
Dua Minggu sudah berlalu, Yana semakin hari semakin gusar. Pasti ada yang tidak beres dengan suaminya, karena dalam dua Minggu ini hanya sekali sang suaminya menghubunginya.
Itu pun hanya bertanya kabar dirinya dan putranya serta mengatakan Yana harus percaya padanya, Yana saat itu sangat rindu mendengar suara suaminya. Namun, apakah daya Damar hanya menghubungi lima menit saja.
“Mas, apa yang terjadi sebenarnya? Apa benar saat ini kamu sedang bekerja? Kenapa kamu seketika berubah?” tanya Yana dalam hati sembari mengusap foto suaminya.
“Jujur, saat ini aku sangat cemas dengan keadaanmu!” gumam Yana lagi.
Ceklek ....
Vita langsung membuka pintu ruangan, Yana segera mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.
“Yana, kamu menangis?” tanya Vita menatapnya curiga.
“Tidak, hanya ada sesuatu yang masuk ke dalam mataku.” Yana tampak mengibas menggunakan matanya.
“Kamu yakin?” tanya Vita menatapnya curiga.
Yana dengan cepat mengangguk.
“Yana, aku cukup lama mengenalmu. Aku tahu, kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, jika kamu tidak ingin mengatakannya itu tidak jadi masalah bagiku. Jika kamu ingin bercerita, aku siap mendengarkan.”
Yana terdiam menatap sejenak wajah Vita yang tampak menunduk membaca sebuah berkas di tangannya.
Yana menghela napas berat.
“Entahlah Vita, aku bingung,” keluh Yana menyenderkan bahunya di kursi kebesarannya.
“Bingung kenapa?” tanya Vita fokus menatap Yana dengan kedua tangannya bertumpu pada meja.
Yana kembali menghela napas berat.
__ADS_1
“Sejak kepergian Mas Damar, dia berubah. Cara bicaranya terdengar sangat dingin, dalam dua Minggu ini Mas Damar hanya menghubungiku sekali saja. Aku bingung dengan sikapnya yang langsung berubah,” keluh Yana dengan suara bergetar menahan tangis.
Selalu sahabatnya dan juga Yana sudah menganggap dirinya seperti adik. Vita ikut bersedih, karena Yana baru saja merasakan kebahagiaan.
“Yana, aku ingin kamu berpikir positif saja. Mungkin saja Tuan Damar sedang kelelahan, atau sedang banyak pekerjaan. Menurut info yang aku dapat, Tuan Damar sedang berusaha mengembalikan bisnis Ayahnya yang sedang bangkrut.”
Yana mengangguk, karena sebelumnya juga Damar sudah mengatakan padanya.
“Aku tahu yang kamu pikirkan saat ini. Tapi, aku sangat yakin jika Tuan Damar tidak berani melakukan aneh-aneh disana.”
Vita berusaha meyakinkan Yana, agar Yana tidak kepikiran.
“Iya, kamu benar. Sepertinya, aku terlalu berlebihan memikirkan Mas Damar.” Tertawa kecil, walaupun saat ini didalam hatinya masih belum yakin.
“Nah, gitu dong. Aku ke ruanganku dulu, aku salah mengambil berkas,” pamit Vita.
Setelah keluar dari ruangan, Vita merogoh ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.
Panggilan terhubung.
“halo, Tuan. Apa anda biak-baik saja?” tanya Vita.
“Aku baik. Ada apa Vita? Apa terjadi sesuatu dengan Istriku?” tanya Damar terdengar cemas.
“Yana baik. Tapi suasana hatinya yang tidak baik, Yana berpikir jika Tuan Damar sedang macam-macam di luar sana.”
Ternyata yang sebenarnya adalah, Vita selalu memberi kabar tentang Yana pada suaminya.
Sebenarnya Damar bisa menghubungi Yana langsung, tanpa harus repot-repot meminta orang. Namun, ia punya maksud di balik semua itu.
Karena jika mendengar suara istrinya yang lembut itu, membuat Damar tidak fokus dalam bekerja, bahkan bisa memperlambat pekerjaannya yang harus selesai dalam sebulan ini.
__ADS_1
Tantangan yang di berikan ayahnya, tidak bisa di anggap main-main. Jika melanggar, bisa jadi dirinya dan Yana tidak akan bisa bertemu dan berkumpul kembali.
“Tolong hibur dia dan bagaimanapun caranya kamu harus bisa membujuk Yana agar tidak memikirkan hal yang buruk. Dua Minggu lagi pekerjaanku akan selesai, bahkan aku sudah berusaha hingga beberapa jam saja tidur.”
“Iya, Tuan. Cepat kembali berkumpul dengan anak dan Istri Tuan, karena Yana saat ini sangat membutuhkan Tuan.”
“Iya, aku tidak bisa berlama-lama. Aku tutup teleponnya.”
“Iya, Tuan.”
Vita langsung mengakhiri panggilannya, lalu menghela napas berat.
“Kasihan mereka. Ketika sudah menemukan kebahagiaan, kini mereka di terjang masalah besar. Aku sangat berharap padamu, Tuhan, persatukan lagi lah mereka,” gumam Yana dalam hati.
Vita kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, sementara Yana melihat pesan dari ponsel miliknya. Seorang pesan dari suaminya, tapi hanya emoji sembari memegang stiker love.
Yana tersenyum kecil melihat pesan dari suaminya itu.
Namun, ada satu pesan dengan nomor baru. Yana mengernyit heran, karena tidak mengenali nomor baru tersebut.
Yana membulatkan matanya melihat pesan dari orang yang tidak di kenalnya, lalu memperlihatkan suaminya terlihat akrab dengan seorang wanita cantik.
“Tidak, Mas Damar tidak mungkin selingkuh apalagi bermain gila di belakangku. Aku sangat yakin, jika ini hanya seseorang yang membantunya dalam melakukan pekerjaannya.” Yana berusaha meyakinkan dirinya, jika ada yang tidak suka dengan hubungan mereka saat ini.
Yana berusaha menghubungi nomor yang tidak di kenal tersebut, namun tidak bisa di hubungi. Membuat Yana semakin yakin, jika seseorang tersebut hanya ingin menghancurkan rumah tangganya.
***
Mohon maaf lahir batin untuk kalian semua dan terima kasih kalian masih selalu setia pada author.
Maaf sekali lagi, author tidak bisa banyak updatenya karena sok sibuk di reallife.
__ADS_1