Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 20


__ADS_3

Semakin hari Yana Damar semakin dekat, apalagi setiap pulang bekerja Damar selalu memaksa Yana untuk mengantar wanita 38 tahun itu ke rumah.


Malam ini, Yana tengah makan malam bersama orang tua dan kedua putranya.


“Ma, tadi Kevin sedih.” Di sela makan Diki.


“Sedih kenapa?” tanya Yana masih menyuapi Deva makan.


“Mm ... sepertinya Kevin merindukan Ibunya,” ujar Diki.


Terlihat jelas jika Diki terlihat menyayangi Kevin, padahal mereka baru saja berteman namun mereka terlihat begitu akrab.


Yana terdiam sejenak, teringat beberapa Minggu lalu jika Kevin terlihat bahagia saat Yana bersedia di panggil ibu olehnya.


“Yana, bagaimana? Apa Dian pernah mengganggumu lagi?” tanya papanya di sela makan.


Yana menggelengkan kepalanya.


“Kata Damar, Mas Dian sudah di pecat dari pekerjaannya.”


“Kenapa?” tanya papanya penasaran.


Yana terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Dirinya bukan tidak ingin menceritakan kepada papanya, tapi tidak ingin lagi ikut campur. Karena mereka sudah bukan lagi suami istri.


“Biarkan saja, jangan pernah ikut campur dalam urusan mereka!” seru papanya masih terlihat kesal jika teringat akan perlakukan Dian pada putrinya.


“Papa lihat, kamu dan Damar semakin dekat. Apa kalian punya hubungan khusus?” tanya papanya penasaran, karena setiap sore dirinya pulang. Selalu melihat Yana di antar oleh Damar.


Deg!


Ia sudah menduga, jika papanya pasti akan bertanya tentang kedekatan dirinya dan Damar. Padahal, yang sebenarnya dirinya hanya berteman saja.


“Tidak, Pah. Aku dan Damar hanya berteman, kami dekat karena aku dan Damar satu kantor bahkan bersebelahan ruangan kerja. Setiap sore, Damar selalu memaksa untuk pulang bersamanya, karena Kevin les di dekat sini. Jadi, sekaligus menjemput Kevin.”


Yana menjelaskannya dengan panjang lebar.


“Bernapas, Sayang. Kamu yang bicara, Mama yang menahan napas,” gurau mamanya terkekeh.


“Hah, iya Ma.” Yana tersenyum kecut mendengarnya.


“Papa hanya bertanya saja, Nak. Tidak perlu gugup seperti itu, lagian Damar orang baik. Papa dan Mama setuju saja jika kalian ....”


Uhuk ... Uhuk .... Yana langsung tersedak mendengarnya.


“Pelan-pelan, Yana.”


Mamanya mengusap punggung putrinya pelan.

__ADS_1


***


Di tempat lain, sebuah klub malam ternama di kota tersebut. Seorang pria setengah mabuk, duduk di kursi dengan memegang satu gelas minuman beralkohol di tangannya. Tampak jelas dirinya sangat kacau, tiada bukan lagi dia adalah Dian.


“Satu lagi,” ujarnya meletakkan gelas tersebut di meja setelah meneguknya.


“Sialan! Tunggu pembalasanku, Damar!” umpatnya.


Dari raut wajahnya ia terlihat sangat marah pada Damar.


Marah karena Damar benar membuatnya jatuh miskin, bahkan tak ada satupun perusahaan yang mau menerima dirinya bekerja.


Damar terlihat seperti orang biasa saja, namun siapa sangka dirinya punya pengaruh besar terhadap perusahaan yang bergabung dengan perusahaannya.


Dian tak bisa berpikir lagi, dalam beberapa Minggu saja dirinya hampir jatuh miskin.


“Argghh ... sialan kau Damar!” kesalnya berulang kali mengumpat.


Ia kembali meneguk minuman yang berisi alkohol tersebut lalu melekatkan gelas kecil tersebut dengan kasar.


Dian terlihat begitu sangat kacau, mata yang sayu akibat terlalu mabuk.


Datang seorang wanita asing mengelus pelan bahunya, samar-samar Dian melihat wajah wanita tersebut terlihat tidak begitu asing.


Berulang kali ia mengusap matanya, agar dirinya tak salah lihat karena efek minuman beralkohol.


Dian masih tampak bingung, berulang kali mengusap matanya. Karena wajah wanita tersebut berubah-ubah.


“Yana,” gumamnya setelah beberapa kali mengusap matanya.


Wanita itu hanya tersenyum.


Tanpa pikir panjang lagi, Dian langsung memeluk wanita tersebut bahkan memberi kecupan di leher wanita itu, sehingga membuat wanita itu mengeluarkan suara ******* kecil.


Timbul rasa hasrat ingin mencumbu wanita yang di lihatnya adalah mantan istrinya, sehingga Dian langsung menyatukan bibir mereka dan ********** dengan kasar. Tanpa peduli lagi dengan orang sekitar, karena orang yang berada di dalam klub tersebut memang sibuk dengan musik dan berjoget.


“Yana ... akhh ....” bisik Dian dengan mendesah pelan, karena wanita tersebut malah menyentuh benda miliknya yang sudah tegak.


“Yana, aku sudah tak tahan lagi,” bisiknya karena menginginkan lebih dari ini.


“Ada uang ada barang,” sahut wanita tersebut dengan berbisik dengan suara mendayu.


Membuat Dian semakin ingin melakukannya, walaupun dirinya sedikit terkejut mendengar ucapan wanita yang di lihatnya adalah mantan istrinya yang meminta imbalan.


Tanpa pikir panjang lagi Dian mengeluarkan uang yang cukup banyak dari dompet miliknya dan tanpa ragu memberikannya pada wanita tersebut.


Dengan wajah yang sumringah wanita itu menerimanya, lalu memasukkan uang tersebut ke dalam tas kecil miliknya.

__ADS_1


Wanita tersebut membawa Dian beranjak sembari menggandeng tangannya, karena Dian terlihat jalan sudah sempoyongan karena setengah mabuk.


Mereka melangkah ke arah belakang klub melewati lorong dan berhenti di depan sebuah kamar.


Wanita tersebut langsung membawa Dian masuk ke kamar tersebut lalu mengunci pintunya.


Di dalam kamar, Dian langsung terbaring di tempat tidur. Tanpa menunggu lagi wanita itu langsung melepas semua pakaian Dian.


“Yana, Sayang. Aku merindukanmu,” racau Dian menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


Tanpa menunggu lagi, mereka langsung melakukan terlarang tersebut.


Hampir satu jam mereka melakukan pergumulan panas tersebut, tanpa memikirkan lagi dosa terlarang yang mereka lakukan.


Sementara Celine sudah berusaha menghubungi suaminya tersebut, karena seharian tak ada kabar bahkan sekarang sudah pukul 02.00 dini hari.


“Kemana mas Dian?” gumamnya melihat ponsel miliknya, karena sejak tadi menghubungi tak kunjung di angkat.


“Aku coba sekali lagi,” gumamnya kembali menekan nomor suaminya tersebut.


Tut ... panggilan Kembali terhubung.


“Halo, Mas. Kamu dimana?” tanya Celine melihat panggilan telepon di angkat oleh Dian.


Namun, ia tidak mendengar suara suaminya berbicara.


“Halo, Mas. Halo ....”


Celine menaikkan volume ponselnya.


“Yana, aku merindukanmu.” Samar-samar terdengar suara Dian dengan suara berat.


Air mata mengalir begitu saja di pipi Celine, ternyata hingga saat ini sang suami belum bisa melupakan mantan istrinya tersebut.


Celine langsung mengakhiri panggilan teleponnya, lalu duduk di tepi kasur.


“Yana, pelet apa yang kau berikan pada suamiku?! Sehingga dia begitu sulit melupakanmu!” kesalnya melempar ponsel miliknya ke tempat tidur.


Celine mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan kasar, lalu melangkah ke depan cermin yang berukuran besar.


Ia menatap dirinya di cermin, jika membandingkan dirinya dengan Yana. Jauh lebih cantik dirinya, tubuh langsing putih dan mulus.


Sedangkan Yana, wanita berkulit kuning Langsat dengan tubuh yang sedikit gemuk.


“Apa istimewanya Yana? Sehingga kamu begitu mencintainya Mas,” gumamnya masih menatap dirinya di cermin.


Celine berulang kali menghela napas kasar.

__ADS_1


“Yana, sepertinya kamu harus aku beri pelajaran yang berat dulu, agar kamu berhenti mengusik rumah tanggaku lagi!” geramnya.


__ADS_2