
Yana menatap suaminya yang juga menatap dirinya, Yana langsung mengalihkan pandangannya.
“Yana, maafkan aku. Aku ada masalah pekerjaan di luar kota sehingga aku baru bisa kembali. Aku mendadak ke luar kota, karena tuntutan pekerjaan. Ponselku hilang di copet,” ujarnya duduk di samping Yana.
Yana menatap suaminya.
“Oh,” sahutnya singkat.
“Ke luar kota mana?” tanya Yana ikut dalam sandiwara suaminya.
Ia ingin melihat sampai dimana suaminya berbohong terus menerus, padahal dirinya sudah tahu yang sebenarnya. Walaupun dirinya masih belum ada bukti, tapi dirinya sangat yakin jika Gio tidak mungkin berbohong padanya.
“Ke- ke Kalimantan,” sahutnya terlihat gugup.
“Kita pulang sekarang yuk, rumah kita bukan disini,” ajak Dian mencoba mengambil tangan Yana.
Yana tersenyum kecut.
“Tidak! Kamu akan tetap tinggal di rumah ini, aku mulai besok sudah bekerja,” sahutnya dengan santai sembari meletakkan pakaiannya di lemari.
“Bekerja? Bukankah aku melarangmu untuk bekerja! Kenapa kamu tidak mendengar apa kata suamimu?!” tanya Dian mulai kesal.
“Lalu kenapa memangnya? Aku tidak mengerti, kenapa kamu melarangku bekerja?!” protes Yana.
Dian tampak terkejut, karena mendengar Yana terlihat dingin padanya.
“Yana, aku tidak pernah mendengarmu memanggilku dengan panggilan kamu! Yana, kamu marah?” tanya Dian berdiri di belakang Yana hendak memeluknya dari belakang.
Namun, Yana segera pergi hingga Dian tak sempat memeluknya.
“Tidak,” sahut Yana.
“Yana, ayo kita pulang sekarang! Jika aku memintamu tidak boleh bekerja, artinya tidak boleh! Kamu harus patuh pada Suami!” tegas Dian.
“Maaf mas, kali ini aku tidak bisa. Aku sudah tanda tangan kontrak,” sahutnya berbohong.
“Yana, kamu kenapa sih? Kamu mau jadi Istri durhaka sekarang!” sentak Dian menatapnya dengan tajam.
“Lalu, bagaimana denganmu? Apa pantas di sebut suami yang bertanggung jawab!” balas Yana.
“Kurang ajar kamu!” mengangkat tangannya hendak memukul pipi istrinya.
__ADS_1
“Pukul aku sepuasmu, Mas! Belum puas juga kamu menyiksa batinku, pukul aku!” Yana tampak tak mau kalah, sehingga membuat Dian terkejut dengan perubahan istrinya.
“Yana, ada apa sih denganmu?” tanya Dian.
“Seharusnya aku yang bertanya! Ada denganmu Mas? Beberapa bulan terakhir ini kamu begitu banyak berubah! Aku rela selalu di hina oleh orang tuamu, semua demi kamu. Tapi, kamu ....”
Yana menggantungkan ucapannya, ia mengusap kasar air matanya yang keluar begitu saja.
“Yana, jangan bawa orang tuaku dalam masalah rumah tangga kita!” sentak Dian.
“Kenapa memangnya? Jadi, siapa yang harus ku bawa dalam rumah tangga kita? Apa selingkuhanmu atau Istrimu!” tantang Yana menatap suaminya dengan tatapan kebencian.
“Yana, jangan asal bicara kamu! Apa kamu sudah mulai gila sekarang!”
“Ya, Mas. Aku sudah lama tidak waras, itu semua karena dirimu!” sentak Yana.
“Yana kau ....”
Plak ....
Pukulan mendarat langsung tepat di pipi kiri Yana.
“Aku ini bekerja siang dan malam untuk kalian, untuk rumah tangga kita! Tapi entah kenapa dengan dirimu tidak menghargai jerih payah suamimu ini” kesalnya.
Dian terdiam, kenapa dirinya tidak berpikir. Jika Yana akan ke kantor untuk mencari dirinya, karena saat itu ia sangat panik.
“Kamu percaya Suamimu atau mereka?!” sentak Dian.
“Mas, jangan selalu menganggap diriku ini wanita bodoh, Mas! Tak selamanya aku diam selalu di bodohi!”
Dian tampak menghela napas kasar.
“Yana. Baiklah, aku berbohong padamu. Aku memang mengambil cuti dan keluar kota,” sahut Dian mulai mengalah, karena percuma Yana sudah mengetahui yang sebenarnya, pikirnya.
“Yakin ke luar kota? Atau sedang bersenang- senang dengan wanita barumu itu?” tanya Yana melipatkan kedua tangannya.
Deg!
Raut wajah Dian terlihat langsung panik, setelah mendengar ucapan Yana istrinya. Ia berusaha bersikap tenang, agar Yana tidak curiga.
“Yana, kamu ini bicara apa? Sepertinya kamu sedang lelah, lebih baik istirahat dulu.” Mencoba merayu istrinya untuk mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Mas. Sudah berapa lama kalian menjalin kasih? Atau jangan-jangan, kalian sudah menikah?!” ujar Yana menatap wajah suaminya yang tampak panik.
Dian tampak kesusahan menelan salivanya.
“Yana, berhenti membuat berita bohong seperti ini. Bagaimana jika orang tuamu mendengarnya? Yana, tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu dan anak-anak kita,” sahutnya dengan bernada lembut.
“Mas, aku butuh kejujuranmu. Apa kurang pengorbananku selama ini padamu, Mas? Penghinaan selalu aku dapatkan dari orang tuamu sendiri, tapi hingga saat ini aku malah bertahan. Tapi, kamu ....”
“Yana, aku bersumpah. Tidak punya wanita lain selain kamu,” sahut dian masih mencoba membela dirinya.
“Yakin?” tanya Yana lagi.
Dian tampak mengangguk antusias.
“Yana ....” mencoba meraih tangan istrinya, tapi Yana langsung menghindar.
“Mau sampai kapan kamu menyembunyikannya dariku Mas? Aku sudah lelah dengan kebohonganmu, cukup untuk dua tahun kamu berbohong Mas dan sudah dua tahun pula kamu menyembunyikan pernikahanmu itu! Sudah cukup ....”
Dian tampak terkejut, ia tampak berpikir. Bagaimana Yana mengetahuinya.
“Yana ... a-aku ....”
“Sudah Mas, sebaiknya kamu pulang! Aku ingin sendiri,” tegas Yana, dari raut wajahnya penuh dengan kekecewaannya pada suaminya itu.
“Yana, dari mana kamu mengetahuinya?” tanya Dian menghentikan langkah istrinya yang hendak keluar dengan menahan tangan istrinya.
“Mas, setelah menyakitiku seperti ini. Dengan santai kamu bertanya, dari mana aku mengetahuinya? CK ... sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai, pasti tercium Mas! Berarti semua yang aku katakan itu benar adanya, bukan?” kembali menatap suaminya.
Dian berulang kali menghela napas berat.
“Maksudku, jangan asal bicara! Jangan termakan ucapan orang di luar sana, apa kamu mempunyai bukti?” tantang Dian, masih mengelak dengan apa yang telah di ucapkan oleh istrinya tersebut.
Yana terdiam, karena memang benar adanya dirinya tidak mempunyai bukti. Bahkan Gio pun tidak memperlihatkan buktinya, tapi insting seorang istri selalu tepat sasaran. Apalagi, sikap suaminya yang berubah beberapa bulan ini.
“Kenapa diam? Buang pikiran burukmu itu, kecemburuanmu itu berlebihan! Katakan, apa kamu mempunyai bukti!” tantang Dian.
Dian tampak menyeringai licik, melihat istrinya tampak diam.
“Jadilah wanita cerdas! Jangan termakan ucapan orang di luar sana, yang bahkan orang lain tidak memperlihatkan buktinya! Itu lah sebabnya aku tidak ingin kamu bekerja, karena wanita bodoh sepertimu pasti cepat terpengaruh ucapnya orang di luar sana! Cemburu boleh, tapi jangan berlebihan!” sentak Dian.
“Oh ya. Kalau begitu, beri alasan yang jelas pada wanita bodoh ini. Kemana kamu menghilang selama dua Minggu ini?” tanya Yana membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
Yana bahkan terlihat sudah murka, karena suaminya terus menerus saja mengelak.
***