
Yana masih menunggu Gio untuk berbicara, yang sejak tadi tak kunjung mengatakannya.
“Gio, katakan saja. Apapun itu, aku siap. Aku sudah berjanji, bukan?” ucap Yana berusaha meyakinkan Gio, jika dirinya akan baik-baik saja.
Berulang kali Gio menghela napas panjangnya.
“Yana, aku tidak yakin kamu kuat mendengarnya. Apa sebaiknya kamu tidak perlu tahu saja,” ujarnya karena ia pasti akan tahu reaksi Yana setelah mengatakan itu.
“Gio, aku sudah siap. Katakan saja, jangan membuat aku mati penasaran! Jika aku mati, hantuku akan gentayangan mendatangimu!” gurau Yana, ia juga kesal karena Gio tak kunjung memberitahunya.
Gio terkekeh, disaat seperti ini, Yana masih melontarkan candaan padanya.
“Baiklah. Sebenarnya ....” Gio menggantungkan ucapannya.
Plak ....
Yana memukul bahu Gio karena kesal, refleks Gio langsung mengelus bahunya karena cukup sakit.
“Rasakan! Kamu niat atau tidak menceritakannya,” kesal Yana.
“Iya, Maaf. Aku sudah berusaha menceritakannya!” seru Gio.
“Cepat katakan.”
“Sebenarnya, Gio sudah menikah kembali.”
Deg!
Raut wajah Yana langsung berubah, ia tampak menghela napas berat. Yana menyender bahunya, berusaha menguatkan dirinya.
“Yana, kamu baik-baik saja?” tanya Gio terlihat cemas.
“Lanjutkan,” ujar Yana dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Gio mengangguk dan Kembali menceritakannya.
Gio sudah menikah kembali dua tahun yang lalu, bahkan pernikahannya itu sudah menghasilkan satu anak perempuan.
Menghilangnya Dian dalam beberapa hari ini, karena putri hasil dari pernikahan dengan istri keduanya itu tengah sakit parah dan harus di bawa ke rumah sakit.
Air mata Yana mengalir begitu saja tanpa permisi membasahi pipi mulusnya itu.
“Yana, jujur aku sebenarnya tidak mau ikut campur dalam rumah tangga kalian. Tapi, aku tidak bisa melihatmu di sakiti oleh Dian seperti ini. Yana, maafkan aku.”
Gio tertunduk malu.
“Kenapa tidak jujur dari dulu? Kamu ikut menyembunyikan hal sebesar ini pada kami! Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar!” protes Yana menatap Gio yang tampak menunduk.
“Hukum aku Yana, aku memang bersalah!”
Yana tampak frustrasi, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Tega kalian! Hiks ....” Yana tidak bisa menahan tangisnya lagi, sembari menutup mulutnya.
“Yana, maafkan aku! Ini yang aku takutkan, aku takut kamu tidak siap mendengar ini.”
Yana tersenyum kecut.
“Aku akan berusaha menerima ini. Terima kasih, Gio. Kamu sudah berani jujur dan mengatakanya padaku. Jika kamu tidak mengatakannya sekarang, kapan lagi? Sampai kapan kalian menyembunyikan ini padaku,” ujarnya dengan suara lemah.
__ADS_1
Tatapannya bahkan kosong.
“Yana, maafkan aku,” ucapnya lirih.
Berulang kali Gio meminta maaf.
Yana mengangguk.
“Kamu tidak salah. Jika aku di posisimu saat ini, mungkin aku akan melakukan hal yang sama sepeti apa yang kamu lakukan.”
Gio menatap wajah Yana, mata yang mulai sembab akibat menangis.
“Yana, aku siap membantumu jika kamu butuh bantuan. Sekarang, aku berada di pihakmu.”
Yana tersenyum.
“Iya,” sahut Yana singkat.
Yana berpamitan pulang dari tempat tersebut, Sebenarnya Gio menahannya dan membiarkan Yana beristirahat beberapa jam. Namun, Yana memaksa ingin segera pulang dan menemui kedua putranya. Karena hanya mereka berdua menjadi penyemangat hidupnya saat ini.
Berulang kali Yana menghela napasnya agar bisa menetralkan sesak di dadanya, akibat terlalu banyak menangis.
Sebelum pulang ke rumah orang tuanya, Yana lebih dulu pulang ke rumah mereka untuk mengambil beberapa barang mereka.
Setiba di rumah tersebut, tampak jelas teringat dimana 10 tahun yang lalu mereka bercanda di ruang tamu.
Yana duduk di sofa, lalu mengambil foto pernikahan mereka yang masih tertata rapi di meja.
“Mas, 10 tahun itu tidak sebentar kita membinanya dan dengan sekejap kamu menghancurkan semuanya! Tega kamu mas! Jadi, ini adalah alasanmu sering marah tanpa sebab padaku.”
Yana mengusap foto tersebut, lalu memeluknya dengan erat sembari menangis.
Lalu ia tersadar membuang foto tersebut ke lantai, sehingga menyebabkan kacanya retak.
Karena terlalu banyak kenangan di rumah tersebut, sehingga membuatnya enggan untuk berlama-lama.
Yana mengendarai motornya menuju rumah orang tuanya, tanpa Yana sadari jika Damar sejak dari restoran selalu mengawasinya bahkan mengikutinya dari arah belakang.
Setelah memastikan Yana tiba di rumah dengan selamat, Damar berlalu pergi.
“Mama,” panggil Deva saat berada di ruang tamu.
Tampak mereka antusias melihat kedatangan ibunya.
“Iya, Sayang. Mama sangat lelah, Mama ke kamar dulu ya,” ujarnya berpamitan sembari mencium pucuk kepala kedua putranya.
Mamanya sangat peka terhadap putrinya tersebut, ia menangkap wajah Yana yang tidak biasa.
“Pasti terjadi sesuatu dengannya,” gumamnya dalam hati.
Ia menyusul putrinya ke dalam kamar, melihat Yana berada di kamar mandi.
Ia duduk di tepi kasur sembari menunggu Yana di kamar mandi.
“Yana, kamu baik-baik saja. Kamu menangis?” tanya mamanya terlihat cemas melihat mata sembab putrinya.
“Iya, Ma. Yana baik-baik saja,” sahut Yana mengalihkan pandangan mamanya.
Ia merapikan pakaian yang di bawa olehnya lalu menyibukkan dirinya.
__ADS_1
“Yana, Mama yakin, kamu sekarang tidak baik-baik saja. Apa yang terjadi Nak?” tanyanya pantang menyerah.
“Hiks ... Hiks ....” tangis Yana pecah, lalu memeluk mamanya dengan erat.
“Ada apa Sayang?” tanyanya lagi mengusap pelan punggung putrinya.
Yana masih menangis, ia masih bungkam belum ingin menceritakannya pada mamanya apa yang sebenarnya terjadi.
“Menangislah Sayang, keluarkan semuanya.” Semakin memeluk putrinya dengan erat.
Yana semakin terisak di pelukan sang Mama.
Ceklek ...
“Ma, ada Papa baru datang.” Diki langsung membuka pintu kamar Yana tanpa mengetuk pintu.
Deg!
Tangis Yana seketika langsung berhenti, setelah mendengar Diki mengatakan jika Dian sudah kembali.
“Iya, Sayang,” sahutnya pada putranya tersebut.
Diki menutup pintu kembali.
“Sayang, Suamimu sudah kembali. Apa kamu tidak ingin menemuinya?” tanya mamanya dengan lembut.
Yana menggelengkan kepalanya pelan.
“Yana tidak mau bertemu dengan Mas Dian untuk sekarang, Ma.”
Mamanya mengerti, lalu mengangguk.
Ia sudah menduga, jika ada masalah serius sehingga Yana tidak mau bertemu dengan Dian saat ini.
“Mama mengerti, walaupun Yana tidak menceritakannya pada Mama. Ini pasti ada hubungannya dengan Dian, bukan?”
Yana menangguk pelan.
“Baiklah Sayang, Mama akan mengatakannya pada Dian jika kamu tidak mau bertemu dengannya untuk sementara waktu.” Mengusap bahu putrinya dengan pelan, hanya seorang ibu yang mengerti perasaannya saat ini.
Mamanya keluar dari kamar tersebut, Yana duduk di tepi kasur sembari termenung.
“Dua tahun,” gumamnya mengingat kembali ucapan Gio jika suaminya sudah menikah kembali dua tahun yang lalu.
“Pasti wanita itu sangat istimewa, sehingga kamu sangat pandai menyembunyikannya Mas,” gumamnya lagi.
Sementara di ruang tamu, Dian tampak memaksa ibu mertuanya ingin bertemu dengan istrinya.
“Ma, sebentar saja. Aku ingin bertemu dengan Istriku, aku akan menjelaskannya kenapa aku pergi mendadak tanpa kabar.” Dian mencoba membela dirinya demi menutupi pernikahannya itu.
“Tidak! Yana sama sekali tidak ingin bertemu denganmu. Kalau begitu, jelaskan pada Mama saja. Aku akan menyampaikannya pada Yana nanti!” ketusnya.
Dian menggelengkan kepalanya, ia memaksa naik ke tangga untuk menemui istrinya dengan setengah berlari.
Mertua menggelengkan kepala melihat menantunya itu keras kepala.
Ceklek ....
“Yana,” panggil Dian langsung membuka pintu.
__ADS_1
Yana terkejut melihat suaminya membuka pintu dengan kasar.
***