
Damar memberi kode tangannya pada anak buahnya untuk agar berhenti melangkah, karena mendengar suara percakapan seorang perempuan.
Damar menajamkan pendengarannya, menempelkan daun telinganya ke tembok. Ia samar-samar mendengarnya, namun tak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan.
“Apa kalian mendengar suara itu?” tanya Damar dengan suara sangat pelan.
“Iya, Tuan. Suaranya berasal di balik tembok itu,” sahut salah satu anak buahnya.
“Sekarang apa rencana kita?” tanya Damar, karena dalam posisi saat ini dirinya tidak bisa berpikir.
“Kita langsung bergerak saja, kita harus bekerja sama dan bertindak secepatnya. Karena, melihat keadaan Tuan muda. Sepertinya di beri obat penenang, akan sangat berbahaya jika terlambat menyelamatkannya.”
Mendengar itu, Damar tampak gusar. Ia juga tidak ingin mengecewakan istrinya yang saat ini mempercayakan sepenuhnya padanya.
Damar mengangguk, lalu menggerakkan kedua jarinya untuk segera maju.
Tiga orang maju, sedangkan Damar melangkah belakang.
Melihat target lengah, salah satu anak buah Damar melepaskan timah panas terbuat tepat mengenai perutnya.
Dor! Dor!
Dua kali suara senjata api terdengar sangat nyaring, bersamaan dengan darah yang menyembur keluar dan berceceran di lantai.
Pria itu langsung terjatuh ke lantai, dengan bersimbah darah.
“Jangan bergerak! Sekali saja melangkah, nyawamu ku pastikan melayang!” ancam Damar melihat Clara masih mematung.
“Dimana putraku?” tanya Damar, karena tidak melihat Diki di dalam ruangan tersebut.
Clara menyeringai jahat.
“Tidak semudah itu!” tantang Clara sembari melipat tangannya.
“Apa maumu? Aku tidak menyangka wanita sepertimu berhati iblis! Bagaimana bisa kamu berbuat jahat seperti ini?!” geram Damar melangkah mendekati Clara.
“Jangan mendekat! Jika kamu akan melihat tubuh putramu itu hancur lebur!” ancam Clara melihat sebuah tombol yang ada di tangan Clara.
Damar terdiam di tempat, menatap tombol yang belum di tekan oleh Clara.
Damar semakin geram melihat Clara begitu jahat.
“Katakan pada anak buahmu, untuk meletakkan senjata dilantai! Apa yang kamu lihat? Cepat!” bentak Clara.
Damar langsung memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan senjatanya, Clara tampak tertawa puas karena Damar terlihat patuh dengan ucapannya.
“Hahaha ... Tuan Damar, pemilik bisnis yang cukup besar. Namun, terlalu bodoh menilai seseorang! CK, CK. Miris!” ejek Clara.
“Huftt ... bagaimana? Apa kamu siap menikah denganku?” tanya Clara tanpa bersalah sedikitpun.
“Aku pasti akan membebaskan putramu, jika kamu sudah menepati janjimu!” tambah Clara duduk di kursi.
Belum sempat Damar menjawab ucapan Clara, Kembali terdengar suara tembakan dari arah lain.
Melihat Clara lengah, anak buah Damar langsung bertindak dan melepaskan kembali timah pada tersebut tepat mengenai kakinya hingga membuat Clara terjatuh di lantai.
Damar langsung mengambil senjata itu dari tangan anak buahnya lalu meletakkan di kepala Clara, ia tidak peduli lagi dengan kesakitan Clara.
“Katakan cepat!” bentak Damar hendak menarik pelatuknya.
“Di-dia, di kamar ujung,” sahut Clara terlihat gugup bahkan kesakitan.
Clara gemetar menatap darah yang begitu banyak keluar dari kakinya.
__ADS_1
“Kalian jaga dia, aku akan mencari putraku. Jika dia berbohong, tembak saja dia!” perintah Damar karena sudah mulai kesal dengan perbuatan jahat Clara.
Damar setengah berlari dengan menggunakan cahaya senter di ponsel miliknya untuk pencahayaan, karena gedung tua tersebut sangat gelap.
Damar mencari semua di setiap kamar dimana keberadaan putranya, setelah kamar terakhir ia menemukan putranya yang masih dalam keadaan terikat dan masih dalam keadaan tidur pulas.
Damar yakin, Clara pasti memberikan sesuatu hingga membuat Diki tertidur begitu pulas. Setahunya, Diki sangat takut akan kegelapan.
“Sayang, bangun Nak. Papa sudah datang untuk menjemputmu,” ujar Damar berusaha membangun putranya dan melepaskan ikatan di tubuh Diki.
Namun, Diki tak kunjung bangun.
“Kita akan ke rumah sakit sekarang, Sayang.” Setelah berhasil melepaskan ikatan tersebut, lalu menggendong putranya di bahunya.
Wajah Damar terlihat sangat cemas, melihat putranya saat ini tak kunjung bangun.
Dor!
Bruk!
Damar tersungkur ke lantai, karena timah panas tersebut melukai kakinya.
Namun, beruntung ia bisa mengimbangi tubuh putranya agar bisa jatuh di atas tubuhnya.
“Sialan!” umpat Damar berusaha berdiri.
“Serahkan anak itu pada kamu!” ujar pria bertopeng tersebut menodongkan senjata itu pada Damar.
Dor! Dor!
Dua kali suara tembakan tersebut, Damar menutup matanya pasrah dengan keadaannya sekarang.
Namun, ia tidak merasakan sakit apapun, membuatnya membuka kelopak matanya.
Bruk!
“Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya anak buahnya.
“Kamu penyelamatku. Sekarang bantu aku membawa putraku ke mobil, kita akan membawanya ke rumah sakit terdekat!” ujar Damar berusaha berdiri walaupun kakinya terasa sakit.
“Baik, Tuan.”
Mereka menuju keluar gedung tua itu, saat melintasi kamar pertama yang menemukan Clara di sana. Tapi, tak ada seorang pun yang ada di dalam kamar tersebut, kacuali darah yang belum di bersihkan di kamar tersebut
“Jangan khawatir, Tuan. Semuanya sudah beres, mereka semua sudah di tangkap. Pria terakhir yang bertopeng itupun sudah menegang nyawa, aku akan mengurus semuanya dan mengatakannya pada pihak polisi,” ucap anak buahnya.
Dengan langkah tertatih-tatih Damar mengangguk, bahkan saat ini tidak merasakan sakit di kakinya. Karena yang terpenting adalah keselamatan putranya saat ini.
Keluar dari gedung tua itu, Damar melihat ada satu ambulance dan mobil polisi yang siap pergi dari tempat tersebut.
Damar tampak menghela napas lega, karena Clara saat ini sudah di tangkap oleh pihak yang berwajib.
Tujuan mereka saat ini adalah ke rumah sakit, tak butuh waktu lama mereka tiba di rumah sakit.
Di koridor rumah sakit, Damar terjatuh pingsan. Karena begitu banyak darah yang keluar dari kakinya, beruntung rumah sakit tersebut terlihat sepi karena sudah melewati jam tengah malam.
“Astaga, Tuan. Bangunlah,” panggil anak buahnya berusaha membangunkan dirinya.
Sementara yang lainnya membawa Diki ke UGD untuk segera mendapatkan penanganan.
Yana di jemput oleh anak buah Damar untuk segera ke rumah sakit, karena keduanya sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Terpaksa Yana membangunkan kedua putranya untuk pergi ke rumah sakit, karena tidak mungkin baginya meninggalkan Deva dan Kevin berdua di kamar.
__ADS_1
Dalam perjalanan, tubuh Yana tampak gemetar apalagi setelah mendengar kedua orang yang sangat ia cintai di rawat di rumah sakit.
“Kenapa dia sejahat itu? Apa salah putraku!?” gumam Yana dalam hati.
Berulang kali ia mengusap air matanya yang sejak tadi tak berhentinya menangis, memikirkan keadaan suaminya dan putranya.
“Ma, kita mau kemana?” tanya Kevin mengusap kelopak matanya karena baru bangun tidur.
Karena Kevin belum mengetahui kejadian yang menimpa Diki dan papanya saat ini.
“Tidurlah lagi, Sayang.” Yana mengusap kepala Kevin dengan lembut, walau hatinya hancur saat setelah mendapatkan kabar.
Kevin sangat patuh, ia kembali mulai menyenderkan tubuhnya di kursi. Karena sangat mengantuk, Kevin kembali tidur.
15 menit, mereka sudah tiba di rumah sakit.
Yana meminta anak buahnya untuk menjaga kedua putranya di mobil, karena tidak ingin membangunkan mereka untuk masuk ke dalam rumah sakit.
Setibanya di ruang rawat inap, Diki tampak masih terbaring di bangsal rumah sakit. Sedangkan damar suaminya, masih menjalani operasi.
“Sayang, bangun dong. Mama sudah disini,” ujar Yana berulang kali mengecup tangan putranya.
Tak terasa air matanya kembali menetes, tak kuasa melihat putranya yang belum sadarkan diri.
“Kenapa putraku belum bangun? Apa yang terjadi padanya?” tanya Yana pada salah satu anak buah suaminya yang berjaga di dalam ruang rawat inap itu.
“Tuan muda sedang pengaruh obat tidur yang cukup tinggi. Anda tak perlu khawatir, Nona. Tuan muda sudah di tangani oleh Dokter ahlinya.”
Walaupun begitu, Yana masih tidak tenang. Ibu mana yang bisa tenang melihat putra yang terbaring di rumah sakit, apalagi Diki baru saja mengalami penculikan.
“Sayang, cepat sembuh Sayang. Papa pasti tidak akan mengampuni orang telah berbuat jahat padamu! Mama sayang Diki,” ucapnya berulang kali mengecup kening putranya.
Tak lama, suaminya baru di pindahkan dari ruang operasi. Karena sebelumnya Damar sadar sebentar dan mengatakan pada dokter untuk lebih dulu menyelamatkan putranya. Setelah mengatakan itu, ia juga mengatakan minta di kamar yang sama dengan putranya.
Ia akan menyewa satu lantai dan fasilitas mewah untuk putranya, semua itu demi kenyamanan putranya saat Diki bangun nanti. Agar Diki tidak mengalami trauma di saat bertemu dengan orang banyak.
“Sayang,” panggil Yana melihat suaminya juga masih belum sadarkan diri pasca operasi.
“Dok, bagaimana dengan Suamiku?” tanya Yana tangan cemas.
“Tenangkan diri anda, Nona. Tuan Damar sudah melewati masa kritisnya, hanya menunggu ia sadar saja.”
Yana tampak menghela napas lega, ia menatap wajah suaminya yang masih tampak pucat.
Ia sangat beruntung memiliki suami seperti Damar, karena sudah berjuang menyelamatkan putranya.
Walaupun Diki bukan darah dagingnya, namun Damar sangat bertanggung jawab dengan putranya itu kayaknya putra kandungnya.
Yana meminta untuk membawa kedua putranya yang menunggu di mobil untuk di bawa ke ruangan rawat inap, karena Damar sudah menyewa tempat tersebut sehingga kedua putranya itu bisa beristirahat di tempat itu.
“Ma, Papa dan Diki kenapa? Apa mereka sakit?” tanya Kevin polos dengan suara parau khas orang bangun tidur.
“Iya, Sayang. Doakan Papa dan Diki besok sudah bisa sadar,” sahut Hana lembut menarik Kevin ke dalam pelukannya.
Sementara Deva masih tertidur pulas di gendongan anak buahnya suaminya, Yana meminta meletekkan Deva ke sofa.
“Ma, kaki Papa kenapa di perban?” tanya Kevin.
Usia Kevin sudah cukup besar sehingga ia sangat mengerti.
“Papa sakit dan harus di operasi. Besok ketika Papa sadar, Kevin boleh bertanya pada Papa.” Bukan tidak ingin memberitahu Kevin, namun ia bingung harus menceritakannya mulai dari mana.
Apalagi dirinya dan Kevin baru saja berkumpul, alangkah baiknya biarkan suaminya yang mengatakan apa yang terjadi pikir Yana.
__ADS_1
***