
Yana tampak fokus dengan layar ponselnya, sementara Damar juga tengah fokus mengendarai mobil.
Mereka sebelumnya lebih dulu mengantar putra Yana dan juga putranya Kevin, walaupun Damar terbilang orang yang sangat kaya raya, dirinya tidak ingin menyekolahkan putranya di tempat sekolah ternama atau mewah.
“Yana,” panggil Damar sembari menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau.
“Iya,” sahut Yana menoleh ke samping.
“Mm ... sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini. Tapi, aku takut kamu marah,” ujar Damar tampak ragu.
“Mengatakan apa? Katakan saja,” sahut Yana.
Damar tampak terdiam sejenak.
“Damar,” panggil Yana, karena Damar tak kunjung berbicara.
“Hm ... maaf. Aku lupa apa yang ingin kamu bicarakan,” sahut Damar.
Damar terlihat terkekeh memperlihatkan gigi putihnya, Yana menggelengkan kepalanya.
Kini tak ada lagi percakapan antara mereka.
Setiba di kantor, Yana berpamitan lebih dulu untuk masuk ke ruangannya.
Sedangkan Damar juga meminta Yana lebih dulu masuk.
Setiba di ruangan, Yana melihat ada seikat bunga mawar di atas meja miliknya. Yana mengernyit heran, karena dirinya tidak pernah memesan bunga tersebut.
“Bunga milik siapa ini?” tanya Yana bergumam.
Ia melihat kartu ucapan, namun tidak melihat nama di kartu tersebut.
Yana mengangkat kedua bahunya, karena terlihat sedikit tidak peduli.
Tok ... Tok ....
“Yana,” panggil seorang wanita yang sangat Yana kenali suaranya.
“Vita, kamu kemari?” Yana tampak terkejut melihat kedatangan temannya tersebut.
Vita tersenyum lalu mengangguk.
“Wow, bunga dari siapa nih?” tanya Vita melihat bunga tersebut.
“Entahlah, aku tak tahu. Mungkin ada yang jahil meletakkannya di meja ku. Hm ... lupakan itu. Ada perlu apa kamu datang kemari?” tanya Yana mengalihkan pembicaraan.
“Hm ... selain aku bertemu denganmu, aku juga di pindahkan kemari.” Vita terlihat sumringah, karena bisa satu kantor lagi bersama Yana tersebut.
“Wah, kamu serius? Aku sangat senang mendengarnya.”
Setelah berpelukan sejenak Yana duduk di kursinya, menggeser bunga tersebut karena sedikit menghalangi pandangannya untuk melihat layar komputer.
“Mm ... aku penasaran siapa yang mengirimmu bunga? Apa dia dari kekasih atau pengagum rahasiamu,” goda Vita mengambil kartu ucapan tersebut.
Yana terkekeh lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Omong kosong! Usiaku sudah tidak muda, Vita. Mana mungkin ada pengagum rahasia!” celetuk Yana sembari menatap layar laptopnya.
“Oh my God!” Vita tampak menutup mulutnya setelah membaca kartu ucapan tersebut.
“Ada apa Vita? Kamu mengagetkan ku!” menatap Vita.
“Ini, dari Tuan Damar,” ucapnya memperlihatkan kartu ucapan tersebut.
Yana mengernyit heran, karena sebelumnya ia tak melihat ada nama pengirim di kartu ucapan tersebut.
“Mana mungkin!” Yana tampak tak percaya.
“Lihat ini,” ujar Vita memperlihatkan kartu ucapan tersebut, nama Damar terselip di tulisan itu namun sangat kecil.
“Untuk apa Damar mengirimku bunga? Aku tidak berulang tahun.” Yana tampak bingung.
“Bodoh! Tuan Damar menyukaimu, bunga mawar merah adalah simbol cinta!” kesal Vita melihat kepolosan Yana.
Yana tampak berpikir sejenak.
“Jangan bicara sembarangan!” kembali melanjutkan ke layar laptopnya.
“Huh kamu ini. Aku tidak bicara sembarangan, lihat saja kata-katanya. Semoga kamu suka dengan bunga ini.” Membaca kembali kartu ucapan tersebut.
“Kamu beruntung sekali di sukai oleh pemilik perusahaan ini,” ujar Vita tampak bahagia memeluk belakang Yana.
Deg!
Ucapkan Vita kembali menghentikan aktivitas Yana.
“Iya. Apa kamu juga tidak mengetahui jika Tuan Damar pemiliknya?” tanya Vita melepaskan pelukannya menatap Yana.
Yana menggelengkan kepalanya.
Vita memukul pelan keningnya sendiri, tak habis pikir pada Yana. Karena Yana tidak mengetahui juga siapa Damar sebenarnya.
“Bagaimana bisa? Yana ... astaga!”
“Damar mengatakan jika dia hanya di percayakan mengurus bisnis ini.”
“Iya, memang benar. Karena Ayahnya sudah tua, jadi Tuan Damar menggantikan posisi Ayahnya. Karena dia pewaris tunggal,” sahut Vita.
“Hah!” Yana sedikit terkejut, ia bersandar di bahu kursi. Tampak lemas setelah mendengar ucapan Vita.
“Haduh, Yana! Kamu sangat gemas, aku ingin menggigit pipimu! Bagaimana bisa kamu tidak mengetahui siapa Tuan Damar itu?!” gemas Vita hanya mencubit pelan pipi Yana.
Karena usia mereka terpaut cukup jauh, membuat Vita mengurungkan niatnya untuk menggigit pipi Yana karena begitu gemasnya dengan temannya tersebut.
Vita juga sebenarnya kurang nyaman, jika ia memanggil dengan sebutan nama pada Yana. Namun, Yana sendiri yang memintanya setelah mereka terlihat begitu akrab saat bekerja di kantor cabang.
“Hah, sudahlah. Aku ingin bekerja Kembali, selamat bekerja. Oh ya, selamat ya. Semoga kalian cepat jadian,” goda Vita sembari berlari kecil sembari tertawa kecil
Karena melihat Yana melototkan matanya padanya.
“Jadi, selama ini dia berbohong padaku! Dia mengatakan, jika dirinya hanya karyawan biasa,” gumam Yana.
__ADS_1
Ia melirik dari dinding kaca yang dari ruangannya, Damar tampak fokus dengan layar laptopnya.
Saat Damar tak sengaja menatap dirinya, Yana langsung mengalihkan pandangannya. Yana terlihat malu, karena ketahuan menatap Damar.
“Sialan! Kenapa aku jadi gugup begini?” umpatnya dalam hati.
“Ekhem ...” dehamnya menetralkan kembali rasa gugupnya.
***
Sementara di tempat lain, Dian tampak berjalan gontai sembari membawa koper miliknya masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Ia menghela napas kasar, lalu duduk di sofa.
“Dian, kamu kemari Nak?” tanya mamanya.
Dian tak menjawab, ia hanya memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Mamanya menatap koper milik putranya tersebut.
“Dian, kamu mau kemana membawa koper?” tanyanya.
“Huftt ... Celine marah dan mengusirku dari rumah.” Dian tampak kacau, bahkan rambutnya acak-acakan.
“Mengusrimu? Bagaimana bisa? Istri macam apa dia?!” mamanya terlihat kesal.
“Biar Mama yang memberinya pelajaran!” geram mamanya hendak melangkah keluar.
“Ma, jangan ikut campur masalah rumah tangga Dian lagi! Cukup bersama Yana, Mama selalu ikut campur!” ujar Dian terlihat kesal.
Deg!
Mamanya langsung terdiam, ia tampak terkejut karena pertama kalinya Dian berkata kasar padanya.
“Dian, kamu berani berkata kasar pada Mama! Demi membela wanita tidak tahu diri seperti Yana!” ucapnya menatap putranya.
“Ma, berhenti mengatakan Yana wanita tahu diri! Yana itu wanita baik, salahnya Dian telah mengkhianatinya. Aku sangat menyesal,” keluhnya.
Tersirat rasa penyesalan telah mengkhianati mantan istrinya itu, setelah sepuluh tahun membina rumah tangga bahkan sudah di karunia dua orang anak. Hancur seketika karena atas perbuatannya sendiri.
“Dian kamu belum tahu sifat buruk mantan Istrimu itu?! Dia itu sangat jahat!” Mencoba kembali menghasut putranya agar tidak berpikir untuk kembali pada Yana.
“Ma, sudah cukup dengan sandiwaramu itu!” bentak suaminya yang baru keluar dari kamar.
Sejatinya, dirinya juga sangat geram melihat tingkah laku istrinya yang selalu menyalahkan Yana.
“Karena dirimu juga, rumah tangga putramu itu menjadi berantakan! Dan kau Dian! Apa kamu tidak berpikir dahulu, sebelum melakukan perbuatan itu!” kesal papanya.
Dian hanya terdiam menunduk.
“Mas, kenapa kamu malah membela wanita tidak tahu diri itu?!” protesnya.
“Diam! Kalian berdua itu sama saja! Hanya melihat dari sisi buruk Yana saja! Apa kalian sudah sempurna? Apa kalian tidak melihat juga kebaikan Yana pada kalian?! Wanita malang itu selalu melakukan yang terbaik untuk kalian, agar kalian tetap bahagia! Tapi apa balasan kalian terhadapnya?! Jangan menyesal nantinya, karena atas perbuatan kalian! Terutama kau!” geram suaminya menunjuk istrinya yang terlihat terdiam.
Sang istrinya langsung terdiam, melihat suaminya terlihat sangat marah.
__ADS_1
***