Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 24


__ADS_3

“Bu-bunga ....” Yana terlihat gugup.


Damar menatap Yana yang tampak terlihat gugup, Damar tersenyum.


“Un-untuk apa Tuan memberikanku bunga?” tanya Yana menunduk, karena merasa malu Damar menatap dirinya.


“Menurutmu?” tanya Damar balik.


Yana menggelengkan kepalanya pelan.


“Hahaha ... kenapa kamu tampak gugup, Yana. Bunga itu pemberian Kevin untukmu, katanya dia merindukanmu. Karena Kevin harus les, ia tak bisa datang ke rumah untuk bertemu denganmu.”


“Katanya, kamu bersedia di panggil Mama oleh Kevin?” tanya Damar.


Karena ia sendiri baru mengetahuinya semalam, Kevin mengatakan semua padanya, hampir setiap malam Kevin menceritakan Diki putra dari Yana dan juga menceritakan Yana yang begitu perhatian padanya.


Yana menghela napas lega, lalu mengangguk. Namun, ada raut kecewa dari wajahnya, tapi ia berusaha menyembunyikannya.


“Terima kasih, karena memberikan kasih sayang seorang Ibu pada putraku. Ia iri pada temannya yang lain, hanya dirinya yang tidak mempunyai Ibu.”


Yana tersenyum.


“Aku sudah menganggap Kevin sama seperti Diki dan Deva.”


Damar kembali mengangguk, tak hentinya ia berterima kasih.


“Jika anak-anak libur sekolah, aku ingin mengajak mereka untuk jalan-jalan. Tapi ....”


“Tapi, apa?” tanya Yana melihat Damar menggantungkan ucapannya.


“Tapi jika kamu mengizinkan dan bersamamu juga,” tambah Damar.


“Jika membawa putraku, aku tidak keberatan. Tapi kalau aku belum bisa memastikan, karena aku harus bekerja. Jika tidak bekerja, bosku pasti akan marah!” sindirnya.


“Aku bosnya, tidak ada yang berani memarahimu!”


Yana tersenyum.


“Akhirnya, aku mendengar sendiri pengakuanmu tanpa di minta.” Yana melebarkan senyumnya.


Damar terdiam sejenak mencerna apa yang di katakan oleh Yana, lalu menatap Yana dan terkekeh bersama di dalam mobil.


Sang sopir yang mendengar percakapan mereka pun ikut bahagia, karena untuk pertama kali bosnya bisa tersenyum dan bergurau seperti ini dengan karyawatinya sendiri.


Setelah satu jam melakukan perjalanan ke proyek mereka yang berada di luar kota, namun tak kunjung tiba.


Yana tertidur di dalam mobil, karena perjalanan tersebut membutuhkan 2 jam untuk tiba di sana.


“Dia tidur?” ucap Damar lirih.


Ia melepaskan jasnya lalu menutupi tubuh Yana sebagian, terlihat jelas jika Yana sangat kelelahan sehingga terdengar dengkuran halus dengan napas yang beraturan.


“Kasihan sekali, pasti dia cape. Seandainya dirimu jadi Istriku, aku tidak akan membiarkan mu bekerja seperti ini. Kamu akan menjadi ratu di hatiku, tapi aku tidak yakin jika kamu mau menerimaku sebagai suamimu.” Menatap Yana sambil berbisik dalam hati.

__ADS_1


“Tapi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku akan berusaha bagaimanapun caranya,” tambahnya lagi tampak bertekad kuat.


Sang sopir tak sengaja menangkap dari kaca spion jika majikannya tersebut tengah menatap Yana yang tertidur pulas, semenjak kematian sang istri hingga saat ini ia belum pernah melihat wajah sang majikan begitu perhatian pada wanita. Walau sama sekretarisnya sekalipun, bahkan terkesan cuek.


***


Di kantor, Clara sang sekretaris tampak tak bersemangat untuk melanjutkan pekerjaannya. Apalagi mendapat penolakan dari Damar, karena untuk pertama kalinya juga Damar menolak makanan darinya. Bahkan, saat ini posisinya tergeser oleh Yana.


Harapan untuk memiliki Damar sangat tipis pikirnya.


“Shit! Sepetinya aku harus bertindak, sebelum wanita itu lebih dekat dengan Damar!” gumamnya.


Ia merapikan barangnya lalu meletakkannya ke dalam tas miliknya.


“Mau kemana kamu Clara? Ini masih jam kerja,” tanya seorang pria yang satu ruangan dengannya.


“A-aku ... aku harus pulang. Kakakku pingsan dan sekarang sedang berada di rumah sakit,” sahut Clara berbohong.


“Oh ... ya sudah. Kalau begitu pulanglah, aku akan mengatakannya pada Tuan Damar jika dia mencarimu,” ucap pria itu dengan lembut.


Karena pria tersebut ternyata diam-diam juga menaruh hati juga pada Clara, jadi apapun yang di lakukan Clara ia selalu membelanya bahkan menutupi kesalahannya jika Clara berbuat salah dalam pekerjaan.


Di dalam lift, Clara tampak tengah berbicara pada seseorang pada benda pipihnya yang menempel di daun telinganya tersebut, hingga masuk ke dalam mobilnya baru dirinya mengakhiri panggilan tersebut.


Ia langsung melajukan mobil miliknya, dengan kecepatan yang stabil.


15 menit kemudian, ia sudah tiba di sebuah restoran. Clara melihat sekelilingnya seperti sedang mencari sesuatu.


“Clara,” panggil seseorang.


“Hai, Dian. Apa kabar?” tanya Clara mengulurkan tangannya.


“Tak perlu basa basi lagi, sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan. Sehingga memaksaku untuk datang kemari!” ucap Dian tampak malas untuk bertemu dengan Clara.


“Santai, dong. Kita bicara di dalam mobil saja,” sahutnya membuka pintu mobil agar mempersilahkan Dian untuk masuk.


“Ck!” Dian berdecap kesal.


Namun, ia tetap mengikuti kemauan Clara tersebut.


Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, kini mereka duduk bersebelahan.


“Ada apa lagi Clara? Aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan itu, jika membahas pekerjaan, aku tidak mau!” tolak Dian tampak terlihat kesal.


“Tidak, ini bukan tentang pekerjaan. Mm ... begini. Aku sudah mengetahuinya, kalau kamu sekarang tidak bekerja, karena Tuan Damar, bukan?!”


Dian kembali berdecap kesal, karena ia juga sangat kesal terhadap Damar. Karena Damar, saat ini dirinya sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Bahkan, rumah tangganya kini berantakan bersama Celine.


“Aku ada pekerjaan untukmu,” ujarnya mengeluarkan segepok uang dari dalam tasnya.


“Pekerjaan apa?” tanya Dian menatap curiga.


“Sangat mudah.”

__ADS_1


Clara mulai menceritakannya pada Dian tentang dirinya yang sangat ingin memiliki Damar, karena keberadaan Yana membuatnya semakin sulit untuk mendapatkan Damar.


Bahkan pagi tadi, Damar memintanya untuk meletakkan bunga mawar di meja kerja Yana. Sehingga membuatnya semakin sangat kesal pada Yana.


Mendengar itu, Dian tampak mengepal kuat tangannya. Kebenciannya pada Damar semakin bertambah. Namun, ia sadar jika dirinya dan Yana sudah bukan suami istri lagi.


“Lalu? Yana sudah menjadi mantan Istriku, mana mungkin aku melarangnya dekat dengan pria. Walaupun pria itu sangat aku benci, tapi aku tidak berhak atas Yana!” seru Dian.


“Jangan berbohong! Kamu pasti sangat cemburu dan hatimu pasti ingin Yana kembali padamu, bukan?” tebak Clara.


“Terserah! Jika ingin bertemu hanya ingin mengatakan mantan Istriku dekat dengan pria, kamu hanya membuang waktuku saja!” kesal Dian pada Clara.


“Bukan, bukan hanya itu. Tunggu dulu.” Clara menahan lengan Dian saat melihat Dian hendak keluar.


“Ada apa lagi?!” kesalnya.


“Aku punya rencana dan aku butuh kamu dalam rencana ku ini. Selain itu, aku bisa bantu kamu untuk kembali pada mantan Istrimu lagi,” ucap Clara tampak memohon.


“Rencana apa?” tanya Dian.


Karena tertarik dengan ucapan Clara yang ingin membantunya untuk kembali pada Yana. Karena sejatinya, hati Dian tidak bisa berbohong karena saat ini adalah ingin kembali pada Yana.


Clara mulai menceritakannya pada Dian tentang rencananya, Dian tampak berpikir dengan rencana yang di usul oleh Clara.


“Bagaimana?” tanyanya menatap Dian.


“Kita impas, kamu mendapatkan Yana kembali dan begitupun dengan aku. Setelah itu kita semua akan hidup bahagia, tidak ada lagi yang dapat memisahkan kita.” Clara tampak meyakini Dian yang masih belum mengiyakan rencananya.


“Apa kamu yakin dengan rencana ini berhasil seratus persen?” tanya Dian.


Sebenarnya, Dian sangat tertarik. Namun, ia takut jika rencana itu gagal ia malah sulit untuk bertemu dengan kedua putranya karena perbuatannya sendiri.


“Ya, tidak salahnya kita mencoba. Sebenarnya aku sangat yakin jika rencana ini berhasil,” sahutnya.


Dian tampak kembali berpikir.


“Bagaimana?” tanya Clara berulang kali, ia sangat berharap jika Dian mau ikut dalam rencananya tersebut.


“Baiklah, aku setuju.”


Clara langsung tersenyum bahagia, karena Dian setuju.


“Oke, ini untukmu. Anggap saja sebagai tanda terima kasihku, karena kamu mau membantuku.” Menyerahkan uang tersebut ke tangan Dian.


Dian menatap uang tersebut, ia tampak ragu untuk mengambilnya. Namun, saat ini dirinya juga butuh uang. Saat di usir dari rumah Celine istrinya, dirinya tak sepersenpun membawa uang di tambah lagi ia sudah tidak bekerja dalam beberapa bulan ini.


“Oke, aku terima. Terima kasih sebelumnya, hubungi aku kapan rencana itu akan di mulai.”


“Oke, siap.”


Clara tampak menghela napas lega, lalu menyeringai licik menatap kepergian Dian.


“Yana, kamu pikir kamu itu pintar! Lihat saja, bagaimana Damar akan menghinamu nanti. Huftt ... aku sudah tidak sabar ingin melihatnya,” ujarnya tampak tidak sabar.

__ADS_1


***


__ADS_2