Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 25


__ADS_3

Tiba di tempat kerja, Damar tidak ingin membangunkan Yana yang masih tertidur pulas.


“Aku seperti di temenin Istri ke tempat kerja,” gumam Damar dalam hati, senyum di bibirnya belum sirna sejak tadi saat menatap Yana yang tertidur pulas.


Damar perlahan mengambil berkasnya, lalu bersiap hendak membuka pintu.


Bruak!


Tanpa sengaja sang sopir menutup pintu dengan keras, karena sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil.


Damar menutup matanya, karena kesal pada sopirnya karena menutup pintu dengan kasar. Hingga membuat Yana bergumam dan mulai membuka kelopak matanya.


“Dasar si Ujang!” geram Damar dalam hati.


Ia membalikkan tubuhnya, melihat ke arah Yana yang terdengar bergumam.


“Huuaam ... kita sudah tiba?” ucapnya lirih, sembari mengucek matanya.


“Mm ... Yana, jika kamu masih mengantuk, kembalilah tidur. Sepertinya kamu sangat lelah,” ujar Damar lembut.


“Hah, tidak Tuan. Aku sudah tidak mengantuk lagi, maaf aku ketiduran.”


Hendak membuka pintu, Damar menghela napas berat. Semua karena sopirnya membuat Yana terbangun, padahal dirinya sudah membiarkan Yana agar beristirahat.


“Yana, cuci wajahmu dulu.” Menyerahkan tisu basah pada Yana, agar lebih segar.


Yana mengangguk.


Ia mengambil tisu tersebut, dari tangan Damar.


“Terima kasih,” ucapnya.


Damar mengangguk, lalu ia lebih dulu keluar dan menunggu Yana di luar mobil.


Sembari menunggu Yana, ia menerima telepon dari putranya Kevin. Jika saat ini ia sudah pulang sekolah di jemput oleh sopirnya dan sebelum mengantarnya sang sopir lebih dulu mengantar pulang Diki dan Deva.


Kevin bercerita banyak, hari ini juga Yana membekali Kevin makanan siang. Ia titipkan pada Diki untuk memberikannya pada Kevin.


“Masakan Mama Yana sangat Enak, Pa. Kevin makan lahap,” ujarnya bercerita antusias.


“Wah, benarkah? Baiklah, sekarang Kevin istirahat dulu ya. Papa sedikit terlambat pulang, karena Papa berada di luar kota sekarang.”

__ADS_1


Terdengar Kevin mengiyakan ucapan Papanya.


Setelah mengakhiri panggilan, Yana sudah sejak tadi berdiri di belakangnya, membuatnya terkejut dengan Yana yang berdiri di belakangnya.


“Astaga, Yana. Kamu mengagetkanku!”


Yana terkekeh.


“Maaf,” ucapnya lirih.


“Lupakan. Tolong bawa ini, kita masuk ke kantor duku. Setelah kita ke lapangan untuk melihat proyek di sana.”


Yana mengangguk.


Damar melangkah masuk ke kantornya miliknya, dengan langkah besar. Membuat Yana sedikit kesusahan mengimbanginya, Damar pun baru menyadarinya jika dirinya tidak datang sendirian.


Damar langsung menghentikan langkahnya, ia mengambil tangan Yana lalu meletakkan di tangannya sembari tersenyum memainkan kedua alisnya.


Yana terpukau dengan perlakuan manis Damar, membuatnya langsung keringat dingin bahkan malu karena setia karyawan yang lewat melihat kearah mereka.


Di ruang meeting.


Setelah selesai, Damar langsung berpamitan untuk ke lapangan melihat proyek pembangunan yang sedang berlangsung. Namun, tangannya selalu menggenggam tangan Yana bahkan tidak membiarkan Yana melepaskan tangannya.


Yana sejak tadi tak banyak bicara, ia sedikit malu karena perlakuan Damar yang tidak mau melepaskan tangannya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Damar dengan lembut, karena melihat Yana diam saja.


Wanita mana yang tidak luluh hatinya, apalagi di perlakukan dengan lembut seperti itu.


“Hah? Oh iya, aku baik-baik saja.”


Banyak yang menatap mereka dengan senyum-senyum, karena melihat kemesraan mereka yang di tunjukan oleh Damar.


Tanpa mereka ketahui, Damar dengan menggandeng Yana karena suka ada yang memandang Yana dengan tatapan mesum.


***


Dian masih menunggu panggilan dari Clara untuk menjalan rencana mereka, karena sudah seminggu ini Clara belum menghubunginya juga.


Dian juga tampak gusar, karena pagi ini ada yang mengirim pesan singkat padanya dari nomor yang tidak di kenal.

__ADS_1


Pesan tersebut meminta dirinya bertanggung jawab atas kehamilannya, karena sudah meniduri wanita tersebut hingga hamil bahkan serta buktinya di kirim melalui pesan singkat tersebut.


“Shit! Kenapa muncul masalah baru lagi?!” umpat Dian mengusap wajahnya dengan kasar.


Padahal dirinya sudah bertekad akan membawa Yana kembali pada pelukannya, karena sejatinya dalam dari lubuk yang paling dalam dirinya masih menyukai Yana. Apalagi sekarang Yana terlihat lebih langsing dari sebelumnya dan bahkan sangat cantik.


“Ada apa, Dian? Kenapa wajahmu berantakan begitu?” tanya Papanya saat melihat Dian di rumah tamu.


“Tidak, Pah. Aku baik-baki saja,” sahutnya.


“Apa kamu tidak ingin berusaha mencari pekerjaan, jangan lupakan tanggung jawabmu masih sebagai seorang Ayah. Walaupun kamu sudah berpisah dengan kedua istrimu, tapi kamu masih wajib menafkahi putra dan putrimu!”


Dian menghela napas berat, lalu mengangguk.


Dirinya sebenarnya sudah berusaha mencari pekerjaan, namun selalu di tolak oleh perusahaan tersebut dengan alasan yang tidak masuk akal.


Ia juga bekerja sebagai kuli bangunan, itu bertahan hanya beberapa hari saja. Karena tidak sanggup dengan pekerjaan yang terlalu berat baginya.


Tak lama, datang sebuah mobil putih yang berhenti tepat di depan teras rumahnya.


Dian mengernyit heran, karena tidak mengenali mobil tersebut.


“Siapa?” tanya papanya.


“Entahlah Pa,” sahutnya sembari mengangkat kedua bahunya.


Seorang wanita keluar dari mobil tersebut, Dian membulatkan matanya melihat wanita tersebut.


Ia ingat betul dengan wajah wanita tersebut dan baru menyadari jika pesan yang masuk pasti dari wanita yang baru keluar dari mobil putih tersebut pikirnya.


“Cari siapa?” tanya Papanya Dian melihat wanita tersebut berhenti di depan rumahnya.


“Kedatangan saya kemari adalah, meminta pertanggung jawab pada Dian. Karena sekarang aku hamil anaknya Dian,” ujar wanita tersebut tanpa basa basi lagi.


Papanya menatap tajam putranya tersebut, kali ini dirinya tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Plak!


Tamparan tersebut langsung mendarat pada pipinya dengan sangat keras, membuat wanita tersebut menutup mulutnya karena tamparan tersebut terjadi langsung di depan matanya.


***

__ADS_1


__ADS_2