Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 41


__ADS_3

“Vita,” panggil Yana, raut wajah yang terlihat cemas.


Walaupun hatinya meyakinkan suaminya tidak bermain gila di luar sana, bukan berarti dirinya tidak cemas.


Apalagi terlihat jelas jika di foto tersebut adalah suaminya.


“Ada apa, Yana? Kenapa kamu terlihat cemas begitu?” tanya Vita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


“A-aku ....”


Vita masih menunggu perkataan Yana yang terlihat tampak gugup.


“Apa kamu bisa membantuku?” tanyanya tampak ragu.


“Jika aku bisa membantumu, aku akan bantu.”


“Aku ingin menyusul suamiku. Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini saja,” ucapnya.


“Yana. Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanya Vita penasaran.


Karena sebelumnya Yana terlihat biasanya, setelah dirinya kembali dari ruangan wajah Yana langsung berubah.


“Aku baik-baik saja. Tapi, aku ingin menyusul suamiku, apa kamu bisa membantuku untuk menggantikan ku sementara disaat aku berada di luar negeri? Please ....” tanyanya lagi sembari menyatukan kedua tangannya dengan wajah yang memelas.


Yana lebih mempercayai semuanya pada Vita sahabatnya, ketimbang yang lainnya.


Vita terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.


“Iya, aku bisa. Tapi, kenapa mendadak?” tanya Vita lagi.


Yana terdiam, mulia menceritakan niatnya yang ingin menyusul suaminya. Ia tak ingin pernikahan keduanya ini menjadi sama seperti sebelumnya, berantakan karena orang ketiga. Kali ini ia ingin menyelamatkan pernikahannya dari godaan wanita di luar sana.


Vita mulai mengerti, ia tahu betul tujuan Damar ke luar negeri. Bahkan Damar mempercayai Vita untuk menitipkan istrinya, karena menurutnya mereka sesama perempuan bahkan Vita dan Yana juga sudah berteman lama.


“Pasti ada yang tidak beres,” gumam Vita dalam hati.

__ADS_1


“Vita ...” panggil Yana menggoyangkan tangan Vita yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Hah, iya. Aku bisa,” refleks Vita.


“Vita, apa kamu mendengar apa yang aku bicarakan tadi? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?” tanya Yana lagi menatap Vita dengan tatapan curiga.


“Hah, iya. Aku dengar, aku mendengar semuanya. Yana, saranku kamu harus membawa Alex untuk pergi. Jangan bawa anak-anak, ini sangat bahaya.”


“Iya, aku juga berpikir sepertimu. Mereka bertiga akan aku titipkan di rumah Papa dan Mama. Aku besok akan pergi bersama Alex,” sahutnya mengiyakan ucapan Vita.


Setelah percakapan mereka, Vita kembali bekerja ke ruangannya. Namun, pikirannya saat ini bukan pada pekerjaannya. Namun, memikirkan siapa yang berani mengirim pesan tersebut.


“Siapa dia? Apa mungkin itu Clara? Tidak mungkin, Clara sudah dimakamkan saat itu. Sungguh aneh jika dia hidup kembali, huh ... apa aku ceritakan masalah ini pada Tuan Damar saja,” gumam Vita terlihat gusar.


Begitu sayangnya pada Yana, sehingga dirinya tidak ingin terjadi apapun pada sahabatnya tersebut. Apalagi, Damar mempercayainya.


“Sebaiknya aku mengirim pesan saja pada, Tuan. Semoga dia membaca pesan ini, apalagi dia mengatakan jangan mengirim pesan padanya selama dua Minggu ini. Huh ... aku jadi bingung! Bagaimana jika bukan Tuan Damar yang membacanya?” keluh Vita menghela napas berat.


“Tuhan, bantu aku kali ini saja. Semoga Tuan Damar yang membaca pesanku dan hubungan mereka baik-baik saja. Cukup pernikahan pertamanya yang membuat Yana kecewa dan sakit hati, jangan untuk kali ini, Tuhan. Sungguh, aku sangat menyayangi Yana,” gumamnya lagi.


Sore hari.


Mobil Yana tengah mogok, cukup lama Yana menunggu sang sopir memperbaiki mobil mereka.


Sebenarnya, sopirnya memintanya untuk pulang menggunakan mobil lain dan akan di jemput oleh sopir lain.


Namun, Yana menolak. Ia tetap menunggu di mobil, hingga mobil tersebut selesai di perbaiki.


Tak lama, datang sebuah motor berhenti tepat di depan mobil mereka. Pria itu sangat tidak asing baginya, tiada lain adalah mantan suaminya.


Sang sopir terlihat tengah berbincang dengan Dian, tak lama Dian juga membantunya untuk memperbaiki mobil tersebut.


Yana hanya melirik sekilas saja, karena tidak ingin Dian salah paham padanya jika dia terus menatap mantan suaminya itu.


“Ujang, apa sudah selesai?” tanya Yana melihat Ujang membuka pintu mencoba menghidupkan mesin mobil.

__ADS_1


Karena mobil tersebut menyala kembali, Ujang mengangguk.


“Sudah selesai, Nyonya. Untuk ada pria itu yang membantu,” sahut Ujang.


“Oh, katakan terima kasih padanya dan berikan uang ini padanya sebagai tanda terima kasih.” Menyerahkan beberapa lembar uang.


Ujang mengangguk lalu mengambil uang tersebut.


Yana melihat Dian yang menolak uang pemberian Ujang, namun Ujang berhasil memberikannya dengan meletakkan uang tersebut di dashboard motor milik Dian. Sehingga mau tidak mau Dian menerimanya dan berpamitan keluar.


“Bagaimana? Apa dia menerimanya?” tanya Yana basa basi, walau sebenarnya ia sudah melihat semuanya dari dalam mobil.


“Iya, aku memaksanya. Pria itu mengatakan banyak terima kasih pada, Nyonya. Uangnya akan ia gunakan untuk biaya melahirkan Istrinya,” ucap Ujang mulai mengendarai mobil miliknya.


“Hah, Istri? Oh, Celine hamil lagi. Syukurlah,” gumamnya ia berpikir saat ini Dian masih bersama Celine istrinya.


Yana tidak mengetahui yang sebenarnya, karena dirinya juga tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga mantan suaminya itu lagi.


“Apa dia melihatku atau mengenaliku?” tanya Yana lagi.


“Tidak, Nyonya.”


Yana mengangguk, ia bisa bernapas lega setelah mendengar ucapan sopirnya tersebut.


Setibanya di rumah, Yana sudah meminta Alex untuk mempersiapkan semuanya untuk berangkat besok pagi dan meminta Alex untuk tidak memberitahu suaminya jika mereka akan berangkat besok untuk menemuinya.


Alex mengiyakan, walaupun dalam hatinya ia tidak mungkin menyembunyikan hal kecil seperti ini pada bosnya itu. Karena tanpa Damar, dirinya mungkin saat ini sudah menjadi anak jalanan tanpa rumah.


Damarlah yang mengubah nasib Alex hingga menjadi sekarang ini.


“Bagaimana, Alex? Semuanya aman?” tanya Yana setelah masuk ke dalam rumah besar milik suaminya.


“Aman, semuanya beres,” sahut Alex.


Yana mengangguk melihat Alex menangguk, malam ini juga dirinya akan mengantar putranya dan menitipkannya ke tempat orang tuanya dalam beberapa hari kedepan.

__ADS_1


***


__ADS_2