
Setelah kejadian itu Damar dan Yana memang jarang bertemu, apalagi pekerjaan Damar yang begitu padat. Tapi, Damar menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada calon istrinya itu.
Sehari setelah pulang dari rumah Yana waktu itu, Damar langsung bertunangan dengan Yana bahkan Damar meminta mempercepat pernikahan mereka.
Semua ia serahkan pada pihak perempuan yang mengurusnya, karena dirinya sangat sibuk tidak punya waktu untuk mengurus semuanya dan meminta pihak WO untuk membantu mereka juga.
Yana dan Mamanya mengatur semuanya, pernikahan akan di gelar di gedung. Karena Damar yang meminta resepsi pernikahan mereka di gelar di gedung, Damar juga ingin memperkenalkan wanitanya pada seluruh dunia.
Yang paling antusias saat ini adalah Kevin, karena dirinya juga sudah lama mendambakan seorang ibu. Bahkan saat ini dirinya sudah beberapa hari tinggal di rumah Yana sekamar bersama Diki.
Sementara Dian kini tengah berpanas-panasan mencari lowongan pekerjaan, dirinya saat ini sudah tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Karena masalah wanita yang datang meminta pertanggung jawaban padanya beberapa hari lalu, membuat papanya murka dan mengusir dirinya.
Kini dirinya tinggal di kontrakan yang hanya sepetak, bahkan ia masih bingung membayarnya. Karena masih belum mendapatkan pekerjaan.
“Sialan kau Damar! Karena dirimu aku menjadi seperti ini! Huh! Susah sekali mendapatkan pekerjaan,” keluhnya duduk di kursi taman sembari mengusap keringat di dahinya.
“Papa,” panggil suara anak laki-laki.
Dian sangat mengenali suara tersebut, ia langsung menoleh.
“Deva, kamu disini Sayang?” tanyanya.
Karena rasa rindu yang begitu berat, Dian langsung memeluk putranya tersebut.
Sebenarnya Yana tidak pernah melarangnya jika ingin bertemu dengan putranya, hanya saja dirinya sangat malu dengan putranya karena telah menelantarkan mereka dulu demi wanita lain.
“Apa kabar, Sayang? Deva bersama siapa kemari?” tanyanya tak hentinya mengecup kedua pipi putranya tersebut.
Cup ... Cup.
Deva menunjuk ke arah Yana yang tengah berdiri di depan mobil sembari menatap mereka berdua.
“Temui papamu, nak,” ujar Yana pada Diki yang masih berdiri di sampingnya.
Diki mengangguk pelan, ia melangkah pelan menuju papa dan adiknya yang sedang berpelukan.
“Pa,” panggil Diki mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan papanya.
“Diki, sayang. Kalian sudah tumbuh besar, Nak.” Bergantian memeluk Diki dan Deva.
“Maafkan Papa, nak.” Menatap sendu putranya secara bergantian.
Sebenarnya, Yana masih takut untuk bertemu dengan mantan suaminya itu. Bertemu di taman ini karena tidak sengaja, Kebetulan Yana ingin ke butik bersama mamanya dan tanpa sengaja Deva melihat papanya tengah duduk di kursi taman.
__ADS_1
Sehingga mau tidak mau, Yana membiarkan mereka untuk bertemu dengan papanya. Tidak mungkin baginya melarang putranya bertemu dengan ayah kandungnya sendiri.
Yana hanya berdiri di samping mobil menunggu kedua putranya, Dian sejak tadi mencuri pandang pada mantan istrinya tersebut. Apalagi penampilan Yana yang terlihat sangat cantik ketimbang bersamanya dulu.
“Pa, kapan Papa berkunjung ke rumah Mama. Deva sangat merindukan Papa,” ujar Deva duduk di samping papanya.
“Papa sedang sibuk, Sayang. Papa sekarang kerja, jadi Papa belum bisa menemui kalian,” ucap berbohong.
“Oh, Papa sibuk. Papa mau ikut gak? Kami bersama Oma dan Mama mau ke butik,” ajak Deva.
Diki sejak tadi tampak diam, ia hanya mengiyakan jika papanya bertanya.
“Ke butik? Untuk apa ke butik?” tanyanya penasaran.
“Mama mau beli baju,” sahutnya dengan polos.
Dian berpikir, jika Yana saat ini telah sukses. Ia sangat malu pada kedua putranya, jangankan membeli pakaian untuk kedua putra dan istrinya. Akan tetapi ia malah meninggalkan cicilan yang banyak.
Dian hanya mengangguk pelan, mengusap kepala putranya.
Setelah cukup lama berbincang dengan papanya, Deva dan Diki kini berpamitan dan kembali masuk ke dalam mobil mereka.
Dian hanya bisa menatap kepergian mobil yang tersebut yang mulai hilang dari pandangan mereka, Dian berulang kali menghela napas kasar.
Bahkan saat ini rumah tangga dirinya dan Celine juga berantakan, semenjak keluar dari rumah mewah Celine ia sama sekali tidak pernah lagi bertemu dengan mantan istrinya itu.
“Disini kamu rupanya.”
Suara tersebut membuyarkan lamunannya, Dian terlihat terkejut karena melihat wanita yang sama yang datang ke rumahnya untuk meminta pertanggung jawab atas kehamilannya.
“Huh! Untuk apa lagi kamu menemuimu? Apa kurang jelas ucapanku waktu itu!” kesal Dian hendak beranjak dari tempat duduknya.
Namun, wanita itu menahannya.
“Jadi, kamu tidak mau bertanggung jawab atas anak ini?!” tanya wanita tersebut menatapnya.
“Mimpimu! Sampai kapanpun aku tidak mau bertanggung jawab!” sentaknya hingga membuat orang sekelilingnya menatap mereka.
“Baiklah, aku akan melaporkanmu pada polisi!” ancamnya.
“Laporkan saja, aku tidak peduli! Kamu juga belum bisa membuktikan jika itu memang darah dagingku! Bagaimana kalau aku melaporkanmu balik, atas tuduhan palsu?!” ancam Dian balik.
Wanita itu langsung terdiam.
__ADS_1
“Jangan menggangguku lagi! Atau kamu akan menerima akibatnya!” ancam Dian hendak berlalu pergi meninggalkan wanita tersebut.
“Kamu lupa jika pernah melakukannya lebih dari satu kali di waktu yang sama. Aku sangat tahu betul, jika janin ini memang adalah darah dagingmu!” teriak wanita tersebut, hingga membuat orang-orang sekelilingnya menatap mereka.
“Sstt ... jaga bicaramu, wanita bodoh! Berhenti berteriak!” geram Dian membungkam mulut wanita tersebut dengan tangannya.
“Lepaskan! Tolong ... tolong ...” teriak wanita itu malah sengaja berteriak kencang.
“Apa kamu sudah gila?!” sentak Dian.
“Hei, jangan kasar dengan wanita! Apa kami perlu memanggilmu polisi?!” ucap pria yang menatap mereka.
Wanita tersebut menyeringai licik, membuat Dian semakin murka.
“Iya Pak, Maaf. Suami saya sedang marah, ini hanya masalah sepele,” ujar wanita itu.
“Ikut aku,” ajaknya menarik tangan Dian, tapi Dian langsung menepisnya.
“Apa kamu ingin aku berteriak lagi?!” ancamnya.
Dian menghela napas kasar, terpaksa melangkah karena wanita tersebut menariknya masuk ke dalam mobil hitam miliknya.
“Apa maumu?!” tanya Dian menatapnya dengan tajam.
Wanita itu langsung terdiam.
“Aku hanya minta pertanggung jawabmu, itu saja. Apa kamu lupa? Saat kita melakukannya, mana mungkin benih dari orang lain.”
Dian terdiam, karena memang benar adanya jika dirinya dan wanita tersebut memang melakukan hubungan terlarang tersebut. Namun, Dian tidak menyangka jika wanita tersebut hingga mengandung benihnya.
“Tolong aku ... aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Apalagi sampai orang tuaku mengetahui kehamilanku, hiks ... aku juga tidak ingin membunuh darah dagingku sendiri.” Wanita itu mulai terisak.
Dian kembali menghela napas berat, ia juga tidak tega melihat wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Sebagai lelaki dirinya juga harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan, ia menatap netra wanita tersebut yang terlihat ada kejujuran.
“Aku akan bertanggung jawab atas anak itu, tapi setelah aku mendapatkan pekerjaan.”
Mata wanita tersebut tampak berbinar mendengar ucapan Dian, setidaknya ia bisa bernapas lega karena anaknya bisa lahir ada seorang ayah. Walaupun yang sebenarnya, ia juga belum tahu siapa ayah dari anaknya tersebut, karena sebelum tidur dengan Dian, dirinya sudah tidur dengan beberapa pria.
Akibat pergaulan yang di bebaskan oleh orang tuannya, membuat wanita itu menjadi salah pergaulan hingga membuat dirinya menjadi hamil.
***
__ADS_1