
“Sayang, bangunlah. Sudah pagi,” panggil damar lembut, sembari mengusap lembut pipi istrinya.
Yana mulai mengerjapkan kedua matanya, yang pertama ia lihat adalah wajah suaminya yang tengah tersenyum melihatnya.
“Bangun,” ucap Damar lagi dengan lembut.
“Memangnya sudah pagi?” tanya Yana menatap ke arah jendela.
Terlihat dibalik tirai berwarna putih tersebut, cahaya sang Surya mulai memasuki celah jendela.
Yana menggeliat karena tubuhnya merasa sangat letih.
“Cape? Maafkan aku telah membuatmu letih,” ujar Damar menarik istrinya ke dalam pelukannya.
Yana hanya tersenyum menanggapinya, Yana menatap suaminya dari dekat.
Kali ini Yana mengakui, jika suaminya memang sangat tampan.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Damar sembari mengeratkan dekapannya.
Yana menggelengkan kepalanya, wajahnya memerah malu karena ketahuan suaminya.
“Sayang, i love u,” bisik Damar ditelinga Yana.
Yana kembali tersenyum lalu mengangguk, tangan yang mulai nakal masuk ke dalam baju milik Yana.
“Apa aku boleh melakukannya sekali lagi?” tanya Damar pelan dengan hati-hati.
Netranya tertuju pada bibir Yana yang terlihat menggoda.
Yana mengangguk pelan.
Melihat istrinya setuju, Damar Kembali lagi melakukan pergumulan panas mereka.
Mereka berdua menikmati pagi yang cerah di tempat tidur.
Damar tidak melakukannya terlalu lama, karena hari ini ia sudah berjanji untuk membawa keluarga kecilnya berjalan-jalan.
“Sudah siap?” tanya Damar melihat istrinya sudah rapi dan cantik.
“Sudah,” sahut Yana masih memberikan polesan di bibirnya.
Damar menatap istrinya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Yana.
Damar menarik pelan bahu istrinya, untuk menghadapnya.
“Jangan terlalu tebal memakai lipstik dan juga jangan terlalu sering tersenyum pada semua orang. Terutama pada pria,” ucap Damar menghapus lipstik di bibir Yana menggunakan tisu.
“Kenapa di hapus?! Aku membelinya dengan harga cukup malah! Mubazir jadinya! Lalu kenapa aku tidak boleh tersenyum, orang pasti akan berpikir aku angkuh!” protes Yana.
“Aku bisa membelikanmu 10 ribu lipstik yang lebih mahal dari ini! Kenapa aku tidak ingin kamu tersenyum, karena aku tidak ingin merasakan yang sama denganku saat kamu tersenyum. Karena senyumanmu itu, membuat aku jatuh cinta padamu. Kamu mengerti!” menatap istrinya yang tampak sedikit cemberut.
Yana mengangguk pelan.
Cup ...
__ADS_1
“Anak pintar. Sekarang ayo kita berangkat,” ajaknya menarik pelan tangan istrinya.
Sebelum menuju turun menuju mobil mereka, Damar melihat ketiga putranya tersebut apakah sudah bersiap.
Damar tersenyum melihat kekompakan putranya itu, mereka sudah bersiap dan sudah menunggu kedua orang tua mereka.
“Ayo berangkat,” ajak Damar.
Mereka bertiga melangkah mengikuti belakang Damar.
Ia juga menyewa mobil dan dirinya sendiri yang menyetir.
“Kalian senang tidak? Papa ajak kalian kemari?” tanya Damar sembari fokus menyetir mobil.
“Sangat senang, Pah. Ini pertama kalinya Diki ke luar negeri,” sahut Diki.
“Iya, Pah,” tambah Deva.
Kevin hanya tersenyum, karena ini bukan pertama kali bagi dirinya untuk liburan bersama papanya.
“Oke, lain kali kita akan berlibur lagi. Apabila kalian libur sekolah, Papa akan mengajak kalian jalan-jalan ke luar negeri lagi. Apapun yang kalian inginkan, Papa akan turuti asal kalian bahagia.”
Damar terlihat bahagia, kini mempunyai keluarga yang lengkap saat ini.
Seharian penuh, Damar mengajak orang tercintanya berkeliling. Ke mal berbelanja dan juga tempat yang cukup ramai orang kunjungi saat berlibur ke London.
Senyum tak lepas dari bibir ranumnya, apalagi melihat kebahagiaan ketiga putranya.
“Sayang, terima kasih. Karena sudah menerima putraku,” ujar Yana ikut duduk di samping suaminya, sembari melihat ketiga putranya bermain wahana.
“Kenapa berterima kasih? Tidak mungkin aku mencintai Ibumu, sedangkan anaknya aku abaikan. Kalian juga adalah tanggung jawab terbesarku untuk selalu memberi kebahagiaan. Tetaplah di sampingku, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku.” Meletakkan tangannya di bahu istrinya.
Namun, siapa sangka ada yang menatap tajam ke arah mereka dari kejauhan.
Seseorang tersebut tampak mengepal kuat tangnya, ia sangat benci melihat kebahagiaan mereka.
Siapa lagi kalau bukan Clara, ia mengikuti Damar hingga Ke luar negeri.
Karena sebelumnya ia mendapatkan informasi, jika Damar dan istrinya tengah berlibur ke luar negeri.
Malam hari.
Mereka putuskan untuk kembali ke hotel, karena sudah cukup lelah seharian bermain dan berbelanja.
Kevin dan Deva tertidur pulas di kursi belakang.
Namun, tidak dengan Diki. Matanya masih terjaga melihat sekeliling kota yang terlihat indah saat malam hari.
Sesampainya di parkiran, Yana dan Damar memutuskan untuk menggendong putranya mereka satu-satu.
Sedangkan Diki mengikuti langkah mereka dari belakang dengan barang belanjaan mereka.
Setibanya di kamar, Yana tampak terkejut melihat putranya Diki tidak berada di belangnya.
“Loh, dimana Diki?” tanyanya pelan.
Seingatnya, Diki mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya, Damar juga baru tersadar jika Diki tidak ada.
“Kemana Diki? Kamu duduk saja, biar akan yang kembali turun.”
Melihat Yana mengangguk, ia duduk di sofa sembari menunggu suaminya dan putranya Diki kembali. Karena berpikir Diki tertinggal di lantai bawah.
Cukup lama Yana menunggu, tapi tidak mendapati suaminya kembali.
Yana langsung menghubungi suaminya untuk bertanya dimana keberadaan mereka.
Tut ....
Panggilan itu terhubung.
“Halo, bagaimana, apakah Diki ada di lantai bawah?” tanya Yana terlihat begitu khawatir.
“Belum, aku akan berusaha mencarinya. Kamu jangan cemas,” sahut suaminya.
Yana mengiyakan, lalu mengakhiri panggilan tersebut.
Perasaan Yana saat ini tidak karuan, karena suaminya masih belum menemukan keberadaan Diki. Sangat mustahil jika Diki tidak berada di lantai bawah, karena jika Diki tertinggal pasti masih menunggu di lantai bawah.
Bahkan Yana sangat percaya pada putranya itu bahwa Diki itu sangat pandai membaca, pasti ia tahu cara menaiki lift untuk ke kamar mereka.
Sementara Damar, tampak bingung kemana lagi mencari Diki. Dari parkiran ia tidak menemukan keberadaan putra sambungnya tersebut.
Damar berinisiatif untuk mengecek cctv, lalu meminta petugas hotel untuk memeriksanya.
Damar mulai melihat rekaman cctv beberapa menit yang lalu sejak kedatangan mereka, memang Diki mengikuti mereka hingga ke lift.
Setelah keluar dari lift, ada seseorang yang tidak di kenal karena wajahnya tertutup masker dan topi terlihat berbicara dengan Diki.
Namun, setelah itu tak terlihat karena orang tersebut begitu pandai menutupi dari cctv, hingga tak terlihat kemana orang tersebut membawa putranya.
“Sialan! Siapa dia? Kemana membawa anak kecil?! Apa dia penculik anak-anak?” gumamnya.
“Bagaimana sih sistem keamanan hotel ini? Bagaimana bisa penculik bisa masuk!” kesal Damar menatap petugas hotel tersebit.
“Aku bahkan tidak tahu kemana mereka membawa putraku! Astaga! Apa yang harus aku katakan pada Yana!” mengusap wajahnya dengan kasar.
“Maaf, Tuan. Apa memang anda tidak mengenali orang itu? Siapa tahu mereka adalah saudara atau kerabat jauh?” tanyanya petugas hotel tersebut memastikan.
“Bodoh! Jika mereka saudaraku, mana mungkin aku sangat cemas seperti ini! Sepertinya mereka penculik!” sentak Damar.
“Saya mohon kerja samanya, putraku saat ini dalam bahaya. Bisa bantu aku menghubungi polisi, untuk melacak mobil yang penculik itu kenakan?” tanya Damar, ia terlihat begitu cemas.
Entah apa motif orang terbesit membawa putranya.
“Bisa, mari ikut saya.”
Sembari melangkah mengikuti petugas hotel tersebut, Damar berpikir bagaimana caranya dirinya mengatakan pada Yana.
Damar berulang kali mengumpat dirinya, karena tidak becus menjaga Putranya. Padahal, dari awal sudah berjanji akan menjaga mereka. Namun, sepertinya ia gagal menjadi ayah sambung untuk kedua putra Yana tersebut.
***
Hai, terima kasih sudah mengikuti author sejauh ini.
__ADS_1
mohon maaf jika Bab ini loncat, karena Bab 33 masih sedang di review sejak kemarin belum lulus.
jangan khawatir, nanti akan berurutan seperti sedia kala jika sudah lulus review. terima kasih banyak 🙏🙏