
Keesokan paginya, cukup berat hari ini bagi Yana karena tanpa suaminya.
Apalagi dirinya di percayakan untuk memimpin perusahaan sebesar itu, tapi Yana bertekad akan bekerja sebaik mungkin agar tidak mengecewakan suaminya.
“Nyonya, Yana. Apa kabar?” tanya Vita melihat Yana malah bengong di kursi kebesarannya.
Yana langsung tersadar.
“Eh, Vita. maaf, aku melamun. Jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya, panggil Yana saja,” protes Yana pada Vita yang sudah dianggap adik olehnya.
“Hm ... baiklah. Kenapa bengong? Pasti sedang mikirin Tuan Damar,” tebak Vita sembari menggoda.
“Ya, pasti. Makanya kamu cepat nikah, kamu pasti akan merasakan yang sama seperti aku.”
“Malas, enak sendiri!” celetuk Vita, karena saat ini memang dirinya tidak mau menikah, walaupun usianya sudah cukup.
“Eh, Vita, Vita. Apa perlu Carikan aku jodoh untukmu?”
“Jangan, jangan. Tidak perlu merepotkan diri, aku akan mencarinya sendiri!” tolak Vita.
Yana menggelengkan kepalanya.
“Ini bos, tanda tangan. Bagaimana rasanya jadi Bos?” tanya Vita sembari menaikkan kedua alisnya.
“Mm ... bagaimana ya? Lebih enak di rumah mengurus anak-anak. Tapi, ini tuntutan dari suami agar menggantikan dirinya. Jadi, dengan terpaksa aku harus mau.”
Tok ... Tok ....
Awal keduanya berbincang, langsung terhenti saat mendengar ketukan.
“Masuk,” sahut Yana.
“Aku pamit mau ke ruangan dulu,” pamit Vita.
Yana mengangguk.
Bersamaan dengan pintu terbuka lebar, memperlihatkan pengacara suaminya yang datang.
“Selamat pagi, Nyonya Yana.”
“Pagi, silahkan duduk.”
Mempersilahkan dua orang tersebut untuk duduk.
“Suami saya sedang ke luar negeri, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan disana.”
“Justru kami kemari atas perintah, Tuan Damar. Karena beliau ingin Nyonya menanda tangani surat kepemilikan semua perusahaan miliknya,” ujar pengacara tersebut membuat Yana langsung terdiam.
“Tanda tangan? Atas namaku?” tanya Yana berharap ia salah dengar.
__ADS_1
Pengacara tersebut mengangguk, sembari mengeluarkan berkas dari tas miliknya.
“Sebentar, sepertinya ada yang salah. Suamiku tidak pernah mengatakan jika perusahaan miliknya akan berpindah tangan, aku hanya di minta untuk mengurusnya selama dirinya tidak ada.”
“Saya kurang mengerti untuk masalah itu, Nyonya. Yang jelas, saya hanya menjalankan perintah saja. Agar nyonya tidak ragu, sebaiknya Nyonya menghubungi Tuan Damar,” usulnya.
Yana mengangguk tanda setuju dengan usulan untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu.
Namun, berulang kali ia menghubungi. Tetap saja nomornya belum aktif, Yana berpikir jika suaminya belum tiba disana.
“Apa Tuan belum bisa di hubungi?” tanyanya karena melihat Yana tampak gusar.
“Belum, mungkin saat ini masih di dalam pesawat.”
“Saya juga tidak punya waktu banyak, Nyonya. Saya hanya butuh tanda tanganmu dulu, karena masih banyak klien yang harus saya tangani kasusnya.”
“Apa sebaiknya menunggu suami saya untuk kembali pulang terlebih dahulu? Karena ....”
“Maaf, Nyonya saya menolak. Karena ini adalah perintah dari beliau sendiri, saya tidak mampu melanggar apa yang telah janjikan pada Tuan Damar. Maafkan saya, Nyonya.
Yana menghela napas berat.
Pengacara tersebut mengambil berkas dan segera meminta Yana untuk tanda tangan. Dengan sangat terpaksa, Yana menanda tangani berkas tersebut.
Yana berpikir akan mengembalikannya dengan secara baik-baik pada suaminya ketika sudah kembali nanti.
Yana mengangguk.
Yana tampak berpikir keras, kenapa Damar melakukan hal tersebut. Apakah Damar ingin meninggalkan dirinya, seperti janjinya dulu pada kedua orang tuanya, jika ia melakukan kesalahan ia akan memberikan semua hartanya pada Yana. Entah kenapa terbesit di pikiran Yana, membuat hatinya semakin gusar.
Yana dengan cepat menggelengkan kepalanya kuat, ia berusaha berpikir positif.
“Tidak, Mas Damar tidak akan melakukan hal itu. Tidak mungkin!” memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing.
Sore harinya, Yana mencoba kembali menghubungi suaminya saat di dalam perjalanan pulang ke rumah besar mereka.
Namun, nomor tersebut tidak bisa di hubungi. Hati Yana semakin gusar, karena tidak mungkin suaminya dalam 24 jam belum tiba di sama.
“Ujang, apa Taun Damar ada menghubungimu? Atau mengirim pesan?” tanya Yana.
“Ada, Nyonya. Sekitar satu jam yang lalu, Tuan mengirim pesan kepada saya meminta menjaga Nyonya dan ketiga tuan muda.”
Yana semakin mengernyit bingung, karena suaminya sama sekali tidak mengirim pesan atau menghubungi dirinya.
“Kenapa Mas Damar tidak menghubungiku?” tanyanya bergumam.
“Mungkin Tuan sedang sibuk, Nyonya.” Ujang berusaha agar Yana tidak memikirkan yang aneh-aneh pada suaminya, karena pesan Damar padanya agar membuat Yana selalu berpikir positif dan sejenak melupakan dirinya.
Ujang juga bingung dengan pesan singkat yang di kirim oleh Damar padanya, sepertinya Damar sedang menyembunyikan hal yang besar pada mereka semua.
__ADS_1
“Oh, kamu benar. Mungkin Mas Damar sedang sibuk,” sahutnya.
Di dalam mobil, Yana menatap ke arah luar jendela. Namun, siapa sangka ia tidak sengaja menatap mantan suaminya yang tengah mengangkat semen dari mobil truk dan di pindahkan ke sebuah bangunan yang masih dalam proses pembangunan.
“Mas, Dian. Ujang, tolong menepi sebentar,” ujarnya.
Ia menatap lekat mantan suaminya itu dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan, Dian tampak mandi keringat dengan pakaian yang basah kuyup.
Yana tidak tega melihat mantan suaminya saat ini sedang bekerja keras untuk menghidupi istrinya.
“Jalan,” ujarnya pada sang sopir.
Yana kembali merebahkan punggungnya ke kursi masih menatap ke arah luar jendela, Yana tampak terlihat tenang. Namun, siapa sangka saat ini dirinya sedang bergelut dengan pikirannya, apalagi sang suami hingga saat ini masih belum bisa di hubungi.
***
Di tempat lain, Damar tengah berdebat kecil dengan ayahnya. Karena dirinya tidak menceritakan tentang pernikahannya dengan Yana.
“Kamu sudah menganggap Ayah sudah mati, bagaimana bisa kamu menikah tanpa memberitahu Ayah?!” kesalnya pada putra satu-satunya itu.
“Jika aku mengatakan pada Ayah, apakah Ayah akan menyetujui pernikahanku?” tanya Damar tak mau kalah.
“Setahuku, Ayah pasti tidak akan setuju dan akan mencari wanita yang akan di jodohkan untukku. Ayah, sudah cukup Ayah ikut campur dengan urusan percintaanku. Biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri!” kesal Damar, karena Ayahnya selalu ikut campur.
“Dulu Ayah juga menjodohkanku dengan Ibunya Kevin, aku diam dan terpaksa aku menerimanya. Tapi, tidak untuk sekarang!” protes Damar.
“Damar, apa kamu yakin wanita itu dari keluarga yang baik-baik. Jangan sampai karena kecerobohanmu itu membahayakan hidupmu sendiri!”
“Aku sudah mengenalnya sangat lama, aku sangat yakin jika Istriku itu sangat baik!” sahutnya.
“Ck ... dari cara bicaramu, Ayah tidak yakin jika wanita itu baik. Ceraikan saja dia, Ayah akan mencari jodoh yang terbaik untukmu!” membuat Damar membulatkan matanya mendengar hal tersebut.
“Tidak akan! Aku tidak akan pernah menceraikan Istriku! Ayah, usia Ayah sudah tidak muda lagi. Kenapa Ayah selalu memikirkan yang seharusnya tidak perlu Ayah pikirkan! Sekarang fokus dengan bisnis Ayah yang sedang di ujung tanduk dan memikirkan masa tua Ayah!” seru Damar kesal pada Ayahnya itu.
“Huh! Bisnis itu sudah tidak bisa di selamatkan lagi! Padahal bisnis itu aku bangun bersama Ibumu. Tapi, aku tidak bisa menyelamatkannya.” Wajah yang semula marah, kini berubah menjadi tatapan sendu.
“Ayah tidak perlu khawatir, aku akan membantu Ayah menyelamatkan bisnis Ayah. Tapi, dengan satu syarat. Ayah tidak perlu ikut campur dengan ruang tanggaku dan menerima Istriku dalam keluarga kita!” usul Damar, karena dengan itu pasti ayahnya akan menerima Yana sebagai menantunya.
Ayahnya menyeringai.
“Coba saja, jika kamu bisa menyelamatkannya. Tapi jika kamu gagal, kamu harus bercerai dengan Yana dan menikah dengan anak sahabat Ayah. Mereka sudah siap membantu bisnis yang hampir bangkrut itu, dengan syarat kamu harus menikahi putri mereka.”
Damar berdecap kesal mendengarnya, karena selalu perjodohan di pikirkan Ayahnya.
Namun, ini kesempatan bagus untuknya. Jika dirinya bisa mengembalikan bisnis itu, ayahnya akan menerima Yana menjadi menantunya.
“Oke, aku terima.”
Damar setuju dengan kesepakatan itu, satu hal yang membuatnya lega adalah. Jika dirinya gagal, bisnis yang ia miliki sudah sepenuhnya milik Yana. Hingga dirinya tidak memikirkan nasib Yana dan putranya ke depan lagi, jika dirinya gagal dalam misinya ini.
__ADS_1