
“Jangan mendekat!” Kembali menatap tajam suaminya.
“Sayang, sungguh. Mana mungkin aku berniat jahat pada wanita yang aku sangat cintai, percayalah.” Dengan wajah memelas.
Yana mulai menurunkan pandangannya, perlahan Damar mendekati istrinya tersebut.
Terlihat tidak ada perlawanan dari Yana saat Damar menyentuh tangannya, Damar kini semakin dekat lalu memeluk istrinya.
Tangis Yana langsung pecah saat di dalam dekapan suaminya, berulang kali ia mengecup puncak kepala istrinya. Damar terlihat menyesal dan merasa bersalah telah menculik istrinya sendiri, semua itu ia lakukan demi keselamatan Istrinya.
Di dalam kamar tersebut kembali hening, tak terdengar lagi isak tangis Yana.
Perlahan Damar mengangkat dagu istrinya untuk menghadapnya, menatap mata sembab Yana akibat menangis.
“Maafkan aku, karena membuatmu takut. Aku melakukan ini terpaksa, karena kamu tidak mengetahui apa yang terjadi padamu jika aku membiarkanmu datang ke kantor.”
Cup ... Cup ...
Berulang kali Damar mengecup kening istrinya, Yana terlihat mengangguk.
Ia kembali masuk ke dalam dekapan suaminya.
“Kamu kemana, Mas? Aku sangat mengkhawatirkanmu,” ujarnya dalam dekapan suaminya.
Damar mengusap kepala istrinya dengan lembut, ia sendiri bingung harus menjawab mulai dari mana.
“Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, aku hanya ingin kamu dan anak-anak bahagia yang terpenting keselamatan kalian.” Memeluk erat istrinya.
“Aku Istrimu, Mas. Aku juga ingin tahu, agar rasa penasaranku terjawab. Bahkan aku bisa membantumu,” keluh Yana mencubit pelan perut suaminya.
“Jangan menggodaku!” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
“Aku sudah lama menahannya demi menjaganya untukmu, sekarang kamu harus melayanimu.” Menarik kepala istrinya pelan agar menghadapnya.
“Tidak mau! Sebelum menjelaskan padaku, aku tidak mau!” tolak Yana dengan melipat kedua tangannya.
“Hm ... jadi kamu tidak ingin melakukannya padaku? Baiklah ... biar aku yang memulainya.” Menyeringai licik.
Damar langsung melepaskan bajunya lalu membuang ke sembarang arah, lalu menarik kaki istrinya agar berbaring di tempat tidur.
“Kamu mau apa?” tanya Yana.
“Jangan banyak tanya!” seru Damar karena sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Ia langsung menempelkan bibirnya pada bibir ranum istrinya, lalu memberi luma*tan kasar disana.
Sehingga sedikit sulit untuk Yana mengimbanginya, apalagi Damar terlihat begitu rakus seperti orang kelaparan.
Tangan mulai bergerak aktif, sehingga membuat Yana kesulitan untuk melepas diri dari suaminya.
Setelah puas bermain di atas tubuh istrinya, Yana terlihat menarik napas dalam-dalam.
Tak sampai di situ Damar melepaskan pakaian dirinya dan juga istrinya lalu membuangnya kesembarang arah.
Damar mengacak-ngacak tubuh istrinya di atas tempat tidur, hingga mereka sama-sama puas dengan permainan mereka.
Keduanya bermandikan keringat, Damar menutup tubuh polos mereka dengan selimut tebal lalu memeluk istrinya.
“Maafkan aku, aku menyakitimu tadi,” ucap Damar merasa bersalah karena dirinya sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Yana hanya mengangguk lalu tersenyum.
“Bagaimana kabar anak-anak kita?” tanya Damar lembut sembari mengusap bahu istrinya bahkan dirinya berulang kali mengecup pipi istrinya.
“Mereka baik, aku menitipkan mereka di rumah Mama dan Papa. Mereka merindukanmu,” sahut Yana mendongakkan kepalanya.
Damar hanya menghela napas kasar.
“Maafkan aku, semua ini aku lakukan demi kalian. Karena ....” Damar mengantungkan ucapannya.
“Karena apa? Apa karena wanita?” tebak Yana.
“Jangan asal bicara! Aku tidak pernah bermain dengan wanita!” ketus Damar.
__ADS_1
“Tapi, ada yang mengirim foto padaku dan kalian terlihat sangat akrab.”
“Foto?” tanya Damar mengernyit heran.
Yana mengangguk.
“Aku datang kemari untuk memastikan jika semua itu tidak benar. Jelaskan semuanya, Mas!”
Yana mengambil ponsel miliknya dan memperlihatkan pesan tersebut pada suaminya. Karena dirinya tidak ingin ada orang ketiga dalam hubungan rumah tangga mereka, apalagi Yana sudah pernah mengalaminya.
“Aku ingin kejujuran mu, Mas. Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?” tanya Yana bersandar di bahu tempat tidur.
Damar menghela napas berat, lalu mulai menjelaskannya pada istrinya tersebut.
Dari awal kepergiannya ke negeri orang, lalu terpaksa mengabaikan istrinya untuk sementara waktu. Karena hanya ingin fokus dengan pekerjaan yang harus selesai dalam sebulan ini, apalagi ayahnya sudah mengancamnya.
Penculikan yang ia lakukan saat di bandara kemarin, itu karena dirinya tidak ingin ada anak buah ayahnya yang mengetahui jika istrinya menyusul kemari.
Bahkan pesan yang di terima oleh istrinya tersebut, pasti dari ayahnya sendiri karena ingin mereka berpisah.
Yana menutup mulutnya setelah mendengar penjelasan suaminya tersebut, ia memeluk erat sang suami.
“Maafkan aku, Mas. Karena sudah berpikir buruk,” ucap Yana merasa bersalah.
“Tidak, Sayang. Jangan meminta maaf, sekarang aku ingin kamu kembali pulang dan jaga anak kita.” Mengelus kepala istrinya pelan.
Yana menggelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa?” tanya Damar mulai melonggarkan dekapannya.
“Aku ingin kita selalu bersama, kita hadapi bersama.”
“Tidak! Aku tidak mengizinkan, besok kamu harus pulang bersama Alex!”
“Mas, izinkan aku membantumu sekali saja. Apa kamu tidak ingin hidup bersamaku?”
Pertanyaan Yana membuat Damar merasa tertampar, bagaimana bisa Yana memberi pertanyaan seperti itu, sedangkan dirinya saat ini tengah berjuang untuk mereka agar tetap bersama.
“Pertanyaan macam apa itu, Yana. Kamu tahu sendiri, jika aku sangat mencintaimu! Mana mungkin aku mau seperti ini jika tidak ingin hidup bersamamu!” seru Damar.
“Kamu yang harus mendengarkan ucapan Suamimu! Apa kamu tidak berpikir bagaimana bahayanya dirinya saat pergi ke luar negeri sendirian?! Aku bisa gila jika terjadi sesuatu denganmu! Mau tidak mau, kamu harus kembali besok!” seru Damar.
Damar terlihat tidak bisa menahan emosinya, ia membuka kasar selimut yang menutupi tubuhnya lalu mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai, ia keluar kamar dengan menutup pintu kembali dengan sedikit kasar, membuat Yana sekitar terkejut.
Yana tidak ingin menyusul suaminya, karena ia tahu sifat suaminya jika saat sedang marah tidak ingin di ganggu dan membiarkan ia menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
Yana mengambil ponsel miliknya, lalu mengirim pesan kepada Vita bahwa dirinya akan lama. Karena dirinya sudah bertekad akan membantu suaminya tersebut, bagaimana pun caranya ia akan berusaha mengambil hati ayah mertuanya, walaupun sang suami bersikeras melarangnya untuk tinggal.
Di dapur, Damar mengambil air putih lalu duduk menghabiskan air mineral tersebut. Ia tampak merasa bersalah karena sudah membentak istrinya tadi, tapi mau bagaimana lagi Yana sangat keras kepala tidak mau mendengarkan ucapannya.
“Tuan,” panggil Alex yang terlihat baru datang.
“Eh Alex, kamu mengagetkanku. Kamu belum tidur?” tanyanya.
Alex menggelengkan kepalanya.
“Apa ada masalah dengan bisnis disana?” tanya Damar.
“Tidak ada masalah, semuanya lancar. Selama Nyonya memegang perusahaan, begitu banyak yang ingin kerja sama dengan perusahaan Tuan.”
Damar mengernyit heran, karena di luar dugaan istrinya begitu pandai dalam berbisnis.
“Bagaimana bisa?” tanyanya tampak bingung.
“Entahlah, daya tarik Nyonya begitu kuat. Sekarang Tuan yang harus berhati-hati, karena hidung belang di luar sana banyak yang menginginkan Nyonya,” gurau Alex.
Candaan tersebut malah membuat Damar menjadi gusar.
“Alex, jangan membuatku takut. Aku sekarang lagi bingung,” keluh Damar.
“Apa yang membuat anda bingung, Tuan? Mungkin aku bisa membantu anda,” tanya Alex.
__ADS_1
“Yana bersikeras untuk tetap tinggal disini dengan alasan ingin membantuku, aku sudah menceritakan masalahnya padamu, bukan? Aku pasti tidak akan fokus dengan pekerjaanku, apalagi Ayah selalu memantauku. Bagaimana jika Ayah merencanakan niat jahat untuk mencelakai Yana?” berulang kali Damar menghela napas berat.
Hening sejenak.
“Alex, kamu kok malah diam! Bantu aku!” kesal Damar.
“Aku sedang berpikir Tuan,” sahut Alex.
“Tindakan Nyonya Yana sudah benar, Tuan besar belum pernah melihat Yana sama sekali. Bisa jadi dengan kedatangannya bisa meluluhkan hati Tuan besar, itu hanya pemikiran ku saja. Kembali lagi pada Tuan,” ucap Alex.
“Nyonya bisa menaklukkan beberapa klien bahkan banyak di luar sana ingin bekerjasama dengannya, mustahil baginya jika tidak bisa meluluhkan hati mertuanya sendiri. Apalagi Nyonya Yana tutur katanya sangat lembut, siapa saja bisa luluh mendengarnya.”
Damar tampak berpikir, jika ucapan Alex ada benarnya. Kenapa dirinya sama sekali tidak berpikir seperti itu.
“Kamu yakin?” tanya Damar.
Alex mengangguk.
“Kalau masalah keselamatan, Nyonya. Aku bisa menjaganya dan tidak akan ada yang berani menyakitinya,” tambah Alex lagi.
Damar mengangguk lalu menepuk pelan bahu Alex.
“Aku sangat berterima kasih padamu, karena kamu memang benar-benar orang yang aku percaya.”
“Ini masih kurang, Tuan. Kebaikan Tuan pada keluargaku, lebih dari apa yang aku berikan pada Tuan.”
“Jangan memikirkan itu, aku sangat percaya padamu. Sekarang istirahatlah,” ucap Damar kembali menepuk punggung Alex lalu meninggalnya masuk ke kamar.
Ceklek ....
Pintu kamar kembali terbuka, ia melihat istrinya tampak cuek masih asyik bermain dengan ponsel miliknya.
Damar tidak langsung naik ke tempat tidur, ia lebih dulu ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya lalu sedikit membersihkan tubuhnya dan menggantikan pakaiannya dengan pakaian tidur.
Ia masuk ke dalam selimut, teringat dengan ucapan Alex atas kemampuan istrinya yang sangat pandai dalam mengurus bisnis.
“Selamat untukmu, kata Alex bisnis semakin meroket naik,” ujarnya membuka obrolan.
“Hm ...” deham Yana terlihat fokus dengan layar ponselnya.
“Sepertinya dia masih marah padaku,” gumam Damar dalam hati.
Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tanda tanya besar baginya cara membujuk wanita yang sedang marah.
Akhirnya Damar memberanikan dirinya memeluk istrinya dari belakang, memeluk bahu polos istrinya karena masih belum mengenakan pakaian sejak tadi.
“Sayang, maafkan aku. Kamu marah?” tanyanya pada Yana yang masih tampak cuek.
“Hm ....” Yana kembali berdeham.
Damar tampak frustrasi, karena Yana masih mengeluarkan ucapkan keramatnya.
Timbul ide ingin kembali melakukannya lagi, karena ia tahu Yana pasti tidak akan menolak jika dirinya menginginkannya.
Damar segera duduk, sukses membuat Yana menoleh karena berpikir suaminya akan pergi lagi.
Namun, dirinya salah sangka. Damar malah melepaskan semua pakaiannya tanpa ada yang tersisa, lalu masuk ke dalam selimut tebal tersebut.
“Kamu harus hamil,” bisiknya pada istrinya, lalu mengambil ponsel istrinya dan meletakkannya ke nakas.
“Mas, kamu mau apa?” tanya Yana terlihat panik.
“Jangan banyak tanya,” ucapnya.
Lalu menarik kedua kaki Istrinya, langsung menancapkan senjata tersebut.
Perlakuan lembut Damar membuat Yana tidak bisa menahan diri lagi, kamar tersebut penuh dengan suara-suara indah mereka berdua.
Damar tidak memberi ampun pada istrinya, berulang kali Yana meminta menyudahi permainan tersebut namun Damar tidak mendengarkannya.
“Ini adalah hukuman bagimu, karena datang kemari tidak memberitahuku terlebih dahulu,” ucapnya masih berada di atas tubuh istrinya dengan napas yang masih terengah-engah.
Hampir 3 jam mereka melakukannya, Damar mengakhirinya karena tidak tega melihat istrinya yang sudah kelelahan.
__ADS_1
Begitupun dengan Alex yang menghela napas lega karena baru bisa tertidur, sebenarnya ia sangat kesal pada Damar yang menutup pintu kamar mereka hanya sebagian hingga membuat suara mereka terdengar jelas hingga ke kamarnya.
***