
“Mas,” panggil Yana pelan.
Yana hendak beranjak dari tempat duduknya, namun tanpa di duga tangannya di tahan oleh ayah mertuanya.
Yana menatap ayah mertuanya tersebut, pria tua itu menggelengkan kepalanya pelan agar Yana tidak perlu takut dengan suaminya dan tetap diam di tempatnya.
“Apa kamu bilang? Ayah tidak boleh ikut campur?! Tentu saja aku ikut campur, begitukah caramu memperlakukan Istrimu?!” sentak ayahnya.
Bahkan Alex dan Damar terkejut melihat ayahnya yang ternyata membela Yana.
Damar tak tinggal diam, ia malah melanjutkan dramanya tersebut.
“Ayah, ini rumah tanggaku! Ayah tidak berhak ....”
Plak!
Tamparan lumayan keras mendarat tepat di pipi kiri Alex.
Yana menutup mulutnya dengan tangannya, karena di depan mata kepalanya sendiri ayah mertuanya menampar suaminya.
“Kau sungguh sudah berubah Damar! Seharusnya kamu berterima kasih pada Istrimu, tapi kenapa kau malah memarahinya tanpa mendengar dulu penjelasannya!” menatap tajam sang putra.
“Ayah ....”
Ayah mertuanya tampak membuang wajah ke arah lain, karena tak habis pikir dengan sikap Damar tersebut.
“Mas, maafkan aku, Mas. Aku memang salah, karena tanpa memberitahumu aku datang kemari. Jangan salahkan Ayah!” suara Yana mulai bergetar menahan tangis.
Karena takut melihat kemarahan ayah mertuanya kepada suaminya, semua itu berawal dari dirinya yang keras kepala tidak pernah mendengar ucapan suaminya tadi pagi.
Yana memeluk erat suaminya, dengan suara tangis yang terisak-isak. Air mata yang begitu deras mengalir hingga membasahi kemeja putih suaminya.
Damar terdiam, niatnya ingin bersandiwara untuk mengerjai Istrinya, tetapi malah merasa bersalah setelah melihat istrinya yang terisak menangis dalam dekapannya.
Damar membalas pelukan istrinya tersebut, lalu berulang kali mengecup pucuk kepala Istrinya.
“Sayang, maafkan aku. Aku hanya bercanda tadi,” bisik Damar di telinga istrinya.
Seketika tangis Yana langsung berhenti, melepaskan dekapan suaminya lalu menatap wajah sang suami dengan nanar.
“Mas, kamu ....”
Damar mengangguk sembari tersenyum pada istrinya.
Karena kesal, Yana langsung mencubit perut suaminya hingga mengaduh kesakitan.
Sementara sang ayah menatap keduanya saat berpelukan hangat, teringat akan istrinya yang sudah lama pergi meninggalkan dia untuk selamanya.
Damar melepaskan tangan istrinya, lalu melangkah mendekati ayahnya.
“Ayah, maafkan aku. Ayah, hukum saja aku karena jadi anak yang tidak berguna bagimu! Ayah, aku ....”
Damar menunduk di depan ayahnya, tak berani menatap pria tua tersebut.
Ayahnya terdiam.
Mata ayahnya tampak terlihat memerah menahan tangis, hingga tanpa ragu dirinya menarik putranya tersebut ke dalam pelukannya.
Beberapa tahun lamanya mereka tak pernah saling berpelukan, akibat ego mereka yang terlalu tinggi untuk mengatakan merindukan satu sama lain akibat kesalahan masa lalu yang hanya salah paham saja.
Mereka saling mengeratkan pelukannya, Damar terisak di dalam dekapan ayahnya tersebut.
“Maafkan, Ayah Damar. Maafkan Ayah,” ujarnya dengan suara sendu.
Damar menggelengkan kepalanya di dalam dekapan sang ayah.
__ADS_1
“Aku yang seharusnya meminta maaf,” sahut Damar lirih.
Seakan tak bisa lagi mengungkapkan kata-kata, untuk melepaskan rasa rindu mereka semakin mengeratkan pelukannya.
Yana mematung melihat ayah dan anak itu, ia tidak menyangka akan terjadi secepat ini.
Begitupun dengan Alex, ia mengusap air mata yang hampir saja terjatuh.
Ia menyaksikan sendiri awal mula perselisihan antara ayah dan anak tersebut, berkat Yana anak dan ayah itu bisa memeluk satu sama lain.
“Apa yang di ucapkan oleh Tuan Damar semalam memang benar adanya, jika Nyonya Yana punya pengaruh besar dalam hidupnya. Baru kali ini aku bahagia melihat mereka bisa kembali memeluk satu sama lain,” ujar Alex dalam hati.
Perlahan Alex melangkah keluar dari rumah tersebut, tidak ingin mengganggu momen bahagia mereka.
“Tuan, anda sangat beruntung mempunyai Istri seperti Nyonya Yana. Tuhan, sisakan satu untukku perempuan seperti Yana,” gumamnya dalam hati setelah keluar dari rumah tersebut, berulang kali Alex menghela napas lega lalu masuk ke dalam mobil miliknya dan mulai meninggalkan rumah besar tersebut.
Di dalam rumah, mereka saling melepaskan dekapan mereka.
Sementara ayahnya mencium kedua pipi Putranya tersebut, sama seperti dulu yang ia lakukan saat Damar masih kecil.
“Maafkan Ayah, Nak. Karena keegoisan Ayah ....”
“Sstt ... jangan meminta maaf, Ayah. Sekarang kita mulai dari awal lagi,” ujarnya.
Damar berulang kali mengecup tangan ayahnya yang sudah terlihat keriput itu, lalu Damar kembali memeluk ayahnya.
“Aku sangat merindukan Ayah,” ucapnya lagi.
Ucapan Damar yang selalu di tunggu oleh ayahnya sejak dulu, membuat wajah pria itu tampak tersenyum bahagia.
“Ayah juga sangat merindukanmu,” balasnya menepuk pelan punggung putranya.
Netranya tertuju pada Yana yang masih berdiri mematung menatap mereka, bahkan mata Yana tampak terlihat sembab akibat menangis tadi.
Plak!
Ia berpikir ini hanya mimpi bisa memeluk ayahnya, karena tanpa sebab ayahnya memukul dirinya dengan cukup keras.
“Kurang ajar sekali dirimu membuat menantuku menangis!” kesalnya mendorong pelan bahu Damar, lalu melangkah mendekati Yana.
“Menantuku, apa pria itu menyakitimu tadi? Katakan pada Ayah, agar Ayah memberinya pelajaran!” ucapnya pada Yana.
Yana tersenyum tanpa ragu memeluk ayah mertuanya tersebut.
Begitupun dengan Damar yang menghela napas lega, karena apa yang rasakan hari ini bukanlah mimpi.
Puas melepaskan rindu dengan putranya, kini mereka berbincang di ruang tamu.
Damar tampak enggan melepaskan tangan istrinya dari genggamannya, sesekali mengecup punggung tangan istrinya.
“Ekhem ...” deham ayahnya.
“Berapa lama kalian sudah menikah?” tanya ayahnya.
“Baru beberapa bulan yang lalu,” sahut Damar menatap ayahnya yang tampak mengangguk.
“Yana, apa Ayah boleh meminjam Suamimu Sebentar?” tanya ayah mertuanya.
Yana tersenyum.
“Tentu saja, Ayah. Kenapa harus meminta izin?”
“Baiklah, Damar ikut ke ruang kerja Ayah Sebentar. Yana, Ayah ingin sekali makan masakanmu, apa kamu bisa membuatkannya untuk Ayah?” tanya.
Karena sebelumnya, ia pernah melihat Damar mengabadikan masakan istrinya di halaman media sosial miliknya.
__ADS_1
“Tentu saja, Ayah.” Yana tampak senang dengan permintaan ayah mertuanya tersebut, karena Yana juga untuk pertama kali memasak makanan untuk ayahnya.
Setelah mengatakan itu, Damar dan ayahnya beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruangan kerja.
“Ada apa, Ayah? Sepertinya ini sangat serius,” tebak Damar.
Damar takut jika perubahan sikap ayahnya saat ini hanyalah sandiwara.
Ayahnya duduk di kursi kebesarannya, lalu mengambil sebuah berkas.
“Damar, sebelumnya Ayah meminta maaf padamu. Sebenarnya ....” ayahnya tampak memberi jeda untuk ia memulai kembali perkataannya, bahkan menghela napas terlebih dahulu.
Damar tampak sabar menunggu ayahnya untuk melanjutkan pembicaraannya lagi.
“Sebenarnya ... bisnis Ayah baik-baik saja, Ayah sengaja menyebarkan berita jika bisnis Ayah sedang mengalami kebangkrutan. Karena ada musuh yang ingin berbuat curang, dan usia Ayah juga sudah tidak bisa lagi mengurus perusahaan. Selain itu Ayah juga sengaja, agar kamu bisa datang menemui Ayah, karena dengan cara itu juga Ayah bisa bertemu denganmu.” Wajahnya tampak sendu mengatakan itu, terlihat raut wajah yang begitu bersalah pada putranya.
“Dan tentang ingin menjodohkanmu dengan anak sahabat Ayah, itu juga bohong. Ayah hanya ingin bisa berkumpul denganmu saja, ingin melihatmu lebih lama di kantor walau hanya melalui cctv kantor. Maafkan Ayah, Nak.”
Damar membulatkan matanya mendengar pernyataan ayahnya, Damar kembali merasakan bersalah yang amat dalam. Begitu durhakanya dirinya membuat sang ayah merindukan dirinya, namun dirinya tidak peka dengan itu dan selalu berpikir jika ayahnya tidak merindukan dirinya.
“Ayah, kenapa Ayah tidak mengatakannya langsung? Ayah, aku sangat merasa bersalah pada Ayah.”
“Nak, saat itu ego ayah terlalu tinggi. Ayah harus banyak berterima kasih pada Yana, berkat dirinya Ayah bisa menurunkan Egi Ayah sendiri.”
“Aku penasaran, apa yang di katakan Yana Istriku sehingga Ayah sejak tadi memujinya?” tanya Damar penasaran.
Dirinya sudah tahu sifat asli istrinya, sudah tidak di ragukan lagi jika sang istri memang sangat pandai mengambil hati ayahnya.
Bukan hanya itu, bahkan banyak kolega penting yang ingin bekerja sama dengan perusahaan yang ada di tanah air berkat kepandaian istrinya dalam berbicara.
“Ini rahasia Ayah mertua dan menantu. Jadi, kamu tidak perlu tahu!”
Membuat Damar terkekeh.
“Ini adalah bisnis Ayah serahkan padamu dan setengahnya itu milik putramu Kevin. Ayah sudah tidak bisa lagi mengurusnya, Ayah sudah lelah.”
“Ayah, Damar ingin Ayah ikut bersama kami tinggal di tanah air. Damar sangat yakin, Ayah tidak akan pernah kesepian, setiap harinya Ayah pasti akan mendengar cerita dari cucu-cucu Ayah.”
Ayah tampak bingung, karena setahunya Damar hanya mempunyai satu orang anak.
Damar sangat mengerti apa yang ada di pikiran ayahnya saat ini.
“Aku menikah dengan seorang janda beranak dua, Ayah. Ayah tidak perlu khawatir, Yana berasal dari keluarga yang baik. Hanya saja, Yana tidak beruntung dengan pernikahan pertamanya membuatnya harus bercerai dengan suami pertamanya itu.”
Ayahnya tampak mengangguk mengerti.
“Terlihat dari cara bicaranya, Yana memang wanita baik. Ayah berharap kamu bisa adil dengan mereka, putranya Yana adalah tanggung jawabmu sekarang,” ucapnya ayahnya lembut.
Ucapan ayahnya barusan membuatnya terenyuh, sudah sangat lama ayahnya tidak berkata lembut padanya.
Damar mengangguk.
“Aku sudah menjadi pria miskin, Ayah. Aku hanya bekerja untuk Istri dan anakku. Semua bisnisku ku serahkan atas nama istriku, semua itu ku lakukan karena begitu besar cinta dan sayangku pada Istriku.”
“Ayah bangga padamu, Nak. Sekali lagi maafkan Ayah, nak.”
“Bagaimana? Apa Ayah bersedia ikut bersama kami?” tanya Damar lagi.
“Untuk itu akan Ayah pikirkan nanti malam, sulit meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan bersama Ibumu.”
“Ayah, Ibu akan selalu berada di dalam hati Ayah, kemanapun Ayah akan pergi dan tinggal. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersama Ayah, anak dan Istriku. Aku tidak bisa memilih antara Ayah dan Keluarga kecilku.”
Ayahnya mengangguk.
“Ayah mencium aroma wangi masakan Istrimu, Ayah menjadi lapar. Kita lanjutkan lagi nanti, sekarang kita isi perut dulu,” ajaknya.
__ADS_1
Damar terkekeh, karena saat dirinya sedang serius berbicara ayahnya malah mengajaknya untuk makan.
***