
Kebahagiaan yang bertubi-tubi yang dirasakan oleh Damar, sudah memiliki istri yang cantik dan pintar. Di tambah lagi kehadiran seorang putri di tengah kebahagiaan mereka, membuat Damar semakin bersyukur.
Sang Ayah kini sudah menetap di tanah air, ia ingin menghabiskan sisa hidup dengan berkumpul bersama anak dan cucunya.
"Ayah, kenapa di luar? tidak baik untuk kesehatan Ayah, jika duduk di luar. Apalagi sudah larut malam begini," tanya Yana lembut.
"Iya, sebentar lagi Ayah akan masuk ke dalam. Ayah hanya ingin merasakan udara malam di kota kelahiran Istriku," sahutnya.
Yana mengangguk.
"Baiklah Ayah, Yana akan meminta Mas Damar untuk menemani Ayah."
Ayah mertuanya mengangguk.
Yana pergi ke kamar untuk memanggil suaminya, saat ini Damar tengah mengajak bayinya berbicara yang baru berusia beberapa bulan tersebut.
"Sayang, Ayah duduk di balkon. Aku takut mempengaruhi kesehatan Ayah, apalagi udara di luar cukup dingin," ucap Yana saat masuk ke dalam kamar.
"Ayah di balkon? Sedang apa Ayah di luar?" tanyanya.
"Katanya ingin merasakan udara dingin di malam hari, cepat temani Ayah."
Damar terdiam, lalu ia menatap curiga pada istrinya tersebut.
"Hm ... kamu sengaja-kan?" memicingkan matanya pada istrinya.
"Sengaja apa? aku bicara serius, jika Ayah ada di teras. kamu pikir aku berbohong?!" seru Yana.
"Bisa saja itu hanya alasanmu, agar menghindar dariku. Kamu lupa? kalau malam ini adalah waktumu untuk bersamaku." sembari memainkan kedua alisnya dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Astaga! Sayang, aku tidak pernah beralasan jika aku menolak. Sayang, aku tidak lupa dengan janji." memperlihatkan senyumnya pada suaminya itu.
"Hm, baiklah. Beri aku ciuman," ucapnya menunjuk pipinya.
tanpa menunggu lagi, Yana langsung memberi kecupan tersebut.
Cup ...
"Sudah," ucapnya dengan senyum yang mengambang sempurna.
"Awas saja nanti malam!" ancamnya pada istrinya.
Bukannya takut, Yana malah terkekeh mendengar ancaman suaminya tersebut.
Damar langsung menuju balkon yang ada di lantai atas, disana tampak ayahnya masih duduk melihat pemandangan di malam hari.
Ayahnya langsung menoleh.
"Kenapa di luar?"
"Sebentar saja, Ayah hanya ingin duduk merasakan sejuknya angin malam."
Damar ikut duduk di samping ayahnya.
"Ayah teringat masa-masa bersama mendiang Ibumu. Apakah Ayah bisa bersama di sana?" tanyanya.
Damar hanya jadi pendengar saat ini.
Ayahnya mulai bercerita masa kecil Damar, bagaimana istrinya mengurus Damar tanpa ikut campur tangan oleh suster.
__ADS_1
Karena ingin melihat tumbuh kembang putranya di tangannya sendiri, walaupun saat itu ayahnya bisa membayar orang untuk membantu istrinya merawat putranya.
"Aku juga merindukan, Ibu."
Damar menggenggam erat tangan ayahnya, berulang kali ia mengecupnya.
Dari kejauhan Yana menatap mereka, tak sadar ia meneteskan air mata.
Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Karena sangat bahagia bisa melihat ayah dan anak bisa seakrab sekarang ini.
"Aku jadi merindukan Mama dan Papa," gumamnya dalam hati.
karena mendengar putrinya menangis, Yana kembali masuk ke kamar dan membiarkan ayah dan anak tersebut berbincang di balkon.
^^^ SEKIAN TERIMA KASIH^^^
**TAMAT**
Assalamualaikum wr ... wb.
Terima kasih untuk kalian telah setia membaca cerita author
Maafkan author jika ada kesalahan dalam penulisan, karena kesempurnaan hanya milik Allah.
Sekali lagi, Author berterima kasih karena kalian sudah setia membaca cerita author hingga selesai.
Tunggu cerita author yang baru ya.
Wassalamu'alaikum.
__ADS_1