
3 jam di perjalanan Damar akhirnya tiba di sebuah rumah cukup mewah, namun tidak terlalu besar.
“Apa benar ini alamatnya?” gumamnya dalam hati.
Cukup lama Damar di dalam mobil, menunggu sang pemilik keluar dari rumah. Tak lama pintu rumah terbuka lebar, Dian lebih dulu keluar tak lama menyusul wanita yang menggendong anak kecil.
cekrek ...
Damar memotretnya, ia tak langsung mendatanginya.
Dian tampak bahagia bersama wanita cantik dan satu anak kecil yang berjenis kelamin wanita, sedang di pangku oleh Dian.
“Siapa anak itu? Apa anaknya Dian?” gumamnya bertanya-tanya.
Sebenarnya, ia bisa meminta anak buahnya untuk menyelidiki Dian tanpa harus merepotkan dirinya. Akan tetapi, dirinya ingin melihat secara langsung dari mata kepalanya sendiri, apa yang di lakukan oleh Dian yang sebenarnya.
“Yana, kamu sibuk mencari keberadaan suamimu. Sedangkan dia sedang bersenang-senang disini,” ujarnya terlihat geram melihat Dian tengah berbincang dengan wanita itu, bahkan sangat akrab. Mereka seperti keluarga yang tengah berbahagia.
Damar sangat yakin, wanita tersebut pasti sangat spesial bagi Dian, tampak jelas ia penuh perhatian pada wanita di sampingnya itu.
“Bersenang-senanglah sekarang, Dian!” ia menyeringai licik, lalu menyalakan mobilnya untuk pergi dari tempat tersebut.
Damar berpikir akan mengirim foto tersebut pada Yana, tapi apakah Yana akan percaya padanya, pikirnya.
Damar mengurungkan niatnya itu, hingga tiba waktunya dan di saat yang tepat dirinya akan memperlihatkan apa yang telah suaminya lakukan di luar sana.
***
Yana masih belum bisa memejamkan matanya, ia duduk di balkon menatap keindahan lampu kota yang berbagai macam warna.
Namun, pikirannya saat ini sedang kacau. Setelah 10 tahun membangun rumah tangga, tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Yana melangkah masuk ke dalam kamar, lalu beristri di depan cermin besar seukuran tubuhnya.
Ia menatap wajahnya yang kusam, lalu beralih pada tubuhnya yang terlihat gemuk.
“Apa Mas Dian sudah tidak mencintaiku lagi? Apa dia sudah bosan padaku, atau Mas Dian berselingkuh di belakangku?” begitu banyak pertanyaan di benaknya saat ini.
Dirinya sangat ingin seperti istri di luar sana yang cantik dan langsing. Tapi, uang bulanan yang di berikan oleh suaminya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah, sekolah dan cicilan mobil mereka.
Sangat egois bagi Yana, jika dirinya mementingkan dirinya sendiri, apalagi untuk mempercantik dirinya.
“Mas, kamu dimana?” gumamnya lagi.
Berulang kali Yana menghela napas kasar, ia terduduk di tepi kasur.
__ADS_1
“Huftt ... sebaiknya aku cari kerja mulai besok, aku tidak mungkin mengharapkan Papa dan Mama untuk membiayai sekolah Diki dan Deva.”
Yana mulai merebahkan tubuhnya, walaupun matanya sangat sulit untuk terpejam.
Keesokan paginya, Yana telah bersiap dengan pakaian rapi dan membawa berkas lamaran di tangannya.
“Yana, kamu mau kemana sepagi ini?” tanya mamanya tengah menyiapkan sarapan.
“Yana mau cari kerja, Ma. Bagaimana nasib Diki dan Deva jika aku tidak bekerja, Mas Dian ....” ucapannya seketika terhenti.
“Apa Dian ada menghubungimu?” tanya mamanya.
Yana menggelengkan kepalanya.
“Sebaiknya kamu sarapan dulu, setelah itu baru berangkat. Diki dan Deva, biar Papamu yang mengantarnya.”
Yana kembali menangguk.
Selesai sarapan, Yana berpamitan pada mamanya.
“Oh ya, Tadi pagi ada yang mengantar motormu, katanya dari Damar.”
Yana baru ingat, jika motornya sedang di bengkel.
“Pasti bisa di bayar nanti, bersabarlah. Oh ya, jangan terlalu dekat dengan pria, kamu masih berstatus Istri. Mama tidak mau menimbulkan fitnah,” ucap mamanya mengingatkan.
“Iya, Ma.”
Yana berpamitan pada mamanya, kali ini ia bertekad untuk bekerja tanpa peduli lagi pada suaminya yang melarangnya untuk bekerja.
Sebelum mencari lowongan pekerjaan, Yana mampir ke rumah mertuanya.
“Yana, kenapa datang sepagi ini kemari? Apa kamu mau meminta uang?! Mama tidak punya uang, kamu saja sudah beberapa bulan tidak memberikan Mama uang!” ketus ibu mertuanya tersebut.
“Tidak, Ma. Kapan Yana pernah meminta uang pada Mama? Yana hanya memberitahukan, jika Mas Dian sudah beberapa minggu tidak pulang. Apa mas Dian pernah menghubungi Mama?” tanya Yana dengan lembut .
Terlihat ibu mertuanya menghela napas kasar.
“Yana, apa lagi sih masalah kalian itu? Setiap kemari, kamu selalu mengadu pada Mama! Suamimu itu selalu tidak pulang! Pasti kamu tidak becus mengurus suamimu itu, sehingga anakku tidak betah di rumah!” sentak ibu mertuanya.
“Ingat ya Yana! Jika terjadi sesuatu pada anakku, kamu yang akan bertanggung jawab!” ancam ibu mertuanya.
Yana menghela napas berat, bagaimana tidak niat ingin mencurahkan isi hatinya. Malah dirinya di tuduh dan di ancam oleh ibu mertuanya sendiri.
“Pergi dan cari anakku sampai ketemu!” usir ibu mertuanya.
__ADS_1
Entah kenapa, selama beberapa bulan terakhir semenjak dirinya tidak memberikan uang pada ibu mertuanya tersebut. Mereka langsung berubah pada Yana, semulanya baik, sekarang menjadi berubah menjadi sangat galak bahkan membenci Yana.
“Maaf, Ma. Yana tidak bisa, dua bulan ini Mas Dian tidak memberikan Yana uang, bahkan cicilan mobil sudah menunggak selama dua bulan!” bantah Yana.
“Heh! Kamu sudah mulai kurang ajar sama Mama mertuamu! Pantas saja putraku tidak betah di rumah, karena sudah terlihat sifat aslimu!” sentak ibu mertuanya.
Yana hanya bisa pasrah dengan ucapan ibu mertuanya yang terus menerus menghinanya.
Karena tidak tahan, akhirnya Yana pergi meninggalkan ibu mertuanya yang sedang mengoceh tidak jelas.
“Dasar menantu durhaka! Pergi kau dari kehidupan putraku!” teriak ibu mertuanya.
Yana hanya bisa memejamkan matanya mendengar teriakan ibu mertuanya tersebut.
“Ya Tuhan. Apa salahku padamu Mas Dian? Aku sudah berusaha menjadi Istri yang baik, tapi kamu malah pergi begini,” gumamnya dalam hati.
“Gio, aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku!” sejak pertemuannya dengan Gio, Yana memang curiga pasti sedang menutupi keberadaan suaminya.
Yana berhenti di pinggir jalan, ia berniat ingin menemui Gio kembali. Yana merogoh ponsel miliknya, untuk menghubungi kembali nomor Gio.
Tut ... Tut .... panggilan terhubung.
“Halo, Gio. Apakah kita boleh bertemu lagi sebentar saja,” ujarnya.
Yana tampak mengangguk, karena Gio menyetujuinya dan kebetulan Gio berada di sebuah restoran yang tak jauh dari tempatnya berhenti.
Yana segera melajukan motor miliknya.
“Gio,” panggilnya setibanya di restoran tersebut.
“Yana, kamu mau kemana dengan pakaian serapi ini?” tanya Gio melihatnya heran.
“Aku sedang mencari pekerjaan. Gio, aku mohon padamu sekali ini saja,” ujar Yana dengan wajah memelas.
“Apa?” tanya Gio.
“Aku tahu kamu pasti mengetahui keberadaan suamiku. Gio, apa kamu tidak kasihan padaku? Aku tahu kamu dan Mas Dian itu bersahabat sudah sangat lama. Apa kamu tidak kasihan dengan ku dan juga kedua putraku? Tolong, katakan apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Yana dengan wajah yang sangat lelah.
Gio memang sangat prihatin dengan keadaan Yana saat ini, ia bahkan mengutuk dirinya sendiri karena sudah menutupi masalah sahabatnya tersebut.
Gio menghela napas berat, ia bertekad saat ini akan membantu Yana kali ini.
“Yana, maafkan aku. Aku akan mengatakan yang sebenarnya, tapi aku mau kamu berjanji satu hal padaku,” ujar Gio menatap wajah Yana dengan rasa iba.
***
__ADS_1