Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 42


__ADS_3

Setiba di bandara, Yana kebingungan karena Alex hilang entah kemana. Setahunya Alex bersamanya dan mengikuti arah belakang, namun saat dirinya menoleh ke belakang Alex sudah tiada.


“Kemana Alex?” tanyanya dalam hati.


Ia merogoh ponsel miliknya dari dalam tas, mencoba menghubungi nomor Alex. Tapi, nomor tersebut tidak bisa di hubungi.


Raut wajah Yana tampak gusar, karena ini adalah pertama kalinya ke luar negeri sendirian tanpa sang suami. Apalagi, Alex menghilang.


“Astaga! Kemana dia?” gumam Yana.


Yana melihat sekelilingnya, tapi dirinya tak melihat Alex sama sekali.


Namun, tanpa Yana sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan dirinya dari kejauhan.


Orang tersebut perlahan mendekatinya, dengan membawa sebuah sapu tangan di tangannya yang di sembunyikan di saku jaket miliknya.


Pria tersebut menepuk pelan punggung Yana, sebelum itu pria tersebut melihat sekeliling. Setelah dirasa sepi, ia langsung memulai aksinya.


“Iya, siapa kamu?” tanya Yana tampak bingung, karena dirinya tidak bisa melihat jelas wajah pria itu karena tertutup oleh topi dan masker.


Pria tersebut langsung mengeluarkan sapu tangan yang sudah di beri obat bius, tanpa menunggu lagi langsung menutup hidung dan mulut Yana.


“Hppzzz ....” Yana berbicara tidak jelas, bahkan dirinya memberontak kuat.


Namun, tenaganya kalah karena pria tersebut ternyata lebih kuat darinya.


Tak lama, Yana terlihat lemah dan tak berdaya hingga dirinya pingsan baru pria itu melepaskannya.


Dengan cekat pria tersebut menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil miliknya.


“Apakah Nyonya baik-baik saja, Tuan?” tanya seseorang yang sudah menunggunya di dalam mobil.


“Aman. Cepat bawa ke apartemen, sebelum ada yang melihat!” ujar pria sembari memangku Yana yang sudah tak sadarkan diri.


30 menit kemudian, dua pria yang membawa Yana tersebut sudah tiba di apartemen mereka.


Pria bertopi tersebut masih setia menggendong Yana hingga tiba di kamar mereka, lalu meletakkan di tempat tidur dengan hati-hati.


Sekitar 3 jam lamanya Yana tertidur, perlahan ia mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya. Ia mengucek pelan kelopak matanya, karena pandangannya masih sedikit buram.


Beberapa menit kemudian, Yana baru menyadari jika dirinya saat ini berada di kamar asing. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya, ia membulatkan matanya karena saat ini dirinya berada di negeri orang.


“Astaga! Aku pasti di culik. Alex dimana sih?” raut wajah yang mulai panik, apalagi melihat sekeliling kamarnya tertutup rapat.


Yana segera beranjak dari tempat tidurnya, yang pertama ia tuju adalah tirai yang tertutup rapat lalu perlahan membukanya. Ternyata di tempat tersebut sudah malam.

__ADS_1


Lalu Yana perlahan melangkah menuju pintu, ia menempelkan daun telinganya untuk menajamkan pendengarannya.


Yana tidak mendengar apapun, perlahan memutar kenop pintu.


Namun, pintu tersebut ternyata di kunci dari luar.


Salah satu akses satu-satunya untuk keluar adalah jendela, dengan langkah cepat Yana menuju jendela dan berusaha membuka kuncinya.


“Sialan! Kenapa susah sekali?” umpat Yana masih berusaha membuka kunci jendela.


Karena terlalu sulit, tanpa sadar tangannya mengeluarkan darah. Namun, Yana tidak memedulikan luka tersebut. Yang terpenting saat ini adalah, ia bisa keluar dari kamar tersebut.


Ceklek ...


Pintu terbuka, Yana tampak tersenyum karena berhasil membuka kunci jendela tersebut.


Namun sialnya, bersamaan dengan pintu kamar terbuka dengan cepat Yana keluar karena jendela tersebut terhubung dengan balkon.


“Nyonya,” panggil seorang pria.


Yana menutup mulutnya bersembunyi di bawah jendela dengan keadaan meringkuk.


“Nyonya,” panggilnya.


Suara tersebut sangat dekat dengan jendela.


“Alex,” gumamnya dalam hati.


“Jadi, selama ini dia hanya berpura-pura baik pada keluarga kami? Ternyata dia bukan orang baik!” raut wajah Yana tampak kecewa, karena saat ini ia berpikir bahwa Alex bukanlah pria yang baik.


Yana terduduk lemas bersandar di tembok rumah, saat ini ia sedang berpikir bagaimana caranya dirinya kabur dari rumah tersebut. Sedangkan, terlihat dari balkon tersebut dirinya berada di lantai yang paling tinggi. Tidak mungkin baginya untuk meloncat dari atas.


Yana mulai mengintip, ia tak lagi melihat Alex di kamar tersebut. Yana perlahan masuk kembali dan mengunci jendela seperti semula.


Yana bernapas lega karena melihat pintu kamar terbuka lebar, perlahan melangkah keluar kamar.


Melihat sekeliling terlihat sepi, saat di tengah ruang tamu ternyata ada yang membuka pintu rumah dengan cepat Yana bersembunyi di belakang sofa.


“Bagaimana bisa dia kabur? Kamu kemana saja?” sentak pria tersebut.


Yana kembali di buat heran, karena suara tersebut sangat mirip dengan suara suaminya.


“Mas, Damar juga ada disini. Jadi selama ini ....” Yana langsung menutup mulutnya tidak percaya.


Pria yang sangat ia rindukan ternyata tega menculiknya dan bersekongkol dengan Alex. Pantas saja saat di bandara Alex menghilang begitu saja pikir Yana.

__ADS_1


Yana tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari apartemen tersebut, apalagi melihat pintu yang terbuka lebar.


Namun, sialnya saat di depan pintu bersamaan dengan Damar yang keluar dari kamar.


“Yana, kamu mau kemana? Jangan pergi ...” teriak Damar.


Yana tidak menghiraukan panggilan tersebut, ia terus saja berlari menuju lift.


“Apa yang kamu lihat? Kejar Istriku!” bentak Damar karena melihat Alex hanya berdiam diri.


Dengan langkah seribu Alex berlari, begitupun dengan Damar yang mengikuti dari belakang.


“Lepaskan aku! Aku mau pulang! Lepas ....” Yana berusaha memberontak karena Alex berhasil menangkapnya.


“Nyonya jangan gegabah, dengarkan dulu penjelasan Tuan. Diluar sangat berbahaya.” Alex berusaha menjelaskannya di tengah Yana yang masih memberontak.


“Tidak! Ternyata kalian itu orang jahat! Aku akan melaporkan kalian ke polisi!” ancam Yana masih berusaha melepaskan diri.


“Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ayo kita kembali ke kamar,” ajak Damar berusaha menenangkan istrinya.


Yana tidak mudah percaya begitu saja, ia malah menginjak kaki Alex agar melepaskan dirinya. Tapi Alex tidak merasakan sakit sedikitpun.


“Lepas! Kalian itu sama saja! Dasar penjahat!”


Damar tidak sabar lagi, ia menggendong Istrinya untuk masuk kembali walaupun Yana masih memberontak.


Sesampainya di kamar, ia meletakkan istrinya di tempat tidur.


“Kamu mau apa?” tanyanya pada Alex yang ikut masuk ke kamar.


Seketika Alex tersadar, lalu segera keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu.


Terlihat Yana masih ketakutan melempar bantal dan guling ke arah Damar.


“Yana, tenangkan dirimu dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu.”


“Aku tidak butuh penjelasanmu!” ketus Yana terlihat mulai tenang dengan napas yang turun naik.


“Sayang, aku berani bersumpah. Aku melakukan ini hanya demi keselamatanmu, Sayang. Yang aku lakukan itu demi menyelamatkan dirimu,” ujar Damar dengan lembut, apalagi melihat Yana yang terlihat masih dengan amarah yang memuncak.


Yana masih bungkam, tidak mudah baginya untuk percaya begitu saja.


“Sayang, kamu percayakan pada suamimu ini?” tanya Damar mendekatinya perlahan.


Melihat Damar mendekat, Yana langsung menatapnya dengan tajam. Sehingga Damar mengurungkan niatnya untuk mendekati istrinya tersebut karena melihat tatapan tajam Yana padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2