buat anak kita. Harap ditunggu aja. " jelas Bagas.


"Iya bang, siap aku tunggu. " ucap Caca.


Bagas berpamitan dengan Caca, Caca bersalaman kemudian mereka berciuman singkat, Bagas pamit dan pergi dari rumah menuju ke kantor.


Caca sibuk membereskan rumah, tak lupa juga ia membereskan kamarnya, Caca berencana untuk suasana kamarnya dibuat lebih berbeda dari sebelumnya.


Caca sebelumnya pernah memesan lilin aromaterapi dan berbagai wewangian lainnya tetapi belum ia pakai, ia memesannya dulu karena sempat stress ketika sesudah menikah dengan Bagas dan mendapatkan pembicaraan tidak mengenakkan dari tetangga tetangga di sekitar rumah orang tuanya dahulu, membuatnya ingin sesekali menenangkan diri dengan aroma wewangian itu.


"Jadi ingat awal nikah, sempat stress karena omongan tetangga yang ngejelekin aku sama Bagas. Untung saja Bagas orangnya baik, sampai sekarang aku masih bahagia sama dia, sampai baby H bentar lagi mau lahir. "


Di kantor, terlihat Bagas sangat bersemangat mengerjakan pekerjaannya, bahkan saat meeting, Bagas terlihat sumringah menjelaskan proyek yang sedang berjalan di daerah sebelah.


Bahkan teman teman Bagas baru melihat Bagas yang berbeda hari ini, dipikiran mereka sepertinya ada yang sedang dipikirkan oleh Bagas, yang membuat Bagas selalu tersenyum pada hari ini, Jenni saja sampai terkesima kembali melihat senyuman Bagas, senyuman suami orang selalu menggoda di matanya.


"Oh iya, terimakasih. "


Caca bahkan memesan makanan, yang bisa menambah keromantisan malam hari nantinya, ia masukkan makanan tersebut ke dalam kulkas.


......................


Malam hari telah tiba, Caca dengan pakaian dan wangi yang sudah berbeda, ia ingin menyambut suaminya dengan baik.


"Assalamu'alaikum."


Caca menjawab salam tersebut, Bagas yang berdiri di depan pintu terkejut melihat Caca yang terlihat berbeda di matanya malam ini, Bagas sangat terpikat dengan istrinya malam itu.


"Mau mandi dulu atau makan dulu? " tawar Caca.


"Loh, memang udah masak? " tanya Bagas.


"Sudah kok, bang, tinggal abang pilih salah satu. " jawab Caca.


Bagas memilih untuk mandi, dari kamarnya sudah tercium aroma wangi, sepertinya Caca sudah menyiapkannya sematang mungkin.


Kedua pasangan tersebut menikmati makanan, Bagas ngeh dengan makanan tersebut.


"Ini mesan ya, sayang? " tanya Bagas.


Caca tersenyum malu, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Iya, maaf ya. " jawab Caca.


"Nggak papa, yang penting istriku sudah berusaha. "

__ADS_1


Caca mengingat sesuatu, ia menyimpan makanan lainnya di kulkas, Caca mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kue.


"Kenapa ini? " tanya Bagas.


"Dibuka aja. " jawab Caca.


Bagas membuka kotak tersebut, di dalamnya berisi kue berbentuk bibir, kedua pasangan tersebut tertawa melihat bentuk bibir tersebut, yang ingin kue tersebut untuk romatis kan suasana malah menjadi lawakan.


"Bang, mau lanjut? " tanya Caca.


Bagas mengerti, ia langsung mengangkat Caca menuju ke kamar.


"Ca, mulai nggak nih? " tanya Bagas.


"Jangan kasar kasar ya. "


Bagas menganggukan kepalanya, kemudian Caca berusaha memejamkan matanya, keduanya teramat kaku untuk malam ini dan posisi mereka beda dari malam sebelumnya.


Bagi Caca dan Bagas, melakukan hal ini perlu spontan seperti saat pertama dan sebelum sebelumnya, karena saat pertama saja mereka melakukannya dengan lancar hingga dua minggu setelahnya Caca hamil.


Selesai mengerjakannya, mereka berdua berbaring.


"Makasih ya, sayang. Maaf kalau ngelakuin nya kaku tadi. "


"Iya, nggak papa bang. "


Keduanya akhirnya memutuskan untuk langsung tidur, karena mereka sudah kecapekan dan butuh beristirahat.


......................


Keesokan harinya, Caca dan Bagas terbangun dari tidurnya, mereka saling bersemangat, mungkin karena malam tadi cukup menyenangkan bagi kedua pasangan tersebut.


Bagas dan Caca saling tukar senyum, jarang sekali mereka saling tersenyum kecuali ada hal yang menyenangkan bagi mereka.


"Yey, barangnya sampai! " sorak Caca.


Bagas membantu Caca untuk membereskan peralatan bayi di kamar tamu, itu karena kesepakatan mereka berdua, ingin mengajarkan anak mereka mandiri dengan kamar yang sudah dipisahkan sejak bayi.


"Akhirnya, ranjang imut di toko mebel itu akhirnya kita beli juga ya, bang. " ucap Caca sambil melihat barang barang yang ada.


"Padahal pengennya serba pink begitu, kan lucu, daripada ini, mainannya Bagus juga nggak jauh dari ini, sayang. "


"Mainan bayi cowok juga nggak kalah imut kok, bang, nanti aku pilihin boneka yang lucu buat anak cowok kita. " ucap Caca.


"Yaudah, kalau begitu aku berangkat dulu ya, mau ke proyek soalnya. " ucap Bagas.


"Oh iya, hati hati dijalan, bang. "


Caca bersalaman dan mencium punggung tangan Bagas, Bagas menciumi istrinya dan pamit untuk pergi.


......................


Semenjak malam tadi, Caca merasakan mules pada perutnya, ingin buang air besar tetapi tidak terasa sama sekali.


"Duh, sakit perut, tapi rasanya mules banget, mana dari malem tadi juga... " keluh Caca.


Caca mengantisipasi awal, Caca memberitahukan kondisinya pada ibunya.


"Halo bu, ibu lagi sibuk nggak? " tanya Caca.


'Nggak kok, nak, ada apa kamu? ' tanya Nanno dari telepon.


"Bu, perut Caca rasanya mules banget, boleh nggak ibu datang ke sini buat bantu Caca? Takutnya ada apa apa. " tanya Caca.


'Iya nak, ibu bakal ke sana, kamu tunggu ibu ya. '


Caca berjalan ke arah dapur, sakit perutnya makin menjadi, tak lama ia berhenti memegang kursi dapur.


Caca merasakan cairan di kedua kakinya mengalir, ia terkejut melihat lantainya yang sudah dipenuhi cairan bercampur dengan darah.


Caca panik, ia kemudian menelpon Bagas.


'Halo, ada apa sayang? ' tanya Bagas.


Caca bergemetaran, ia berusaha untuk menarik nafasnya dan ingin mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Gas, kayaknya udah dekat waktunya deh... " ucap Caca dari telepon.


...****************...


__ADS_2