
Di meja makan, Yana menatap ayah dan anak itu. Ia sangat bahagia, karena ayah dan anak tersebut akhirnya berdamai dengan egonya masing-masing.
“Yana, masakanmu ini sangat enak. Apa perlu Ayah meminta Damar untuk membuka restoran untukmu? Ayah yakin, restoran itu pasti akan sangat ramai dan banyak pengunjung datang ingin merasakan masakanmu ini,” ucapnya sejak tadi selalu memuji masakan Yana.
Walaupun baru beberapa jam bertemu, Yana dan ayah mertuanya tampak sudah akrab.
“Ayah berlebihan, ini hanya masakan biasa yang selalu aku buatkan di rumah untuk anak-anak.”
“Hm ... tapi memang benar enak, Sayang,” puji suaminya.
“Tuh kan, apa Ayah bilang. Oh ya, siapa nama kedua putramu?” tanya ayah mertuanya langsung.
Uhuk ... Uhuk ....
Yana tersedak saat minum air dari gelas, karena mendengar pertanyaan ayah mertuanya tersebut.
“Pelan-pelan, Sayang. Deva dan Diki, Ayah. Diki dan Kevin seumuran dan Deva beda dua tahun,” sahut Damar sembari memberikan tisu pada istrinya.
Ayahnya tampak mengangguk, ia fokus kembali dengan makanan tersebut.
Selesai makan, ayah dan anak tersebut kembali berbincang Yana membiarkan mereka tanpa menyela pembicaraan mereka.
Selesai itu Damar mengajak istrinya untuk beristirahat di kamarnya dulu, Yana tampak terpukau melihat kamar tersebut lebih mewah.
Rumah Suaminya yang berada di tanah air, namun rumah ayahnya tak kalah mewahnya.
Yana tampak tersenyum paksa, jika di bandingkan dengan rumah kedua orang tuanya, sangat jauh berbeda bagaikan langit dan bumi.
Namun, Yana tidak pernah membandingkan keduanya karena baginya keduanya sangat nyaman.
“Kenapa wajahmu pucat?” tanya Damar melihat wajah istrinya terlihat pucat.
“Kamu sakit, Sayang?” tanya Damar lagi terlihat cemas.
Yana menggelengkan kepalanya.
“Sekarang kamu istirahat dulu,” ucap Damar menyelimuti istrinya dengan selimut tebal.
Saat Damar hendak beranjak dari tempat tidur, Yana menahan lengan suaminya.
“Mau kemana? Temani aku sebentar saja,” ucapnya dengan lembut.
Damar tersenyum melihat istrinya yang terlihat manja pada dirinya.
Damar menarik Yana ke dalam pelukannya, mengusap punggung istrinya pelan.
“Sayang, aku sangat berterima kasih. Berkat dirimu, Ayah dan aku kembali seperti dulu lagi dan aku juga minta maaf telah berprasangka buruk padamu hingga menyalahkan Alex.”
Cup ... cup ....
Berulang kali memberi kecupan hangat di kening istrinya, Yana tersenyum bahagia karena merasa sangat di cintai oleh suaminya.
“Aku juga minta maaf, Mas. Karena tidak mendengar ucapanmu yang melarangku untuk keluar apartemen. Apa aku termasuk Istri yang durhaka? Karena tidak mendengar ucapan Suami.”
Damar tersenyum.
“Jika yang kamu lakukan itu benar, tidak akan durhaka. Apalagi niatmu baik, tapi bukan berarti kamu seenaknya dan tidak mendengar ucapan suamimu.”
Yana mengangguk.
“Mas, aku penasaran. Apa yang membuat hubunganmu dengan Ayah menjadi renggang? Maaf jika aku lancang, tapi tidak perlu di bahas, Mas. Lupakan saja,” ujar Yana refleks bertanya tentang masalah yang membuat ayah dan mertuanya itu renggang.
“Tidak, Sayang. Kamu sebagai Istri berhak mengetahui ini, apalagi semua ini berkat dirinya Ayah seketika langsung berubah.”
Yana mengangguk mengeratkan dekapannya, apalagi mendengar suaminya mulai bercerita.
Flashback on
Damar masih berkutat dengan laptop miliknya di ruang kerja, tanpa peduli dengan ayahnya yang tengah berbincang dengan sahabatnya di ruangan.
“Damar,” panggil Ayahnya langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
Damar menoleh ke sumber suara.
“Ya, Ayah.”
“Kenapa kamu tidak mendengar Ayah untuk sekali ini saja? Usiamu sudah tua! Anita itu wanita baik, sekali saja kamu menemuinya!”
Damar tampak menghela napas berat, seakan lelah dengan pertanyaan ayahnya yang selalu memintanya untuk menikah.
“Apa kamu ingin melihat jasad Ayah sekarang?!” sentak ayahnya.
“Ayah, jika sudah saatnya menikah aku akan menikah. Ayah selalu saja memaksaku!”
“Baiklah, persiapan dirimu besok, kamu akan menerima banyak tamu untuk melihat jasadku!” ancam Ayahnya.
Lagi-lagi ancaman tersebut membuat Damar terpaksa harus menerima perjodohan tersebut.
Ayahnya tampak sumringah karena sang putra akhirnya setuju untuk menikah berkat ancamannya tersebut.
Seiring berjalannya waktu, beberapa bulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tak mudah bagi Damar untuk menerima Anita di hatinya, membutuhkan waktu sekitar tiga tahun setelah pernikahan untuk menerima Anita.
Namun, ia tidak mengatakannya secara langsung dengan Anita, karena egonya yang terlalu tinggi untuk mengatakannya.
Suatu malam, Damar tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Anita apa lagi dirinya di pengaruhi alkohol karena ulah temannya yang memintanya untuk minum beralkohol tersebut hingga membuat dirinya setengah sadar melakukan hubungan suami istri tersebut.
Kejadian itu Damar lakukan yang pertama dan terakhir hingga Anita di nyatakan hamil oleh dokter.
Ayahnya sangat senang mendengar kabar tersebut, namun tidak dengan Damar ia malah meragukan jika yang di kandung oleh Anita adalah darah dagingnya hingga membuat sang ayah murka.
__ADS_1
Tak sampai disitu, Damar melakukan tes DNA saat usia kandungan istrinya sudah cukup kuat untuk melakukan tes DNA dan hasilnya jika bayi yang di kandung oleh Anita adalah memang darah dagingnya hingga membuat Damar mau tidak mau harus menerimanya.
Akhirnya Damar menyadari kesalahan yang terus menerus menyakiti istrinya dan bertekad untuk menerima Anita sebagai istrinya, Damar ingin memulai kehidupan bersama Anita dari awal lagi.
Namun, tidak dengan ayahnya. Ia tetap murka dengan perbuatan putranya yang terus menerus menyakiti Anita dan ayahnya berpikir jika Anita terpaksa hidup bersama putranya tersebut atas tekanan Damar.
Tanpa ia ketahui jika Damar sudah menerima Anita sebagai istrinya.
Tiba hari yang di tunggu-tunggu yaitu kelahiran sang buah hati, Damar saat itu meminta izin pada Anita istrinya untuk ke luar kota karena ada proyek di sana.
Anita mengiyakan, namun ia tidak mengatakan jika saat ini sangat sakit dan kemungkinan besar akan melahirkan. Karena Anita tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya dan berniat akan memberikan kejutan saat suaminya tiba di rumah nanti.
Anita datang ke rumah sakit seorang diri, hanya di antar oleh sopir.
Dokter dengan cepat membantunya karena wajah Anita yang sudah terlihat pucat
Namun, saat putranya sudah lahir Anita menghembuskan napas terakhir tanpa meninggalkan sepatah katapun.
Pihak rumah sakit segera menghubungi suaminya, Damar tampak frustrasi mendengar kabar tersebut.
Kesalahpahaman kembali terjadi antara ayah dan anak itu, membuat ayahnya sangat murka padanya karena membiarkan Anita sendirian.
Sejak saat itu ayahnya pergi dari tanah air meninggalkan semua bisnisnya dan putranya tersebut hingga saat ini.
“Anita, kamu adalah wanita yang selalu ada di hatiku. Maafkan aku telah lalai menjagamu, aku akan merawat putra kita sebaik mungkin. Terima kasih kamu sudah melahirkan anak setampan dia, maafkan aku, Sayang.”
Damar mengusap nisan bertulisan nama istrinya, ia terus menerus menyalahkan dirinya karena tidak menjaga istrinya dengan baik.
Walaupun sebenarnya saat itu bukan kesalahan Damar sepenuhnya dan tetap saja sang ayah menyalahkan dirinya.
Flashback off.
Yana mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes, tak menyangka perjalanan cinta sang suami yang cukup rumit.
“Mas, apa kamu mencintaiku?” pertanyaan tersebut tiba-tiba keluar dari mulut Yana.
“Kamu ini bicara apa? Tentu saja aku mencintaimu, kalau tidak mana mungkin aku mau menikahimu dan mengejarmu hingga aku jatuh bangun,” sahutnya terkekeh.
“Lebay! Aku serius, Sayang.” Mencubit pelan perut suaminya.
Damar mengeratkan dekapannya, berulang kali mengecup bibir istrinya.
“Kenapa harus bertanya? Tentu saja aku mencintaimu, yang dulu hanya masa lalu Sayang dan sekarang masa depanku adalah kamu dan juga anak-anak kita.”
Damar mengerti, jika saat ini Yana terlihat cemburu. Bukan cemburu pada mantan istrinya yang sudah meninggal, tapi cemburu akan cinta Damar yang begitu tulus.
“Sayang,” panggil Yana dengan lembut.
“Jangan menggodaku dengan suara lembutmu itu! Atau kamu ingin aku melakukannya lagi?!” ancamnya dengan tatapan menggoda pada istrinya.
Dengan cepat Yana menggelengkan kepalanya.
“Di dunia ini tidak ada yang sempurna, semua pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tapi, dimataku kamu adalah wanita yang paling sempurna dan nikmat.” damar nyengir kuda melihat gigi rapinya.
“Nikmat?” tanya Yana terlihat bingung menatap suaminya tersebut.
Damar mendekati istrinya lalu berbisik di telinga istrinya tersebut.
“Nikmat di atas ranjang,” sahutnya.
Refleks Yana kembali mencubit perut sang istri membuat Damar mengaduh kesakitan.
“Aww ... aduh! Sakit.”
“Biarkan saja, yang ada di otakmu selalu mesum, mas!” kesal Yana.
Karena disaat dirinya sedang serius, Damar malah menggoda dirinya.
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Sayang. Bahkan sekarang aku ingin melakukannya lagi.” Damar menarik tangan istrinya untuk merasakannya sesuatu di sana.
“Astaga, Mas. Kita masih di rumah, Ayah!”
Damar tampak menghela napas berat, karena Yana menolak untuk melakukannya.
Damar mengerti jika memang benar apa yang di katakan oleh Yana, saat ini mereka masih berada di rumah ayahnya.
“Mas,” panggil Yana.
Yana melihat wajah suaminya yang tampak cemberut.
“Hm ...” dehamnya.
Walau begitu, ia tetap menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya lalu memainkan rambut halus istrinya.
“Sebelum pergi menyusulmu, aku tidak sengaja bertemu dengan mantan suamiku.”
Damar yang semula mengelus rambut istrinya, aktivitas tersebut langsung seketika berhenti.
“Lalu?” tanyanya.
Damar terlihat tidak suka mendengar Yana membicarakan mantan suaminya itu.
“Mas Dian tampak kesusahan, hingga harus bekerja banting tulang untuk membiayai Istrinya melahirkan. Mas ... aku tahu apa yang telah Mas lakukan padanya, hingga dirinya kesulitan untuk mencari pekerjaan.”
Damar tampak sedikit terkejut mendengarnya.
“Biarkan saja, itu adalah akibat perbuatannya sendiri!”
Yana menghela napas berat.
__ADS_1
“Biar bagaimanapun, Mas Dian adalah ayah kandung dari anak-anakku.”
“Huftt ... iya aku mengerti. Maafkan aku, Sayang. Aku akan mempertimbangkan semaunya.”
Damar tidak bisa menolak kemauan Istrinya, sehingga ia berpikir apa yang telah ia lakukan pada Dian itu salah.
“Sayang, apa benar yang di katakan oleh Ayah. Jika dia sudah tumbuh disini?” tanya Damar.
Karena sebelumnya saat melangkah menuju meja makan, ayahnya mengatakan padanya jika Yana saat ini tengah mengandung.
Deg!
Yana terdiam, ia terlihat bersalah karena sudah berbohong pada ayah mertuanya.
“Maafkan aku, Mas. Aku berbohong, tapi semoga saja ucapanku ini memang benar adanya. Karena aku sudah tiga Minggu telat datang bulan,” ujar Yana menatap suaminya dengan tatapan rasa bersalah.
Damar tersenyum.
Cup ...
“Tidak apa-apa, kita akan memeriksanya ke Dokter besok.”
Cup ... Damar kembali lagi mengecup bibir istrinya, kali ini cukup lama.
“Sayang, aku tidak bisa menahannya lagi. Izinkan aku melakukannya, hanya sebentar saja.”
Tatapan sayu menatap istrinya, karena dirinya sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Karena tak tega, Yana akhirnya mengangguk.
Raut wajah Damar langsung sumringah, melihat sang istri mengangguk.
Tanpa menunggu lagi, Damar kembali melakukannya dan mengacak-ngacak tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Namun, saat ini ia melakukannya penuh dengan kehati-hatian. Ia juga berpikir sama dengan istrinya, bisa saja ada janin yang sedang berkembang di dalam perut Istrinya.
Sebelum melakukan pertempuran panas tersebut, Damar lebih dulu mengunci pintu kamar miliknya.
Terlihat Yana menahan suaranya.
“Jangan di tahan, Sayang. Kamar ini aman dan kedap suara,” bisik Damar di tengah permainannya tersebut.
Mendengar ucapan suaminya, Yana melepaskan suaranya yang ia tahan sejak tadi membuat Damar semakin bersemangat melakukannya.
Lagi-lagi Damar tidak bisa menahan diri jika dia berada berdua di dalam kamar bersama istrinya, ia tak pernah puas dan selalu ingin melakukannya lagi dengan Yana.
Sebelum menikah, Damar pernah membayar perempuan untuk menuntaskan hasratnya.
Namun, beberapa perempuan yang bayar belum pernah merasakan nikmat yang Yana berikan padanya. Sehingga tidak mungkin baginya untuk membeli lagi wanita di luar sana, sedangkan istrinya sendiri begitu pandai membuatnya selalu ingin lagi dan lagi melakukannya.
Setelah puas bermain di atas sana, Damar mengendong tubuh istrinya untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah itu, Damar mengambil pakaian di lemari yang masih tertata dengan rapi. Untuk istrinya, ia mengambil pakaian Anita mantan istrinya masih ada beberapa lembar di dalam lemari tersebut.
“Bajunya cocok di tubuhmu, Sayang. Kamu sangat cantik mengenakan ini,” pujinya memeluk istrinya dari belakang, melihat ke arah kaca yang berukuran besar tersebut.
“Masa aku cantik?” tanya Yana.
“Kamu memang sangat cantik, tiada duanya.”
Namun, tangan Damar mulai nakal ingin masuk ke dalam bajunya.
Plak!
Yana memukul pelan lengan istrinya, hingga membuat Damar terkekeh.
Damar mengajak istrinya berkeliling di sekitar rumah milik ayahnya, dirinya juga sangat merindukan rumah tersebut.
Mereka melangkah ke halaman belakang rumah, yang sekarang di penuhi kebun bunga kesukaan ibunya.
“Ayah selalu merawat bunga ini. Karena bunga ini adalah bunga kesukaan Ibu, dulu hanya ada satu. Tapi, bunga ini menjadi tambah banyak dan subur,” ucapnya pada istrinya menatap bunga tersebut.
Yana hanya mengangguk.
Hacimm ....
Yana bersin berulang kali, karena dirinya sangat alergi dengan aroma bunga.
“Sayang, kamu sakit?” tanya Damar karena sejak tadi melihat istrinya tak berhenti bersin.
“Tidak, aku hanya sedikit alergi aroma bunga.”
“Kalau begitu kita masuk saja, jangan terlalu lama di sini.”
Damar mengajak istrinya kembali masuk ke dalam rumah, saat menjauh dari bunga tersebut Yana langsung berhenti dari bersin-bersinnya.
Damar kembali mengajaknya masuk ke kamar dan duduk di balkon yang terhubung dengan kamarnya.
“Mas, aku merindukan anak-anak.”
“Jangan khawatir Sayang, mereka dengan dalam perjalanan menuju kemari. Ayah sendiri yang memintanya, karena ingin melihat ketiga cucunya.”
“Benarkah?” tanya Yana tampak tidak percaya.
“Tentu saja.”
Yana tampak bahagia memeluk suaminya dengan erat.
***
__ADS_1