Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 49


__ADS_3

Beberapa hari ini Vita tampak dilema, bagaimana tidak Alex sama sekali tak mengabarinya kabar. Walaupun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, entah kenapa dalam hatinya sangat yakin jika Alex akan mencintainya.


“CK ... apa salah ya aku berharap sehingga seperti ini?” tanyanya dalam hati.


Tok ... Tok ...


Terdengar suara ruangannya di ketuk.


“Masuk,” sahut Vita.


Vita berdecap kesal, melihat Ujang yang datang masuk ke dalam ruangannya.


“Kenapa lagi sih? Selalu dia yang datang,” kesalnya dalam hati.


Vita memperlihatkan senyum palsunya.


“Selamat siang kekasihku yang cantik. Lihat, kekasih tampanmu ini membawakan makan siang untukmu.”


“Kau, kapan kau kembali cuti? CK ... sudah puas kau mengerjai ku?!” geram Vita.


Karena Ujang, dirinya harus terpaksa menerima cintanya agar Ujang tak berhenti bekerja.


Namun ternyata, Ujang hanya mengambil cuti dan mengerjai dirinya saja.


“Baru hari ini. Oh ya, Sifa Adikku mengirimkan makan siang untukmu, Sifa sangat kagum dengan kecantikanmu. Aku cerita banyak tentangmu pada adikku ....”


Ujang tak berhentinya bicara, apalagi sangat bahagia bisa menemui wanita yang baru beberapa hari menjadi kekasihnya tersebut. Sehingga membuat Vita kesal.


“Stop! Jangan bicara lagi, aku ingin sendiri! Pekerjaanku banyak, terima kasih makan siangnya!” sela Vita sedikit ketus.


Ujang langsung terdiam, mendengar ucapan Vita tersebut.


“Baiklah, maaf jika aku mengganggumu.”


“Sangat mengganggu, keluar dulu dari ruangan!” ujar Vita sembari mengibaskan tangannya tanpa melihat Ujang dengan wajah kesalnya.


Vita menghela napasnya dengan kasar, setelah melihat Ujang pergi dari ruangannya.


“Mengganggu saja!” kesalnya dalam hati.


Selang beberapa detik, suara ketukan pintu kembali terdengar sehingga Vita berdecap kesal.


“Arghh! Aku bisa gila, kalau seperti ini terus!” umpat Vita.


Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah sembari menghentakkan kakinya.


“Apalagi sih maumu?! Sudah aku katakan aku ....”


Vita langsung mematung, karena yang mengetuk pintu tersebut bukanlah Ujang melainkan Alex yang baru saja mendarat dari langsung ke kantor.


“Tuan, Alex,” ucap Vita lirih.


“Ada apa, Vita. Kenapa wajahmu terlihat kesal? Apa ada yang mengganggumu?” tanya Alex.


“Hah? T-tidak ...” sahut Vita tampak gugup.


“Apa aku boleh masuk?” tanya Alex, karena melihat Vita berdiri di depan pintu hingga menghalangi jalannya.


“Oh, iya maaf. Silahkan masuk,” ucap Vita mundur beberapa langkah.


Melihat punggung Alex masuk ke ruangan, membuatnya Vita semakin gugup karena kedatangan Alex yang mendadak ke kantor.


“Bagaimana Vita, apakah kantor aman?” tanya Alex duduk di kursi.


“I-iya, semua aman terkendali. Kapan anda tiba, Tuan. Bukankah Nyonya Yana mengatakan jika mereka akan pulang sebulan lagi?”


“Mm ... aku baru saja tiba. Tuan Damar memintaku kembali untuk menjemput ketiga putranya, pastikan perusahaan aman saat Tuan tidak ada.”


Vita mengangguk.


“Bukan hanya aku yang bekerja, Tuan. Yang lainnya juga ikut andil dalam mengurus pekerjaan kantor, termasuk asisten Tuan Damar dan juga Yana.”


“Bagus,” sahutnya.


“Baiklah, kedatanganku kemari hanya memastikan pekerjaan kalian semua aman. Sebelum kemari, aku sudah bertemu dengan yang lainnya. Jaga kesehatanmu,” ucap Alex memberi perhatian.


Vita yang mendengar perhatian Alex, membuatnya wajahnya bersemu merah.


“Apa kamu belum makan?” tanyanya pada Vita melihat kotak makan yang masih utuh di atas meja.


Vita menggelengkan, ia berharap jika Alex membawanya untuk makan siang di luar.


“Aku ingin makan di luar bersama yang lainnya, apa kamu mau ikut?” tanya Alex.


Mata Vita langsung berbinar mendengarnya, sejak tadi ia menunggu ajakan Alex yang ia tunggu sejak tadi.


Dengan cepat Vita mengangguk, tanpa pikir panjang Vita langsung menerima ajakan tersebut.


“Lalu ini?” Alex menunjuk kotak makan tersebut.

__ADS_1


“Oh itu, aku akan memberikannya pada security yang di depan. Lumayan untuk mereka makan siang.”


Alex tampak mengangguk.


“Oke, berkumpul saja dengan yang lain di bawah. Aku akan segera menyusul,” ucap Alex beranjak dari tempat duduknya.


Alex di perintah oleh Damar agar memberikan bonus untuk para karyawannya, itu semua atas rasa syukurnya atas kerja keras mereka semua untuk perusahaannya.


Apalagi kemajuan bisnisnya begitu pesat, hingga Damar tak berhentinya mengucapkan terima kasih saat meeting online beberapa hari yang lalu sebelum dirinya memutuskan Alex untuk kembali ke tanah air.


Dengan langkah yang semangat, Vita menuju lift. Tak lupa juga dirinya membawa bekal yang di berikan oleh Ujang untuknya, ketimbang di buang pikirnya lebih baik ia memberikannya pada orang lain.


Setibanya di pos security, Vita langsung memberikan kotak bekal makan siang itu pada mereka. Mereka tampak sumringah menerima makanan tersebut, tanpa Vita sadari jika Ujang melihat Vita memberikan makanan tersebut pada orang lain.


Raut wajah Ujang semula tersenyum melihat Vita, kini raut wajah tersebut berubah langsung menjadi datar.


Sifa adiknya bersusah payah membuatkan makanan tersebut, berharap Vita memakannya. Namun, tanpa di duga, Vita memberikannya pada orang lain.


Vita dan Alex ikut mobil yang sama dengan Ujang yang menyetirnya.


Tak ada percakapan di dalam mobil tersebut, Vita tampak mencuri-curi pandang pada Alex yang terlihat fokus dengan ponsel miliknya.


Sedangkan Ujang, sesekali ia melirik Vita dari kaca. Tak sengaja ia menangkap Vita yang sedang mencuri pandang terhadap Alex.


Ujang baru menyadari, jika cintanya pada Vita itu hanya khayalan belaka apalagi Vita hanya terpaksa menjadi kekasihnya.


“Ujang,” panggil Alex setelah puas menatap ponsel miliknya.


“Aku dengar ada yang sedang kasmaran di kantor,” goda Alex pada Ujang.


Vita terlihat menelan salivanya dengan kasar.


Sedangkan Ujang hanya tersenyum menanggapinya.


“Hm ... kalian masih malu-malu saja. Aku harap kalian bisa profesional dalam pekerjaan kalian,” ucap Alex mengingatkan.


“Tidak, Tuan. Kami hanya berteman, tidak lebih dari itu!” sela Vita


Ujang tersenyum kecut mendengarnya.


“Oh benarkah? Padahal Nyonya Yana sangat bahagia mendengar kabar ini,” ucap Alex menatap Ujang Dan Vita secara bergantian.


“Iya, Tuan. Kami hanya sebatas teman kantor saja, bukan begitu, Ujang?”


Ujang hanya mengangguk pelan tanpa menyahut.


“Oo ...” sahut Alex singkat.


Namun, tidak dengan Ujang yang berusaha menahan rasa kecewanya terhadap Vita yang tidak menganggap dirinya sebagai kekasihnya.


Ujang baru mengerti sekarang, jika Vita ternyata sedang menaruh hati pada Alex.


Tentu saja dirinya sudah kalah jika bersaing dengan tangan kanan Tuan Damar, ketimbang dirinya yang hanya seorang sopir kepercayaan Tuan Damar.


Sesampainya di sebuah restoran mewah, rombongan mobil yang lain sudah lebih dulu tiba.


“Ayo, Ujang. Kita makan siang bersama,” ajak Alex dengan ramah sembari merapikan berkas.


“Maaf, Tuan. Bukan tidak sopan menolak, tapi saya baru saja selesai makan siang. Adik perempuan saya memasak bekal makan siang untuk saya pagi tadi dengan penuh kasih sayang,” sahutnya dengan sopan.


Vita yang hendak keluar dari mobil langsung terdiam, timbul pertanyaan di benaknya apakah Ujang melihatnya memberikan bekal makan tadi kepada penjaga pos di kantor.


“Oh begitu. Kamu sangat beruntung mempunyai adik, semoga Istrimu nanti seperti adikmu penuh perhatian,” ujar Alex lagi.


Ujang tersenyum.


Vita dan Alex keluar dari mobil tersebut melangkah masuk untuk menemuinya yang lainya karena lebih dulu tiba.


Sedangkan Ujang menatap punggung keduanya yang baru saja keluar dari mobil tersebut.


“Vita, kamu tidak salah. Aku tidak tahu diri, pasti kamu sangat tertekan karena pernyataan ku kemarin,” gumamnya.


Drrtt ...


Getar ponsel miliknya berdering, ia menatap nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


“Halo, Sifa. Ada apa?” tanya Ujang langsung.


“Kak, bagaimana? Apa kak Vita menyukai masakanku?” tanyanya terdengar antusias.


Ujang terdiam, ia bingung harus mengatakan apa. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, pasti akan membaut adik perempuannya itu akan merasa sedikit dan kecewa.


“Vita sangat menyukainya, bahkan ia memintamu untuk memasaknya lagi besok. Ia mengatakan banyak terima kasih padamu,” sahut Ujang terpaksa berbohong.


“Wah, benarkah? Sayang sekali Sifa sore nanti harus kembali ke kos, karena besok Sifa harus masuk ke kampus.”


“Lain kali kamu bisa memasak untuknya sebanyak mungkin, sekarang Sifa harus fokus dengan kuliahnya. Bersiaplah, sore Kakak akan mengantarmu ke bandara,” ujar Ujang.


Setelah mengatakan itu, Ujang mengakhiri panggilannya dengan adiknya. Untuk pertama kalinya ia harus berbohong pada adiknya tersebut, mau bagaimana lagi itu adalah jalan satu-satunya agar tidak mengecewakan perasaan adik satu-satunya tersebut.

__ADS_1


Sementara di dalam restoran, Alex memesan semua makanan apa yang mereka pesan. Sekaligus, Alex menyampaikan kepada mereka ucapkan terima kasih dan juga akan memberikan mereka yang bonus bulan depan.


Mereka tampak sangat senang mendengarnya, karena ini bukan pertama kalinya mereka menerima bonus dari Damar untuk mereka.


Selesai makan siang dan berbincang hangat tentang pekerjaan, kini mereka berpamitan untuk kembali ke kantor lagi.


Kini tinggal Yana dan Alex di meja tersebut, karena mereka berdua satu mobil.


“Tuan, apa aku boleh mengatakan sesuatu?” tanya Vita pelan.


“Boleh, katakan saja. Kenapa harus meminta izin?” sahut Alex sembari membalas pesan dari ponsel miliknya.


“Mm ... Tuan janji jangan marah ya.”


Alex menatap Vita sejenak, lalu kembali fokus pada ponsel miliknya.


“Katakan saja, Vita. Aku tidak suka basa basi!”


Vita menelan salivanya dengan kasar, ingin ia mengurungkan niatnya. Namun, ia sudah terlanjur mengatakannya.


“Apa Tuan tahu, jika ada pengagum rahasia Tuan yang diam-diam menyukai Tuan,” ucap Vita tanpa ragu.


Kalau tidak sekarang mengatakan itu, kapan lagi pikirnya.


Alex terdiam sejenak, ia kembali menatap Vita lalu tersenyum menggelengkan kepalanya.


“Omong kosong!”


“Apa Tuan tidak percaya?”


Alex tampak menghela napas berat.


“Huftt ... Vita, katakan padanya. Aku tidak punya waktu untuk mencari tahu siapa pengagum rahasia itu, aku lebih suka berkata langsung padaku. Tapi, saat ini aku tidak memikirkan percintaan, aku fokus dengan pekerjaanku sekarang.”


Vita kembali menelan pil pahit, setelah mendengar jawaban dari Alex.


Vita langsung terdiam.


“Vita, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya karena melihat Vita terdiam.


Vita memaksakan senyumnya, lalu menggelengkan kepala.


“Sekarang kita harus kembali ke kantor,” ujar Alex beranjak dari tempat duduknya, lebih dulu melangkah meninggalkan Vita yang masih duduk.


Berulang kali Vita menghela napas berat.


“Apa yang kamu pikirkan, Vita? Apa kamu punya masalah,” tanya Alex penuh perhatian, membuat Ujang merasakan sedikit kecemburuan tapi ia berusaha menahannya.


“Tidak ada, Tuan,” sahut Vita singkat.


“Ujang, bagaimana kabar Sifa? apa kuliahnya mengalami hambatan, seperti biaya kuliah?” tanya Alex pada Ujang.


Vita sedikit terkejut, karena Alex ternyata mengenal adik Ujang.


“Dia baik, Tuan. Kuliahnya lancar, tidak mengalami hambatan apapun. Aku sangat berterima ....”


“Sstt ... jangan membahas itu lagi. Pasti Sifa sekarang sudah tumbuh menjadi wanita cantik,” puji Alex.


Ujang tersenyum.


“Iya, Tuan. Sore ini Sifa akan kembali ke kosnya dan kemarin Sifa menitipkan salam untuk Tuan.”


“Oh benarkah. Sayang sekali aku baru kembali,” sahut Alex.


“Iya, Tuan.”


Vita hanya diam mendengarkan perbincangan mereka, terdengar dari percakapan mereka Alex lebih tahu Ujang dan keluarganya dan tampak begitu dekat.


Terlihat Alex tampak senang mendengar nama di sebutkan oleh Ujang, Vita berpikir jika Alex menyukai Sifa.


Pantas saja Alex mengatakan jika ia tidak punya waktu untuk memikirkan percintaan, pikir Vita.


Setiba di kantor, Ujang lebih dulu mengantar Vita untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah itu, Ujang mengantar Alex ke rumah Yana.


Vita menatap lesu mobil yang sudah menjauh itu, setelah keluar dari mobil Alex tidak mengatakan sepatah katapun padanya.


“Huft ... nasib-nasib. Begini ya rasanya jatuh cinta pada orang yang salah! Ck ... rumit,” keluh Vita kembali melangkah masuk ke kantor dengan langkah gontai.


“Ehem ... cie cie, yang baru pulang pacaran. Kenapa muka lesu begitu sih?” goda salah satu karyawan yang merupakan temannya sendiri.


“Huh, siapa yang pacaran? Dia bukan pacarku!” ketus Vita.


“Jangan bohong, Vit. Ujang sendiri yang mengatakannya padaku, jika kalian sudah jadian. Hm ... Ujang itu cukup tampan, putih lagi,” pujinya.


“Ya, kalau begitu kau saja yang menjadi kekasihnya!”


“Ups ... maaf Vita, aku hanya bercanda. Jangan marah dong, aku tidak akan mengambilnya kok,” godanya kembali sambil terkekeh.


Vita berdecap kesal, ia melanjutkan langkahnya kembali tanpa peduli dengan temannya tersebut yang terus saja mengoceh tak jelas.

__ADS_1


***


__ADS_2