
Seminggu sudah berlalu, Damar dan istrinya menetap di rumah besar ayahnya, karena sebelum mereka ingin kembali ke tanah air, ayahnya meminta mereka untuk tinggal di rumahnya sebentar.
Karena masih khawatir dengan kehamilan Yana yang masih sangat muda, mereka mengurungkan niat untuk kembali ke tanah air dalam waktu dekat.
Seminggu yang lalu, Damar menemani istrinya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.
Karena selain belum datang bulan, Yana juga khawatir jika ada penyakit lain yang serius.
Ayahnya melihat foto hasil USG Yana, ia tampak meneteskan air mata haru.
Setelah itu, Yana tidak di perbolehkan untuk kembali ke apartemen dan menetap beberapa bulan di rumah miliknya.
“Tumben sekali kepalaku pusing,” gumam Yana.
Entah kenapa pagi ini Yana merasakan pusing yang tak biasa sangat bangun tidur.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat istrinya memegang kepalanya.
“Mas, aku tidak bisa membuka mataku! Aku sangat pusing,” ucap Yana lirih, hampir tak terdengar.
Damar terlihat panik melihat istrinya seperti itu, tanpa menunggu lagi Damar langsung menggendong istrinya membawanya menuju mobil.
“Damar, apa yang terjadi? Kenapa dengan Yana?” tanya ayahnya tak kalah panik.
“Yana pusing, ia bahkan tidak bisa membuka matanya karena terlalu pusing.”
“Bima, siapkan mobil! Kita langsung ke rumah sakit!” teriak ayahnya pada sang sopirnya.
Dengan sigap Bima mengeluarkan mobil dari garasi, membuka pintu mobil untuk Damar.
Setelah memastikan semua orang masuk, tanpa menunggu lagi Bima langsung membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
“Sayang, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan tiba,” ujarnya sembari mengusap dahi istrinya yang tampak berkeringat.
Yana mengangguk masih dalam keadaan mata tertutup.
“Yana, Ayah yakin kamu pasti kuat, Nak. Bima, kenapa kamu membawa mobil pelan sekali? Cepat!” serunya.
“Ayah, jangan panik. Yana pasti baik-baik saja,” ucap Damar yang melihat ayah sangat cemas, ia juga memikirkan kesehatan ayahnya jika terlalu cemas. Apalagi, ayahnya mempunyai riwayat tekanan darah tinggi.
Pria tua itu tampak menganggukkan kepalanya.
Tiba di rumah sakit, ayahnya berteriak memanggil petugas rumah sakit agar segera memeriksa menantunya tersebut. Tentu saja mereka sangat sigap memanggil dokter, karena mereka sangat tahu siapa pria tua tersebut.
Dokter kandungan langsung datang dan mulai memeriksa Yana.
“Apa nyonya tidur larut malam terus menerus?” tanya dokter setelah selesai memeriksa Yana.
Yana menangguk pelan.
“Sulit sekali untuk tidur, Dok.”
“Tensi nyonya sangat rendah, saya akan memberikan vitamin dan Nyonya harus makanan yang kaya akan vitamin dan tinggi serat. Yang paling penting, jangan terlalu larut malam untuk tidur,” ucap dokter lembut.
Setelah itu dokter berpamitan keluar, Damar duduk di tepi kasur menatap istrinya yang tampak pucat.
“Sayang, kenapa tidak membangunkanku jika kamu tidak bisa tidur? Berarti selama beberapa hari ini, aku selalu lebih dulu tidur ketimbang dirimu. Berarti kamu hanya berpura-pura tidur?” tanya Damar.
Yana menatap suaminya dengan wajah memelas.
“Maaf,” ucapnya lirih.
Plak!
Ayahnya memukul bahunya.
“Jangan memarahinya! Apa kamu tidak lihat? Istrimu sedang sakit dan sedang mengandung anakmu!” geram ayahnya karena melihat Damar terus menerus memarahi istrinya.
“Tidak, Ayah. Aku hanya bertanya, ternyata Yana berbohong! Yana, aku tidak suka dengan caramu seperti ini!” tegas Damar.
Karena setiap malam, Damar selalu meminta Yana untuk cepat tidur. Ia sangat menjaga kesehatan Istrinya, apalagi di saat hamil seperti ini.
“Iya, maaf. Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi, Mas. Jangan marah lagi ya,” ucapnya dengan suara terbata menahan tangis.
“Yana, jangan menangis, Nak. Damar, lihat Istrimu menangis. Apa yang kamu lakukan Damar, jangan memarahinya!” seru ayahnya.
Damar menghela napas berat, disisi lain ia bukan merah pada istrinya, ia ingin tegas pada istrinya yang sedikit keras kepala itu.
Namun, disisi lain ayahnya selalu membela Yana dan memarahinya.
“Iya, maafkan aku juga. Jangan pernah ulangi lagi, semua ini demi kesehatanmu dan anak kita yang ada di dalam kandungan.” Menarik istrinya kedalam pelukannya, lalu mengecup berulang kali pucuk kepala istrinya.
Keesokan paginya, mereka di perbolehkan untuk pulang ke rumah karena kesehatan Yana sudah membaik.
__ADS_1
Selain itu juga, mereka menunggu kedatangan ketiga putranya bersama Alex yang sedang menuju ke rumah mereka.
Sembari memakan buah-buahan, Yana duduk di sofa menunggu kedatangan putranya.
“Kapan mereka datang? Lama sekali,” gerutu ayah mertuanya, karena cukup lama menunggu mobil yang menjemput mereka di bandara tak kunjung datang.
“Mungkin Sebentar lagi, Ayah,” sahut Damar.
Yana dan Damar menatap satu sama lain, karena melihat ayahnya yang tak sabar menunggu kedatangan cucunya.
Tak lama, suara deru mesin mobil berhenti di halaman. Yana dan suami beserta ayahnya melangkah keluar.
Terlihat Kevin, Diki dan Deva tampak antusias keluar dari mobil bergantian memeluk Yana dana Damar.
“Ini opa kalian, cium tangan opa,” ujar Yana dengan lembut.
Kevin menatap pria tua yang dikatakan oleh orang tuanya opa itu, sama halnya pada Diki dan Deva.
Lalu mereka secara bergantian mencium punggung tangan yang sudah terlihat keriput tersebut.
“Hai, cucu-cucu Opa. Kalian jagoan opa semua,” ucapnya mencium secara bergantian cucunya tersebut.
“Mm ... kalian pasti sangat lelah, ayo opa ajak ke kamar kalian. Opa mempunyai kejutan untuk kalian bertiga,” ucapnya dengan lembut tanpa membedakan cucunya tersebut.
Damar menggandeng bahu istrinya, menatap punggung mereka berempat yang tengah menaiki tangga.
“Mas, lihat raut wajah Ayah yang terlihat sangat bahagia. Sebenarnya, di usia senja Ayah saat ini, pasti akan kembali seperti anak kecil lagi. Yang Ayah butuhkan adalah, kasih sayang putranya dan cukup di mengerti serta dengarkan keluh kesahnya, itu saja.”
“Iya, Sayang. Kamu benar, entah kenapa aku dulu sangat bodoh! Aku mengabaikan kemauan Ayah dan berpikir Ayah masih mementingkan egonya.”
“Huft ... ini kebahagiaan ku yang sesungguhnya, melihat senyum Ayah dan kalian semua. Terima kasih, Sayang.”
Damar mengucap punggung tangan istrinya.
“Tuan,” panggil Alex yang ternyata berada di belakang mereka.
“Astaga, Alex! Kau ada di belakangku? Mengagetkan saja!” kesal Damar.
“Maaf, Tuan.”
“Masuklah, kau juga istirahat. Pasti sangat lelah setelah perjalanan panjang.”
Alex mengangguk.
“Apa ini opa?” tanya Diki lembut.
“Buka saja, Sayang. Opa sudah membelinya dari jauh hari untuk kalian,” sahutnya dengan senyum di bibirnya belum sirna sejak tadi.
“Kevin, apa kamu menyuakainya?” tanyanya melihat Kevin tanpa ekspresi sama sekali.
“Aku sangat menyukainya, Opa. Tapi, Papa pasti marah jika opa membeli ini. Ini harganya pasti sangat mahal!” sahutnya.
“Iya Opa,” sambung Diki.
Karena Damar selalu mengajari mereka kesederhanaan, bukan pelit. Tapi, begitulah cara Damar mendidik ketiga putranya, membeli barang tidak perlu mahal yang penting bisa berguna.
“Jangan pikirkan Papa kalian, tidak ada yang berani memarahi kalian. Jika ada yang berani, katakan pada Opa,” ucapnya.
Tak lupa mereka bertiga mengucapkan terima kasih pada Opanya, lalu meminta ketiga cucunya untuk memeluknya.
Ia sangat bangga dengan didikan Daman dan Yana. Walaupun sebenarnya mereka mampu untuk membelikan harga tiga kali lipat lebih mahal mainan tersebut, tapi mereka tidak ingin memanjakan ketiga putranya tersebut.
“Sekarang kalian ganti mandi dan ganti baju. Setelah itu, Istirahat. Besok pagi, kita semua akan berlayar dengan kapal milik opa.”
“Benarkah opa? Aku sangat suka kapal,” tanya antusias Deva.
Deva memang hobi dengan mengoleksi kapal mainan, kali ini keinginan terwujud untuk naik kapal yang asli. Berkat bakatnya Deva mampu merakit kapal dalam hitungan jam saja.
“Tentu saja, mana mungkin opa berbohong,” sahutnya.
Wajah Deva tampak langsung tersenyum bahagia.
Berbeda dengan hobi Diki dan Kevin. Sejak kecil Kevin lebih suka melukis, hingga Damar membayar orang untuk melatih dan mengembangkan bakat putranya tersebut.
Lain halnya dengan Diki, ia sedikit berbeda dari kedua saudaranya. Usia Diki baru menginjak 11 tahun, namun ia sudah pandai memasak. Karena bakatnya tersebut, orang tuanya meminta Diki untuk ikut kelas memasak setiap dua Minggu sekali.
Damar dan Yana sangat bangga dengan bakat yang dimiliki ketiga putra mereka tersebut, berharap mereka sukses dengan hobi mereka masing-masing.
***
Berbeda dengan Dian yang tampak kurus hitam dan seperti tak terurus.
Apalagi saat ini ia tengah pusing untuk membayar biaya rumah sakit istrinya, karena anak yang di dalam kandungan istrinya sudah meninggal dunia dan terpaksa janinnya harus di angkat segera. Biaya operasi tersebut harus cukup mahal baginya, apa lagi saat ini tidak memegang sepersen pun.
__ADS_1
“Kemana aku harus mencari uang sebanyak itu?” gumamnya tampak frustrasi.
Ia juga tidak mungkin meminta tolong pada mertuanya, sedangkan orang tua dari istrinya itu hampir setiap hari mengirimkan makanan untuk mereka.
“Mama,” gumamnya.
Terbesit di pikirannya untuk meminjam uang kepada orang tuanya, namun ia langsung menggelengkan kepalanya. Teringat akan ucapan ayahnya, jika dirinya tidak boleh lagi menginjakkan kaki ke rumah mereka.
“Tuhan, ujian apa lagi yang aku terima ini?!” mengusap wajahnya dengan kasar.
“Tuan, operasi sudah selesai. Tuan harus segera membayar biaya administrasinya di kasir,” ujar salah satu petugas rumah sakit.
“Iya, beri saya waktu. Saya harus pulang untuk mengambil uangnya,” ujarnya berbohong.
Bukan mengambil uang di rumah, tapi mencari pinjaman.
“Iya, Tuan.”
Beruntung pihak rumah sakit sangat baik dan memberi keringanan untuk Dian.
Mau tidak mau, Dian harus menggadaikan motor miliknya, motor tersebut miliknya satu-satunya semasa ia dan Yana masih bersama dulu.
Hanya itu jalan satu-satunya Dian untuk mendapatkan uang secara cepat, ia langsung bergegas keluar dari rumah sakit tersebut.
Ia membawa surat-surat kendaraan tersebut pada pihak penggadaian resmi, namun di tolak karena surat-surat kendaraan tersebut sudah mati 2 tahun. Mereka minta Dian untuk menghidupkan kembali surat pajak kendaraannya, lalu bisa menggadaikannya kembali.
“Oh Tuhan, kenapa jalan hidupku seperti ini?” Dian tampak sudah lelah duduk di tepi trotoar, apalagi motornya kehabisan bahan bakar dan tidak memegang uang sepersen pun saat ini. Lengkap sudah penderitaan yang Dian alami, perut yang kosong tanpa diisi nasi sejak pagi tadi, pekerjaan yang sulit di dapatnya sekarang.
“Damar, sudah puaskah kau melihatku menderita sekarang. Pasti kau sedang menertawakan penderitaanku sekarang,” gumamnya.
“Selamat siang? Apa anda yang bernama Dian?” tanya seseorang berpakaian rapi tersebut tengah berdiri di sampingnya.
“Iya, tapi bukan saya saja yang bernama Dian,” ucapnya tampak tidak peduli dengan pria tersebut.
“Apa anda Dian, mantan suaminya Nyonya Yana?” tanya pria itu lagi.
Dian mendongakkan kepalanya menatap sesama wajah pria yang berpakaian rapi serba hitam tersebut, lalu Dian menangguk.
“Siapa pria ini? Aku belum pernah melihatnya?” gumam Dian dalam hati.
Namun, Dian terlalu memikirkannya. Ia lebih prihatin pada nasibnya saat ini seperti gelandangan.
“Maaf, saya permisi.” Hendak berlalu pergi mendorong motor miliknya yang kehabisan bahan bakar tersebut.
“Tunggu, Tuan. Saya membawa pesan dari Tuan Damar untuk anda,” ucap pria itu menahan lengan Dian.
Langkah Dian langsung terhenti, ia menyeringai menetap pria tersebut.
“Pesan apa? Pasti pesan itu sedang menertawakan nasibku sekarang, aku memang tak pantas di kasihani. Katakan pada Tuanmu itu, aku sangat berterima kasih padanya dan aku sedang menikmatinya sekarang!” serunya sembari menyeringai.
“Jangan berpikir dulu buruk, Tuan. Tuan Damar mengirimkan ini untuk Tuan,” ujarnya memberikan amplop coklat besar yang bisa di pastikan jika amplop tersebut berisikan uang.
“Apa ini? Aku tidak ingin jadi pengemis!” ketusnya.
“Tuan tolong terima uang ini, jika tidak kami akan di pecat oleh Tuan Damar. Tuan Damar tidak bermaksud merendahkan, hanya saja ia adalah uang sebagai ganti Tuan yang tidak bisa bekerja di perusahaan lain karenanya.”
Dian terdiam, sebenarnya ia sangat membutuhkan uang terbaik. Namun, gengsinya terlalu tinggi untuk menerima uang tersebut.
“Tuan, kami mohon.” Pria berpakaian rapi tersebut tampak memohon pada Dian agar menerima uang tersebut.
Pria tersebut meletakkan paksa uang tersebut di tangan Dian, lalu pergi meninggalkan Dian yang dengan mematung menatap uang tersebut.
“Tuan,” panggil Dian setengah berteriak.
Pria itu menoleh ke arah belakang.
“Katakan pada Tuan Damar, aku berterima kasih atas uangnya.”
Pria tersebut mengacungkan jempolnya pada Dian, tanda jika dirinya akan mengatakan pada tuan Damar.
Dian mengusap air matanya, sangat berterima kasih. Dengan adanya uang tersebut, ia bisa membayar semua biaya ruang sakit istrinya.
“Maafkan aku, jika waktu itu aku berpikir buruk tentang kalian. Entah bagaimana caranya aku berterima kasih pada kalian,” gumamnya dalam hati.
Tanpa menunggu lagi, Dian menyimpan uang tersebut ke dalam tas ranselnya, lalu kembali mendorong motornya untuk mencari penjual bahan bakar eceran.
Tak berselang lama mendorong motornya, terlihat ada seorang pria yang menjual bahan bakar kendaraan tersebut. Wajah Dian langsung bahagia, dengan semangat mendorong motor miliknya.
Setelah itu, Dian langsung menuju ke rumah sakit. Tapi, sebelum itu ia membelikan makanan untuk dirinya dan istrinya. Karena sejak pagi tadi ia tidak makan sama sekali, tangannya tampak gemetar setelah membayar makanan tersebut.
Ia menahan laparnya agar segera tiba di dirumah sakit, agar bisa makan bersama istrinya.
***
__ADS_1