
...Selamat membaca ๐...
......................
"Bang, berdiri di dekat sinar matahari ya, temenin Hafizh berjemur. "
Caca mengajak Bagas untuk berjemur pagi, ia ingin bersama dengan anaknya untuk menikmati suasana pagi hari, dengan sinar matahari yang sangat diperlukan oleh anaknya.
"Huh, jarang kena matahari pagi, sekalinya kena terasa panas banget. " ucap Bagas.
"Nggak papa, sekalian kita dapat sinar matahari pagi, kan lumayan bareng anak sama sama sehat. " ucap Caca.
Saat Caca sedang melihat tanaman, tak sengaja ia lihat Bagas dengan lembut menggendong Hafizh, terlihat sekali aura papa muda di wajah suaminya, itu merupakan momen yang tidak bisa dilewatkan oleh jepretan kamera.
'Lihat tuh, Fizh, ada burung terbang di sana... '
Caca memotret Bagas yang sedang mengobrol dengan anaknya, saat Bagas tak memperhatikannya adalah saat yang bagus untuk ia potret.
"Udah ya Ca, Hafizh perlahan lahan aja kena matahari nya. Kamu fotoin apa? "
Caca langsung mematikan HPnya, tetapi Bagas adalah laki-laki yang serba penasaran, ia mencoba mengambil HP milik Caca, tetapi masih memperhatikan anaknya yang sedang ia gendong.
"Ca, jangan main main kayak gitu, aku lagi gendong Hafizh ini, nanti Hafizh bisa jatuh. " ucap Bagas.
Caca memberikan HPnya, ia merasa malu ketika ia ketahuan memotret suaminya, Bagas tersenyum dan memberikan HP milik Caca.
"Kamu diam diam jadi penggemar rahasia aku ya, sayang? " tanya Bagas.
Wajah Caca memerah, ia meminta Hafizh yang berada di pangkuan Bagas, ia menatap anaknya untuk menutupi rasa malunya ketika ketahuan.
"Nggak lah, itu cuma sekali aja kok, kebetulan kamu gendong Hafizh. " bantah Caca.
Caca merasa gengsi untuk mengakui bahwa ia terkesima dengan aura suaminya, tetapi Bagas hanya tertawa, ia mendekat dan mencium kening Caca.
Caca terkejut, ia menatap ke arah Bagas dengan memegang kepalanya.
"Nggak papa, berarti tanda cinta dari kamu buat aku, sayangku. "
Caca salah tingkah, ia tidak fokus dan ingin menutupi wajahnya dengan badan anaknya, tetapi ia melampiaskan nya lewat mencium pipi Hafizh.
"Papamu memang jago bikin mama salah tingkah, nak... " ucap Caca.
......................
Kebahagiaan dan ketenangan itu hanya sementara, setelah umur Hafizh sudah seminggu lebih, Hafizh akhirnya mengeluarkan suara pertamanya, ia mulai rewel ketika malam hari, dan itu membuat ?Bagas dan Caca kelabakan melayani anak mereka.
"Ternyata dia lapar, lihat, nyusuin nya kuat banget. " ucap Bagas.
"Hehe, kerjaan Hafizh tengah malem beginian ternyata ya. " ucap Caca.
"Duh, awal awal Hafizh lahir, dia nggak serewel ini, ya? " tanya Bagas.
__ADS_1
"Sabar, anak tuh cepat gede. Lihat, nggak kerasa seminggu yang lalu habis lahirin dia, udah tambah dong umurnya sekarang, anggap aja hiburan kita di rumah walaupun capeknya terasa. " jawab Caca.
Selesai menyusui, Caca dengan perlahan menaruh Hafizh kembali ke ranjang bayi.
Bagas menguap, begitupun dengan Caca, mereka berdua menguap secara bersamaan dan ingin memejamkan mata mereka yang sudah mengantuk.
Disaat baru ingin memejamkan mata, Hafizh lagi lagi menangis, segera mungkin Caca dan Bagas terbangun, mereka menimang anak dan menyiapkan susu untuk anak mereka.
......................
Pagi harinya, Bagas terbangun, ia terkejut ketika melihat jam, Caca ikut terbangun dan segera menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum anaknya bangun dari tidur.
"Bang, ini, segera dimakan dulu sebelum pergi ke kantor. " ucap Caca.
Bagas memakan sarapannya dengan terburu-buru, Caca menyiapkan barang yang akan dibawa oleh suaminya, kemudian diiringi oleh tangisan Hafizh di kamar anak.
"Aku buatin susu ya, Ca. " tawar Bagas.
"Masih sempat nggak ini? Nanti terlambat. " tanya Caca sambil menggendong Hafizh.
"Masih, sebentar ya. "
Bagas membuatkan susu untuk anaknya, selesai memberikan susu, ia berangkat untuk segera ke kantor, sebelumnya Bagas pamit kepada istri dan anaknya.
"Aku pergi dulu ya, sayang. Hafizh, jangan bikin mama sedih ya nak, jadilah anak pintar di rumah. " ucap Bagas.
Bagas segera berjalan ke luar, ia segera bergegas menuju ke kantor.
Bagas terus terusan menguap, ia merasa mengantuk untuk pertama kalinya, sebab semalam ia kurang tidur.
Teman kantor nya ternyata ngeh dengan Bagas yang sekarang tidak banyak suara, karena terlihat bahwa Bagas kelelahan.
"Papa baru ini, gimana awal awal, Gas? " tanya teman kerja Bagas.
Bagas merespon pertanyaan temannya, ia kembali menguap dan merenggangkan badannya.
"Ngantuk, semalaman nggak bisa tidur, tapi capeknya nggak kayak Caca sekarang di rumah. Aku yakin, dia pasti nggak bisa tidur untuk sekarang. " jawab Bagas sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Ya, harusnya tuh tugas Caca, Gas, kamu kan yang kerja, kamu fokus kerja, Caca fokus rawat anak kamu, bagi tugas lah istilahnya. "
Bagas agak tersinggung dengan ucapan temannya, karena jawaban tersebut bukan sebuah saran, melainkan membuatnya melenceng.
"Apa gunanya cuma bisa buat tapi nggak mau ngurus sama sama? Mau itu suami atau istri, anak itu tanggung jawab kita, kalau kita bisa bantu istri kita, kenapa tidak? " tanya Bagas membantah.
"Ya, kan ituโ"
"Aku mau jadi laki-laki yang berguna, bukan asal buat semua harus ditanggung istri, kamu kira 9 bulan dia ngandung terus melahirkan dia santai santai saja kah? " tanya Bagas.
Akhirnya Bagas mengomel, teman kantor Bagas menjadi tersinggung dengan ucapan Bagas, karena itu tidak sesuai dengan dirinya.
Tapi siapa Bagas, laki-laki itu tidak peduli sama sekali, baginya jika menyinggung akan ia lawan dan bantah, bahkan istrinya sekalipun.
__ADS_1
"Bodoamat, yang penting aku bisa lihat Caca sama Hafizh di rumah, omongan orang nggak bakal kudengarkan. "
......................
Menunjukkan pukul 5 sore, Bagas pulang dengan membawa makanan, berupa donat yang ia bawa untuk Caca makan.
"Assalamu'alaikum. "
"Waalaikumsalam, udah pulang, bang? "
Caca bersalaman dengan Bagas, Bagas memberikan donat pada Caca, Caca mengambil nya dengan senang dan membuka kotak tersebut kemudian memakan salah satu dari donat yang ada di dalam kotak.
Bagas memperhatikan Caca, tampak lahap sekali istrinya memakan donat tersebut, terlihat bahwa Caca memang lapar di sore hari.
"Enak donatnya? " tanya Bagas.
"Enak, aku suka, beli dimana? " tanya Caca.
"Deket kantor, ada toko bakery baru di sana, jadi beli aja buat jadi testi pertama toko bakery itu. Kalau enak, langganan. " jawab Bagas.
Caca memakan donat tersebut dengan bahagia, sedangkan Bagas memandang istrinya, tak lama Bagas menyentuh pipi Caca.
"Capek ya, sayang? " tanya Bagas.
Caca menyelesaikan makannya, ia menganggukan kepalanya dan menguap.
"Iya bang, capek, mau tidur siang tadi kebangun sama tangisannya Hafizh. Ganti aku tidur ya, bang. " ucap Caca.
"Iya, sekarang tidur sana, biar ada tenaga nanti malam. Biar aku yang urus Hafizh sekarang. "
Bagas dan Caca berjalan menuju ke kamar anak, Bagas mulai menimang Hafizh, sedangkan Caca merangkak ke kasur dan merebahkan badannya, tak butuh waktu yang lama untuk membuat Caca tertidur, menjadi orangtua baru adalah pengalaman yang baru juga untuk kedua pasangan tersebut.
"Hafizh anak pintar, susunya dihabisin ya. "
Bagas memberikan Hafizh susu dan memastikan popoknya diganti, ia mulai menimang anaknya hingga tak lama Hafizh tertidur pulas di pangkuannya, Bagas kemudian memindahkan secara perlahan Hafizh dari pangkuan menuju ke ranjang bayi.
Selesai dengan mengurus Hafizh, Bagas merenggangkan tubuhnya, ia menatap Caca yang benar-benar tertidur pulas, Bagas berniat untuk tidur di samping Caca.
Bagas membaringkan tubuhnya dan menghadap ke depan wajah Caca, ia menatap wajah Caca yang tengah tertidur, terlihat guratan kantong mata istrinya, menandakan cukup besar perjuangan untuk mengurus Hafizh seharian tanpanya.
"Capek banget dia, lihat, kerutan baru di mukanya. " ejek Bagas berbisik.
Bagas memeluk Caca, ia menghirup aroma tubuh istrinya, tercium aroma minyak telon milik anaknya yang harum ketika memasuki indra penciuman nya.
"Harumnya bau Caca, bau minyak telon, jadi inget mamak habis lahiran Brama dulu, tidur di samping mamak sama Brama terus cium bau mamak yang nempel bau minyak telon... "
Tak lama setelah memeluk Caca, Bagas ikut tertidur, ia merasa mengantuk karena semalam kurang tidur.
Ketiganya akhirnya tertidur, walaupun Bagas terbangun karena suara ngaji saat isya ingin tiba.
...****************...
__ADS_1