Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 10


__ADS_3

“Jawab! kemana kamu sering menghilang kabar? Apa sudah menemukan jawaban yang pas?!” tanya Yana menatapnya dengan murka.


“Mas, sebenarnya kamu masih cinta gak sih sama aku? Kenapa seperti aku sangat tidak penting bagimu? Ini bukan untuk pertama kalinya Mas, kamu seperti ini!” kesal Yana.


Dian masih bungkam.


“Sepertinya kamu belum menemukan jawaban yang pas!” Yana membalikkan badannya hendak melangkah keluar.


Dari pada terus menerus berdebat tanpa menemukan ujungnya, akhirnya Yana lebih memilih meninggalkan perdebatan tersebut.


Prok ... prok ...


Yana dan Dian terkejut mendengar suara tepuk tangan seseorang, karena perdebatan mereka Dian lupa menutup pintu saat masuk ke dalam kamar tadi.


Yana membulatkan matanya, melihat papanya berdiri di ambang pintu menatap mereka seraya melipat kedua tangannya.


“Masih punya muka kau datang kemari?! Setelah pergi begitu saja dan kini kau datang lagi! Kau pikir putriku itu boneka?!” sentak ayah mertuanya.


Dian berdecap kesal, karena menurutnya mertuanya ikut campur dalam urusan rumah tangganya.


“Pa, ini masalah rumah tanggaku. Papa tidak berhak ikut campur!” sentak Dian pada papa mertuanya.


Yana menatap suaminya dengan kesal, karena Dian membentak papanya.


“Lihat Yana, suami macam apa dia?! Sudah datang dan pergi seenaknya saja, masih punya malu kau Dian!”


“Pa, sudah ....” Yana menahan papanya, agar tidak terjadi keributan di kamar tersebut.


“Pa, seharusnya Papa memberitahu pada putri Papa itu agar patuh pada Suami! Bagaimana caranya dia menjadi Istri yang baik di rumah! Dia harus di ajarkan bagaimana caranya agar suami betah di rumah! Bukannya malah menyalahkan aku!”


“Oh ya, yang seharusnya belajar itu kau! Kau meminta putriku menjadi Istri yang patuh, apa kau sudah menjalankan tugasmu sebagai seorang suami? Hah!” balas papa mertuanya tak mau kalah.


Dian terdiam, karena ucapan papa mertuanya memang benar adanya.


“Yana, kamu ikut pulang bersamaku atau tetap disini?” tanyanya pada Yana yang tampak masih berdiri di antara papa dan suaminya.


“Tidak! Yana tidak akan kemana-mana! Berani selangkah memaksa putriku untuk keluar dari rumah ini! Kau yang akan menerima akibatnya! Kau tidak pantas di anggap suami!” bentak papa mertuanya.


“Yana, aku bertanya padamu!” bentak Dian pada istrinya, membuat Yana menutupkan matanya.


Yana menatap papanya, lalu menggelengkan kepalanya.


Sudah cukup penderitaan batin yang suaminya lakukan padanya, pikirnya.


“Yana, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” tanya Dian mendekati istrinya tersebut.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu Mas? Seharusnya pertanyaan itu untukmu!”

__ADS_1


Yana berlalu pergi dari kamar tersebut, meninggalkan papa dan suaminya.


Ia menuruni tangga, terlihat kedua putranya tengah berbincang dengan Damar yang baru tiba bersama putranya Kevin.


“Damar, dia disini?” gumamnya.


Ia mengusap sisa air mata di sudut matanya, berulang kali menetralkan emosinya akibat perdebatan di kamar tadi.


“Yana,” sapa Damar.


Namun, netra Damar tertuju pada pipi Yana yang memerah.


Ia sudah menduga jika itu adalah tamparan dari suaminya, karena sebelumnya Damar mendapatkan info dari anak buahnya jika Dian sudah kembali datang.


“Damar, kapan kamu datang?” tanya Yana memperlihatkan senyumnya.


“Baru saja,” sahutnya.


“Disaat hatinya sakit seperti saat ini, ia tetap tersenyum,” gumam Damar dalam hati.


“Sebentar aku akan membuatkanmu minum,” ujar Yana berpamitan.


Melihat Damar mengangguk, Yana berlalu pergi ke dapur.


“Mama, Papa mana? Deva kangen,” tanya Deva dengan polosnya.


“Papa ada di kamar, Sayang,” sahut Yana sembari mengusap pipi putranya tersebut.


Deva dan Diki terlihat berbeda. Deva begitu manja dengan ayahnya, sedangkan Diki ia terlihat lebih dewasa.


“Papa disini, Sayang. Apa Deva mau ikut Papa?” tanya Dian sembari menuruni tangga.


Semua orang menatap ke arah tangga.


Langkah Dian langsung berhenti, saat melihat ada Damar di ruang tamu dengan duduk bersama putranya Diki dan satu anak kecil yang tampak akrab dengan Diki.


“Tuan Damar di sini? Kenapa dia berada di rumah ini?” tanyanya dalam hati terlihat bingung.


“Tidak, kamu tidak boleh membawa anakku,” tolak Yana menarik putranya.


“Kenapa tidak boleh? Dia putraku juga,” sahut Dian melanjutkan langkahnya.


Namun, suaranya lebih lembut dari sebelumnya yang begitu kasar pada Yana.


Kemungkinan besar, karena ada bosnya berada di ruang tamu tersebut.


“Maaf, Yana. Sepertinya, aku harus pamit pulang. Karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” pamit Damar dengan sengaja pamit.

__ADS_1


“Karena Kevin dan Diki masih mengerjakan tugas sekolah mereka, maka aku titipkan Kevin sebentar. Aku akan menjemputnya dua jam lagi,” ujarnya.


Yana mengangguk.


Dian baru mengerti, jika Diki putranya ternyata satu sekolah dengan putra bosnya.


Setelah melihat kepergian Damar, Dian melangkah cepat menuruni tangga.


Deva tampak ketakutan, sehingga ia bersembunyi di belakang mamanya karena takut melihat raut wajah papanya yang terlihat marah.


“Apa yang ingin kamu lakukan? lihat, Deva ketakutan!” ujar Yana pada suaminya karena hendak menarik paksa tangan putranya itu.


“Lepaskan cucuku! Jangan berani menyentuhnya!” teriak mama mertuanya melihat kegaduhan di bawah tangga tersebut.


Diki dan Kevin yang mendengar itu langsung berlari menarik Deva itu lalu masuk ke kamar yang ada di lantai bawah lalu menguncinya, karena mereka melihat Deva yang terlihat ketakutan dan menangis.


“Keluar kau dari rumahku!” bentak papa mertuanya yang ternyata menyusul mereka turun ke bawah.


Dian terlihat murka menatap istrinya


“Kamu akan menyesal. Lihat saja, ingat kata-kataku ini! Aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu!” ancamnya menunjuk wajah Yana dengan perasaan marah.


“Berani sekali kau mengancam putriku! Sebelum kau membuat putriku menyesal, kau yang akan ku buat menyesal! Karena sudah menyia-nyiakan Yana!” ancam papa mertuanya menunjuk Dian.


Dia terlihat kesal, lalu melangkah besar menuju pintu keluar.


“Jangan pernah kau menginjakkan kaki lagi ke rumah ini! Selangkah saja kau masuk, kamu akan menyesal seumur hidupmu!” Teriak papa mertuanya.


Dian tampak tidak peduli dengan teriakan tersebut, ia tetap melangkah keluar dengan perasaan yang marah. Bahkan ia membanting pintu keluar tersebut dengan cukup keras.


Bruak!


“Dasar, anak tidak ada sopan santunnya!” kesal papanya.


Yana terduduk lemas di lantai, Yana tidak bisa lagi menahan air matanya ia menangis di dalam pelukan mamanya.


“Dengar, Yana! Jika kamu berniat ingin kembali pada suamimu yang kurang ajar itu, Papa akan menganggap kamu sudah mati!” ancam papanya.


“Pa, kenapa bicara seperti itu!” celetuk istrinya.


“Biarkan saja! Agar Yana tahu dan membuka matanya lebar-lebar! Suami yang selama ini selalu kamu lindungi, lihat apa yang telah ia lakukan padamu?! Pokoknya Papa minta kamu harus bercerai dengannya!” sentak papanya yang tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


Apalagi papanya sudah mengetahui kelakuan busuk menantunya tersebut diluar sana, ternyata tanpa sepengetahuan istri dan putrinya. Dia mencari tahu kenapa perginya menantunya tersebut, dan saat ini ia juga sudah mengetahui jika Dian ternyata sudah menikah dan mempunyai anak.


Namun, ia belum mengatakannya pada istri dan putrinya. Begitupun dengan Yana yang masih menutupi apa yang terjadi sebenarnya pada suaminya itu.


Mendengar ucapan papanya, Yana semakin terisak di dalam pelukan mamanya.

__ADS_1


***


__ADS_2